Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Perkunjungan Arsen


__ADS_3

Setelah melewati kerempongan keluarga Winston, akhirnya sesi pemotretan selesai. Meski harus menahan getaran di sekujur tubuh akibat luapan emosi Arsen, kedua pria yang berprofesi sebagai fotografer handal itu berhasil menyelesaikan tugas mereka dan kembali ke studio.


Semua yang berada di mansion, kembali melaksanakan rutinitas mereka. Sedangkan Arsen dan Mark dalam perjalanan menuju perusahaan.


"Apa jadwalku hari ini?" tanya Arsen.


"Mengadakan pertemuan dengan CEO Tiger Group, Tuan."


"Kenapa kau memasukkan itu ke dalam jadwalku?!" geram Arsen.


"Bagi perusahaan, itu sangat penting, Tuan."


"Penting pantatmu!"


Mark menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Aku tidak mau berhubungan dengan wanita mana pun walau itu sebatas pekerjaan saja!"


"Maafkan aku Tuan. Tapi sebelumnya aku sudah mengurus pinjaman dana dari Tiger Group, dan sebagai jaminan, tambang batubara yang dimiliki Tiger Group menjadi pegangan untuk WS Group. Namun, Nona Britney tidak menyetujuinya. Aku rasa jika Tuan Muda yang berbicara langsung dengan Nona Britney, pasti beliau akan menyetujuinya "


"Hmmm, tambang batubara ... " mengusap dagunya. "Baiklah! Mari kita lihat apakah itu akan berguna untuk WS Group atau tidak!"


Mark mengangguk. "Apa kita langsung menuju tempat Nona Britney?"


"Tidak usah. Suruh saja dia datang ke kantorku!"


"Baik Tuan."


***


Mendengar kabar dari Mark, Britney dan kedua pengawalnya bergegas menuju gedung WS Group. Wanita itu tak mau menyia-nyiakan kesempatannya untuk bertemu dengan Arsen. Pasalnya, masa depan Tiger Group berada di tangan pria arogan itu. Ia harus mengesampingkan perasaan bencinya pada Arsen demi untuk menyelamatkan perusahaannya.


Britney pun tiba di ruang presdir. "Maaf membuatmu menunggu, Mr. Winston," ucapnya dengan napas yang tidak beraturan.


Arsen menatap jam tangannya. "Kau membuatku menunggu setengah jam! Hampir saja kesabaranku habis," ucapnya dingin.


Gadis itu mengepalkan tangannya. Shitt! umpat Britney.


"Kau sudah tau sifatku. Jadi langsung saja. Aku ingin tambang batubara milik Tiger Group menjadi jaminan atas semua hutangmu."


Deg!


Britney semakin mencengkeram erat jemarinya. Apa yang harus aku lakukan?! Tambang itu satu-satunya aset terbesar yang dimiliki perusahaanku! Bagimana jika aku tidak bisa mengganti uang si b*jingan ini!


"Tidak usah terlalu banyak berpikir. Ini adalah satu-satunya cara agar penanam saham di perusahaanmu tidak menarik saham mereka kembali," ketus Arsen tersenyum licik.


Bagi Arsen menggertak lawannya sudah menjadi makanan hari-harinya. Bukan Arsen namanya jika ia tidak dapat menaklukkan lawannya dengan sekejap.

__ADS_1


"Oh rupanya kau sangat menginginkan aset itu. Hmm, baiklah! Tambang batubara akan menjadi jaminan jika aku tidak bisa melunasi hutang-hutangku!"


"Deal!" ketus Arsen. "Kau boleh kembali ke habitatmu," mengusir Britney dengan melambaikan tangannya di udara.


Dengan penuh amarah, Britney menyentakkan kakinya dan langsung meninggalkan tempat itu. Ia merasa jika harga dirinya memang sudah diinjak-injak oleh pria yang merenggut sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.


Tindakan Arsen adalah yang paling benar. Sebagai raja bisnis, ia juga harus memikirkan cara bagaimana menguntungkan perusahaannya. "Membuang emas demi mendapatkan berlian! Hmm, sempurna!" gumam Arsen tersenyum dingin.


"Benar Tuan. Uang yang kau sumbangkan untuk Tiger Group adalah dua puluh persen dari kekayaanmu. Dan kalau menurutku itu sudah sangat banyak, bahkan dengan uang itu bisa membeli satu ibu kota! Tapi keuntungan yang akan Tuan dapatkan berpuluh-puluh kali lipat dari yang telah Tuan keluarkan!" tutur Mark.


"Bagaimana menurutmu, Mark. Aku sangat pintar bukan?!" ucap Arsen penuh percaya diri.


"Perasaan, itu ideku?!" lirih Mark.


"Hanya perasaanmu saja. Tapi kenyataannya, itu merupakan buah dari otak pintarku!"


