
Pagi itu udara di taman belakang kediaman keluarga Winston sangat terasa saat menyambar permukaan kulit. Kicauan riuh burung kecil yang bertengker di pohon belimbing diikuti dengan tarian indah kupu-kupu membuat tempat itu bertambah indah dan sejuk.
Sambil bernyanyi, Soffy mendorong dua kereta bayi. Ia terlihat menikmati saat matahari mulai menyilaukannya dengan cahaya. Ia kemudian menatap dua orang bayi kembar yang sedang memandanginya dengan senyum manis.
"Hallo ganteng," ucap Soffy.
Dua bayi itu menggerakkan tangan mungil mereka dengan pandangan tak bergeming dari wajah Soffy.
"Jangan memandangiku seperti itu. Aku tau aku sangat cantik. Haha!" ketus Soffy penuh percaya diri.
Melihat Soffy yang terbahak kedua bayi itu yang tak lain adalah Edhan dan Edgar, mengernyitkan dahi. Lama mereka memandangi Soffy yang tertawa terpingkal-pingkal.
"Hik ... hik !!" Edgar tampak menahan tangisannya. Sedangkan Edhan ikut terbahak dengan Soffy.
"Oek ... oek ... oek!!" Tangisan Edgar akhirnya pecah. Ia terlihat takut saat melihat Soffy yang terbahak di depannya.
"Lohh, kok nangis?" menggaruk kepalanya. "Namanya siapa yah?" gumam Soffy. Ia kemudian membaca sebuah tulisan di kereta bayi. "Ed ... Edegar!" ketusnya lantang.
Tangisan Edgar semakin keras. "Edegar, jangan nangis ya!" menepuk paha Edgar dengan pelan. Soffy kembali mendekatkan pandangannya di tulisan tegak bersambung itu. "Wahh pantas nih bocah nangis! Namanya Edgar! Bukan Edegar. Hahaha! Maafkan Nenek. Mata Nenek terlalu terang, seterang sinar mentari."
"Nenek!" teriak seseorang dari belakang.
Soffy menengok ke belakang dan mendapati Zoey yang sedang mendorong dua kereta bayi.
"Bocil!" ketus Soffy. "Kau tidak ke kampus?"
"Ada Nek. Ini aku sudah bersiap menuju kampus. Tapi aku masih tak rela meninggalkan Edward dan Edzel."
"Memangnya Mommy Daddy mereka ke mana?"
"Kakak ipar lagi memasak untuk Kak Arsen. Kalau Kak Arsen lagi mandi mungkin."
"Ya sudah, kau ke kampus saja nanti Nenek yang jagain keempat bayi kembar ini."
"Sepuluh menit lagi ya Nek. Aku masih ingin main dengan mereka. Hehe," tersenyum melihat Edhan. "Ngomong-ngomong, dari tadi Edhan tersenyum terus. Utututuuu," mencubit pipi Edhan.
"Bocah itu tuh hobinya tersenyum. Tadi dia sempat tertawa kencang saat melihat Nenek terbahak."
"Wahhh lucu sekali." Mata Zoey kemudian beralih menatap Edgar. "Kenapa wajahnya seperti itu, Nek?" tanyanya.
"Dia habis menangis. Sepertinya dia yang akan mewarisi sifat Daddynya. Soalnya nih bocah selalu saja memasang wajah arogannya."
"Hahaha! Bayi Arogan!" tukas Zoey terpingkal. "Tapi Nek, Si sulung juga. Aku tidak pernah lihat dia tersenyum. Coba deh Nenek perhatikan wajahnya," menunjuk kereta bayi di sebelah kirinya.
Soffy mentap Edward dengan lekat. Bayi mungil itu pun memandangi Soffy dengan sinis. Edward mengernyitkan kedua alisnya dengan tatapan tajam ke arah Soffy.
"Ehh busyetttt! Mirip sekali dengan menantu gila! Mata dan alisnya seperti Angry Birds."
"Tuh 'kan benar. Edward juga jarang sekali menangis, dibandingkan Edzel yang tiap menit menangis terus! Hufthhh," dengus Zoey.
"Sifat mereka pasti akan bervariasi kayak permen. Masih untung kalau manis, tapi kalau pahit kayak pil pelangsing, 'kan bisa kacau dunia persilatan!"
"Pefff ... pefff ... pefff!" Edzel tampak memainkan bibir bawahnya.
"Tuh 'kan dia setuju," tutur Soffy.
"Ohya Nek, bukannya hari ini pengasuh bayi Ed akan mulai bekerja ya? Kok aku nggak lihat batang hidung mereka?" tanya Zoey.
