
Pagi itu kediaman keluarga Winston terlihat ramai. Apalagi ada Nenek Soffy yang narsisnya minta ampun. Kaisar dan Jayden singgah ke mansion Arsen bermaksud untuk mengajaknya berziarah ke makam Arka. Ketika semunya telah selesai sarapan, mereka menuju ke ruangan tamu.
“Akan aku kirimkan nomor rekeningku.” Tutur Arsen sembari mengatur setelannya.
“Untuk apa?” tanya Kai bingung.
“Biaya sarapan kalian.”
Jayden dan Kai saling menatap dengan terbelalak. Mereka terkekeh saat mendengar sahabat mereka menagih uang makan. “Ada-ada saja kau ini.” ucap Jayden.
“Tidak ada yang gratis di dunia ini.” tukas Arsen menatap Kai dan Jay dengan tajam.
“Yang benar saja kau ini! Tuan tajir kok pelit amat.” Pekik Kai terkekeh.
“Ngapain kalian ke mari?”
Kai dan Jai menatap Amey. Mereka tidak ingin Amey mendengar pembicaraan mereka. “Ehm, gimana kalau kita bicara di teras aja?” ajak Jay.
“Tidak! Kalian membuang waktuku saja.”
“Tidak akan lama kok. Lima menit.”
Arsen menggeleng.
“Tiga menit.”
Arsen menggeleng dengan datar.
“Satu menit.”
Masih menatap Kai dan Jay dengan tajam.
“Tiga puluh detik.”
“Minggir, kalian menghalangi jalanku.” Tukas Arsen.
“Wait .. wait. Baiklah satu detik.” Ucap Kai mendengus kesal.
Arsen mengangguk. “Katakan!”
“Ayo ke teras.” Ajak Kai kembali.
“Waktumu habis.”
“Ayolah friend.” mengacak rambutnya.
“Nanti saja. Saat ini aku sangat sibuk. Aku akan mengunjungi makam Arka.” tutur Arsen.
Oh jadi Pria Arogan ini akan mengajakku ke makam Arka. batin Amey.
__ADS_1
Kedua temannya itu terperanjat. Pasalnya mereka belum tahu kalau Amey sudah mengetahui kematian Arka.
“A—Amey mendengarnya.” Lirih Jay masih terkejut.
“Tidak apa-apa Jay, aku sudah tahu semuanya. Apa kalian mau ikut?” ajak Amey.
“Ya tentu saja. Maksud kedatangan kami adalah untuk berziarah ke makam Arka.” ucap Kai.
Jay masih memasang raut tidak percaya. “Ba—bagaimana bisa Amey mengetahui kenyataan pahit ini? Yang sabar ya Amey.” gumamnya pelan.
Mereka melihat raut Amey yang biasa-biasa saja. Mereka tidak tahu hati Amey yang telah hancur berkeping-keping. Untunglah Amey wanita yang tegar dan tidak cengeng. Ia memendam perasaannya sendirian. Ia tidak ingin orang lain melihatnya bersedih.
Amey juga masih merahasiakan kematian Arka pada Soffy. Ia juga masih tidak sanggup menceritakan yang sebenarnya pada Neneknya. Ia masih mengumpulkan keberaniannya untuk menceritakkan pada Soffy. Meski Amey tahu cepat lambat semuanya akan terbongkar.
***
Makam Arka
Arsen dan Amey tiba lebih dulu di ladang pekuburan karena mereka sebagai penuntun jalan bagi Kai dan Jay. Seperti biasanya tugas Amey membantu Arsen untuk berjalan. Mark yang melihat Arsen berjalan dengan pincang menawarkan bantuan. “Nyonya, apa kau butuh bantuanku?”
“Tidak Mark!” ucap Amey dan Arsen secara bersamaan.
Mereka terdiam kaku saat mengucapkan penolakan. “Ehem.” Arsen berdehem.
“Biar aku saja Mark.” tutur Amey mencairkan suasana. Tidak! Aku tidak ingin melihat kalian berduaan, pegang-pegangan. Bisa mual aku!
Alasan Amey menolak bantuan Mark adalah karena itu. Ia masih geli membayangkan bagaimana mereka berdua tidur bersama hanya menggunakan boxer. Walaupun Mark sudah menjelaskan yang sebenarnya terjadi, tapi pikiran Amey masih merasa risih dengan kebersamaan bos dan asisten itu.
“Kok tahu?”
“Sudah ku bilang, kalau aku memiliki kekuatan supranatural.”
“Cih!” memutar bola matanya.
Kaisar dan Jayden menyusul ketiga orang itu yang telah berjalan mendahului mereka. Arsen, Amey dan Mark tiba di tempat peristirahatan terakhir Arka. jantung Amey kembali merasakan sesak yang luar biasa. Ia merasa seperti sulit untuk bernafas.
