Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Mark yang Oleng


__ADS_3

Malam semakin larut, Arsen menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas lewat dua menit. Dengan wajah yang garang, Arsen mengacak rambutnya. Ia menggebrak-gebrak pintu kamar kecil dengan sangat keras.


Brakkk ... brakkk ... brakkk !!


"Apa kau sedang bersemedi di dalam?!" teriak Arsen dengan kesal.


"Huekkk ... huekkk! se--bentar lagi, Tu--, huekkkk!" sahut seseorang dari dalam.


"Kau sangat payah, Mark! Baru beberapa gelas saja kau sudah bagai wanita hamil muda yang mual-mual!"


Arsen tak menyadari ucapannya, dialah yang lebih parah dari Mark, jika mabuk. Baru dua gelas alkohol saja sudah membuat Arsen berada di angan-angan alias mabuk tujuh keliling.


Saat ini, bukan Arsen yang oleng, tapi Mark. Bagaimana tidak, Arsen dan gengnya mengadakan permainan drinking roullete dan Mark selalu kena imbas dan akhirnya harus menerima hukuman meminum alkohol.


Mark sebenarnya tipe pria yang tergolong lemah dengan alkohol. Ia mirip seperti Arsen yang tak tahan dengan minuman yang berbau alkohol. Namun sebagai pria perkasa, ia harus menerima konsekuensi atas kekalahannya, meminum alkohol setiap kali kalah dalam permainan.


Mengetahui kelemahannya itu, ia pun selalu membatasi pasokan alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya. Makanya ia tidak terlalu suka dengan alkohol. Kalau pun ia meminumnya, pastilah karena terpaksa. Namun kali ini berbeda. Mark tidak dapat mengontrol lagi asupan alkohol yang telah masuk ke dalam tubuhnya sehingga membuat ia mabuk.


Terakhir kali Mark mabuk, ketika Eggie memaksanya menikah dengan Rachel. Dan itu sudah sangat lama. Waktu di mana Mark meminum alkohol hanyalah di saat ia menghadiri acara besar. Itu pun hanya sebagai formalitas saja agar ia bisa akrab dengan koleganya dan bisa mengambil hati lawan bisnis, supaya bisa bekerja sama dengan WS Group.


Malam ini, Mark telah mencapai batasnya. Sudah hampir tiga puluh menit ia berada dalam kamar kecil dan memuntahkan kembali isi perutnya. Untuk kedua kalinya Mark membuat Arsen merangkul tubuhnya dan membawanya ke toilet hanya untuk membuang asam yang telah masuk dalam perutnya. Bukan hanya merangkul, Mark juga membuat si Tuan Arogan menunggu hampir tiga puluh menit di depan pintu.


"Mark! Sialan kau! Ayo keluar dari sana!" ketus Arsen, ganas.


Dengan tubuh yang lemas, Mark pun keluar dari dalam toilet. Kakinya bahkan tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sehingga ia jatuh ke dekapan Arsen.


Bukkkk!


"Shittttt! Kau sangat berat, Mark!" rengek Arsen seraya melingkarkan lengan Mark di lehernya, serta tangan kanannya memegang pinggang Mark.


Mark menyipitkan matanya menatap Arsen. "Apa kau benar, Tuan Muda Arsen Winston?" ucap Mark dengan nada yang mulai tak karuan sembari telunjuknya menancap di jidat Arsen.


Arsen menjadi geram. Deru napasnya mulai tak karuan menahan amarah. "Shut up!!"


"Haha! Ternyata benar! Kau memanglah Tuan Muda Arsen Winston," terbahak. Namun beberapa saat kemudian Mark tersadar. "Goshhhhh!" ketusnya melonjak kaget. Ia pun segera melepaskan diri dari dekapan Arsen dan membungkukkan badannya. "Ma--maafkan aku, Tuan. Aku sudah lancang."


"Kau masih setengah sadar rupanya!" ujar Mark, sinis.


Kesadaran Mark pun hanya sesaat. Ia menyipitkan matanya lagi dan memandangi wajah Arsen. Merasa tak puas dengan apa yang dilihatnya, Mark mengucek matanya lagi dan lagi. "Siapa kau?!"


Deg!


"Sadarlah Jodi sinting!" menggoyang pundak Mark dengan kencang.


Plakkkk!


Mark menepis tangan Arsen. Dengan langkah yang berat, Mark berjalan meninggalkan bosnya yang sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Matilah kau, Mark!" celutuk Arsen, mengepal tangannya erat. Arsen menyusul Mark yang sedang berjalan tanpa arah dan tujuan.