"Memangnya kamu belum dengar?"
"Dengar apanya?"
"Ituloh, kemarin Mayy Braderrr favorit lagi adakan ajang pemilihan pengasuh si kembar empat."
"Terus udah dapet?" tanya Zoey semakin penasaran.
"Ya dragonnnn!" menepuk jidatnya. "Gimana mau dapet kalau seleksinya seperti ajang pemilihan Miss World!"
"Hah?! Maksud Nenek?" Gadis itu semakin bingung dengan ucapan Soffy.
__ADS_1
"Wawancaranya mengerikan! Kau tau 'kan kalau Kakakmu itu sukanya yang perfek! Hampir ribuan wanita yang mendaftar jadi pengasuh bayi, tapi tak ada satu pun yang memenuhi kriterianya."
"Astaga! Wajar saja sih, Nek. Kak Arsen orangnya memang kayak gitu. Apalagi ini menyangkut masa depan anak-anaknya. Pasti dia akan melakukan yang terbaik."
"Kau benar. Tapi kapan akan ketemu, jika pemilihannya seperti itu. Alasannya kutilanlah, umur, hobi, tinggi, rambut bahkan pun nama yang mirip Amey, tak akan diterima. Ini 'kan sangat tidak masuk akal!"
"Hahah! Segitu banget Kak Arsen. Kalau begitu Nenek saja yang menjadi pengasuh Baby Ed's," ucap Zoey sembari memandangi seluruh tubuh Soffy. "Nama, umur, rambut, tinggi, kecuali hobi, semuanya beda. Hahaha!"
Plakkk!!!
"Awww," pekik Zoey saat Nenek itu memukulnya di pantat.
"Kurang ajar kau bocil! Kau sudah berani menghina Nenek! Walah aku pendek, sudah tua dan beruban tapi masih tak kalah cantik dengan Amey, cucuku itu! Dan satu lagi, aku dan Amey memiliki hobi yang sama, jadi aku tidak masuk kriteria. Hahaha!"
"Kalau begitu Nenek ganti hobi aja. Gimana kalau hobi nangkep belut? Hahahah?!"
"Bocil sialan! Sini kau! Aku botakin kepalamu!" mengejar Zoey yang telah berlari.
"Nek, aku ke kampus dulu ya. Dahhhh!"
Soffy menatap Zoey dengan tajam. Maniknya seolah mengeluarkan sinar laser berwarna merah. "Jahilnya mulai kelewatan. Jangan heran! Kakaknya bule sinting, adiknya pasti ketularan! Cuihhh, hobi menangkap belut ... ?" Soffy menatap langit serta menerawang ke atas. "Sepertinya seru juga kalau menangkap belut, apalagi ... " tersenyum genit.
***
Pekerjaan mencari pengasuh bayi masih berlanjut. Saat matahari telah sejajar dengan puncak kepala, Mark dan Jen memutuskan untuk beristirahat sejenak. Setelah tiga puluh menit berlalu, Mark memberi kode pada Jen, untuk melanjutkan kembali pekerjaan mereka.
"Nama-nama ini yang kau bawa masuk. Sisanya kau pulangkan saja!" perintah Mark pada Jen sembari memberikan secarik kertas padanya.
"Apa kau sudah menemukan pengasuh yang memenuhi kriteria, Tuan?"
"Ya!"
Gadis itu mengerutkan keningnya, setelah itu ia berjalan keluar memanggil dua nama yang tertera di kertas kecil itu.
Tak lama setelah itu, Jen tiba dengan membawa dua wanita. Mark menatap dua orang itu dengan seksama.
"Kau diterima!"
Deg!
Jen terbelalak. Ia terkejut saat mendengar ucapan Mark. "Apa matanya bermasalah? Bukan! Bukan hanya matanya saja yang bermasalah! Otaknya juga sangat bermasalah!" gumam Jen tak bergeming menatap wanita culun di hadapannya.
"Te--terima kasih Tuan."
"Namamu Dinar 'kan?" tanya Mark.
"Benar Tuan."
"Duduklah."
Mark menyuruh wanita culun yang bernama Dinar untuk duduk di sofa. Matanya kembali menatap seorang wanita yang tadinya berdiri di sebelah Dinar.
"Mata sipit, hidung pesek dengan senyum yang cukup manis, umur tiga puluh tahun. Belum menikah, tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran! Dan sama seperti Dinar, tidak memiliki kelebihan apapun! Kau juga diterima!"
Buggg!
