
Dengan langkah pontang-panting, seorang wanita berusaha mengangkat kakinya untuk menaiki anak tangga. Ia terlihat lesu dan tak berenergi. Lingkaran hitam di bawah matanya sangat nampak sehingga wanita itu terlihat seperti mayat hidup. Dialah Jenifer, si wanita pekerja keras dan sedikit barbar. Ia memang mewarisi sifat neneknya, Doris.
"Haciww!"
"Ha ... haciww!" menggosok hidungnya yang pesek.
"Ha ... Ha ... Haciwwww!" Ia menarik ingusnya yang tampak mengintip dari liang persembunyiannya.
"Sepertinya ada yang sedang menggosipkan diriku!" gumamnya.
Jen kembali melanjutkan langkahnya. Saat tiba di lantai terakhir gedung itu, maniknya melirik ke arah tempat tinggalnya Doris. "Hmmm," mengendus. "Bau apa ini?" Ia berjalan mengikuti aroma yang sedang dihirupnya.
"Ehh Jeni blackpink udah pulang. Gimana konsernya? Lancar?" tanya Doris.
"Aishhh! Apaan sih Nek?! Ngarep banget punya cucu personil blackpink!"
Doris memanyunkan bibirnya.
"Nenek masak sup kerang ya?" tanya Jen.
"Binggooo! Nenek sengaja memasakan makanan kesukaanmu," tutur Doris sembari menunjukkan ibu jarinya.
Jen menatap masakan itu dengan mata yang berbinar. Ia menarik kursi dan mendudukkan badannya di sana. Namun tiba-tiba pikirannya berkeliling. Wajah yang awalnya tampak semangat dan senang, kini berubah menjadi lesu seketika.
"Jeni! Apa yang kau pikirkan? Ayo habiskan makananmu dan istirahatlah. Besok kau akan bekerja lagi. Kau harus menambah staminamu!" ketus Doris.
Jen menggelengkan kepalanya. Namun dalam pikirannya terlintas wajah Mark. Ia kembali mengingat terakhir kali Mark datang di rumah Neneknya dan makan sup kerang. "Hufthh! Bahkan makanan kesukaanku merupakan makanan yang membuat Tuan Dasi Merah alergi! Ternyata memang sudah ditakdirkan kalau aku dan Tuan Dasi Merah tidak berjodoh!" gerutunya.
"Nenek tau! Kau pasti memikirkan Bule Semangka itu 'kan? Ohya kapan kalian akan menikah?!"
"Uhuk ... uhuk!" Pertanyaan Doris membuat Jen tersedak.
"Ini minumlah," menuangkan Jen segelas air.
Jen menenggak air mineral itu hingga tak tersisa. Ia kemudian menyeka sisa air yang menempel di bibirnya dan menatap Doris dengan tajam. "Nek, dengarkan aku baik-baik. Aku dan Tuan Mark sama sekali tidak memiliki hubungan spesial. Hubungan kami hanya antara atasan dan bawahan. Itu saja tidak lebih. Jadi jangan menyulitkanku dengan pertanyaan tidak berfaedah seperti itu!"
Deg!
Doris terkejut bukan kepalang. Baru kali ini Jen berbicara serius dengannya. Doris menggebrak meja dengan keras.
"Brakkk!"
Jen terperanjat. Gawat! Doris mengamuk! Tamatlah aku! ucapnya dalam hati. Jen perlahan berdiri dari duduknya. Ia meraih tas yang terletak di atas tempat duduk lain.
"Jadi kalian tidak berkencan?!" tanya Doris dengan menaikkan nada.
Sumo mengamuk! Aku harus lari dari tempat ini sebelum kerang-kerang yang sudah direbus ini hidup kembali!
"Jeni!"
"I--iya, Nek?!" sahut Jen dengan hati-hati.
"Bayar uang kosmu dan tagihan listrik sekarang jugaaaa!!!"
__ADS_1
Mendengar amukan buas sang Nenek, Jen langsung berlari menuju kamarnya sambil berteriak, "Nanti saja, Nek. Aku pasti akan membayarnya!"
"Tenang Doris ... tenang!" mengatur napasnya. Tak lama setelah raungan buasnya, ia kemudian tersenyum tipis. "Hadehhh, tak terasa si Jeni peliharaan kesayanganku udah gede. Heheh!" terkekeh.
Ya begitulah Doris. Meski ia selalu memarahi Jeni, namun ia sebenarnya sangat sayang dengan cucu perempuannya. Sejak Ayah Jen melepas tanggung jawab sebagai kepala keluarga, ibu Jen yang tinggal di kampung menitipkan Jenifer pada Nenek Doris. Karena motivasi yang kuat dari Doris, sehingga Jen bisa menjadi wanita tangguh dan menjadi orang yang bisa dikatakan sudah memiliki pekerjaan tetap dan berpengaruh di dunia perbisnisan.
Di tempat lain, seorang wanita yang tak lain adalah Jenifer, merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Seperti biasanya, ia tak melepas heels-nya dan langsung terlelap. Tak lama kemudian alam bawa sadarnya mulai mengambil alih mengontrol dirinya.
