Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Ruangan Dosen


__ADS_3

Dari kejauhan, Andra telah memperhatikan Jen yang keluar dari salah satu gedung apartemen elit. Ia turun dari motornya dan hendak menghampiri Jen yang tampak kusut tak berenergi. Andra terkejut saat melihat baju yang Jen kenakan tampak seperti pakaian pria.


"Apa Jen tidur dengan Tuan itu?" gumamnya.


Saat Jen sampai di tempat parkir kendaraannya, Andra langsung menarik pergelangan tangan Jenifer. Reflek Jen melonjak karena terkejut. "Andra?!"


"Aku mau bicara denganmu, Jen," tutur Andra.


"Lepaskan tanganku. Aku merasa jijik disentuh olehmu!"


"Jen, aku masih mencintaimu. Ayo kita balikan?"


Deg!


Jen melebarkan matanya. Ia hening sesaat dan tiba-tiba, "Peff--bwuhahahaha! Apa kau bilang?"


"Aku serius Jen. Aku masih mencintaimu. Ayo kita balikan lagi," ajak Andra memelas.


"Hmmm, balikan ya?" tanya Jen dengan raut garang.


"Iya Jen. Kau mau 'kan? Kau masih sangat mencintaiku, bukan?" tutur Andra penuh percaya diri.


Jen mengepalkan tangannya. Kemudian ia tersenyum lebar menatap Andra yang juga sedang memasang senyum menjijikkan di mata Jenifer.


"Jen, jangan gengsi deh! Kau cukup mengatakan iya, maka masalah beres!"


Medengar itu Jen semakin jengkel dan tak bisa lagi menahan kekesalan dan kesakit-hatiannya selama ini pada pria yang ada di depannya itu.


Bugggg! ... Buggggg!


Jen akhirnya meninju wajah Andra dengan pukulan beruntun. "Dasar laki-laki sinting! Tak tau malu! Pengecut! Br*ngsek! Seenak jidat minta balikan! Cuihh! Kau pikir aku mau balikan sama laki-laki keparat seperti dirimu? Haha! Jangan mimpi!"


Andra tak berkutik saat Jen menyerangnya dengan pukulan bahkan dengan kata-kata tajam bagai silet. Sedangkan Jen, ia langsung memakai pelindung kepala dan menyalakan motornya kemudian berlalu dari tempat itu.


Jen melajukan kendaraannya dengan kencang. Keadaan hatinya sangat buruk. Pagi itu merupakan pagi yang penuh drama baginya. Mulai dari sikap baiknya yang tak di anggap saat mengembalikan dompet Mark, sampai pada pertemuannya dengan mantan kekasih yang br*ngsek.


"Hik ... hik! Kenapa aku sial sekali? Aku salah apa Tuhan? Niat baikku tak di anggap! Mantan kekasihku sangat tidak tau malu mengajakku balikan setelah apa yang dia perbuat padaku! Hik .... hikk ....!"


Jen menangis tersedu-sedu. Ia sangat sakit hati dengan perlakuan Mark dan Andra padanya. Ia semakin meningkatkan kecepatan motornya. Ingin sekali ia berteriak namun gadis itu menahannya.


***


Semenjak kepergian Arsen pagi tadi, membuat Amey merasa sepi dan tampak murung. Ia mencari kesibukan agar tidak merasa bosan namun bayang-banyang Arsen selalu menghantuinya. Akhirnya Amey memutuskan untuk pergi ke gedung Alganda Group.


Setelah selesai bersiap, wanita itu keluar dari kamarnya. Ia melewati ruang tamu dan melihat Soffy sedang mencari sesuatu. Amey pun menghampiri Nenek Rempong itu.


"Nek?" panggil Amey.


"Ehh, ada Amey."


"Apa yang Nenek cari?"


"Kacamata Nenek hilang! Padahal baru saja Nenek melihatnya, tapi lupa di mana."


Amey terkekeh pelan. "Astaga Nenek, itu kacamatamu Nek," menunjuk atas kepala Soffy.

__ADS_1


Soffy meraba puncak kepalanya, dan benar saja benda yang dicarinya berada di sana. "Kenapa ini ada di sini!" ucapnya jengkel.


"Ya 'kan Nenek yang menaruhnya di sana? Ada-ada saja, haha!"


Soffy berpikir sejenak. Ia mengingat jika tadi ia sempat bercermin dan melihat kacamata hitam andalannya ada di di atas kepala. "Oh iya kau benar Mey, haha. Ohya, kau mau ke mana? Rapi sekali siang ini."


"Ehm, itu Nek, aku mau ke kantor."


"Tumben."


Amey mengangkat kedua keningnya, "Aku bosan di rumah."


"Ciee, baru beberapa jam sejak kepergian menantu gila, Cucu Nenek sudah bosan saja. Hahah!"