Suara benturan keras mengagetkan Mark. "Kenapa kau?!" tanyanya pada Jen saat gadis itu tiba-tiba menjatuhkan dirinya di sofa.
"Aku ... aku tidak apa-apa Tuan. Si--silahkan lanjutkan!" ucap Jen lemas. Apa dia bilang?! Senyum yang cukup manis?! Apa dia sedang merayu gadis itu?! Tunggu dulu! Bukan itu permasalahannya! Masalahnya adalah, Tuan Dasi Merah ini memang hidup di planet Mars! Dia benar-benar aneh dan gila. Bukannya mencari pengasuh yang memiliki kelebihan, ehh malah mencari pengasuh yang tak memiliki kelebihan apapun!
"Baik, aku lanjut!" kembali menatap gadis sipit di depannya. "Namamu, Candy?! Benar?" tanyanya memastikan.
"Baiklah, sekarang kau bisa bergabung bersama Dinar."
"Trima kasih Tuan. Saya akan bekerja keras mulai saat ini," ucap Candy.
"Kalian akan mengikuti training selama tiga bulan. Kekurangan kalian yang tak memiliki kelebihan apapun, akan dikupas selama tiga bulan. Kalian sudah membaca surat kontraknya 'kan?"
Kedua wanita itu mengangguk.
__ADS_1
"Kalian tidak akan menikah selama menjadi pengasuh Baby Ed's! Kalian juga akan tinggal di mansion dan tidak akan pulang kampung. Seluruh fokus kalian hanya pada empat bayi kembar!"
"Baik Tuan. Kami mengerti."
"Jangan coba-coba memperlakukan Baby Ed's dengan kasar!"
"Kami mengerti Tuan!"
"Setelah menandatangani kontrak kerja ini, kalian telah sah menjadi pengasuh tetap keempat bayi Keluarga Winston," menyodorkan dua dokumen perjanjian. "Ingat! Mereka adalah pewaris takhta WS Group! Nyawa kalian adalah jamiman untuk keselamatan mereka! Terluka atau tergores sedikit pun, jangan harap kalian bisa menghirup udara lagi!"
Dengan peluh yang menyucur di dahi, kedua wanita itu mengangguk sembari berkata, "ba--baik Tuan."
"Anggap saja kalian sedang menjaga empat putra mahkota!"
Saat menandatangani dokumen perjanjian, tangan kedua wanita itu gemetar hebat. Sama saja mereka memberikan nyawa mereka dengan cuma-cuma pada iblis yang berkedok malaikat.
Ceklekk!
Pintu tiba-tiba terbuka. Melihat sosok yang muncul dari balik pintu itu langsung membuat Jen dan Mark refleks berdiri.
"Apa sudah ketemu?" tanya Arsen.
"Sudah Tuan."
"Aku mau bertemu dengan mereka."
Mark memberi kode pada Dinar dan Candy untuk berdiri. Dengan sigap kedua wanita itu pun langsung beranjak dari duduk mereka.
Beginikah wujud asli Tuan Arsen Winston? Batin Dinar.
Inikah Tuan Arogan yang tampan? Sungguh sempurna! Batin Candy.
"Perkenalkan diri kalian," perintah Mark.
"Saya, Dinar Tuan."
"Saya, Candy."
Arsen menyipitkan matanya. Ia menatap kedua wanita itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Aku yakin pasti Tuan Arsen tidak akan menerima kedua gadis ini. Secara Tuan tidak suka wanita yang tak memiliki kelebihan apapun! Mereka juga pasti tidak masuk dalam kreteria. Hadehhh! Selera Tuan Mark ternyata hanya begini doang! ucap Jen dalam hati.
Lama Arsen memperhatikan kedua gadis itu. Maniknya kemudian berpindah menatap Mark. "Apa dokumen mereka yang kau kirimkan padaku tadi malam?"
"Benar Tuan."
Dengan garang dan sinis, Arsen kembali menatap Dinar dan Candy. "Tak dapat diragukan lagi! Kau memang sangat ahli dalam memilih!"
Deg!
Apa?! Tu--tuan ... Ternyata mereka satu selera! Sama-sama sinting, sama-sama aneh, sama-sama dingin!
"Mulai besok mereka akan training! Aku ingin pengasuh bayi-bayiku adalah orang-orang tangguh dan terlatih," ketus Arsen.
"Kita masih membutuhkan dua orang pengasuh lagi, Tuan," ucap Mark.
"Hmm, aku rasa dua sudah cukup. Aku yakin mereka bisa menangani Edward, Edhan, Edgar dan Edzel!" tersenyum licik.
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
Follow ig : @syutrikastivani
__ADS_1