Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Mark dan Jen


__ADS_3

Drt ... drt ... drt!


Ponsel Amey bergetar. Ia menatap layar ponselnya dan menjawab telepon itu. "Halo? ... Astaga aku hampir lupa ... Baiklah ... Kita bertemu saja di sekolah keempat Ed."


tut ... tut ... tut


Amey mematikan sambungan telepon.


Tak sampai tiga puluh menit mereka tiba di gedung mewah itu. Baru saja mereka tiba di gerbang, seluruh guru-guru telah menyambut kedatangan mereka. Bukan hanya guru-guru, para siswa dan siswi dari tingkat satu sampai dua belas pun ikut menyambut mereka karena merasa penasaran dengan keluarga yang telah membuat mereka yang tidak pernah bekerja, harus turun tangan langsung, membersihkan setiap ruangan dan halaman yang ada.


"Siapa sih keluarga itu? Apa masih ada anak-anak yang lebih elit dari cucu presiden, anak-anak perdana menteri dan petinggi-petinggi negara?!" ujar Paula.


"Ya bisa jadi! Baru kali ini juga kita melakukan kerja bakti selama dua tahun terakhir setelah penyambutan cucu presiden," sambung Ria.


"Apa mungkin anak-anak ini berasal dari kerajaan Inggris?!" tukas Paula sambil berkhayal dengan lekukan kecil di bibirnya.


"Hahah! Nggak usah ngadi-ngadi kamu! Tunggu dan lihat saja!"


Tak lama setelah mobil terparkir di depan gerbang, Dinar dan Candy yang terlebih dulu keluar dari van itu, kemudian diikuti dengan keempat Winston Junior.


"Ehh, bukan hanya satu!"


"Astaga mereka ada dua ... bukan! Mereka ada tiga!"


"Lebih tepatnya empat! Wajah mereka semua mirip!"


"Ya ampun! Tampan dan lucu!"


"Apa mereka saudara kembar?!"


"Kalau begitu, mereka pasti ... Berasal dari--"


"Keluarga Winston!"


Seketika semua orang menjadi riuh. Banyak siswa-siswi yang bertanya-tanya siapa anak-anak itu dan dari kalangan mana mereka sampai-sampai membuat seisi sekolah gempar. Ada juga dari mereka yang sudah menebak siapa anak-anak itu.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Winston," sapa wakil kepala sekolah dengan ramah dan penuh sopan santun.


"Tolong kerja sama dari Anda untuk mengajari anak-anak saya," ucap Arsen.


"Dengan senang hati, Tuan Winston."


"Ayo kita tunjukkan sikap santun kita. Jangan membuat Mommy dan Daddy malu! Mengerti?" tegas Edward.


"Yes, Brother!" ucap ketiganya dengan serentak.


"Edward, sebagai Kakak, kau harus memperhatikan ketiga adik-adikmu."


"Aku paham, Mommy!"


"Kalau begitu, masuklah bersama guru-guru baru kalian."


Karin mengantar keempat anak itu menuju ke gedung. Para siswa dan siswi di suruh bubar karena sebentar lagi apel akan dilaksanakan.


"Siapa namamu?" tanya Karin mengulurkan tangannya pada Edzel.


Edzel menatap Karin dengan tajam. "Kau tidak mengenaliku?" tanya si bungsu Edzel, dingin.


Deg!


Wanita paruh baya itu menelan saliva dengan kasar. Aura disekitarnya menjadi dingin bagai di kutub utara. "Maaf?" menyipitkan matanya masih dengan senyuman yang begitu kaku.


"Apa kau wakil kepala sekolah?" tanya Edgar.


"Benar sekali," menarik tangannya yang sudah terasa kram.


"Bukankah aneh jika kepala sekolah tidak mengenali murid-muridnya?!" ucap Edgar lagi.


"Karena itulah saya menanyakan nama kalian, supaya saya bisa mengenal kalian sebagai murid saya," ucap Karin berusaha terlihat tenang.


"Dari wajahmu terlihat kalau kau sedang gugup berbicara dengan kami."


"Wakil Kepala Sekolah seharusnya bisa mengendalikan situasi," sambung Edgar.


Deg!


Lagi-lagi keempat anak itu membuat Karin syok.

__ADS_1


"Edgar, Edzel, bersikap sopanlah pada Wakil Kepala Sekolah!" celutuk Edward.