Baiklah, Mark. Kau harus mengalah. Dia Tuan Arsen Winston! Bukan lawan debatmu. "Iya, Tuan. Kau sangat pintar," ucap Mark dengan penuh keterpaksaan.


"Tentu saja! Ohya apa masih ada jadwal hari ini?"


"Masih Tuan. Hari ini merupakan jadwalmu untuk berkunjung ke makam Tuan Arka."


"Baiklah. Kalau begitu kita mampir sebentar di tokoh bunga."


Kedua orang itu kembali meninggalkan kantor dan menuju ke makam kembarannya. Perjalanan menuju makam Arka memakan waktu sekitar empat puluh menit dari perusahaannya. Selama dalam perjalanan Arsen tak bersuara. Kenangan-kenangan manis dirinya bersama Arka tengiang jelas di benaknya.


Betapa bodohnya aku yang pernah menyakiti hati istriku! Padahal aku tau jika Arka sangat mencintai Memey dan tak pernah membuat Memey menangis! Ucap Arsen dalam hatinya.


"Tuan ... "


Tak ada sahutan dari Arsen.


"Tuan kita sudah sampai," tutur Mark lagi.


Masih tak bergeming dari hayalannya. Mark pun menyentuh pundak Arsen. "Tuan ... "


Arsen terkejut. Ia memandangi sekelilingnya. "Hey Jodi! Kenapa kau tak bilang kalau kita sudah sampai?!"


"Aku sudah memberi tau Tuan. Tapi ..."


"Jadi kau menyalahkanku?!"


"Tidak Tuan."


"Jadi siapa yang salah?"


"Aku yang salah. Tidak mengingatkanmu," lirih Mark.

__ADS_1


"Nah itu yang benar! Ya sudah ayo kita ke makam Arka."


Mark menunduk dan mempersilahkan Arsen berjalan di depan.


Mark selalu salah! Hmm, boleh juga dijadikan hashtag di Twitter!


Tibalah mereka di tempat peristirahatan terakhir sang Arka Winston. Arsen meletakkan bunga yang ia beli di atas pusara Arka. Dengan lekat ia memandangi nama yang tertera di batu nisan milik kembarannya.


"Apa kau senang?" tanya Arsen sembari matanya tak berpaling menatap foto kecil yang menempel di batu nisan Arka. "Apa kau senang di sana, Arka? Aku terlihat seperti orang bodoh yang berbicara dengan angin! Baiklah, terserah kau saja mau mendengarkan atau tidak, ucapan tak berguna dari ku. Aku cuma mau bilang trima kasih sekaligus meminta maaf padamu. Trima kasih karena telah menitipkan wanita tangguh untukku. Dan maafkan aku karena pernah membuat wanita itu menangis. Maka dari itu, ijinkan aku untuk menebusnya dengan mencintai wanita itu dengan segenap hati ku, melindunginya dengan segenap jiwa ku. Kau tau 'kan jika aku tidak peduli dengan wanita mana pun kecuali mama. Tapi kali ini, hadiah dari mu sungguh sangat istimewa. Wanita yang kau titipkan padaku adalah wanita yang luar biasa, bisa mengubah batu menjadi kapas. Trima kasih Arka!"


Arsen mengeluarkan sebuah benda segi empat berukuran kecil dari dalam sakunya. "Bagaimana menurutmu? Bukankah mereka mirip denganmu?" menunjukkan sebuah gambar wajah keempat bayi kembarnya. "Mereka juga adalah anak-anakmu, Arka. Apa yang aku miliki itu juga adalah milikmu."


Pria itu menundukkan kepala dan memejamkan matanya sejenak. Meski air mata tak terlihat dari pupil matanya, namun dari lubuk hati yang paling dalam, ia sangat terluka karena masih merasakan kehilangan separuh jiwanya.


Setelah selesai meratap, Arsen menegakkan tubuhnya. "Mark, ayo pergi."


"Baik Tuan."


Arsen dan Mark berjalan menuju ke mobil.


Melihat ekspresi Tuan yang seperti ini membuatku merasa kasihan dengannya. Meski terkadang Tuan menjengkelkan. Ucap Mark dalam hati.


"Ayo pulang!" perintah Arsen.


Mark membukakan pintu untuk Arsen. "Tuan, apa kita akan kembali ke mansion?"


Arsen menatapnya dengan sinis. "Tidak!"


"Lalu ke mana kita akan pergi?"


"Ke Jupiter terus mampir ke Pluto!"


Mark menjadi bingung dengan ucapan Arsen.


"Apa kau tak mendengar ucapanku tadi, kalau kita akan pulang?! Memangnya di mana lagi rumahku?!"


Ya begini lebih baik dari pada melihat Tuan bersedih!


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.

__ADS_1


Follow ig : @syutrikastivani


__ADS_2