Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Wawancara


__ADS_3

Hari itu merupakan hari istimewa bagi keluarga Winston. Setelah empat minggu berada di rumah sakit, kini Amey dan empat bayi Ed sudah diperbolehkan pulang. Kondisi Amey pun sudah membaik. Hanya saja ia tidak boleh kelelahan dan beraktivitas lebih.


Keempat bayi itu diletakkan Amey di kamar yang sudah disiapkan. Karena Amey belum memiliki pengasuh bayi, maka Elis dan Sinta yang membantu Amey dan Arsen mengurus keempat bayi mungil mereka.


"Lucu sekali," ucap Sinta menyentuh pipi salah satu dari mereka. "Ini namanya siapa ya?"


"Edward. Dia yang sulung," jawab Elis.


"Elis, kau sangat hebat! Aku tak bisa membedakan semua bayi ini. Mereka semua sangat mirip!"


"Kau pikir aku juga bisa membedakan?!"


"Lalu dari mana kau tau kalau dia adalah Edward, si sulung?"


"Di setiap pakaian mereka sudah ada namanya. Kau bisa membacanya!" menunjuk ukiran nama di baju yang dikenakan Edward.


"Kau benar!" ketus Sinta.


"Coba kau lihat ini. Edward memiliki tanda lahir seperti ini di kaki kanannya, kalau Edhan di kaki kirinya, sedangkan Edgar di lengan kanan."


"Aku tau! Pasti Edzel di lengan sebelah kiri," ucap Sinta sembari melihat lengan kiri Edzel. "Tuh kan benar! Semuanya juga sangat tampan. Nggak kebayang kalau mereka sudah besar, pasti jadi rebutan para wanita!"


"Sudah pasti! Orang tuanya tampan dan cantik, pasti anak-anaknya pun demikian!"


"Kau benar Elis. Tapi, menurutmu ... Apa sifat mereka akan mirip juga seperti Tuan Arsen?"


Elis menatap Sinta dengan sinis. "Jangan sembarang bicara! Kariermu akan berakhir jika Tuan Muda mendengarnya!"


Secepat kilat Sinta membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Cepat selesaikan tugasmu dan kembalilah bekerja!" Perintah Elis.


Sinta mempercepat pergerakannya menggantikan mereka popok. "Ini yang terakhir," membasuh peluh di dahinya.


"Sebentar lagi Tuan dan Nyonya akan kembali. Jadi jaga bicaramu!"


"Baiklah."


Sinta pun mengangguk paham. Dan benar saja tak lama kemudian, Amey dan Arsen tiba di ruangan si kembar empat. Mereka telah menyelesaikan makan siang mereka. Dan sebentar lagi Amey akan memberi mereka ASI.


"Elis, Sinta. Kalian boleh kembali. Aku akan menyusui mereka," tutur Amey.


"Baik Nyonya."


Elis dan Sinta menunduk dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu.


"Ars, kau tak kembali ke kantor?"


"Sepertinya tidak. Aku mau bersama keempat bayi Ed."


"Baiklah."


"Besok aku akan mencarikan pengasuh untuk mereka. Kau mau pengasuh yang seperti apa?"


"Terserah, yang penting mereka bisa menyayangi bayi-bayi Ed dengan tulus," ucap Amey, mengelus kepala bayi mungilnya.


"Baiklah. Akan ku suruh Mark mencarikannya. Aku tak meragukan kemampuannya dalam bekerja."


Amey mengangguk sembari tersenyum.


***


Kehadiran empat bayi kembar di mansion membuat tempat itu semakin berwarna. Aura yang sebelumnya dingin bagai kutub utara, kini menjadi istana yang dipenuhi warna bagai pelangi. Apalagi saat tangisan merdu yang bergema sili berganti menghiasi tempat itu.


Seringkali Arsen dan Amey kewalahan saat menghadapi empat bayi Ed, saat mereka menangis. Untunglah ada Soffy yang ahli merawat bayi karena pernah bekerja di panti asuhan.


Kesesokan harinya, Mark menghubungi jasa pengasuh anak. Dari sekian ribu pengasuh yang mendaftar, hanya empat yang akan terpilih. Dan hari itu Mark tampak sibuk. Sudah hampir dua belas jam ia tak bergeming dari posisinya. Tentu saja karena ia sementara mengadakan wawancara bagi calon pengasuh empat bayi Ed.


"Hufthh!" Mark mendengus. Ia terlihat kelelahan. "Apa masih ada lagi?" tanya pada Jen.


"Masih Tuhan."


"Berapa banyak lagi?"


"Sekitar dua puluh orang."


Mark hanya bisa menelan salivanya kasar. "Fighting! Kau harus menemukan pengasuh bayi Ed! Jika tidak kau sendiri yang akan berakhir di tangan keempat bayi arogan itu!" gumam Mark.


