
Semangat Jayden kini semakin terisi setiap saat. Bagaimana tidak, ia akhirnya berhasil melamar wanita idamannya dan tinggal dua hari lagi ia akan melepas masa lajangnya. Tentu saja si pria casanova itu telah bertobat dari pergaulan buruknya lantaran Milley.
Siang itu, Jayden kembali mengajak Milley berkencan. Dan kali ini ia mengajak Milley di sebuah restoran ternama di Jakarta. Tidak perlu lagi meminta ijin dari Berlin, karena Margareth berhasil mengancam Nyonya Kaylee agar ia tidak lagi ikut campur dengan kabahagiaan Milley.
Setibanya mereka di restoran, Jayden membukakan pintu untuk Milley, dan tentu saja wajahnya berpaling menatap ke arah lain karena tidak ingin penyakit anehnya kambuh.
Kenapa dia tidak menatapku? Apa aku jelek?
"Si--silahkan," tutur Jayden gagap.
Milley turun dari dalam mobil. Keduanya tampak kaku karena belum terbiasa satu sama lain.
"Tuan, apa tidak apa mengajakku keluar?"
"Tentu saja. Ohya, jangan panggil aku tuan. Panggil saja namaku."
"Baik, Jayden."
Deg!!
Lord! Aku sudah tidak tahan lagi, suaranya begitu lembut sampai membuat hatiku cenat-cenut!
Milley dan Jayden masuk ke dalam restoran. Namun, mata Jayden tak sengaja melirik kepada dua orang yang sedang berbincang di sudut ruangan. Kedua orang itu tampak tak asing bagi Jayden.
"Kaisar ... dan siapa gadis cantik itu? Aku seperti mengenalnya," gumam Jayden.
"Jay, ada apa? Kau mengenal mereka?" tanya Milley saat mendapati Jayden menatap ke arah Kaisar dan Chemy.
"Iya. Itu Kaisar. Sebentar," berjalan meninggalkan Milley.
"Aku ikut," tutur Milley menghentikan langkah Jayden.
Seketika Jayden berpikiran licik. Seringai senyum muncul di bibirnya. Hmm, sekalian pamer ke Kai, calon istriku. Hahah!
"Ayo, Milley." menyodorkan lengannya untuk di gandeng Milley
Gadis itu tertegun.
"Ada apa?" tanya Jayden. Meskipun debaran jantung pria itu semakin memompa dengan kencang.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ... "
Deg!
Milley terperanjat saat tangan Jayden menyentuh tangannya. Ia menyilangkan tangan Milley di lengan miliknya sehingga posisi tangan Milley menggandeng lengan berotot itu
"Jangan malu. Aku adalah calon suamimu," tutur Jayden.
Milley masih terdiam. Ia menurut saja dengan ucapan Jayden dan berjalan beriringan dengan pria itu.
Saat berada di dekat Jayden, hati Milley terasa tenang. Seketika ia melupakan hal-hal yang membuatnya tertekan dan menderita selama bertahun-tahun.
Entah kenapa hatiku terasa nyaman saat berada di dekat pria ini. Apa dia benar-benar pengubah takdirku?
__ADS_1
"Ehem!" Jay berdehem membuat Kaisar dan Chemy melirik ke arahnya.
"Jayden, kebetulan sekali kita bertemu di sini," tutur Kaisar. Mata Kaisar kini beralih menatap wanita cantik yang sedang menggandeng tangannya. Seketika bentuk maniknya berubah menjadi bentuk hati. Ia sangat terpukau dengan kecantikan Milley. "Hey bro! Inikah calon istrimu?" tanyanya takjub.
"Saya, Milley," memperkenalkan dirinya.
Jayden tersenyum puas, seolah ingin memamerkan pada Kaisar jika dirinya sangat beruntung memiliki Milley. Wajahnya pun terlihat penuh percaya diri dan sedikit sombong. "Bagaimana? Kau iri 'kan?" goda Jayden membuat hati Kaisar memanas.
"Cih, sombong sekali kau!" ketus Kaisar.
"Ohya ... Pacarmu juga oke," tutur Jay saat melihat Chemy dengan sepintas. Ia belum sadar jika wanita itu adalah teman masa kecilnya.
"Halo, Jay. Apa kabar?" sapa Chemy tersenyum manis.
Jayden terperanjat. "Ohh goshhh?! Jangan bilang ... "
"Iya. Aku Chemy. Lama tidak berjumpa dengan kalian," tutur Chemy beranjak dari duduknya.
"Chemyyyyy!" teriak Jayden sembari memeluk erat tubuh Chemy. "Kau tumbuh dengan sangat baik Chemy. Kau sangat cantik! Terakhir kali kita bertemu saat usia enam belas tahun. Dan sungguh! Itu sudah lama sekali!"
Milley menatap tangannya yang sudah terlepas dari kaitan lengan Jayden. Tentu saja ada rasa aneh yang tiba-tiba mengganggu benak Milley. Apalagi ia melihat Jayden memeluk seorang wanita yang begitu cantik dan seksi.
"Jay, apa kau sudah menikah?" tanya Chemy.
"Ya! Ehm, maksudku sebentar lagi. Ini calon istriku," merangkul Milley.
