
Pagi itu, Amey terbangun dari tidurnya dan mendapati Arsen yang sedang berbaring di sofa. Dengan hati-hati ia mengangkat badannya dan menurunkan kakinya di lantai. Karena pergerakannya masih terbatas, ia pun hanya bisa duduk di atas ranjang dan belum bisa berjalan.
Dari jauh ia melihat ketiga anaknya yang berbaring di ranjang bayi. "Selamat pagi pangeran-pangeran Mommy," tersenyum semringah.
Mendengar suara Amey, Arsen terbangun dari tidurnya. "Sayang?" mengucek matanya.
"Ars, bisakah kau membantuku berjalan menemui anak-anak kita?"
"Baiklah. Tapi kalau kamu belum bisa menopang berat badanmu, maka jangan paksakan. Nanti bekas operasimu bertambah sakit."
"Iya Sayang."
Arsen merangkul Amey dan menuntunnya menuju tempat tidur bayi. Dengan sangat hati-hati, Amey berjalan demi melihat sang buah hatinya. Meski di lubuk hatinya yang paling dalam masih sangat terluka dengan kondisi anak bungsunya, namun ia berusaha tegar demi melihat Arsen dan ketiga anak kembarnya.
"Mereka mewarisi hidungmu, Ars."
"Mereka juga mewarisi bentuk matamu."
Keduanya tersenyum bahagia.
"Sayang, aku mau melihat Edzel. Bolehkah kau mengantarku?"
Sejenak Arsen terdiam. Ia bingung harus berkata apa. Dirinya paham jika Amey merindukan anak bungsunya. Namun ia juga tak tega melihat Amey bersedih saat bertemu dengan Edzel yang sudah dipenuhi benda-benda aneh. Baginya kebahagiaan Amey dan kebahagiaan putra-putranya yang paling utama. Cukuplah seorang Arsen yang menanggung penderitaan keluarganya.
"Ars? Kenapa bengong?"
"Memey, sebaiknya kamu jangan dulu keluar ruangan karena kesehatanmu masih minim. Biar aku saja yang pergi mengunjunginya."
"Sayang, aku sudah sembuh. Aku juga ingin melihat si kecil Edzel. Bagaimana kalau dia berpikir jika ibunya tidak memperhatikannya? Walau masih bayi, tapi mereka juga memiliki perasaan, Ars."
Arsen semakin bingung. Amey memanglah wanita keras kepala. Tapi mau bagaimana lagi, ia juga merasa perkataan Amey ada benarnya.
"Baiklah aku akan mengambil kursi roda untukmu."
Amey mengangguk.
Tak menunggu waktu yang lama Arsen kembali dengan mendorong kursi roda. Pasutri itu menuju ruang rawat Edzel. Sesampainya di sana, Amey hanya bisa menatap si bungsu dari kejauhan.
Amey tak ingin membuat Arsen bersedih. Ia menatap Edzel dengan penuh kerinduan. Hati ibu mana yang tak akan hancur ketika melihat kulit tipis malaikat kecilnya dibaluti berbagai alat. Namun karena ada Arsen yang berdiri di sampingnya, ia pun menahan isak tangisnya.
"Sayang, apa itu sakit?" lirih Amey. "Mommy bisa merasakan penderitaanmu, Sayang. Bertahanlah pangeran kecilku. Mommy dan Daddy selalu bersamamu."
Arsen tertegun mendengar ucapan Amey. Ia berusaha kuat, agar Amey juga kuat. Kedua orang itu saling menjaga perasaan mereka.
Tak lama setelah Amey mengucapkan itu, tiba-tiba bayi yang terbungkus dengan kaca itu menggerakkan jari-jarinya yang mungil. Amey mengucek matanya berkali-kali saat melihat si kecil yang bergerak.
"Sayang, apa kau juga melihatnya?" tanya Arsen.
"Ya! Aku pikir aku hanya berhalusinasi!"
"Tidak. Dia memang bergerak. Aku melihatnya, Sayang!" ketus Arsen bersemangat.
"Oekk ... oekk ... oek!!" Bayi mungil itu menangis dengan kuat.
"Ars! Edzel, Ars! Edzel menangis! Kau juga mendengarnya 'kan?" ucap Amey histeris.
Arsen memeluk Amey dengan erat. Amey pun tak kuasa menahan tangis harunya. Ia menangis sangat kuat sampai tersedu-sedu.
