
Amey memejamkan mata saat tangan Arsen mulai aktif menyusuri tubuhnya. Jantung wanita itu tidak berhenti berdetak kencang. Apalagi saat Arsen menyentuh leher Amey dengan benda lunak yang ada di dalam mulutnya .
Terasa napas Arsen menusuk di permukaan kulit putih Amey. Erangan wanita itu menggema di gendang telinga Arsen, sesekali ia meremas lengan berotot suaminya karena tak kuasa menahan rasa yang diberikan Arsen.
Pria itu mulai menanggalkan baju Amey satu demi satu. Sehingga tertinggal balutan kain yang menutupi gundukan Amey dan helaian pakaian kecil di bagian celah kangkang istrinya.
Setelah itu tibalah giliran Arsen yang melepaskan seluruh pakaianya tanpa sisa. Kini tubuh polos Arsen terpampang nyata di depan mata Amey. Dada yang liat memiliki enam kotak, lengan padat yang berotot dihiasi dengan urat-urat seksi yang menjulang.
Mata Amey beralih dibagian bawah Arsen. Oh God, Ini yang paling berbahaya! Harta karun yang terpendam. Mata Amey terbelalak saat melihat belut Arsen yang begitu besar, panjang yang sedang berdiri tegap seolah siap menerjang mangsa.
Benda itu berubah menjadi besar. Astaga! Aku tidak menduga kalau belutnya akan mengembang seperti itu.
Arsen tersenyum kecil saat melihat Amey menganga memandangi bagian bawah Arsen. "Jangan dulu terkejut, dia akan lebih berkembang saat memasuki gua!" tutur Arsen menyeringai.
Amey menggeleng kepalanya. Ia tidak sanggup membayangkan jika benda itu memasuki terowongan gelapnya yang belum memiliki penghuni. Reflek Amey menutup dadanya dengan tangan kiri kemudian tangan kanannya menutupi bagian bawahnya.
Pria itu terlihat tidak sabar, ia kembali menyapu bibir Amey dengan rakus. Ciuman itu menjalar ke bagian leher kemudian mulai singgah di tempurung kembar istrinya yang masih tertutup kain.
Perlahan Arsen menyingkirkan tangan Amey yang menghalangi akses masuk alat perasanya. Setelah berhasil menyingkirikan tangan Amey, ia mulai membuka kancingan busa kembar yang masih melilit menutupi tempurung kembar wanita itu.
Kini dua benda kiri kanan itu terpampang nyata. Tidak terlalu besar tidak juga terlalu kecil alias pas. Dalam penilaian Arsen ukuran itu masuk ke dalam listnya. Dengan wajah yang memerah Amey mencoba menutupi dadanya dengan tangan.
Namun apalah daya Amey, pria berotot itu sungguh kuat sehingga berhasil menyingkirkan tangannya. Arsen semakin menjadi menyicip tempurung lunak yang ujungnya memiliki warna merah muda. Sungguh menggiurkan.
Desahan demi desahan keluar begitu saja dari dalam mulut Amey. Rasa perih di rasa Amey saat pria itu menggigit ujung buahnya. Kini rasa geli di campur perih menghasilkan kenikmatan yang tak terbantahkan.
Amey menggeliang hebat saat tangan Arsen menyelinap masuk di balik kain tipis Amey dibagian bawah. Tangan itu tidak hanya tinggal diam, namun bergerak ke atas dan ke bawah, sesekali membentuk lingkaran di sana.
"Arghh! Ars ... ge--li ..." ucap Amey gagap.
Arsen tidak memperdulikan ucapan Amey. Gerakan tangannya semakin cepat menggesek di bawah sana, sedangkan mulutnya tidak berhenti menyicip ujung tempurung lunak berwarna merah muda itu.
Setelah puas memainkan gua tak berpenghuni, Arsen mulai melucurkan kain tipis yang menghalangi akses masuk belutnya. Tubuh Amey sudah sepenuhnya polos. Lampu yang begitu terang seakan menyorot dua tubuh itu yang tanpa sehelai pakaian.
Amey memerah. Ia sangat malu melihat tubuhnya yang polos, apalagi ada seorang pria yang saat ini sedang menindih tubuhnya. Amey kembali memejamkan matanya tidak ingin melihat situasi saat itu.
"Bersiaplah! Aku akan memasukan adik kecilku ke dalam taman bermainmu," tutur Arsen.
Amey meremas lengan kekar Arsen dengan sangat kuat. Perlahan kepala belut itu mulai menerobos masuk ke dalam terowongan Amey. Namun Arsen terlihat kasulitan, karena tidak biasanya ia menyusuri lubang yang sangat sempit.
__ADS_1
"Jujurlah padaku. Apa aku orang pertama yang menyentuhmu?" tanya Arsen menaikan alis setengah.
Amey mengangguk cepat dengan mata yang masih terpejam.
"Impossible!"
