Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Rekor Baru


__ADS_3

Seisi rumah menjadi kawatir. Bagaimana tidak, mereka melihat Mark yang sedari tadi mondar-mandir dengan raut yang begitu panik. Mark terlihat sedang menunggu seseorang. Ia membuat para pelayan ikut panik, karena disangka mereka suatu hal yang buruk sedang terjadi.


Mark kembali mendudukkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu, namun beberapa saat kemudian ia kembali berdiri dan melirik jam tangannya. Sesekali Mark memijit keningnya karena merasakan nyeri yang mengkungkung kepalanya.


Tidak ada yang berani menanyai pada Mark apa yang terjadi. Meski mereka sangat penasaran, namun mereka memilih untuk membungkam mulut mereka. Elis pun tak berani karena takut menerima serangan amarah dari Mark.


Secepat kilat Mark berlari ke depan saat mendengar suara mobil yang berhenti. Mark langsung membuka pintu dan menghampiri seseorang yang sedari tadi kedatangannya sangat di tunggu Mark.


"Kenapa kau lama sekali, hah? Kau mau mati?!" celutuk Mark naik pitam.


"Maaf, Tuan Mark. Di jalan sangat macet."


"Aku tidak mau mendengar alasan apa pun darimu. Sebaiknya kau cepat ke kamar Tuan Muda, sebelum amarahnya semakin berapi-api!"


Dengan setengah berlari, Pedro menuju kamar Arsen dengan membawa tas kesayangannya yang di dalam tas itu berisikan seluruh peralatan yang ia butuhkan untuk memeriksa pasien. Melihat dokter keluarga Winston yang berlari tergesa-gesa, lebih membuat pikiran para pekerja di rumah itu melayang ke sana kemari.


"Ya ampun! Si--siapa yang sakit?" bisik Sonya pada Elis.


"Diamlah dan lanjutkan pekerjaanmu!" ketus Elis datar.


"Ba--baik." Sonya kembali mengelap meja namun matanya tak bergeming memandangi bayangan Pedro yang telah hilang di balik pintu lift.


Sesampainya Pedro di kamar Arsen, tiba-tiba sebuah vas bunga melayang tepat di samping telinganya. Pedro menciut saat menerima amukan ganas dari Harimau. Ia hanya bisa berdiri di posisinya sambil menundukkan kepala.


"Kenapa tidak sekalian datang besok, hah?! Kau mau mati? Kalau sampai sesuatu yang buruk menimpa istriku, kau yang pertama aku kuburkan hidup-hidup!" ketus Arsen murka.


"Maaf Tuan," lirih Pedro dengan bibir gemetar.


Brakkkkk


Arsen melempar ponselnya, membuat Pedro memejamkan mata karena takut. Namun lemparan itu ternyata bukan ditujukan untuk Pedro, tapi untuk Mark. Lemparan itu tepat mengenai pundak Mark.


"Kalian hanya akan bengong di situ, sampai Memeyku sekarat, hah! Dasar keparat!" teriak Arsen lagi, reflek membuat Pedro berlari mendapati Amey yang memejamkan mata di atas ranjang.

__ADS_1


Pedro mulai mengeluarkan semua peralatannya. Ia sebenarnya masih terlalu gugup untuk menyentuh Amey. Namun karena melihat wajah iblis Tuan Muda arogan itu, maka ia pun menguatkan mentalnya untuk menyentuh dada Amey dengan sebuah alat berbentuk bulatan kecil. Untung saja Arsen sudah memakaikan istrinya baju.


"Tuan Arsen, sudah berapa lama Nyonya Muda tidak sadarkan diri?"


Arsen berdiam. Ia bingung harus menjelaskan dari mana. Tentu saja karena Amey sudah enam kali pingsan, namun yang terakhir kali belum siuman sampai saat ini.


"Memeyku, sudah enam kali tidak sadarkan diri, tapi selama lima kali pingsan, ia masih bangun dan melanjutkan pergulatan bersamaku," tutur Arsen dingin.


"A--apa? Enam kali pingsan? Kenapa bisa demikian? Pergulatan apa yang Tuan maksud?" Pedro melontarkan berbagai pertanyaan sehingga membuat Arsen mengeratkan rahangnya, ingin sekali ia menancapkan pukulan di wajah Pedro.


"Ehem!" Mark berdehem sembari menatap Pedro dengan tatapan garang. Pedro pun akhirnya mengerti dengan maksud Arsen lewat isyarat yang diberikan Mark.


Ohhh dewa! Enam kali pingsan berarti pukulan Tuan Arsen luar biasa dahsyat! Ckckck, pria perkasa! batin Pedro memuji.


"Woy! Apa yang kau pikirkan? Cepat katakan apa yang terjadi pada Memeyku?"