Untuk kesekian kalinya Engkau mengabulkan doa-doaku! Kesembuhan Edzel merupakan bukti konkrit dari kuasaMu. Tuhan Trima kasih telah mengirim keempat malaikat kecil sebagai pelengkap keluargaku! Doa Arsen dalam hati.
Dokter dan perawat segera menangani Edzel. Mereka terheran-heran dengan pemulihan drastis dari bayi kecil itu. Baru kali tu mereka mengalami kejadian langka seperti. Bayi prematur yang bahkan tak sampai dua puluh empat jam di inkubator telah sepenuhnya sadar, bahkan sangat aktif.
"Ini sebuah mujizat!" gumam Paulina. "Segera pindahkan bayi ini bersama ketiga kembarnya!" perintah Paulina kepada perawat wanita yang bersama dengannya.
"Baik, Dokter."
"Apa anakku sudah sehat?" tanya Arsen.
"Tuan, anak Anda, sangat sehat. Saya sudah memeriksanya. Sepertinya dia akan menjadi bayi yang sangat rewel di antara ketiga kakaknya."
__ADS_1
Arsen dan Amey menarik napasnya lega. Mereka tersenyum lebar menyambut Edzel kecil yang menggemaskan.
"Dia sangat aktif dari ketiga kembarnya. Ini sangat mustahil bagi bayi prematur seperti dirinya. Biasanya kami harus menunggu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk melihat bayi prematur bergerak aktif seperti ini."
"Trima kasih Dok," ucap Amey.
"Sama-sama, Nyonya Muda. Ini semua berkat doa Nyonya dan Tuan."
Arsen yang tidak suka menunjukkan wajah bahagianya pada orang lain selain kerabat terdekatnya, akhirnya kelepasan. Dan baru pertama kali mereka melihat Arsen tersenyum semringah.
Sangat manis! Coba saja kalau Tuan Muda selalu tersenyum seperti ini! Batin seorang perawat wanita.
Tuan Arsen yang kasar, dingin dan Arogan! Kini kau sudah menjadi seorang ayah. Semoga saja kau selalu tersenyum seperti ini. Wajah garangmu sangat menyeramkan! Batin Paulina.
***
Setelah si bungsu Edzel melewati masa kiritisnya, akhirnya ia bisa bergabung bersama ketiga kembarnya. Tak ada hal lain yang membuat Amey dan Arsen bahagia selain berkumpulnya mereka berenam. Kelahiran keempat Winston junior itu menarik perhatian publik.
Banyak sekali wartawan yang berdatangan di rumah sakit itu untuk melihat wajah keempat bayi mungil itu. Arsen memperketat pengamanan, ia tidak mau anak-anaknya terekspos di media sosial, sebelum waktunya. Semua kerabat Amey dan Arsen pun tak berani mengambil gambar atau pun video.
Pengunjung sangat dibatasi di ruangan Amey. Rekan kerja keduanya pun tak diijinkan Arsen untuk menjenguk Amey dan keempat bayinya. Jika mereka melanggar, hubungan kerja sama akan berakhir. Jelas saja karena Arsen tidak mau keluarganya menjadi soroton publik.
"Bagaimana keadaan di luar? Apa reporter-reporter kepo itu sudah pergi?"
"Masih seperti biasa Tuan. Malahan setiap menit bertambah" ucap Mark.
"Biarkan mereka lelah dengan sendirinya."
"Baik Tuan."
"Lalu bagaimana dengan perusahaan?"
"Semuanya aman Tuan. Hanya saja, Tuan akan mengadakan perjalanan bisnis ke luar negeri. Pertemuan ini telah disepakati bersama pada bulan lalu."
"Apa itu pembangunan proyek baru?"
"Benar Tuan. Kali ini pertemuan diadakan di Islandia."
"Tapi Tuan, ini adalah proyek besar. Hanya WS Group yang memiliki kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaan nomor satu di Islandia."
"Kalau begitu kau saja yang pergi."
"Mereka ingin Tuan sendiri yang ke sana."
"Mark!"
"Ya, Tuan?"
"Kau tenang saja, aku tidak mengirimmu sendirian!"
"Maksud Tuan, Tuan akan pergi juga?"