"Apa Tuan bicara sesuatu?" tanya Jen karena ia seperti mendengar Mark berbicara.


"Ya! Bawa mereka semua masuk!"


"Se--semua? Tapi masih sekitar dua puluh orang, Tuan? Apa tidak apa-apa?"


Mark kembali memutar otaknya. "Lima orang saja."


"Baik Tuan." Jen berjalan keluar ruangan. Ia memanggil lima orang pengasuh sesuai dengan permintaan Mark.


Kantor itu dipenuhi dengan wanita-wanita calon pengasuh bayi. Apalagi di ruangan Mark, sudah beratus-ratus wanita baik yang sudah umuran maupun yang masih muda, keluar-masuk ruangannya. Meski sudah begitu banyak wanita yang mengikuti wawancara, namun tak ada satu pun yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Arsen.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok


"Masuk," ucap Arsen dari balik pintu.


Jen masuk ke dalam dengan kelima wanita lainnya.


"Duduk."


Kelima wanita itu duduk dengan sopan.


"Berapa usia kalian?" tanya Mark sembari memegang kepalanya.


"Saya dua pu ..."


"Tunggu dulu! Aku belum bilang siapa yang akan menjawabnya! Kau tak sopan!" geram Mark.


"Maafkan saya Tuan."


"Aku tidak menyuruhmu berbicara! Kau tidak lolos!" telaknya. "Kau bawa gadis tak sopan ini," pintanya pada Jen.


"Baik Tuan." Huhhh! Kalau begini terus mana bisa dapat pengasuh keempat bayi Ed! Belum saja mulai wawancaranya, sudah main usir! Dasar es batu! Batin Jen.


"Aku tidak ingin pengasuh yang tidak sopan! Sebelum kalian berada di sini, bukankah aku sudah membagikan brosur mengenai kriteria pengasuh yang dicari?! Yang akan kalian urus adalah bayi-bayi Tuan Muda, Arsen Winston! bukan bayi sembarangan! Aku kira kalian sudah cukup mengenal keluarga Winston! Jadi aku tidak perlu menjelaskannya secara detail! Mengerti?!"


Keempat wanita itu menunduk ketakutan. "Mengerti Tuan."


"Aku mulai dari yang memakai baju warna cokelat," menunjuk wanita yang duduk di samping kiri. "Berapa umurmu, apa pengalaman kerjamu, sudah menikah atau belum?"


"Saya Listi Tuan. Umur Saya dua puluh delapan tahun. Dari saya umur tujuh belas tahun, saya sudah menjadi seorang pengasuh bayi. Saya sudah bercerai."


Mark mengernyitkan dahi. Ia memandang sebuah dokumen yang berisikan identitas dari wanita berbaju cokelat. "Umurmu sama seperti Nyonya Muda. Wajahmu, tidak terlalu jelek, penampilanmu ... " menatap pakaian Listi. "Berdiri!" ucapnya tiba-tiba.


Listi berdiri dengan sigap.


"Berputar!"


Listi pun mengikuti instruksi dari Mark.


"Cukup!"


"Apa saya di terima Tuan?"


"Tidak!"


Deg!


Jen memutar bola matanya dengan malas. "Selalu saja seperti ini!" gumamnya kesal.


"Ti--tidak, Tuan," ucapnya dengan lesu.


"Kau terlalu kurus. Kau juga terlalu muda."


Alasannya sangat tak masuk akal!! Batin Jen.


"Nanti saya akan makan banyak Tuan. Tapi kalau soal usia ...? Saya ... "


"Bukan itu masalahnya! Jika badanmu terlalu kurus, bagaimana nanti kau akan mengurus bayi-bayi Ed?! Kau tidak tau seberapa lincahnya mereka!" Aku saja menyerah! ucap Mark dalam hati. "Ohya, masalah umur juga! Tuan Arsen tidak suka hal-hal yang sama dengan Nyonya Muda. Sekecil apapun itu!"


"Apa karena usia saya yang sama seperti Nyonya Muda?"


"Yapp! Kau benar! Karena semuanya sudah jelas, kau bisa keluar sekarang!"


Listi terpaksa meninggalkan ruangan Mark. Ia sangat kecewa karena baru pertama kali ia ditolak menjadi pengasuh bayi. Listi sengaja mengundurkan diri dari pekerjaannya mengasuh seorang anak pengusaha kaya, hanya untuk mendaftarkan diri menjadi pengasuh empat Winston junior. "Sialan! Aku dibilang kurus?! Padahalkan ini seksi! Hadehhh hilang sudah harapanku mendekati Tuan Muda!"