"Iya Nek, dari pada aku kepikiran Suamiku di jauh sana, mending aku cari kesibukan untuk mengobati rasa rinduku padanya."


"Ouhhh cocwitttt! Nenek juga mau kayak gitu," mengedipkan matanya, centil.


"Hahaha, Nenek bisa saja."


"Nenek juga punya banyak pacar kaliiiiii!"


"Wahhh, hebat. Nemu di mana Nek?"


"Tantan, dong. Di dalam aplikasinya banyak sekali berondong. Nenek suka."


"Astaga Nenek! ... Tantan? Itu bukannya aplikasi pencari jodoh?"


"Seratus buat Cucu Nenek."


"Baiklah. Nenek juga mau menjemput Bocil. Ohya Mey bolehkah Nenek memakai mobil suamimu."


"Hmm, sangat boleh. Kecuali si Purple! Jangan cari masalah lagi Nek," tutur Amey.


"Siyapppp delapan enam."


Amey mengangguk dan melangkahkan kakinya ke tempat parkir mobil. Soffy pun menyusul dan memilih kendaraan apa yang akan ia gunakan untuk menjemput Zoey.


***


Usai kelas, Zoey di panggil Zain ke ruangan dosen. Jantung gadis itu berdegup kencang. Tentu saja karena setiap mahasiswa yang dipanggil ke ruangan Zain pastilah membuat masalah. Dan Zoey masih tidak tahu apa yang diperbuatnya pada dosennya itu.


"Permisi, Pak," ucap Zoey sembari mengetuk pintu.


"Masuk," tutur Zain datar.


Dengan penuh kehati-hatian, Zoey melangkahkan kakinya menuju meja Zain.


"Kau tau kenapa saya memanggilmu kemari?"


"Ti--tidak Pak."


"Duduklah."


Zoey menurut.

__ADS_1


"Apa Nenekmu sudah baikan?" tanya Zain.


"Sudah Pak. Sebenarnya Nenek tidak sakit."


"Lahh! Bukannya Nenek jatuh dari pohon?"


"Iya, Pak. Tapi ..."


"Tapi?"


Tok ... tok ... tok!


"Bocil?!"


Mendengar ketukan pintu itu Zoey dan Zain langsung menoleh ke arah pintu. Zoey sangat kenal dengan suara legend itu. Nenekkah itu? Hanya Nenek yang memanggilku dengan sebutan Bocil. Batinnya.


"Bocil, kau di dalam? Apa kau membuat masalah?" tanya Soffy dari balik pintu.


"Siapa itu?" tanya Zain berkerut dahi.


"Maaf, Pak. I--itu Nenekku," ucapnya dengan raut malu. "Sekali lagi maaf Pak. Aku ijin keluar, Pak."


"Baik. Saya juga ingin melihat keadaan Nenekmu."


Kedua orang itu keluar dari ruangan dosen dan mendapati Soffy dengan penampilan cetarnya sedang mengambil gambar di depan pintu.


"Nenek, kenapa di sini?" bisik Zoey.


"Bocil, apa kau berbuat kesalahan? Nenek tadi menanyakan keberadaanmu pada teman sekelasmu, tapi katanya kau dipanggil ke ruangan dosen, terus temanmu itu bilang kalau mahasiswa yang dipanggil ke ruangan dosen berarti membuat masalah!"


"Tidak Nek. Aku tidak membuat masalah."


"Lalu? Dosen sinting mana yang memanggilmu, hah? Berani-beraninya dia sama Cucu Nenek!"


"Apa Nenek sudah sehat?" tanya Zain tiba-tiba.


Mata Soffy tertuju pada sumber suara. Mulutnya menganga lebar. Mata Soffy langsung mengeluarkan binar menatap lelaki kekar tampan yang merupakan dosen Zoey.


"Oppa!" lirih Soffy.


"Nek?" panggil Zain membuyarkan tatapan Soffy.


"Minho Oppa?"


"Nenek bilang apa?" tanya Zain.


"Tidak tidak. Jelaskan padaku kenapa Bocil ada di ruangan Oppa? Apa Bocil membuat onar?"


"Sama sekali tidak Nek. Zoey adalah mahasiswi teladan di kampus ini. Mana mungkin dia berbuat kesalahan. Saya memanggil Zoey untuk menanyakan kondisi Nenek."


Soffy melonjak mendengar ucapan Zain. "Oppa, kau sangat perhatian padaku," tersenyum genit menatap Zain.


Sedangkan Zoey yang sedari tadi berada di situ hanya menundukkan kepalanya malu dan tak bisa berucap lagi. Jelas saja karena ia sangat takut pada Zain. Meski tampan, namun kalau di kelas, duda satu anak itu sangat dingin dan mengerikan.


To be continued ...

__ADS_1


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


__ADS_2