
Pikiran Mark mulai berkeliling. Ia teringat akan ucapan Arsen di mobil. Kata-kata Arsen seolah mengintimidasinya dan mengekangnya secara terus menerus. Mark berjalan dengan langkah yang berat mengikuti Arsen dari belakang. Wajah yang tadinya berseri, kini menjadi masam dengan seketika.
Apa benar Tuan menaruh cctv?! Batin Mark.
"Ada apa dengan wajahmu, Mark. Bukannya kau tadi terlihat gembira. Kenapa sekarang wajahmu seperti kertas kusut?"
"Tuan, ada yang ingin aku tanyakan."
"Apa itu?"
"Apa benar yang dikatakan Tuan, pas di mobil?"
"Banyak yang aku katakan tadi. Tolong yang lebih spesifik!"
"Emm, anu Tuan ... mengenai cctv."
Arsen menyipitkan matanya. Ia kembali mengingat ucapan yang ia tuturkan pada Mark tadi. "Oh yang itu. Kenapa? Kau penasaran?"
"Sangat Tuan."
Memangnya apa yang kau lakukan?"
Deg!
Lagi-lagi Mark menerima serangan jantung dadakan.
"Hahaha!" Arsen terbahak melihat ekpresi Mark. "Ahir-akhir ini kepinteranmu mulai menuran ya. Haha! Mana mungkin aku meletakkan cctv di apartemen Garfield! Kau pikir aku penguntit?!"
Mendengar itu Mark membuang napas lega. Wajahnya terlihat tenang seketika. Benar juga! Tuan tidak mungkin melakukan hal seperti itu.
"Akhirnya aku tau apa yang terjadi!" tersenyum sinis.
Pria di belakangnya menjadi bingung kembali. "Apa yang terjadi, Tuan?"
"Kau tau, kau sebenarnya sangat polos, Mark! Aku hanya memancingmu tadi. Dan ternyata benar dugaanku!"
Goshhhhh! Kenapa ucapan Tuan terdengar horror!
Arsen menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannnya dan memajukan langkahnya perlahan mendekati Mark. "Apa yang kalian lakukan di sana, hah?!" bisik Arsen dengan tatapan super licik. "Apa kau melakukan aksi pemantapan dengan kucing liarmu?" bisik Arsen lagi di telinga Mark sehingga membuat pria itu terperanjat.
Keringat dingin mulai menyucur deras di punggung Mark. Bahkan dahinya juga meneteskan peluh akibat hawa dingin yang menyelimuti dirinya. "A--aku tidak mengerti apa maksud, Tuan," lirih Mark.
"Selamat pagi Mr. Winston," sapa seorang wanita.
Kepanikan Mark semakin menjadi. Ia terlihat salah tingkah saat melihat Jenifer yang berada tepat di hadapannya.
"Owh! Waktu yang tepat!" tukas Arsen.
"Ini berkas yang Tuan minta," menyodorkan dokumen. Jen terlihat tenang dan santai.
Arsen menerima dokumen itu dan langsung mengeceknya. Sedangkan Mark sedari tadi mematung dengan tebaran rona merah di pipinya. Ia sekali-kali mencuri pandang ke arah Jenifer namun gadis itu tidak terlalu memperhatikannya.
"Sekretaris Jen, kau ke ruanganku sekarang!" perintah Arsen.
__ADS_1
"Baik Tuan."
Jenifer berjalan di belakang Mark dan Arsen. Jen memandangi belakang punggung Mark dengan tersenyum lebar. Masih sulit dipercaya kalau pria yang di depanku ini adalah calon suamiku. Haha! Tenang Jen, kau harus menpertahankan sikap tenang dan eleganmu! Tunjukkan kalau kau juga bisa bersikap profesional.
Mark merasa sangat canggung. Maniknya melirik ke kanan dan ke kiri, berharap ia bisa melihat Jen. Namun karena Mark berada di depan Jen, ia tak bisa melihat sosok gadis itu. Goshhhh! Kenapa dia terlihat tenang, seolah tidak ada yang terjadi antara aku dan dia tadi malam. Apa hanya aku saja yang merasa kaku di sini?!
Dengan penuh percaya diri, Jen berjalan mendahului Mark, ia sengaja menyentuh lengan Mark dan sepintas memandangi pria itu. Jen pun mengepalkan kedua tangannya dan berbisik pelan, "Semangat!"
Deg!
Jantung Mark memompa tak karuan. Ia tak dapat lagi menahan rasa senangnya sehingga tak sadar ia kembali tersenyum lebar. Sampai-sampai gigi putihnya menengok keluar. Mark memandangi belakang punggung Jen, jika tak ada Arsen di depan mereka, pasti dia sudah menerkam Jenifer karena sangat menggemaskan.