Perasaan Arsen berkecamuk, antara senang dan sedih. Senang karena ia yang pertama mendapatkan mahkota berharga sang istri dan merasa sedih karena Arka meninggal dengan keadaan perjaka tulen yang belum merasakan surga dunia bersama kekasihnya.
Arsen menatap wajah Amey, ia melihat cairan bening menetes di mata istrinya itu. Rasa tidak tega melanjutkan atraksinya kini hinggap dalam pikiran Arsen.
"Hey? Kau menangis?" tanya Arsen
Amey menggeleng kepala.
"Lalu kenapa kau mengeluarkan air mata?"
"Aku ... aku hanya ..."
"Kalau kau belum siap, aku tidak akan melanjutkannya," tutur Arsen memalingkan wajahnya.
"Bukan begitu, aku hanya belum paham melakukan ini. Apa ini akan menyakitiku?" tanya Amey polos sembari menggigit bibir bawahnya.
"Lakukanlah," ucap Amey pasrah.
Tanpa berpikir lagi, pria itu mulai memasukkan kepala belutnya. Rasa nikmat yang selama ini terpendam akhirnya bisa terobati dengan merasakan sentuhan langka dari dalam terowongan gelap tak berpenghuni milik Amey.
Kringggggggg ...
Suara alarm yang sangat panjang tiba-tiba berbunyi. Artinya keadaan hotel tidak dalam keadaan baik. Lampu merah di sudut ruangan Arsen dan Amey mengedipkan cahaya merah, memperingatkan bahwa mereka dalam keadaan bahaya.
"****! Ada apa ini?" tukas Arsen naik pitam.
Belum saja Arsen merasakan sepenuhnya lembah gelap Amey, ada-ada saja hal yang mengganggunya. Ia terpaksa menarik belutnya. Tentu saja ia sangat kesal dan emosi, bagaimana tidak, baru kepala belutnya yang bisa mendapat akses masuk ke gua sempit itu.
Perjalanan panjang masih harus dilewati Arsen untuk menerobos gua itu, namun alarm peringatan itu berbunyi membuat ia harus menghentikan penelusurannya.
"Ars, ayo keluar! Kita dalam bahaya," tutur Amey.
"Arghhhhh ... what the f*ck of this!" umpat Arsen geram.
__ADS_1
Dor ... dor ... dor
Suara gedoran pintu mengagetkan Amey dan Arsen.
"Siapa lagi k*parat itu! Siapa pun kau bersiaplah menuju ke neraka!"
Arsen menutupi tubuh Amey dengan selimut. "Apa kau bisa berjalan?"
Amey mengangguk. Namun wajahnya terlihat sangat panik.
Ia meraih dua bath robes atau jubah mandi yang menggantung dipalang besi dalam kamar mandi. Ia mengenakannya dan satunya lagi diberikannya pada Amey.
Arsen mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah karena menahan gejolak amarah. Dengan emosi yang meluap bagai bara api, Arsen menuju pintu dan membukanya.
"Tu ..." belum saja meneruskan ucapannya tiba-tiba,
Brakkkkk
Tinju Arsen melayang tepat di permukaan wajah lelaki itu serta tendangan mautnya yang menyusul mendarat di perut pria yang tidak lain adalah asisten pribadinya, Mark.
"Rasakan itu!" tukas Arsen yang masih jengkel.
"Tuan, ayo keluar. Hotel ini dalam bahaya," ucap Mark tanpa memperdulikan emosi tuannya. Bagi Mark keselamatan Majikannyalah yang terpenting. "Ayo Tuan tunggu apa lagi?"
"Sialan kau!" Arsen hendak melayangkan pukulannya lagi, namun Amey menahan lengan Arsen. Ia menggelengkan kepalanya dengan raut pias.
"Kau beruntung kali ini, lain waktu tamat riwayatmu!" tegas Arsen.
"Tuan, maafkan aku. Tapi sekarang bukanlah saat yang tepat untuk berkelahi. Keadaan hotel semakin tidak terkendali. Lihatlah orang-orang yang berlarian mencari keselamatan," menunjuk ke arah manusia-manusia yang mondar-mandir dengan panik.
Ada benarnya juga yang dikatakan Mark. Saat itu bukanlah saat yang tepat untuk berdebat. Arsen mengeratkan rahangnya. Ia menatap Amey yang bersembunyi di belakang punggungnya dengan raut takut.
Ia memeluk istrinya itu dan mengecup keningnya. "Don't worry, Honey. Everyting will be alright. Trust me!" (Jangan kawatir Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku.) Kalimat yang begitu saja keluar dari dalam mulut Arsen dan balasan anggukan kecil dari Amey.
Amey memeluk Arsen dan menyandarkan kepalanya di dada liat suaminya. Setelahnya mereka segera berlari keluar meninggalkan kamar hotel itu. Arsen menggenggam erat tangan Amey.
George matilah kau! umpat Arsen dalam hati.
To be continued ...
__ADS_1
LIKE, KOMEN, VOTE RATE 😘