Langkah Mark tiba-tiba berhenti. "Heh, kau?!" tuturnya pada seorang gadis yang sedang duduk di depan meja bar. "Kenapa kau di sini, hah?" tanyanya.


Arsen yang melihat tingkah Mark, segera berlari mendapatkan pria mabuk itu. "Apa yang dilakukan si sinting itu?" gumam Arsen.


"Kau memanggilku?" tanya wanita yang di ajak bicara oleh Mark.


"Hmm!" mengangguk. "Kenapa kau ada di sini, gadis jorok!"


Deg!


Wanita itu terperanjat. Ia menatap Mark dengan tatapan heran. "Maaf? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya wanita berbaju abu-abu itu.


"Aktingmu bagus juga. Hahah! Kau adalah calon istriku," tersenyum kecil sembari menggoda wanita itu.


"Permisi! Aku akan membawa dia!" ketus Arsen tiba-tiba, merangkul tangan Mark.


"Tu--tuan, Arsen!" lirih wanita itu, terkejut bukan kepalang.


"Dia sedang mabuk. Jadi, jangan dengarkan omong kosongnya!" Arsen membawa Mark, menjauh dari meja bar itu.


"Tuan, jika kau perlu bantuan, aku siap membantumu!" teriak gadis itu, namun Arsen tak mempedulikannya.


"Lepaskan aku!" rontah Mark.


Arsen pun melepasnya. "Terus terang saja kalau kau minta di tonjok!!"


"Siapa kau?! Berani sekali memisahkan aku dengan calon istriku! Dia adalah Sekretaris Jen. Wanita kesayanganku! Minggir! Aku akan membawanya pulang!" ketus Mark.


Arsen memijat keningnya. Emosinya telah menggebu sampai di ubun-ubun. "Sekali lagi kau bertingkah gila, aku tak akan segan lagi menghajarmu, Mark!"


"Oh tidak! Kata-kata ini milik, Tuan Muda." Mark menatap wajah Arsen lagi. Manik Mark mulai kabur, pandangannya pun buram sehingga ia tak dapat mengenali lagi wajah Arsen.


"Berhentilah mengoceh!" Arsen membawa Mark keluar dari dalam klub malam itu.


"Hey pria asing?!"


Deg!

__ADS_1


"P--pria asing?!" lirih Arsen dengan manik melebar.


"Aku tanya sekali lagi? Siapa kamu? Berani sekali men-copy ucapan keramat bosku!"


"Kau akan menyesal dengan perbuatanmu, jika kau telah sadar!" ucap Arsen masih merangkul tubuh Mark.


Mark terkekeh pelan. "Jeniku, tunggulah aku. Kita akan menikah dan memiliki anak yang banyak, hahah! Kau mau berapa? lima, enam, tujuh, sepuluh, dua puluh?" menghitung jarinya. "Yaaa tak cukup jari tanganku, sini, pinjamkan jarimu juga!" menarik jemari Arsen.


Arsen mengeratkan rahangnya. "Berhentilah bertingkah gila! Aku akan membenturkan kepalamu di tembok, supaya kau segera sembuh dari kegilaanmu ini!"


Mark menghentikan langkahnya. Ia kembali melepaskan rangkulan tangan Arsen dan menatapnya dengan seksama. "Dasar manusia aneh!"


"Apa kau bilang?!!"


"Apa aku harus mengulanginya lagi?" Mark menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia pun melanjutkan langkahnya yang bagai kapal oleng dan meninggalkan Arsen dengan berjuta tanda tanya di kepalanya.


"Sialan kau, Mark! Berani sekali kau mengataiku aneh! Berhenti kau! Aku akan menggiling kepalamu biar cepat sadar!"


Mark tidak mempedulikannya. Orang-orang yang berpapasan dengan Mark merasa terhibur dengan tingkah konyolnya itu. "Halo cantik?" goda Mark. "Ayo pulang bersamaku," mengedipkan matanya pada wanita yang baru saja melewatinya.


Wanita itu terkekeh pelan. "Sepertinya kau telah banyak minum, Tuan," tutur wanita itu.


"Benarkah, cantik?"


"Tentu saja."


Mark tersenyum kecil memandangi wajah wanita itu. "Jeniku, kau sangat cantik. Ayo kita pulang dan menikah!"


"Siapa Jeniku?!" ketus wanita malam itu.


"Calon istriku yang sangat aku cintai, hahahah! Dia sangat imut, ceroboh, tapi menggemaskan!"


Sementara Mark dan wanita itu berbincang, tiba-tiba pukulan maut Arsen mendarat di wajah Mark.