Arsen pun tiba di ruangan direktur. Meski ia tidak menetap di ruangannya, namun tempat itu terlihat bersih, rapi dan harum. Jelas saja, karena pegawainya selalu membersihkan ruangan itu. Awalnya tempat itu adalah ruangan saudara kembarnya, namun ia telah mengambil alih semenjak Arka meninggal.
"Ada yang ingin aku tanyakan pada kalian berdua!"
Mark dan Jen tampak gugup. Namun mereka segera menetralkan ekspresi mereka.
"Kapan kalian akan menikah?"
Deg!
Pertanyaan Arsen bagai anak panah yang mendarat sempurna di telinga keduanya.
"Maaf, Tuan?" lirih Jen.
"Saat ini, aku berbicara sebagai wali si Jodi, eh sorry, maksudku wali Mark. Aku harap kalian bicara santai padaku."
"Wa--wali, Tuan Arsen?!" ucap Jen terperanjat.
"Iya. Lagian orang tua Mark telah meninggal, jadi aku sebagai atasan sekaligus keluarganya, ingin memastikan kapan tanggal pernikahan kalian."
Astaga! Ternyata orangtua Tuan Mark sudah meninggal. Kasihan sekali! Pantasan sifatnya begitu dingin dan kaku.
"Maaf Tuan tapi aku masih be--"
"Bulan depan, Tuan," ketus Mark lantang.
Jen terperangah. Ia menatap Mark yang sedang memandangi Arsen. Ia sangat kaget mendengar ucapan Mark. Pasalnya mereka baru resmi jadian tadi malam, dan sekarang Mark telah memutuskan tanggal pernikahan.
"Hmm, baiklah. Lebih cepat lebih bagus. Mengingat umurmu yang sudah empat puluh tahun, sebaiknya kau menikah dengan cepat supaya bibitmu masih unggul dan belum expire!"
Jen menelan saliva dengan kasar. Bi--bibit unggul?!
"Aku akan memberikan kalian cuti selama satu tahun, termasuk cuti melahirkan."
Sepertinya Tuan memperhitungkan semuanya. Batin Mark.
"Trima kasih, Tuan. Tapi itu sangat lama. Aku khawatir dengan perusahaan jika aku terlalu lama mengambil cuti."
"Tak usah khawatir. Ada seorang sekretaris profesional yang akan menggantimu untuk sementara waktu."
"Trima kasih Tuan."
__ADS_1
"Aku akan mengawasi persiapan pernikahan kalian. Jika ada apa-apa sampaikan padaku, aku dengan senang hati akan membantu kalian."
"Trima kasih Tuan," ucap Mark.
Arsen beranjak dari duduknya. "Ayo Mark, kita ke perusahaan induk."
"Baik Tuan."
Jen mengantarkan kedua orang itu sampai depan lobi hotel dan kemudian ia kembali melanjutkan aktivitasnya.
Percakapan di ruangan direktur utama, sangatlah berkesan bagi Jen dan Mark. Siapa yang dapat menyangka jika kedua orang itu akan meninggalkan masa lajang mereka dan mengganti status menjadi suami dan istri.
Di balik kelicikan Arsen, sebenarnya ia menyimpan rasa kepedulian pada asistennya. Jika Arsen tidak bertindak, maka hubungan Mark dan Jen tak akan berkembang. Jelas saja, karena Mark belum ahli mengambil hati wanita.
"Mark!"
"Ada apa Tuan?"
"Kau harus jujur padaku!"
"Aku tidak pernah berbohong padamu Tuan. Kalau pun aku berbohong kau dengan cepat mengetahuinya. Karena aku tak pintar berbohong."
"Kalau begitu, apa kau sudah pernah berpetualang?"
"Aku tidak memiliki waktu seperti itu, Tuan."
"Stupid! Maksudku, apakah belutmu sudah pernah memasuki terowongan?!"
"Oh maksud Tuan si siluman ular?"
"Goshhhh!" Arsen melonjak. "Aku tak menyangka seorang Mark juga memiliki julukan untuk harta karunnya dengan julukan siluman ular?"
Pipi Mark memerah. "Kenapa Tuan bertanya seperti itu?"
"Karena kau calon pengantin baru maka aku akan merekomendasikan ramuan tradisional yang bisa membuat siluman ularmu berumur panjang di dalam gua."
"Ramuan tradisional?" gumamnya.
"Ya. Ramuan ala Nensi."
Mark terdiam sesaat.
"Kalau kau belum berpengalaman, aku akan mengajarkan padamu bagaimana cara membuat adonan."
Membuat adonan?! Apa yang dimaksudkan Tuan, cara berhubungan intim? Ucap Mark dalam hati. Ia kembali terbayang dengan kejadian tadi malam yang membuat dirinya hampir kehilangan kendali, akibat amukan dahsyat siluman ularnya. Mark memandangi bulu kuduknya yang tiba-tiba menegang.
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
__ADS_1
.
Follow ig : @syutrikastivani