Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Amukan Singa Perawan ~ Lamaran Jayden


__ADS_3

Wanita delapan puluan tahun itu menuju toko mainan. Dengan semangat membara ia menghampiri toko dan berniat untuk memberikan pelajaran kepada karyawan-karyawan toko.


Sesampainya di sana, ia mendapati wanita yang adalah manajer toko sedang berbincang dengan pegawai wanita lainnya.


"Siapa yang bertanggung jawab di sini?" tanya Soffy, berkacak pinggang.


Semua karyawan toko melirik ke sumber suara. Sebagian tak menghiraukan wanita tua itu karena menurut mereka Soffy adalah orang aneh yang tiba-tiba muncul di tempat itu.


"Woyyy! Apa kalian semua tunarungu?!"


"Maaf, kami sudah menutup toko. Silahkan datang kembali jika tokonya sudah di buka," ucap manajer toko.


"Apa kau yang bertanggung jawab di sini?" tanya Soffy lagi dengan ubun-ubun yang mulai mengeluarkan asap dan sedikit lagi akan terbakar oleh api amarah.


"Ya. Saya mana--" belum saja melanjutkan ucapannya tangan tua yang sudah keriput itu mulai menjambak rambut manajer toko itu dengan b*ringas.


"Dasar gadis ***** *****!! Berani sekali kau menghina cicitku!!"


"Aduhhh sakit, Nek. Awhhhh!! Aduhh tolong lepaskan rambut saya!" jerit manajer toko.


"Tidak akan! Perempuan nggak ada akhlak seperti kamu, mana bisa aku lepaskan!!"


Amukan Soffy semakin menjadi. Walau usianya sudah sangat tua, namun staminanya tidak ikut menua. Malahan ia semakin lincah menjambak rambut manajer toko dengan penuh semangat yang membara.


"Dasar penyihir tua sintingg! Lepaskan tanganmu dari rambutku!" celutuk manajer mulai emosi. "Woy kalian kenapa diam saja, singkirkan nenek gombel ini dari hadapanku!" pintanya pada semua karyawan toko.


"Apa kau bilang?! Penyihir tua sinting? Ne-nenek gombel?!! Heh, maju kalian kalau berani. Biarku botakkin kepala kalian semua!"


Deg!


Karyawan toko tidak ada yang berani mendekat setelah mendengar ucapan brutal dari Soffy. Mereka sangat ketakutan dan lebih memilih menjauh dari tempat itu.


"Mana sekuriti?! di mana petugas keamanan di sini, hah?!!" teriak manajer toko mulai kewalahan.


"Tidak ada! Siapapun yang berani maju jangan harap bisa selamat dari amukan singa perawan!"


Situasi semakin memanas. Toko itu kembali di penuhi oleh netizen-netizen kepo. Para petugas keamanan sedang melakukan tugas mereka untuk menahan orang-orang yang mengambil ancang-ancang menerobos masuk ke dalam toko.


Merasa sangat dipermalukan, manajer toko pun langsung ikut menjambak rambut Soffy. Ia menarik rambut wanita tua itu dengan segala kekuatan yang ia miliki.


"Awhhhhhhh! S--sakitt bego!!" rontah Soffy.


"Lepaskan dulu tanganmu, baru aku akan melepaskan juga tanganku dari rambutmu!"


"Dasar cacing keriting, berwajah kecebong! Walau aku sudah tua tapi kekuatanku sebesar gajah!" Soffy mengeluarkan semua kekuatan yang ia miliki. Napasnya terengah-engah karena kekuatannya yang mulai melampaui batas.


"Nenek gombel gila! Hentikannnn! Kepalaku sangat sakit!!" Manajer toko pun akhirnya menyerah. Ia melepas cengkeraman jemarinya di rambut Soffy.

__ADS_1


Melihat wanita penjaga toko itu sudah menyerah, akhirnya Soffy melepaskan tangannya. Telapak tangan Soffy dipenuhi anak rambut milik manajer toko. Soffy tersenyum puas. "Bagaimana rasanya? Mantap mantap sedap 'kan?" tersenyum kecut.


Soffy memperbaiki rambutnya yang sudah amburadul bagai di sambar kilat. "Sial! Padahal aku baru maskeran!" umpatnya. Wajah Soffy pun tampak mengerikan karena riasan wajahnya mulai luntur. Lipstik berwarna gelap yang tadinya terletak rapi di bibir kini belepotan ke segala arah di wajahnya.


Soffy menatap semua orang-orang yang menonton perkelahian sengit dirinya dan manajer toko. Ia tersenyum lebar dan memamerkan kekuatan dan kehebatannya saat menjambak rambut.


"Wajahnya menakutkan sekali. Dia benar-benar seperti penyihir," tutur seseorang dari luar toko.


"Siapa Nenek lincah itu? Sepertinya dia menaruh dendam pada pegawai wanita itu," ucap lagi seseorang.


Manajer toko itu mengebas tubuhnya dan menata kembali rambutnya yang tak kalah berantakan dengan rambut Soffy. "Permisi Nyonya. Atas dasar apa Anda mengamuk di sini dan menjambak rambut saya? Saya bisa saja menuntut Anda karena telah menyerang saya tanpa alasan!"


"Apa? Kau akan menuntutku?! Hahah!" terbahak.


Manajer toko dan karyawan lain keheranan. Di pandangan mereka Soffy adalah wanita tua yang sudah tidak waras.


"Kenapa Anda tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya manajer toko.