Huhhh selamat! Benar-benar gila nih anak-anak! Bisa-bisanya mereka membuatku sulit bernapas! Baru lima menit mereka berada di sini, sudah menciptakan hawa dingin di sekolah. Bagaimana kalau bertahun-tahun?! Bisa beku nih sekolah! Batin Karin.


Dinar dan Candy yang menyaksikan itu, terkekeh pelan. Namun setelah Katin menatap mereka dengan sinis, kedua pengasuh itu terdiam dan menetralkan wajah mereka.


***


Di depan gerbang sekolah, Amey, Arsen dan Mark tampak menunggu seseorang. Sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di belakang mobil Arsen.


Mengetahui jika ia telah membuat bosnya menunggu, dengan sigap wanita itu yang tak lain adalah Jenifer segera turun dari mobilnya dan berjalan ke arah Amey.


"Maaf telah membuat Nyonya menunggu," menunduk kepala dengan sopan.


"Tak apa, Jen. Aku baru semenit berdiri di sini. Ohya apa semuanya sudah kau siapkan?"


"Sudah, Nyonya. Tinggal menunggu pihak sebelah untuk menandatangani."


"Kerja bagus Jen."


"Hey Gar---" belum saja Arsen meneruskan ucapannya, Amey langsung menyenggol lengan Arsen. "Ehem! Maksudku, Sekretaris Jenifer."


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Jen.


"Ya! Sepertinya aku dan Amey akan ke perusahaan induk. Jadi kau dan Mark saja yang menuju ke hotel untuk bertemu kolega!"


"Baik, Tuan."


Jen melirik ke samping Arsen, jantungnya berdebar kencang saat melihat sosok Mark. Namun ia dengan cepat mengendalikan debaran jantungnya dan tersenyum ramah menatap Mark.


"Sayang, bukankah kita ... "


Arsen langsung memotong ucapan Amey. "Kita akan mengadakan rapat eksklusif. Jadi Mark dan Jen yang akan mengurus kontrak kerja dengan kolega lain," mengedipkan matanya pada Amey.


Akhirnya Amey paham dengan maksud Arsen. "Oh ... iya! Kau benar, Sayang. Kalau begitu kau saja yang menyetir mobil. Biar Mark menumpang di mobilnya Jenifer. Kau tak keberatan 'kan Jen?"


"Tentu saja tidak, Nyonya," tersenyum.


"Bagaimana denganmu, Mark? Apa kau keberatan?" tanya Arsen dengan lekukan liciknya.


"Baiklah, aku dan Memey duluan. Kami tidak boleh terlambat menghadiri rapat. Kami percayakan semuanya pada kalian berdua," tutur Arsen seraya masuk ke dalam mobil.


Mark dan Jen menunduk kepala saat mobil Arsen berlalu.


Rapat eksklusif? Cihhh, dasar! Setauku hari ini, Tuan tak memiliki jadwal seperti itu. Batin Mark.


"Tuan, Mark?" panggil Jen.


Mark buyar dari lamunannya.


"Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Jen dengan nada halus dan lembut.


"Tentu saja!"


Jen berjalan menuju ke mobilnya. Sedangkan Mark mengikutinya dari belakang.


Sikap Jen benar-benar sangat berbeda. Ia terlihat seperti seorang wanita karier yang profesional. Bisa di bilang, Jen sudah setara dengan Eggie. Mulai dari cara berjalannya, penampilannya bahkan kemampuannya sudah sangat sempurna dalam dunia perbisnisan. Mark pun sangat kagum melihat perubahan drastis si gadis dasi merah itu.


"Biar aku yang menyetir," ucap Mark.


"Tidak apa-apa, Tuan. Biar aku saja," tersenyum menatap Mark.


Ada apa dengan wajahnya itu! Apa rahangnya bermasalah. Kenapa dia selalu tersenyum padaku?! Sialan! ucap Mark dalam hati. "Sekretaris Jenifer, biar aku saja yang menyetir. Akan terasa aneh jika seorang wanita yang mengemudi sedangkan seorang pria hanya duduk bersantai."


"Baiklah jika kau memaksa."


F*ck! Kenapa dia tersenyum lagi!


Diam-diam Mark mulai kagum dengan sifat Jenifer, namun ia terlalu gengsi untuk menunjukkannya.


Ya Tuhan, kumohon kuatkan aku! Dadaku terasa sesak saat berdekatan dengannya! Batin Jen.


