
Arsen dan Mark tiba di mansion pukul setengah satu malam. Dibalik wajah datar keduanya, sebenarnya menyimpan sejuta kepanikan diakibatkan melanggar kesepakatan yang mereka buat dengan pasangan mereka masing-masing.
"Ehem!" Arsen berdehem, mengisyaratkan Mark untuk berjalan mendahuluinya.
Mark berpura-pura tak paham maksud Arsen. Ia menatap bosnya dengan raut polos tak bercela.
"Ehem!" Untuk kedua kalinya Arsen berdehem.
"Ada apa Tuan? Apa tenggorokanmu gatal?" tanya Mark.
"Tidak. Kau masuklah duluan!"
"Ehm, sepertinya, Tuan duluan saja. Ada yang harus aku ambil di dalam mobil," tutur Mark beralasan.
"Sudah berani menolak perintahku?!" gertak Arsen mulai emosi.
"Tidak, Tuan. Mana mungkin aku berani menolak perintahmu."
"Kalau begitu masuklah lebih dulu!"
"Sekarang, Tuan?"
"Tidak, Mark! Tunggu sampai Kekeyi menghabiskan pentolannya!"
"Baiklah, Tuan." Otak Mark berputar seketika. Ia kemudian sadar jika Arsen sudah naik pitam. "Ma--maksudku, aku akan masuk sekarang."
Emosi yang menggebu kini meredah. Untunglah Mark cepat tersadar akan ucapannya itu. Sebenarnya Arsen dan Mark sangat gugup membuka pintu mansion. Tentu saja karena mereka takut mendengar raungan serigala betina yang akan mengamuk membela benua atlantis.
Perlahan Mark melangkahkan kakinya sampai ke pintu utama. Ia menarik napasnya panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Lagi-lagi aku dijadikan tumbal. Bisa gawat jika Sekretaris Jen menceramahiku karena pulang terlambat. Apalagi kalau ia sampai mencium bau alkohol yang melekat di tubuhku.
"Ayo cepetan buka!" bisik Arsen dengan manik yang melotot.
"Tuan, sepertinya kita harus siap-siap menangkis panci, spatula dan alat dapur lainnya!"
"Sialan kau, Mark! Jangan menambah beban ketakutanku!"
"Maafkan aku, Tuan. Tapi aku hanya mengatakan segala kemungkinan yang ada."
Arsen berpikir sejenak. "Kali ini kita harus bersatu."
"Bagaimana bisa, Tuan? Tubuh kita terpisah satu dengan lainnya."
"Bego! Maksudku kita harus menjadi sekutu!"
"Aku mengerti," tutur Mark, mengangguk.
"Kita harus mengatur strategi. Jika benar yang kau katakan tadi maka kita harus bersiap menghindari serangan panci, spatula dan alat-alat dapur lainnya."
"Aku mengerti," ucap Mark lagi.
"Ketika kau membuka gagang pintunya, kita berdua harus berjongkok. Jika situasinya aman, maka kita lanjutkan langkah kita. Tapi, kalau ada sesuatu yang mengancam nyawa kita dari arah mana saja, maka kita harus mengatur formasi!"
Mark mengangguk sembari memegang dagunya. "Lalu, formasi apa yang akan kita gunakan, Tuan?"
"Formasi burung elang!"
Mark menyipitkan matanya. "Formasi burung elang?" tanyanya lirih.
"Ya! Kau lari ke kiri, aku lari ke kanan. Kita berjalan selang-seling. Sesekali kita menunduk dan berjongkok!" Arsen mencontohkan formasi burung elang.
"Aku mengerti."
"Bagus! Kalau begitu langsung saja! Kau dengar aba-aba dariku!"
"Baik, Tuan!"
Kedua orang itu memasang kuda-kuda mereka dan mengambil ancang-ancang untuk membuka pintu mansion.
"One ... two ... three, open!"
__ADS_1
Mark membuka pintu mansion dengan cepat.
"Berjongkok!" perintah Arsen. Ia mamandangi sekelilingnya. "Aman!"
"Apa kita sudah boleh berdiri, Tuan?" tanya Mark.