Bukkkkk!!!!


"Ahhhhh!" teriak wanita itu, terkejut.


"Br*ngsek, kau Mark!!"


Mark pun terpental ke tanah dan langsung tak sadarkan diri. Melihat itu, wanita yang disangka Mark adalah Jen, segera berlari dan masuk ke dalam klub.


Saat Arsen hendak melayangkan tangannya untuk menonjok wajah Mark lagi, ia melihat jika pria itu sudah tak sadarkan diri. "Dasar pria bucin sinting!" tuturnya sembari mengangkat kembali tubuh Mark dan memasukkannya ke dalam mobil.


Begitulah sikap Mark saat mabuk, berbandingan dengan sikapnya yang dingin, datar tanpa ekspresi saat sadar. Di tambah lagi Mark sangat bucin akut terhadap seorang wanita bernama Jenifer.


"Sadarkan dirimu, Mark!!" menggoncang tubuh Mark.


"F*ckkkkkk! Jangan muntah di mobilku, pria tua sialan!!"


Arsen kembali menendang Mark keluar dari mobilnya, sehingga Mark terjatuh di tanah dan memuntahkan cairan asam dari dalam perutnya.


"Keluarkan semua, dan cepatlah sadar! Lihat saja nanti, aku pasti akan membela tubuhmu bagai roti sobek, karena telah berani mengataiku!"


Sementara Arsen berceramah, Mark rupanya telah tertidur di tanah sambil mendengkur.


"Heyy!" menggoyang kaki Mark dengan kakinya. "Apa kau tertidur?!" ketusnya, geram.


Tak mendengar sahutan, Arsen pun memijat keningnya. Kepalanya tampak pusing meladeni sikap Mark yang mabuk. Meski Arsen sering berlaku kasar terhadap Mark, namun ia tetap mengangkat tubuh Mark dan memasukkannya kembali ke dalam mobil.


"Sialll! Aku tak bisa pulang dengan kondisi Jodi Sinting seperti ini! Semoga saja Garfield sudah pulang dari mansion. Tapi mana mungkin?! Sepertinya Garfield akan menunggu kepulangan manusia karbit ini!" gerutu Arsen.


Sesaat situasi kembali aman. Mark sudah tidak berbicara konyol lagi. Ia terlelap dengan dengkuran yang begitu nyaring. Rasanya ingin sekali Arsen meninggalkan Mark di pinggir jalan, namun wajah beringas Amey terngiang-ngiang di kepalanya.


"Kalau ku tau akan seperti ini, tak akan ku biarkan si tengik Kai dan Jay mengerjaimu!"


Sebelum Arsen dan Mark ke klub malam, Amey telah mengingatkan pada mereka untuk jangan mabuk. Bahkan Jen pun melakukan hal yang sama untuk Mark. Mengingat pernikahan yang sudah tidak lama lagi, maka Jen mencegah hal-hal yang dapat menghambat proses pernikahan mereka dengan cara membatasi pergaulan Mark.


Namun, siapa yang dapat menyangka jika seorang Mark yang dikenal dengan pria yang super hati-hati dalam segala hal, kini menjadi pria ceroboh, bahkan bertingkah konyol saat mabuk. Bila Jen melihat tingkah Mark saat mabuk, pastilah ia akan merasa jika pria itu kemasukan arwah tiktok.


Arsen menghentikan kendaraan di sebuah mini market dua puluh empat jam. Ia masuk ke dalam dan membeli obat penghilang rasa mabuk untuk Mark. Tak lama setelah itu, ia keluar dari dalam market dan membangunkan Mark.


"Oyyy! Sadarkan dirimu dan minum ini!" celutuk Arsen.


Mark bangun dari tidurnya. Tanpa berbasa-basi lagi, Arsen langsung memasukkan cairan itu ke dalam mulut Mark.


"Untuk kedua kalinya aku mengurusmu mabuk seperti ini!" gumam Arsen.


Sudah dua kali, Arsen mengurus Mark saat mabuk. Saat pertama kali Mark bertingkah seperti ini, saat di mana ia telah menikah dengan Rachel dan Eggie memutuskan hubungan mereka. Malam itu di sebuah bar di New York, Arsen sampai menyeburkan Mark ke dalam kolam agar Mark segera sadar.


Dan untuk kedua kalinya, Arsen mengurus Mark. Kali ini gaya mabuk Mark berbeda. Bagaimana tidak, di kepalanya hanya ada Jenifer, Jenifer dan Jenifer. Bisa di bilang tingkat budak cinta Mark pada Jen melebihi tingkat bucin Arsen pada Amey.


