Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Hari demi hari telah terlewati. Tanpa terasa tinggal satu hari lagi menuju hari pernikahan Mark dan Jenifer. Semuanya telah dipersiapkan dengan matang oleh kedua calon pengantin itu. Tak hanya mereka berdua, Arsen dan Amey pun banyak berperan dalam mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan Mark dan Jen.


"Edgar, jangan bermain lari-larin, nanti kau jatuh," tegur Amey


"Yes, Mommy," ucap Edgar.


Di ruangan santai keluarga Winston, tampak empat anak kembar itu sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing. Sedangkan Amey terlihat sedang membaca majalah. Jam telah menunjukkan pukul empat sore, di mana Arsen seharusnya telah pulang kantor. Seperti biasanya, keempat anak itu bersama dengan sang Ibu, duduk di ruangam santai keluarga untuk menunggu kepulangan sang Ayah.


Sedari tadi Amey tampaknya sering memperhatikan tingkah Edzel, si bungsu. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah anak bungsunya yang duduk berdiam di kursi sembari menatap jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan dari luar mansion. Ia kemudian menaruh majalah di atas meja, dan menghampiri Edzel.


"Sayang, apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Amey.


Edzel menggeleng, namun tatapannya begitu dalam memperhatikan jendela kaca itu. Amey sangat tahu sifat anaknya. Ibu keempat anak itu tahu jika ada hal yang sedang membebani pikiran anaknya. Terutama Edzel, sudah beberapa hari terakhir, anak itu sering murung dan merasa kesepian.


"Cerita ke Mommy, apa yang Edzel rasakan," ucap Amey membelai lembut kepala Edzel.


"Mommy ... " menjeda ucapannya.


Amey terdiam. Seketika ia membayangkan kejadian beberapa tahun lalu yang membuat keluarga mereka tegoncang akibat penyakit yang diderita anak bungsu mereka. Jantung Amey berdetak kencang saat ia merabah dahi Edzel. Ia membuang napasnya legah saat mengetahui suhu tubuh Edzel yang normal.


"Sayang, ayo cerita ke Mommy? Apa kau sakit?" tanya Amey lagi.


Edzel mengangguk pelan dengan raut yang masam sembari memegang dadanya. "Mommy, sakitnya terasa menusuk."


Amey terkejut. "Apa dadamu sakit?" tanya Amey mulai panik.


"Yes, Mommy."


"Ya Tuhan, aku mohon, jangan lagi," lirih Amey dengan mata yang berkaca-kaca.


"Beberapa hari yang lalu, aku sempat bertemu dengan seorang gadis. Dia sangat baik, namun dia terlihat malang," ucap Edzel.


"Sekarang Mommy paham, ternyata anak Mommy ini sedang merindukan seorang teman wanita," tutur Amey tersenyum kecil. Syukurlah, Edzel tidak apa-apa. Aku sangat takut jika penyakit anakku kembali kambuh. Ya Tuhan, berikan anak-anakku kesehatan. Aku tidak tegah melihat mereka menderita. Batin Amey.


Amey sangat syok mendengar ucapan Edzel. Seolah rasa traumanya kembali, namun setelah anak itu menjelaskannya pada Amey, Ibu keempat anak itu pun paham dengan apa yang sedang dirasakan anak bungsunya.


Tak seperti biasanya Edzel bersikap seperti itu, apalagi soal teman. Karena biasanya ia yang sering mengusili gadis-gadis sebaya dengannya, sehingga tidak ada yang mau berteman dengannya. Tapi kali ini, Edzel bersikap sebaliknya. Ia begitu peduli dengan seorang gadis yang bahkan baru pertama kali bertemu dengannya.


"Kalau Mommy boleh tau, nama temanmu itu siapa?" tanya Amey.


"Zeyra. Dia anak dari satpam yang bekerja di kantor Uncle Kaisar."


"Sepertinya kau sangat peduli dengannya. Apa yang membuatmu begitu tertarik dengan gadis bernama Zeyra?"


"Dia cantik, baik, dan terlihat tulus."


"Wah wah wah, anak Mommy rupanya sudah besar ya, sudah mulai menyukai lawan jenis," ledek Amey.


Edzel seketika menjadi malu. "Mommy, stop!"

__ADS_1


"Baiklah, sayang. Apa yang kau inginkan?" tanya Amey.


"Aku ingin bertemu dengannya. Tapi ..."


"Tapi kenapa?" Amey menatap lekat wajah Edzel.


"Uncle memberitahuku kalau satpam yang bekerja di kantor Uncle, sudah tidak bekerja lagi. Aku tidak tau alasannya. Jika demikian, aku tak akan pernah lagi bertemu dengan Zeyra," jelas Edzel dengan sedih.