"Halo Nona Milley, saya Chemy, teman masa kecil Jayden," menyodorkan tangannya dan melemparkan senyuman manis.
"Senang berjumpa dengan, Anda. Nona Chemy," berjabat tangan.
"Baik."
"Kalau begitu, silahkan duduk. Mari kita makan siang bersama," ucap Kaisar mempersilahkan Milley dan Jayden untuk duduk sehidangan dengan mereka.
"Akan terasa lengkap jika yang lainnya juga berkumpul di sini," tutur Chemy.
"Aku dengar Arsen sangat sibuk akhir-akhir ini. Dia pergi ke Turkey bersama Mark mengadakan perjalanan bisnis selama tiga hari. Kemungkinan besok Arsen akan tiba di Jakarta," jelas Jayden.
"Oh begitu. Tadi aku sempat bertemu Pedro di rumah sakit, tapi dia baru saja selesai melakukan operasi, jadi aku rasa Pedro butuh istirahat."
"Pasti dia sangat kelelahan. Nanti saja kita cari waktu yang tepat untuk mengadakan reuni," tutur Kaisar.
Sementara ketiga orang itu berbincang dengan asik, Milley merasa terasingkan di sana. Ia tidak memiliki pembahasan yang dapat terhubung dengan percakapan mereka. Jelas saja karena Milley pendatang baru dalam kehidupan Jayden. Sedangkan ketiga orang itu sudah bersahabat dari kecil.
Milley masih terdiam sampai matanya tak sengaja menatap sebuah foto yang terletak di atas meja. Aku mengenal pria itu! Batin Milley. "Maaf menyela perbincangan kalian, tapi boleh saya lihat foto itu?"
Kaisar dan Chemy saling bertatap.
"Oh tentu," ucap Chemy sembari memberikan foto itu kepada Milley.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Kaisar.
"Ya. Dia pamanku."
__ADS_1
Deg!
Kaisar dan Chemy melebarkan matanya. Raut keduanya seketika berubah menjadi pias.
"Hey ada apa? Kenapa kalian menatap Milley seperti itu?" tukas Jayden keheranan.
"Milley, apa aku tidak salah dengar? Pria ini adalah pamanmu?" tanya Chemy.
"Benar. Paman Gazza adalah adik dari mamaku."
Kaisar dan Chemy kembali melonjak. Kini tatapan keduanya mulai serius menatap wajah Milley. Tak hanya Milley yang merasa aneh dengan sorotan mata Kaisar dan Chemy, Jayden pun merasa penasaran.
"Milley ... jadi kau adalah keponakan dari pria ini?" tanya Kaisar.
Milley mengangguk. "Apa kalian mengenal pamanku?"
"Pria ini psikopat!" celutuk Kaisar.
Milley terkejut bukan kepalang. Tatapan penuh kebencian dari Kaisar membuat Milley takut. Ia meremas jemarinya.
"Hey Kai! Apa kau sudah gila! Kenapa kau menatap Milley seperti itu! Dan kenapa kau menyebut pamannya psikopat?! Kau menakutinya, Kai!" ketus Jayden mulai naik pitam.
"Biarku jelaskan," sela Chemy. "Kalian tenang dulu. Pria ini adalah musuh Arsen. Gazza Dominic merupakan tersangka utama atas peristiwa yang menimpa Nyonya Amey dan Arsen."
Deg!!
Jayden dan Milley terperanjat.
"What?! Paman Milley adalah dalangnya?" tanya Jayden memastikan.
Kaisar dan Chemy mengangguk.
Jayden menjadi tak enak hati pada Milley. Ia menatap Milley dengan lekat sembari memegang tangan Milley yang sudah berkeringat dingin.
"Aku tidak apa-apa Jay," tutur Milley.
"Milley bisakah kau membantu kami?" tanya Chemy.
Seketika Milley terdiam. Ia tampak merasa bersalah atas perbuatan pamannya.
"Milley?" lirih Jayden, merasa kasihan.
Milley mengangguk pelan. "Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan pamanku pada kalian?" tanyanya dengan pelan.
"Milley, kau tidak bersalah. Paman kamulah yang bersalah. Aku hanya butuh beberapa informasi darimu mengenai Gazza. Tapi kalau kau keberatan, kau tidak perlu mengatakannya," ucap Chemy.
"Sebenarnya aku tidak dekat dengan Paman Gazza. Kata Papa waktu beliau masih hidup, Mama diusir dari keluarga Dominic karena melakukan kesalahan. Kakek memberikan mandat pada Mama untuk memimpin perusahannya, namun Mama tidak mampu memimpin perusahaan sehingga perusahaan yang Kakek rintis menjadi bangkrut. Hingga suatu saat, Kakek tahu jika Mama berhubungan dengan keluarga Kaylee, dan keluarga Kaylee adalah musuh bebuyutan Kakek."
"Kenapa kakekmu memusuhi keluarga papamu?" tanya Jayden.
"Saat itu Mama berpacaran dengan Papa. Kakek sangat membenci keluarga Kaylee karena keluarga Kaylee selalu lebih maju satu langkah di bandingkan keluarga Dominic. Akhirnya Kakek mengusir Mama dan mengangkat Paman Gazza sebagai penerus perusahannya."
"Gazza sialan!" umpat Kaisar.
__ADS_1
To be continued ...