Pedro bingung untuk menjawab pertanyan Arsen. Pasalnya baru kali ini ia menerima pasien yang telah enam kali pingsan akibat bermain kuda-kudaan suami istri.


"Jika tidak mau menjawab, keluar sana! Jangan harap kau bisa kembali bekerja di rumah sakitku!" geram Arsen menendang kaki Perdro.


Semua yang ada di situ terperanjat. Mata dan mulut mereka terbuka lebar saat mendengar teriakan dari Amey yang begitu lantang. Arsen pun terkesiap, ia memandangi wajah istrinya itu dengan penuh tanda tanya.


"Memey Sayang? Kau tidak apa-apa?" lirih Arsen.


"Nyonya muda? Apa yang Nyonya rasakan?" sambung Pedro.


"Kalian semua berisik! Sakit telingaku mendengar ocehan tidak jelas dari kalian! Aku lelah, aku mengantuk dan aku ingin tidur! Tapi kalian malah membuat keributan yang sama sekali tidak berfaedah!" geram Amey.


Apa? Jadi dia hanya tidur? Goshhhh! batin Arsen.


"Memey Sayang, kembalilah tidur."


"Nyonya Muda, apa kau merasakan sesuatu? Coba katakan pada saya," ucap Pedro.

__ADS_1


"Ck! Keluar! Kalian semua keluaarrr!" tukas Amey penuh amarah.


Arsen menelan saliva. Ia terkejut saat Amey mengusir mereka, termasuk dirinya.


"Keluar kalian! Biarkan Memeyku beristirahat. Kalian sungguh berisik. Lihat! Kalian menganggu ketenangan Memeyku! Cepat keluar dari sini!"


Mark dan Pedro memandangi wajah Arsen dengan tatapan nanar. Mereka tidak percaya jika Arsen menyalahkan kedua orang itu sedangkan yang sedari tadi membuat keributan adalah dirinya sendiri.


Perasaan, aku tidak mengeluarkan suara sejak tadi. Kenapa Tuan menuduhku yang berisik? Padahal Tuan sendiri yang berteriak sampai menciptakan kegaduhan. Batin Mark.


Mark dan Pedro akhirnya keluar dari kamar. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tentu saja mereka tidak habis pikir dengan si Tuan Arogan itu. Bisa-bisanya menghantam Amey sampai enam kali pingsan. Mereka bertanya-tanya, berapa jam dan berapa ronde yang dihabiskan kedua petarung itu.


Di dalam kamar, Amey terpaksa membuka matanya yang masih sayu. Bukan hanya sayu tapi memiliki setengah lingkaran berwarna gelap di bawah matanya. Bagaimana tidak, ia memang sangat kelelahan dan kehabisan energi. Arsen memang menguras energinya. Ia bahkan tidak tidur semalaman karena harus melayani belut beringas sang suami. Makanya ia terlihat layaknya Zombie.


"Memey Sayang? Kau tidak apa-apa?" tanya Arsen.


"Jangan dulu bicara padaku, aku sangat lelah. Untuk mengeluarkan beberapa kalimat ini saja, sudah menguras energiku," lirih Amey.


"Baiklah Sayang. Tapi kau tidak marah padaku 'kan?"


"Tidak. Aku tidak marah padamu, hanya saja aku butuh tidur. Ohya, sepertinya aku membutuhkan kursi roda lagi. Kali ini celah kangkangku terasa kram dan berdenyut."


Arsen tersenyum kecil. Ia langsung membaringkan tubuhnya kembali di samping Amey dan mendekapnya erat-erat. Ia mencium kening Amey setelah itu berpindah menancapkan ciuman bertubi-tubi di bibir Amey.


"Istirahatlah Sayang. Kau sangat kelelahan rupanya. Trima kasih telah melayaniku, sesuai dengan perjanjianmu padaku," mengelus lembut puncak kepala Amey. Tapi Amey tidak menggubris dan kembali terlelap.


Jam telah menunjukkan pukul tujuh pagi saat itu. Baru dua jam yang lalu mereka berhenti bertarung. Selama dua jam itulah Amey pingsan untuk keenam kalinya. Lebih tepatnya sih Amey tidur karena sangat lelah dan hampir kehabisan oksigen dibuat Arsen.


Pertarungan yang sangat panjang. Di mulai dari pukul enam sore sampai pukul lima subuh! Dan ini merupakan rekor baru lagi bagi Amey. Tak hanya Amey, Arsen pun untuk pertama kalinya mencapai dua belas ronde plus-plus. Ternyata ramuan yang diberikan Soffy terbukti khasiatnya, apalagi Nenek Rempong itu meningkatkan dosisnya.


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘

__ADS_1


Follow ig : @stivaniquinzel


__ADS_2