
Arsen beranjak dari duduknya dan hendak melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu. Melihat Arsen yang terburu-buru pergi membuat Kai dan Jay berkerut dahi.
"Ars, kau mau ke mana?" tanya Jayden.
"Pulang."
"Ayolah Ars, kita bahkan belum bersenang-senang di sini. Kenapa kau sudah mau pulang?" tukas Kaisar menaikan nada.
Arsen menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah dua orang di belakangnya. "Jangan mempengaruhi ku lagi. Burungku sudah memiliki sangkar, dan aku betah disangkar baruku!" ketus Arsen melanjutkan langkahnya.
Kaisar dan Jayden saling pandang seolah memastikan jika mereka tidak salah dengar ucapan pria arogan itu. Sangking terkejutnya mereka, sampai-sampai kedua orang itu tidak menyadari jika bayang Arsen telah menghilang dari balik pintu.
***
Dengan langkah yang cepat, Arsen berjalan menuju ke dalam mansion setelah memarkirkan mobilnya di bagasi. Suasana mansion itu tampak sepi dari luar. Ketika hendak memasuki ruangan tamu, betapa terkejutnya pria tinggi itu saat menerima lemparan pop corn dari arah sofa.
Arsen menoleh ke arah sofa, ia melonjak kaget saat mendapati tubuh Soffy yang tengah duduk asik sambil mengangkat kakinya di atas sofa itu. Tatapan tajam dari wanita tua itu membuat Arsen berkerut dahi sembari menerka dalam batinnya apa yang dilakukan Soffy di sana.
"Nensi?" gumam Arsen.
"Menantu gila! Dari mana saja kau?" sambar Soffy dengan geram.
"Aku memiliki urusan di luar. Nensi sendiri ngapain belum tidur?" tanya Arsen.
"Menunggu kau pulang."
"Aku sudah pulang, tidurlah."
Nensi melemparkan pop corn itu di wajah Arsen. "Rasakan itu!"
"Hey, hentikan Nek! Apa yang kau lakukan?" Arsen mencoba menangkis lemparan pop corn itu yang telah membanjiri tubuhnya.
"Dasar bedebah gila! Berani-beraninya kau meninggalkan cucuku yang dalam keadaan sakit!" masih menyerang Arsen dengan lemparan pop corn.
"Aku meminta ijin padanya, dan dia mengijinkanku pergi. Tolong hentikan ini!" celutuk Arsen menaikan nada.
"Bohong!"
"Aku tidak berbohong!"
Brukkkk
Perdebatan itu terhenti saat suara benturan keras itu terdengar dari arah dapur. Soffy beranjak dari duduknya dengan memasang raut panik. "Apa rumah ini berhantu?" tanyanya melirik Arsen yang juga penasaran dengan bunyi itu.
"Ya."
"Hah?" terkejut bukan kepalang.
"Kaulah hantunya," tutur Arsen santai.
"SIALAN! kemari kau, aku akan menjahit mulutmu biar tidak sembarangan bicara!"
__ADS_1
Saat Soffy mulai mendekat ke arah Arsen, tiba-tiba ...
Brukkk!
Suara yang sama kembali terdengar dari arah dapur, namun sepertinya suara itu lebih keras dari sebelumnya. "Setannya mengamuk," gumam Soffy menciut.
Suara itu membuat Arsen menjadi penasaran, ia pun memutuskan untuk berjalan menuju dapur dan melihat apa yang terjadi di sana.
"Menantu gila!" Panggil Soffy dengan berbisik. "Hey! Jangan tinggalkan aku di sini." Soffy menghadap ke arah kanan dan kiri, setelah itu ia berlari menuju Arsen yang telah berjalan mendahuluinya.
Arsen dan Soffy mengendap-endap menuju ke dapur. Soffy memegang ujung baju Arsen sembari bersembunyi di belakang punggungnya.
Pria itu terlihat risih, ia sesekali menggerakkan punggungnya agar pegangan Soffy terlepas dari bajunya. "Nek, lepaskan bajuku."
"Tidak mau! Bagaimana kalau kau mengerjaiku dan tiba-tiba lari meninggalkanku di sini? Kau pikir aku tidak tau kelicikanmu? Aku tidak mau meninggal dulu sebelum misi mencarikan kakek baru untuk Amey, selesai."
Arsen mendengus kesal. "Whatever."
Keduanya telah sampai di pintu dapur. Arsen memandangi sekelilingnya namun tidak ada hal yang mencurigakan. "Tidak ada siapa-siapa di sini," tutur Arsen.
"Benarkah? Tapi aku yakin mendengar suara bunyi yang sangat keras."
"Aku juga mendengarnya."
"Bagaimana bisa tidak ada yang terjadi? Aku yakin ini pasti ulah hantu!"
"Tidak ada hantu di rumah ini! Kalau pun ada, Nensilah si hantu itu," ledek Arsen.