"Jangan dulu! Kita tidak tau, bahaya apa yang akan menimpa kita! Kalau perlu kita tiarap!"
Mark langsung membayangkan wajah Jen. Dalam halunya, kepala Jen muncul dua tanduk berwarna merah. Raut Jen begitu menyeramkan seperti vampir yang haus akan darah. Jen membawa sebuah cambuk besi sembari berteriak, 'kita batal kawin!'
Mark menggelang kepalanya dengan cepat dan langsung tengkurap di lantai.
"Mark, apa yang kau lakukan?" bisik Arsen lagi.
"Aku sedang tiarap Tuan."
"Kalau begitu, aku juga!"
Arsen dan Mark pun tengkurap di lantai sambil tiarap. Tampak kedua orang itu seperti sedang mengikuti wajib militer. Kebucinan keduanya terhadap pasangan mereka, membuat kedua orang itu bertingkah aneh dan konyol.
Lampu utama ruangan tamu telah padam. Tinggal cahaya remang-remang yang dihasilkan lampu hias yang melekat di dinding ruangan. Suasana mansion sangat sepi sehingga pergerakan kecil dari Arsen dan Mark dapat memicu gema suara yang nyaring.
Kedua pria itu terperanjat saat lampu utama ruangan tamu telah menyala, sehingga menyilaukan mata keduanya. Mereka pun memejamkan mata.
"Apa yang terjadi, Mark?" tanya Arsen.
"Aku tidak tau, Tuan. Mataku sakit karena cahaya yang begitu silau."
"Aku juga!"
Arsen dan Mark membuka mata mereka dengan perlahan. Posisi keduanya masih tengkurap di lantai bagai cicak yang jatuh dari atap.
"Aku baru tau kalau ada siluman cicak di sini!"
Deg!
Seketika Arsen dan Mark mematung. Mata mereka melotot dengan mulut yang menganga lebar. Suara yang tiba-tiba muncul entah dari mana, berhasil membuat kedua pria itu terpaku membisu di posisi masing-masing.
"Nyonya Muda. Sepertinya kita harus membasmi siluman-siluman cicak di sini!" tambah seorang wanita yang tak lain adalah Jen.
Rest in peace, Mark! Ucap Mark dalam hati.
Perlahan-lahan, Arsen dan Mark mulai berdiri dari posisi tengkurap mereka.
"Stop!" teriak Amey dan Jen serentak.
Mendengar itu, secepat kilat Arsen dan Mark kembali ke posisi mereka masing-masing tanpa membantah.
"Arsen, sudah jam berapa sekarang?" tanya Amey sembari melangkahkan kakinya, mendekat ke arah Arsen.
"Jam dua belas lewat empat puluh lima menit, Memey," ujar Arsen dengan hati-hati.
"Kau ingat, jika kau berjanji akan pulang jam sepuluh malam?"
Arsen terdiam. Ia sebenarnya ingat, tapi ia berpura-pura untuk tidak ingat, siapa tahu Amey memberikannya dispensasi, begitu pikir Arsen.
"Nyonya Muda, bisakah aku membawa Tuan Mark pulang?" tanya Jen tiba-tiba.
"Tentu saja! Lakukan apa yang hendak kau lakukan padanya."
"Baik, Nyonya. Aku akan membawanya bersamaku, karena ada yang ingin aku sampaikan padanya!"
Mark terperanjat hebat. Ia menelan saliva dengan kasar. Mark tak berani menatap wajah Jenifer.
"Tuan, Mark. Ayo kita pulang," ajak Jen dengan nada yang lembut namun mematikan.
Dengan berat, Mark mengangkat tubuhnya. Setelah posisinya telah berdiri tegap, ia kemudian menatap Arsen yang masih tengkurap di lantai. "Tuan Muda, aku pamit pulang. Semoga hal buruk, dijauhkan dari pada Tuan."
"Kau juga, Mark. Semoga kau dijauhkan dari kabar buruk yang bisa mengancam masa depanmu!"
__ADS_1
Mark menunduk dan mengikuti jejak Jen dari belakang.
"Ars, berdirilah!"
Dengan sigap, Arsen berdiri.