"Heh wanita siput spiral yang berkembang biak di sawah, dengar ya, aku adalah Nenek dari keempat kembar yang kau hina beberapa saat yang lalu!!"


Deggg!!!


Semua makhluk hidup di sana terbelalak. Bahkan semut yang lewat seolah menghentikan langkahnya saat mengetahui siapa Soffy.


"Ne--nenek dari tuan-tuan muda kecil tadi?" gumam manajer toko.


Manajer toko kembali terpaku membisu. Jantungnya berdegup kencang. Peluh mulai menetes di dahinya padahal tempat itu dipenuhi pendingin ruangan. Belakang punggungnya pun mulai banjir dengan keringat dingin. Ia tak bisa lagi menggerakan bibirnya untuk berucap saking takutnya dengan wanita tua buas di depannya.


Toko robot itu kembali menjadi sorotan pengunjung. Berkali-kali lipat orang yang datang menonton pertunjukkan gratis di banding sebelumnya. Ya! Jelas saja karena pertunjukkan ini lebih seru dan lebih menarik perhatian dari pada sebelumnya.


"Aku sudah selesai memberi pelajaran padamu. Jika ada yang merasa keberatan silahkan maju dan mari bergulat denganku!"


Semua orang tertunduk. Mereka terlalu takut melihat tampang Soffy yang begitu mengerikan.


"Jika sudah tidak ada lagi, maka aku pamit undur diri. Bye maksimal!" Soffy berjalan meninggalkan tempat itu. Semua orang menepi, memberikan Soffy jalan. Bahkan tidak ada yang berani menatap mata Soffy secara langsung.


Para karyawan toko akhirnya bisa bernapas lega dari cekikan maut yang mengerikan.


"Huhhh, akhirnya nenek sihir itu pergi."


"Iya kau benar. Jantungku hampir berhenti berdetak saat melihat kekejaman nenek sihir itu."


"Jangan sembarang berucap. Biar bagaimana pun juga wanita tua itu berasal dari keluarga Winston. Aku tidak mau berurusan lagi dengan mereka. Benar-benar kejam dan menakutkan."


"Woyy! Siapa tadi yang menyebutku Nenek Sihir?!!"


Degggg!

__ADS_1


Suara cempreng itu terdengar kembali di sekeliling mereka. Suara itu kembali mengintimidasi orang-orang yang berada di sana.


Semua orang kembali tertunduk.


Aishhh! Ada apa lagi dia datang kemari. Apa dia tidak puas melabrakku? Tobat aku berurusan dengan nenek-nenek mengerikan seperti ini. Batin manajer toko.


"Hoy hoy hoy! Kenapa semuanya diam? Apa aku menakuti kalian?! Hahah santai aja keless! Aku hanya datang mengambil sesuatu yang aku lupakan. Hmm, ini dia," meraih kantong plastik berisi es krim. "Oke baik. Aku lanjut dulu, kalian bersikap baiklah pada pelanggan. Bye maksimal part dua!!"


Soffy kembali berjalan meninggalkan tempat itu. Para karyawan kembali tenang saat bayang-bayang Soffy telah lenyap di balik pintu kaca.


***


Sementara di kediaman keluarga Kaylee sempat terjadi ketegangan. Jayden tiba-tiba datang dan mengatakan jika dirinya akan melamar salah satu anak dari Nyonya Kaylee.


Berlin terkesiap saat mendengar ucapan Jayden. Ia membulatkan matanya. "Apa saya tidak salah dengar, Mr. Smith?"


"Ya. Saya akan mempersunting salah satu anak Anda," tutur Jayden lagi dengan penuh keyakinan.


Megan tersipu malu. Rona merah mulai bermunculan dipipinya. Ia sangat percaya diri jika Jayden menaruh hati padanya.


Ya! Pasti tuan Jayden menyukaiku pada pandangan pertama. Hmm, ternyata hadir di pesta pernikahan Tuan Mark mendatangkan jodoh yang tak terduga, hahah.


Lirikan mata Jayden tak menentu arah. Sedari tadi ia mencari sosok perempuan yang akan menjadi istrinya, namun tak kunjung dilihatnya, begitu juga dengan Margareth. Jayden tidak melihat batang hidung dari Milley dan kepala pelayan.


"Mr. Smith, kalau itu mau Anda, saya akan menyerahkan anak saya dengan iklas sebagai istrimu," tersenyum kecil sambil menatap ke arah Megan.


"Trima kasih Nyonya Kaylee. Kalau begitu biarkan saya menentukan tanggal pernikahannya."


"Dengan senang hati, Mr. Smith."


"Bagaimana kalau tiga hari lagi? Aku akan mengatur segala persiapannya," ujar Jayden membuat kedua wanita di depannya terkesiap.


"Bu--bukankah itu terlalu cepat, Mr. Smith?" tanya Berlin.


"Tidak apa-apa, Ma. Aku siap kok. Jangan mengecewakan Mr. Smith yang datang kemari hanya untuk melamarku," sambung Megan dengan penuh percaya diri.


Jay mengerutkan dahi. Ia kembali mencerna ucapan Megan yang seolah mengatakan jika Jayden akan melamarnya. "Maaf, saya pikir ada kesalahpahaman di sini."


To be continued ...


.


.


.


LIKE, KOMEN DAN VOTE DARI KALIAN AKAN SANGAT MEMBANTU AUTHOR 🥰

__ADS_1


follow ig: @syutrikastivani @stivaniquinzel


__ADS_2