Amey memeluk anaknya dan membelai kepala Edzel dengan lembut. "Kau pasti akan bertemu dengannya lagi. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti," bisik Amey.


Edzel mengangguk paham.


"Daddy pulang!" teriak Arsen dari pintu mansion.


"Daddy!" teriak keempat Ed dengan antusias. Mereka berlari mendapati Arsen dan memeluk ayah mereka dengan erat.


"Daddy, akhirnya kau pulang," ketus Edhan.


"Daddy, di mana Uncle Mark?" tanya Edgar.


"Mark, sedang cuti hari ini. Karena besok hari pernikahannya dengan Garfield," tutur Arsen.


"Apa Uncle akan menikah dengan seekor kucing?" tanya Edgar dengan polos.


"Hahaha!" Amey terbahak mendengar pertanyaan anaknya. "Apa kau lupa jika anak-anakmu ini pecinta kartun?"


Arsen menjadi bingung harus menjawab apa. Ia pun memijat keningnya dan membuang napas perlahan. "Ya, kalian benar. Garfield itu adalah seekor kucing yang bisa bicara. Tapi maksud Daddy bukan begitu."


"Lantas?" kilah si sulung Edward.


"Intinya Mark akan menikah dengan anak manusia. Bukan hewan. Sampai di sini kalian paham?" tanya Arsen.


"Yes, Daddy," ucap empat Ed serentak.


"Apa Garfield yang Daddy maksud adalah Aunty Jenifer?" tanya Edgar memastikan.


"Ya! Kau benar, Edgar. Sebenarnya ada kisah menarik dibalik nama Garfield. Tapi, sebaiknya kalian jangan mencari tau. Apa kalian paham?"


"Yes, Daddy," ucap mereka serentak.


***


Krek ... krek ... krekkkk


Bunyi itu berulang kali terdengar. Semakin lama semakin cepat, dan disusul dengan suara-suara kecil di sana. Ya, suara dan bunyi itu milik seorang gadis yang sebentar lagi akan dilegalkan oleh seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah Mark.


"Kawin, kawin, besok aku akan kawin ... kawin, kawin, besok aku akan kawin! Uhuyyyyy!" ucap Jen berulang kali dengan terengah-engah.


Jenifer terlihat sangat senang dan menikmati sisa waktu lajangnya. Sebenarnya ia sangat tidak sabar untuk dipersunting Mark besok hari. Ia bahkan berjingkrak-jingkrak riah di atas ranjang untuk mengekspresikan betapa senang dirinya karena akan memiliki seorang pria yang sangat ia cintai sejak lama dengan seutuhnya.

__ADS_1


"Tuan Mark, sedikit lagi kau akan menjadi milikku, hahah!" ketus Jen lagi.


Sementara Jen bergumam sendiri layaknya ibu tiri yang merencanakan kejahatan, akhirnya ia terhenti saat ponselnya berdering. Jen turun dari atas ranjang dan meraih gawainya yang terletak di atas nakas.


(Percakapan di telepon)


"Jeniiiiii! Selamat atas pernikahanmu!" teriak seseorang dari balik telepon.


Mendengar teriakan maut itu, Jen langsung menjauhkan ponsel dari telinganya. Jelas saja karena suara bersemangat itu hampir membuat telinganya tuli.


"Nenek! Kau ada-ada saja. Aku kan belum menikah," ketus Jenifer.


"Bodoamat! Yang penting Nenek orang pertama yang memberimu ucapan selamat!"


"Terserah kau saja, Nek."


"Ohya, Nenek punya hadiah spesial untukmu dan menantu bule Nenek."


"Apa itu?" tanya Jen penasaran.


"Nanti saja. Kau akan tau besok. Ohya Nenek akan memberitahu aturan pakainya."


"Apa sih, Nek. Aku semakin tidak mengerti."


"Berikan pada menantu Semangka Buleku, setiap malam 1 botol! Apa kau mengerti?"


"Apa yang Nenek bicarakan?" menggaruk kepalanya.


"Sudahlah, kau memang lambat loading. Kau akan tau saat kau telah menerima hadiahnya."


"Hmm, baiklah Nek. Ya sudah, aku mau tidur dulu. Soalnya persiapan besok mulai dari jam enam pagi."


"Baiklah cucu *luckknutttt*ku, sampai bertemu besok."


Tut ... tut ... tut


Jenifer mematikan sambungan teleponnya dan meletakkan gawainya di atas nakas.


"Semangat untuk besok Jen! Kau jangan gugup!" ricau Jenifer yang terlihat mulai tak tenang.


To be continued ...


.


.


.


Follow ig @syutrikastivani

__ADS_1


__ADS_2