Jen terlelap karena merasa sangat lelah. Ia memiliki banyak sekali tugas di kantor. Di tambah lagi Mark telah menyulitkannya selama dua hari hanya untuk mencari pengasuh bayi-bayi Ed.
"Hey, Tuan Mark?! Suatu saat nanti aku akan membalasmu! Aku akan membuat kau bertekuk lutut padaku dan akan membuatmu menjadi budakku! Lihat saja nanti!" racau Jenifer dengan iler yang sudah membanjiri bantalnya.
***
Setelah selesai memandikan keempat Winston junior, Dinar dan Candy mengajak keempat bayi itu untuk mencari udara segar di taman belakang. Tentunya dengan bantuan Elis, kedua wanita yang sedang mengikuti training mengasuh bayi itu dengan baik mengerjakan tugas-tugas mereka.
Saat berjalan, mereka tak sengaja berpapasan dengan Soffy. Wanita tua itu menghentikan langkahnya dan menatap dua wanita berumur tiga puluh tahun itu yang telah menggunakan seragam dengan sebuah pita berwarna putih di atas kepala mereka.
"Stop!" ketus Soffy.
Dinar, Candy menghentikan langkah mereka.
"Ohh jadi ini pengasuh keempat kecebong ini?" tanyanya sembari mengangguk kepalanya pelan.
"Benar, Nyonya," ucap Candy menunduk.
"Eitssss! Jangan panggil aku Nyonya. Panggil saja aku Lady."
"Namaku Lady Gaga! Hehe!" terkekeh pelan.
"La--lady Gaga?" ulang Dinar penuh tanda tanya.
"Becanda kali! Kalian panggil saja aku Nenek Soffy. Karena aku Neneknya Amey."
"Oh begitu. Baiklah Nenek," ucap kedua wanita itu serentak.
"Perkenalkan diri kalian," pinta Soffy.
"Aku Dinar, Nek."
"Kalau aku Candy."
Soffy mengerutkan keningnya. "Tunggu dulu!"
"Ehm, ada apa Nek?" tanya Candy.
"Kalian tidak sedang mempermainkanku 'kan?"
"Ti--tidak Nek. Kami tidak berani."
"Nama kalian memang Dinar dan ... Candy?!" tanya Soffy lagi, memastikan jika dirinya tidak salah dengar.
"Benar, Nek. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
Soffy menatap dua pasang tempurung lunak yang terletak di dada milik kedua wanita itu dengan lekat. "Kok mengempis?!" tanyanya heran.
Dinar dan Candy semakin bingung dengan tingkah Soffy. Mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan Soffy dari tadi.
"Apanya yang mengempis, Nek?" tanya Dinar lirih.
"Yang aku tau Dinar Candy memiliki body yang aduhayyy! Kenapa s'karang malah datar kayak triplek?!" Soffy berjalan memutari kedua wanita itu. "Kalian DJ yang viral itu 'kan yang pernah menjual celana dalam dengan harga puluhan juta?"
Deg!
"Bu--bukan Nek. Nama lengkapku Dinar Purwaningsih."
"Kalau aku Candy Admatja, Nek."
"Ya amsyonggg! Aku kirain beneran si DJ bahenol Dinar Candy! Pantesan aja wujud kalian kayak rangka berjalan!"
Dinar dan Candy hanya bisa menunduk kepala. Sedangkan keempat bayi itu sedari tadi memperhatikan percakapan singkat Soffy dan pengasuh mereka.
"Utututu, Edhan senyum terus. Lagi seneng-seneng ama DJ gadungan ya?"
Soffy mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Edhan.
"Oek ... oek ... oek ..." Suara tangisan Edgar kembali pecah. Entah mengapa setiap kali Soffy menatapnya secara dekat, bayi mungil itu selalu menangis dengan keras.
"Perasaan yang aku cium Edhan?! Kenapa yang menangis Edgar?!"
Tangisan Edgar semakin menjadi.
"Baiklah ... baiklah! Aku akan menjauhkan wajahku!" Soffy menarik kembali wajahnya dan menatap Edgar dengan sinis.
"Hik .. hik ..." Edzel pun tampak mengambil ancang-ancang untuk menangis. Wajahnya yang lucu dan menggemaskan membuat siapa saja yang melihatnya ingin mencubit pipi tembem itu.
"Apa kau juga akan menangis mengikuti kakakmu?!" ujar Soffy menaikan nada.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian Edzel menangis dengan sangat kencang. Suara Edgar pun tertutupi oleh tangisan keras milik si bungsu.
"Astaga dragon! Cup ... cup ... cup. Apa mereka sedang latihan untuk mengikuti lomba paduan suara ya?! Tangisan mereka merdu sekali!"
Dinar dan Candy semakin bingung menghentikan tangisan Edgar dan Edzel. Mereka hanya bisa menonton paduan suara dua bayi mungil itu.
Sementara kedua bayi itu menangis, sepasang mata ternyata sedang memperhatikan Soffy. Edward, si sulung menatap Soffy dengan tajam. Ia mengerutkan keningnya dengan kedua tangan yang mengepal erat.
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
Follow ig : @syutrikastivani
__ADS_1