"Apa yang membuatmu, melanggar kesepakatan kita?" tanya Amey.
Arsen kembali terdiam. Amey sengaja bertanya seperti itu, karena ia tahu jika Arsen tidak akan melanggar kesepakatan yang dibuat mereka dengan sembarangan. Pastilah ada penyebab di balik itu.
"Aku tidak akan memarahimu, jika kau mengatakan yang sebenarnya. Asalkan alasan itu dapat diterima akal."
"Memey, berjanjilah padaku terlebih dahulu, untuk tidak mengatakannya pada Garfield."
Amey mengernyitkan dahi. Namun, ia langsung mengangguk dan menyetujui permintaan suaminya. "Baiklah."
"Mark mabuk."
"Astaga! Bagaimana bisa?! Mark bukanlah pria ceroboh seperti itu. Dia sangat berhati-hati terhadap apa pun!"
"Ceritanya panjang, Sayang. Intinya, aku mengembalikan kesadaran Mark terlebih dahulu, lalu setelah Mark sadar, aku dan dia baru berani kembali ke mansion."
"Peff---bwahhhahaha!" gelak tawa Amey tiba-tiba meledak.
"Sayang, kau sehat 'kan? Kenapa kau tertawa sendiri?!" merabah jidat Amey dengan punggung tangannya.
"Aku hanya merasa lucu saja dengan tingkah kalian tadi. Jujur aku hampir tidak bisa menahan tawaku, saat melihat kau dan Mark, merayap masuk ke dalam mansion."
"Jadi kau tak marah padaku?"
Amey memanyunkan bibirnya.
"Maaf karena telah melanggar kesepakatan kita. Kau boleh menghukumku apa saja."
"Baiklah. Apapun alasannya, melanggar kesepakatan tetaplah sebuah kesalahan, kau tetap akan aku hukum. Selama sebulan kau tidak boleh keluyuran malam-malam lagi!"
Deg!
Arsen terperanjat. "Ta--tapi, Sayang ... ? Pesta pelepasan lajang untuk Mark baru saja di mulai. Masa iya, harus dibatalkan?"
"Kali ini tak ada toleransi bagimu!"
Mau tidak mau Arsen harus menerima hukumannya. Markkkkk! Lagi-lagi Kau!!!!! Batin Arsen, geram.
"Tapi aku salut padamu, Ars. Kau rela melanggar kesepakatan kita, hanya karena ingin mengurus Mark."
"Aku ... aku hanya tidak ingin Mark mendapat masalah dengan Garfield. Pernikahan mereka sudah di depan mata. Sebagai wali Mark yang baik, maka aku harus menjaga hubungan baik antara Mark dan Garfield."
Mendengar itu Amey menjadi terharu. Sebenarnya dibalik kekasaran Arsen pada Mark, tersimpan sejuta kepedulian untuk asisten sekaligus sahabatnya itu. Saat melihat tingkah konyol Mark waktu mabuk, Arsen merasa legah dan senang, karena hati beku Mark telah mencair.
Cukup bagi Mark telah merasakan sakit bertahun-tahun lamanya. Luka batin Mark akhirnya bisa sembuh total dengan kehadiran Jenifer. Dan Salah satu sikap Arsen mengekspresikan rasa turut bahagianya, adalah dengan merayakan pesta pelepasan lajang untuk Mark. Meski pun hanya sesaat, namun itu sudah memiliki arti yang dalam untuk Arsen.
"Sayang, kau sangat perduli pada, Mark," lirih Amey.
Arsen menjadi salah tingkah. Ia berusaha memperlihatkan ekspresinya di depan Amey, jika ia tidak tertarik dengan kisah hidup Mark. Namun nyatanya, Mark bisa sampai ke tahap ini, karena dorongan dan bantuan dari Arsen yang mendekatkan Jenifer pada Mark.
"Aku tidak tertarik apalagi peduli dengan kehidupan, Mark!" ketus Arsen.
"Meski mulutmu berbohong, tapi mata dan hatimu tak bisa berbohong, Sayang," ucap Amey.
"Terserah kau saja."
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
__ADS_1
.
Follow ig @syutrikastivani