Soffy memukul bokong Arsen. "Kita mo kaseh maso ricah ngana pe bibir itu ee!" (Aku akan memasukkan cabai di mulutmu!"
Arsen tidak menggubris. Ia membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Soffy yang masih berdiri di depan pintu dapur. Namun, suatu hal masih mengganjal di benaknya. Ia menghentikan langkahnya dan segera kembali ke dapur.
Melihat kedatangan Arsen kembali membuat si Nenek Rempong itu tersenyum lebar. "Aku tahu kau pasti tidak tegah mening ..." menjeda ucapannya saat tubuh Arsen melewatinya. "Hey mau ke mana kau?"
Arsen tidak memperdulikan Soffy yang kembali mengikutinya. Ia memasuki sebuah lorong kecil yang menghubungkan dapur dengan ruangan lainnya. Ruangan itu merupakan tempat penyimpanan bahan untuk memasak.
Dan benar saja ia mendapati pintu kulkas terbuka lebar dan mendapati isi dalam kulkas itu telah berserakan di lantai. Seseorang terlihat sedang duduk bersila di depan kulkas.
Langkah Arsen terhenti membuat Soffy menabrak punggung lebar miliknya. "Aduhh," pekik Soffy. "Kenapa tidak pakai lampu sein kalau mau berhenti?"
"Shhht,"
"Ada apa?" bisik Soffy.
Perlahan Soffy menengok ke arah depan. "Se--setan!" teriaknya dengan sangat nyaring.
Mendengar teriakan Soffy membuat Arsen terpaksa membungkam mulut wanita tua itu. "Nensi, diamlah!"
Soffy mengangguk pelan. Arsen melepaskan bungkaman itu.
"Setannnnnnnn!" teriak Soffy lebih nyaring lagi.
__ADS_1
Pria itu kembali membungkam mulut Soffy menggunakan tangannya. "Cobalah untuk tenang! Kalau Nensi berteriak lagi, maka aku akan meninggalkanmu di sini," tutur Arsen jengkel.
Soffy mengangguk paham.
Arsen kembali berjalan dengan perlahan dan mendapati orang itu. "Zoey?"
Dengan segera ia mendekap tubuh Zoey yang terlihat pucat. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arsen kawatir.
Gadis itu tidak menggubris. Arsen menggoncang tubuh Zoey yang terasa dingin. "Ternyata penyakitnya belum sembuh-sembuh," gumam Arsen.
"Bo--bocil? Astaga dragon! Aku kira kau setan," ucap Soffy legah saat mengetahui pembuat onar itu bukanlah makhluk gaib melainkan Zoey yang ia panggil dengan sebutan bocil alias bocah cilik. "Kau bilang apa? Penyakit?" tanya Soffy.
"Ya. Dia sering berjalan saat tidur."
"Loh, kenapa bisa mirip?"
"Mirip siapa?"
"Amey, cucuku."
Arsen terperanjat. "Apa istriku juga memiliki penyakit ini?"
"Benar," jawab Soffy. "Ehh tunggu! Apa kau tidak tau akan hal ini?"
"Sama sekali tidak. Amey tidak pernah berjalan dalam keadaan tidak sadar saat tidur bersamaku." Arsen menggendong tubuh Zoey dan membawanya kembali ke kamar Zoey.
"Baguslah. Berarti dia telah menemukan penangkalnya. Ohya, bawalah gadis ini ke kamarku. Aku akan tidur bersamanya buat jaga-jaga supaya dia tidak berkeliaran lagi."
Arsen pun segera membawa tubuh Zoey ke kamar Soffy dengan setengah berlari. Selang beberapa saat ia pun tiba dan meletakkan tubuh Zoey di atas ranjang Soffy. "Nek, tolong jaga dia malam ini," pinta Arsen.
Soffy mengangguk.
Arsen dengan secepat kilat berlari menuju ke kamarnya. Ia terlihat kawatir karena meninggalkan Amey sendiri. Ia baru tahu ternyata Amey memiliki penyakit yang sama dengan Zoey.
"Amey, Sayang!" panggil Arsen.
Ia terlihat legah saat mengetahui tubuh Amey masih terbaring di atas ranjang. Arsen mendekat dan langsung memeluk istrinya itu. "Aku pulang, Sayang."
Amey membuka matanya dan menatap wajah Arsen yang memandanginya dengan lekat. "Ars? Kau sudah pulang?" lirih Amey.
Arsen mengangguk sembari mencium bibir Amey berulang kali. "Maafkan aku telah meninggalkanmu sendiri."
"Aku tidak apa-apa."
"Tidurlah kembali," mengecup kening Amey dengan lembut.
Wanita itu pun memejamkan matanya dan kembali terlelap. Arsen memeluk tubuh Amey dengan sangat erat. Sesekali ia menatap wajah istrinya itu dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi di bibirnya.
Aku bahkan telah takut kehilangannya!
To be continued ...
__ADS_1
Dukungan readers akan sangat membantu Author 😘