Dalam perjalanan keduanya tampak hening. Mark mengingat saat-saat bersamanya dengan Jen enam tahun lalu. Wanita itu tampak cerewet dan ceroboh. Tapi membandingkan perilaku Jen yang dulu dan Jen yang sedang duduk di sampingnya, Mark merasa jika, Jen yang sekarang adalah orang asing baginya.


Ingin sekali Mark bertanya mengenai kehidupan wanita yang pernah mencuri hatinya, namun bayangan Gio saat mencium Jen, serta cincin berlian yang terpasang di jemari Jen, membuat Mark merasa sangat jengkel dan memilih untuk tidak mencari tahu kehidupan Jenifer.


Telepon genggam Jen tiba-tiba bergetar. Ia menjawab telepon itu dengan suara lembut. "Halo ... iya selesai ini, aku akan menjemputmu dan kita makan siang bersama ... Iya, sampai jumpa," memutuskan sambungan telepon.

__ADS_1


Merasa penasaran dengan si penelepon, Mark yang tadinya bungkam akhirnya bersuara karena tak tahan dengan rasa penasarannya itu. "Apa itu anakmu?"


Jen menyipitkan matanya. "Maaf, Tuan? Aku tidak mendengar ucapanmu. Bisakah kau ulangi?" pinta Jen.


"Sudah berapa tahun dia?" tanya Mark lagi.


Ehhh! Apa maksdunya?! Batin Jen.


"Jangan bilang jika kau tidak mendengar ucapanku lagi."


"Aku mendengarnya Tuan. Tapi ... aku sedikit bingung dengan pertanyaanmu," menggaruk tengkuk.


"Sudah berapa tahun, usia anakmu?"


Deg!


"Hah? Sepertinya Tuan salah paham. Aku belum menikah, apalagi punya anak!"


Mark terkejut bukan kepalang. Sangking kagetnya Mark, ia tak sengaja menginjak rem dengan tiba-tiba, sehingga kepala Jen hampir terbentur. Untunglah Mark dengan segera merentangkan tangan kirinya untuk menahan tubuh Jen.


"Maafkan aku! Apa kau tak apa-apa?" tanya Mark, merasa bersalah.


Kedua orang itu saling menatap lama. Debaran jantung keduanya saling memompa dengan hebat. Rasa yang terpendam selama enam tahun, dengan seketika kembali bermekaran. Jarak wajah keduanya pun sangatlah dekat, sehingga Jen tak kuasa lagi menahan cairan di pupil matanya.


Melihat air mata Jen yang berjatuhan, membuat Mark reflek memeluk tubuh Jen. "Maafkan aku, telah membuatmu syok!"


Tuan! Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?! ucap Jen dalam hati. Matanya masih melebar. Sedangkan air matanya semakin menggenangi pipi mulusnya.


Bodohnya diriku! Kenapa aku membuat dia menangis lagi! Cukuplah bagiku telah menyakitinya empat tahun lalu. Kenapa aku harus melihat air matanya lagi! Arghhhhh! Mark kau sangat bodoh!


Tin ... tin ....


Mobil-mobil yang berderetan di belakang mobil Jenifer membunyikan klakson karena sudah hampir satu menit mereka menghalangi jalanan. Jen tersadar dan langsung mendorong tubuh Mark menjauh dari tubuhnya.


"Maaf telah membuatmu terkejut," ucap Mark dengan lirih.


Jen menghapus air matanya. Ia kembali tersenyum menatap Mark yang tampak panik. "Hehe, aku tidak apa-apa Tuan. Aku yang seharusnya minta maaf telah membuatmu panik. Tiba-tiba mataku terkena debu halus dan berair."


Mark mengangguk dengan kaku dan kembali mengemudi. Aku terlalu berlebihan!


Untung saja, Tuan tidak bertanya lagi! "Aku masih tidak mengerti dengan ucapanmu tadi, Tuan," ucap Jen.


"Lupakan. Aku hanya asal menebaknya saja."


"Baiklah," mengangguk kepala.


Jadi, selama ini aku telah salah paham terhadapnya?! Ternyata dia tidak menikah ... Tapi cincin itu?! Mark melirik jari manis Jenifer.


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.


Follow ig : @syutrikastivani


Visual By Pinterest ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡


(Mark)



(Jenifer yang dulu)




(Jenifer yang sekarang)



__ADS_1


__ADS_2