Beberapa saat kemudian, Mark mulai tersadar. Ia memegang kepalanya yang berdenyut hebat seperti akan meledak.


"Jangan banyak drama dan cepatlah sadar!" ketus Arsen.


"Di mana aku?" gumamnya.

__ADS_1


"Di kayangan!"


"Aku seperti mendengar suara Tuan Muda," lirihnya memegang kepalanya.


"Siallll! Habis bertingkah gila, rupanya kau amnesia! Dekatkan wajahmu kemari dan aku akan menonjok wajah jelekmu biar kau cepat normal!"


Deg!


Merasakan suara Arsen yang begitu nyata, membuat Mark melebarkan maniknya. Ia menatap ke sekelilingnya dan mendapati latar tempat dirinya berada, ternyata di dalam mobil Arsen.


"Berhentilah bertingkah tidak waras seperti itu!" menarik kerak baju Mark dan mengeluarkannya dari dalam mobil.


Mark terkejut bukan main. "Aku merasa jika mimpi ini sangat nyata!"


Bukkkk!


"Bagaimana dengan pukulan itu? Apa kau masih merasa jika kau berada di dunia mimpi?"


Deg!


Mark kembali terperanjat. Goshhhhhh! I--ini bukan mimpi! Aku bisa merasakan pukulan maut Tuan Muda. Rahangku berasa bergeser dan berpindah tempat!


"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan tadi?"


"Tu--tuan ... apa yang aku lakukan tadi?" lirih Mark, gugup.


"Sial! Percuma saja aku bercerita dengan orang mabuk sepertimu!"


What?!! Aku mabuk! Apa aku melakukan sesuatu yang aneh? Atau jangan-jangan aku ....


"Berhenti menatapku dengan tatapan idiotmu itu!"


Mark merabah pipi dan bibirnya. Ia merasakan sakit di area sana. Mark pun tersadar jika ia telah melakukan kesalahan fatal, sehingga Arsen menonjoknya berulang kali.


"Tuan, maafkan aku," membungkukkan tubuhnya.


"Kau tau apa yang kau lakukan tadi?"


Mark menggeleng kepala.


"Kau berteriak-teriak di jalanan jika kau mencintai Garfield!"


"APAAA?" terkejut.


"Sial! Napasmu bau alkohol! Jangan dekat-dekat denganku!"


"Aku melakukan hal tidak masuk akal seperti itu?"


"Tidak hanya itu, kau bahkan menggoda setiap wanita yang kau lihat dan mengajak mereka pulang bersamamu."


"Ke--kenapa aku mengajak mereka pulang bersamaku?"


"Karena kau menganggap mereka semua adalah Garfield!"


Apa aku melakukan itu? Tuan tak mungkin berbohong!


"Hmm, jika Garfield tau kau menggoda banyak wanita di bar sana, kira-kira, apa Garfield masih mau melanjutkan pernikahannya atau tidak ya?" mengusap dagunya dan mengerjai Mark. "Ohya, aku punya videomu!"


Deg!


Jantung Mark berdegup kencang. Ia langsung berlutut pada Arsen. "Tuan, maafkan aku. Aku mengaku salah. Tolong jangan tunjukkan rekaman video itu pada Sekrtetaris Jen. Aku tidak ingin Sekretaris Jen membatalkan pernikahan kami."


"Setelah kau memperlakukanku seperti pria asing dan memaki diriku, sekarang nyalimu besar juga ya, berlutut dan meminta maaf! Apa kau sadar dengan apa yang lakukan padaku tadi?!"


"Sama sekali tidak Tuan," menunduk kepala.


"Kau mengataiku pria aneh, pria asing dan membentakku!"


Goshhhhh! Sama saja aku menjerumuskan diri di kandang singa! Ternyata langkahku lima senti meter ke lobang neraka! Sialannnn!! Kenapa aku bisa kehilangan kendali seperti tadi?!


"Berdirilah!! Jangan membuang waktuku! Memey sedang menungguku di mansion. Tapi jangan kau kira kau telah lolos dengan semudah itu! Aku masih akan mencabik-cabik dan menggiling tubuhmu itu."


"Maafkan aku Tuan. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Satu lagi, jika sebentar aku di tidak dibukakan pintu oleh Memey, dan disuruh tidur di luar karena ulahmu ini, lihat saja nanti! Besok videomu itu akan segera sampai di ponsel Garfield!


Deg!


Mark menelan salivanya dengan kasar.


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.

__ADS_1


.


Follow ig @syutrikastivani


__ADS_2