Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Buatkan aku ramuan!


__ADS_3

Suasana sore itu sungguh sangat cerah, namun tak secerah hati Mark, yang harus menjadi obat nyamuk di dalam mobil. Bagaimana tidak, sedari tadi ia merasa tidak nyaman mengemudi karena matanya secara tidak sengaja menatap spion dan melihat adegan romantis Tuan dan Nyonyanya.


"Sayang, geli ih," desis Amey menggeliang.


Arsen tidak menggubris. Ia tetap memeluk Amey dan mencium lehernya.


"Sayang, hentikan. Malu diliatin Mark!" tuturnya lagi.


"Tak apa. Dia sudah biasa. Ini tidak seberapa dengan yang selalu disaksikan Jodi itu," lirih Arsen bernapas di leher Amey.


"Maksudmu?" mengernyitakan dahi.


Menyadari ucapannya, Arsen melebarkan mata. Ia keceplosan. Tentu saja Mark hampir setiap hari menyaksikan adegan tak senonoh dari Tuannya itu. Arsen bahkan pernah menunggangi wanita di depan Mark, namun karena Mark masih memiliki akal sehat, maka Marklah yang menjauh dan mencari zona aman.


"Kenapa diam? Maksud dari ucapanmu apa?" desak Amey.


Mark terkekeh pelan. Tuh 'kan, Tuan keceplosan. Dasar casanova! umpatnya dalam hati.


"Bukan apa-apa. Aku hanya salah bicara."


"Ahhhh, Sayang!" Amey berdesis saat Arsen menaikkan Amey di atas pangkuannya.


Arsen memeluk istrinya itu yang masih mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Wanita itu merasa tidak nyaman saat Arsen mendudukkannya di atas pangkuan Arsen. Tentu saja tidak nyaman karena kepala Amey harus ditundukkan, jika tidak pastilah kepalanya terbentur di atap kendaraan.


"Arsen! Kali ini aku tidak bercanda. Turunkan aku!" rontah Amey.


"Siapa yang bilang kalau kau bercanda. Aku hanya ingin kau melekat terus denganku," bisik Arsen dengan nada yang lirih.


Amey kehabisan kata-kata. Ia tidak habis pikir dengan tingkah suaminya itu. Amey memilih diam, agar Arsen tidak banyak berulah.


Bukkkk!


"Aduhh, kepalaku!" pekik Amey sembari mengusap puncak kepalanya.


"Mark! Apa kau dendam, hah? Pelankan mobilnya! Kau membuat kepala istriku terbentur!" bentak Arsen.


"Maafkan aku Tuan. Aku harus melajukan mobil ini, karena mengejar Nensi dan Zoey. Kelihatannya mereka akan membuat onar lagi," ucap Mark.


Arsen berdiam. Ia mendudukkan Amey kembali ke sampingnya. "Sayang, mana yang sakit?"


Amey diam. Wajahnya cemberut. Tampaknya ia sedang merajuk. Arsen mengelus kepala Amey dengan lembut dan mencium keningnya. "Memey Sayang, apa kau marah padaku?" lirih Arsen.


Wanita itu malah membuang wajahnya ke samping. Arsen menghadapkan kembali wajah Amey menggunakan tangannya sehingga Amey meliriknya. "Jangan bicara padaku!" tukasnya.


"Memey Sayang, jangan marah. Aku tidak bersalah, manusia jomblo itulah yang salah." Arsen beralih menatap Mark, ia mengeratkan rahang. Tandanya ia mulai geram dengan Mark. "Mark! Tepikan mobilnya. Karena ulahmu, Memeyku marah padaku!"


Amey menelan saliva. Ia tahu jika Arsen menyuruh menepikan mobil berarti Mark dalam bahaya. Sebuah ingatan terlintas di benak Amey. Di mana ia pernah merasakan situasi yang sama seperti itu. Ia pernah menyaksikan jika wajah Mark babak belur akibat tinju mematikan dari baginda raja.


"Suamiku, aku tidak marah padamu. Biarkan Mark mengemudi. Nanti kita bisa kehilangan jejak Nenek dan Zoey," tutur Amey mencari alasan.


"Memey, kau tidak marah lagi padaku?" tanya Arsen lembut.


"Iya, Sayang. Aku tidak marah lagi, jadi berhenti berbuat yang aneh-aneh."

__ADS_1


Tuan kau sangat lucu. Ternyata begini sifat aslimu jika sedang kasmaran. Hahaha. Aku tidak bisa bayangkan jika Nyonya muda mencampakkanmu, bagaimana ya jadinya? Hahah. Aku penasaran.


"MARK!"


"Iya, Tuan?"


"Aku tau apa yang kau pikirkan!"


"Apa, Tuan?"


Arsen mengepalkan tangan.


"Sayang, sudah-sudah. Ingat! dua belas ronde menantimu," tutur Amey terpaksa agar emosi Arsen meredah.