"Bodoh! Kalau aku bilang tidak akan pergi berarti TIDAK! Sepenting dan sebesar apapun proyek itu, tetap keluargaku yang terutama"
"Lalu siapa yang akan pergi bersamaku?"
"Siapa lagi kalau bukan Garfield!"
Mark menelan saliva. Lagi?! Apa tidak ada rekan kerja lain selain gadis jorok itu? Batin Mark.
"Tidak ada pilihan lagi! Aku mempercayakan, Kau dan Garfield!" tutur Arsen seolah mengetahui isi hati Mark.
"Kalau begitu, aku saja yang pergi sendiri Tuan. Aku sudah terbiasa sendiri."
"Kau masih menunggu Eggie?" tukas Arsen, membekukan Mark.
Mark terdiam.
"Lupakan Eggie!"
__ADS_1
"Aku tidak menunggunya Tuan. Sejak dia menyukai Mr.Collin, aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun padanya."
"Bagus!"
Sementara Arsen dan Mark sedang berbincang, tiba-tiba Keempat Ed menangis kencang.
Keduanya segera berlari menuju ranjang bayi.
"Ars, tolong jaga si kembar," teriak Amey dari dalam kamar mandi.
"Iya, Sayang."
Tangisan mereka semakin menjadi. Arsen menepuk pelan paha mereka sembari mulutnya membentuk bulatan, menenangkan si kembar empat itu. "Mark, jangan diam saja, bantu aku!"
"Ba--bagaimana caranya, Tuan?" tanya Mark kaku.
Arsen menggendong Edzel dan memberikannya pada Mark. Dengan sigap Mark menerima bayi itu. Namun tubuhnya semakin mengeras. "Tu--tuan! Aku ... aku tidak tau cara menggendong bayi."
"Kau pikir aku juga tau, hah?! Tapi mau bagaimana lagi, Si Sulung dan Si Bungsu yang menangis paling kencang. Aku juga akan berusaha menenangkan Edward!"
Layaknya robot, kedua pria itu menggendong Edward dan Edzel. Peluh mulai menyucur di dahi keduanya. Tangisan kedua bayi itu tak berhenti, malahan semakin kuat.
"Mark, tak ada cara lain! Kita harus melakukan sesu ..." belum saja meneruskan ucapannya, ia terperangah saat melihat Mark yang menari ke sana kemari sambil bernyanyi.
Cup ... cup ... jangan menangis ... pria sejati tak pernah menangis ... La ... la ... la ... la ... la ...
"Luar biasa! Kau berhasil menenangkannya, Mark! Tapi ... Katakan padaku dari mana kau menemukan lagu itu?!"
"Aku tidak tau Tuan. Tiba-tiba saja mulutku bergerak dan bernyanyi lagu itu!"
"Ajarkan aku, Jodi sinting! Aku ayahnya!"
"Pelankan suaramu Tuan. Kau membuat Edzel takut!"
Deg!
"Cecunguk sialan! Kalau saja aku tidak menggendong Edward, sudah ku giling kau!"
"Shhhttt! Jangan keras-keras Tuan!"
Mark berhasil membuat Arsen emosi. Ia pun memanfaatkan keadaan agar ia tidak dipukul Bos Arogannya.
Edward pun semakin cengeng. Dengan kaku, Arsen meniru gaya Mark. Ia perlahan menggerakkan kakinya ke sana kemari, dan bernyanyi. Cup ... cup.. Jangan menangis, Edward Sayang, Daddy akan menghajar Unclemu selesai menenangkanmu ... La ... la ... la ...
"Oeekkkkk ... Oekkkk !!" Tangisan Edward semakin menjadi saat mendengar nyanyian Arsen.
"Baiklah ... baiklah. Daddy tidak akan memukulnya! Jadi tenanglah!"
Seolah sudah mengerti, bayi mungil itu berhenti menangis. Mark pun tersenyum kecil melihat tingkah Arsen dan si kecil Edward.
Arsen menatap Mark dengan tajam. Ia melambaikan tangannya di lehernya, mengisyaratkan Mark akan tamat setelah itu.
Mark menetralkan wajahnya. Kerja bagus Edward. Kau telah membuat Daddymu emosi. Sangat sempurna untuk pemula sepertimu, haha!
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
Follow ig : @syutrikastivani
Visual Four babies Ed 👇
__ADS_1
*Visual by pinterest