"Secantik apapun dirimu, seseksi apapun dirimu, kau tak 'kan bisa menandingi Nyonya Muda! Apa kau tidak tau seberapa bucinnya Tuan Muda pada Nyonya?! Walaupun kau pakai orang pintar sekalipun, aku yakin seribu persen santetmu tak akan berhasil menggoyahkan hati Tuan Muda pada Nyonya. Haha!"


Listi terkejut mendengar suara yang menyindirnya. "Se--sekretaris Jenifer?!" lirihnya gugup.


"Tuan Mark memang sangat pintar dalam hal memilih! Untung saja dia tidak menerimamu!" ketusnya sembari menutup pintu. Jen melangkahkan kakinya menuju ke sebelah Mark.


"Pertanyaannya sama seperti tadi. Dan yang akan menjawab, kau!" menunjuk dengan pena.


"Nama saya, Rosa Tuan. Umur tiga puluh lima tahun. Saya asisten rumah tangga sekaligus juga pengasuh bayi. Saya sudah menikah tapi belum memiliki anak."


Mark kembali berpikir. Ia menatap dokumen yang ada di meja kerjanya. "Kau yakin bisa mengurus empat Winston junior?"


"Saya, yakin Tuan."


"Berdiri!"


Rosa pun berdiri.


"Berputar."


Rosa mengikuti perintah Mark.


Jen tiba-tiba mengendus. Hmmm, aku tidak mencium bau-bau pelakor! Jadi aman! Aku yakin Tuan pasti memilihnya.


"Cukup!"

__ADS_1


Rosa kembali duduk.


"Aku juga belum bisa menerimamu!"


Lohhh! Ke--kenapa? Batin Jen.


"Apa ada dari saya yang mirip dengan Nyonya Muda?" tanya Rosa.


"Bukan."


"Lalu kenapa saya di tolak?"


"Kau memiliki kutil di tangan dan kakimu! Jadi kau belum bisa menjadi pengasuh keempat bayi Ed!"


"Tuan! Aku rasa itu tidak berjangkit. Aku bisa pastikan itu! Jadi kau bisa memilih Ibu Rosa untuk menjadi salah satu pengasuh," timpal Jen.


"Bodoh! Seorang pengasuh bayi kembar keluarga Winston, haruslah sempurna yang sesuai dengan kriteria Tuan Muda! Jadi aku tidak bisa menerimanya karena dia belum memenuhi kriteria tersebut!" jelas Mark.


Jenifer mengangguk pelan. Namun hatinya sebenarnya sangat kesal. Sabar Jen, sabar!


"Kalau begitu, saya permisi Tuan," ucap Rosa dengan nada lesu.


Jen merasa kasihan dengan wanita itu. Namun mau bagaimana lagi, keputusan Mark mutlak dan tak bisa di ganggu gugat.


"Kalian berdua juga ditolak! Silahkan pergi!"


Deg!


Kedua wanita itu saling menatap satu sama lain dengan ekspresi bingung.


"Lama-kelamaan pria ini semakin gila! Belum saja di wawancara sudah di tolak mentah-mentah," gumam Jen.


"Tuan, kita berdua belum menyebutkan nama dan umur," ucap salah satu dari mereka.


"Beferly! Benar?" tanya Mark.


"Be--benar Tuan."


"Kau memiliki hobi memasak."


"Benar Tuan."


"Tuan Muda tidak suka dengan wanita yang memiliki hobi sama seperti istrinya. Jadi kau di tolak. Silahkan keluar!"


Wanita yang bernama Beferly pun keluar dengan perasaan kecewa.


"Amelia! Benar?" menatap wanita yang tersisa itu.


"Benar Tuan."


"Rambutmu panjang. Namamu juga hampir mirip dengan Nyonya Muda. Jadi kau sudah tau alasannya 'kan. Silahkan pergi!"


Amelia pun pergi meninggalkan ruangan Mark.


Jen sudah tak tahan lagi dengan sifat Mark. Ia memukul dengan kencang meja kerja pria itu.


Plakkk!


Mark terkejut bukan kepalang.


"Cukup!"


Pria itu menatap Jen dengan tatapan membunuh. "Apa maksudmu?!"


Deg!


Jen seketika tersadar. A--apa yang baru saja aku lakukan?! batinnya. "Maksudku, wawancara hari ini sudah cukup, Tuan. Mari kita lanjutkan besok. Kau terlihat sudah sangat lapar."


Kruyuk ... kruyukk


Jen memegang perutnya. Sialan! Cacing-cacingku sedang mengadakan konser!


"Sepertinya kau yang lapar. Baiklah kita akhiri wawancara hari ini."


Jen bernapas lega. "Baik Tuan."


"Ayo kita makan malam," ajak Mark.


Jen tersenyum tanpa disadarinya.


*T*bc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.

__ADS_1


Follow ig : @syutrikastivani


__ADS_2