Arsen pun diam seketika. Terpancar seringai licik di bibirnya. Kali ini ia tidak jadi emosi. Tentu saja ia sangat senang, sebenarnya sedari tadi ia sudah tidak tahan melakukannya dengan sang istri. Ingin cepat-cepat ia kembali ke mansion agar melakukan pergulatan.


Dua belas ronde? Sepertinya aku paham dengan maksud Nyonya. Oh Gosshh! Matilah kau malam ini Nyonya! Aku doakan kau agar kuat menahan gejolak adik kecil Tuan yang sangat kejam, liar dan ganas!


***


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore saat mereka tiba di mansion. Raut Soffy dan Zoey tampak kusut. Langkah mereka lambat bagai memikul beban yang teramat berat di pundak. Badan mereka pum melemas.


"Bocil, gatot deh rencana kita," ucap Soffy lirih.


"Iya nih. Padahal aku sangat berharap jika kita bisa melihat pantai, pepohonan dan bahkan menyaksikan senja!"


"Huhh! Braderrr Mark benar-benar menjengkelkan! Dia bahkan mengikuti gerak-gerik kita."


"Kau benar, Nek. Aku juga kesal sama Mark!"


"Nensi, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Arsen datar.


"Tumben. Ada apa menantu?"


Arsen memberi kode pada Zoey untuk meninggalkannya dengan Soffy. Gadis itu pun paham dan melangkahkan kakinya menjauh dari Arsen dan Soffy.


"Nensi, ehm ... a--apa ..."


"Ngana mo bicara apa soh kua? Gaje eh!" (Kau mau bicara apa sebenarnya? Nggak jelas deh!"


"Begini, Nensi. Aku butuh sesuatu darimu."


"Apa itu sesuatu?"


"Itu ... " Arsen bingung harus mengatakannya.


"Eh menantu gila, aku tidak mengerti maksudmu. Sudah ah kau membuang waktuku saja. Aku sedang badmood jadi jangan diganggu."


"Nensi! Aku akan meringankan hukumanmu! Tapi ..." tukas Arsen membuat Nensi menghentikan langkahnya.


"Tapi ...?" dengan mata yang berbinar.


"Buatkan aku itu ..."

__ADS_1


"Itu apa?! Ayolah, kenapa kau terlihat gugup."


"Apa Nensi ingat pernah memberiku 'itu' dan menaruhnya di koper milikku saat bulan madu di Paris?"


Sesaat Soffy hening. Ia memikirkan kembali maksud Arsen.


"Nensi, kau jangan dulu pikun! Aku butuh bantuanmu."


Pletakkkk!


Arsen terkejut bukan kepalang. Emosinya kembali menari-nari di ubun-ubun saat Soffy menjentikkan jarinya di jidat Arsen. "Menantu gila! Aku tidak akan mungkin pikun. Kau tidak tau siapa yang mewarisi otak ini, hah?" menunjuk belakang kepalanya. "Robet Ensten!"


Arsen mengangkat alis setengahnya. "Siapa Robet Ensten?"


"Ituloh fisikawan yang pintar! Ahhh ternyata kau bodoh! Hahahaha! Soffy terbahak.


"Albert Einstein! Bukan Robet Ensten!" tukas Arsen lantang.


"Ya itu maksudku!"


"Ya sudah, buatkan aku minuman itu lagi."


"Baiklah. Tapi dengan satu syarat."


"Katakan."


"Lupakan tentang keringanan hukumanku, tapi kau batalkan hukumanmu untuk memulangkan Bocil. Biarkan dia di sini."


Arsen termangu sejenak. Ia masih memikirkan syarat Soffy. Mungkin itu termasuk syarat yang cukup berat baginya, karena baru kali itu titahnya diganggu gugat. Tapi apa boleh buat, demi dua belas ronde nonstop.


"Deal!"


Soffy tersenyum puas. "Tiga puluh menit, ramuan selasai! Jadi menunggulah. Oh satu lagi, bentuklah cicitku menjadi manusia yang sangat cantik jelita, aku ingin keturunan bule, hahaha!"


"Tidak. Anakku harus laki-laki."


"Terserahlah. Yang penting cakepppp!" mengacungkan jempolnya.


"Tentu saja tampan. Memangnya sisi mana yang jelek dari pria sempurna seperti diri ini, hah?!"


"Ngana pe hati noh tu sube!" (Hatimu yang jelek!)


"Apa artinya?"


"Kau sangat tampan, sempurna dan baik hati." Soffy tersenyum dan berjalan meninggalkan Arsen.


"Jelas saja!" menyeringai.


***


Di dalam kamar, Amey sudah melepas gaunnya. Ia duduk di meja hias sambil menatap wajahnya. "Dua belas ronde? Astaga! Apa aku akan sanggup? Ohhhh belut! Kau sangat perkasa." Amey mulai membayangkan adik kecil Arsen yang begitu kuat dan berbisa. "Pintaku malam ini, jangan membunuhku!"


To be continued ...

__ADS_1


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘


Follow ig : @stivaniquinzel


__ADS_2