Arsen berjongkok, dibantu oleh Amey dan meletakkan bunga Melati kesukaan Arka. Raut ketiga orang itu sangat pias. Jay dan Kai menyusul meletakkan bunga. Mereka berdua pun terlihat sangat bersedih.
“Arka? Apa kau bahagia di sana?” tanya Amey dengan lirih. “Jika kau bahagia, aku juga turut bahagia. Aku merindukanmu Arka. sebenarnya aku masih marah padamu. Kau tidak jujur mengatakan padaku jika kau memiliki riwayat penyakit. Jika aku tahu dari awal, aku pasti akan menghabiskan seluruh waktuku untukmu. Aku akan merawatmu dengan baik, aku tidak akan membuatmu repot dan menyusahkanmu.” Amey mulai menitikan air mata.
Arsen yang melihat Amey menangis pun menyodorkan sapu tangan. Ia terlihat kasihan dengan Amey yang bersedih. Ternyata wanita ini sangat mencintai Arka. Beruntung sekali kau Arka. banyak orang yang mencitaimu. Berbeda dengan diriku, jika mereka berbuat baik padaku pasti hanya untuk menjilat. Tidak ada yang tulus menyayangiku. Tapi aku sama sekali tidak iri denganmu Arka, karena aku sendiri sangat menyukaimu.
Kaisar dan Jayden turut bersedih. Mereka merasa sangat kehilangan sahabat terbaik mereka. Tanpa disadari keduanya pun meneteskan air mata.
Setelah cukup lama berjongkok, kini Arsen merasakan kram yang luar biasa di kakinya. Ia tidak ingin mengganggu Amey yang sedang bersedih. Ia berusaha untuk berdiri namun kakinya belum bisa ditekan terlalu kuat. Ia pun terjatuh.
“Astaga Arsen. Kau begitu keras kepala! Kenapa kau tidak meminta bantuanku. Aku bisa membantumu berdiri.” Bentak Amey sembari merangkulnya.
“Lepaskan aku!” menepis tangan Amey.
__ADS_1
“Tidak akan.” Kembali merangkul Arsen.
Arsen pun membiarkannya. Ia merasa tidak tega melihat Amey yang sementara bersedih dan tiba-tiba dirinya merepotkan Amey. Untunglah Amey orangnya tidak pamrih menolong orang yang kesusahan.
“Aku akan membalas jasamu. Aku bukanlah tipe orang yang berhutang kepada siapa pun.”
“Aku juga bukan tipe orang yang menginginkan balasan. Aku tulus membantumu. Meski kau sering membuatku jengkel.” Ketus Amey.
“What?” teriak Arsen murka.
“Tidak … tidak aku salah bicara.” Amey tersenyum paksa. Aku tidak ingin berdebat denganmu di depan Arka. nanti saja kita lanjutkan perdebatan ini jika sudah di rumah.
***
Amey merasa canggung berada dalam mobil, mereka diliputi dengan keheningan. Ia menatap Arsen yang memejamkan mata, dan setelahnya menatap Mark yang fokus berkendara. Ia berusaha untuk menutupi kesedihannya namun tidak ada yang bisa diajak berbicara.
“Apa kau cacingan?” ketus Arsen tiba-tiba.
“Hah?” Amey bingung.
“Kau bergerak-gerak layaknya cacing kepanasan. Kau membuatku tidak nyaman.”
Amey mendengus. “Apaan sih!” gumamnya pelan.
Amey seketika teringat akan ucapan Arsen yang meminta cerai dengannya. “Aku akan menceraikanmu setelah satu minggu kepergian Arka.”
“Aku tidak ingin membahas itu.” Kalimat yang begitu saja keluar dari mulut Arsen tanpa disadarinya.
“Bukannya kamu yang ngebet minta cerai padaku waktu itu?”
Arsen membuka matanya. Ia menatap Amey dengan sorot mata yang begitu tajam. “Aku yang akan mengurusnya. Kau tenang saja.”
Arsen tiba-tiba merasa jengkel. Entah kenapa saat mengatakan itu mood-nya berubah menjadi buruk.
“Baiklah. Aku juga tidak ingin berlama-lama denganmu, kau menakutkan.” gumamnya pelan.
Arsen mendengar itu dan membuatnya semakin jengkel. Arsen menarik tangan Amey sehingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. “Bukankah kau sangat penasaran denganku?”
Amey terkejut bukan kepalang. Jiwanya hampir lari meninggalkan raganya saat tangan Arsen yang begitu kuat menarik lengannya sehingga wajah mereka sangat dekat. “A—ada apa denganmu?” tanya Amey gelagapan.
“Bukankah kau sangat ingin bertemu dengan kembaran Arka, yang kau bilang sangat kejam, buas, mengerikan dan yang kau juluki sebagai si buruk rupa?” celutuk Arsen murka.
Deg!
Amey menelan salivanya. “B--benar!” serunya, sembari memberanikan diri menatap mata Arsen yang sangat menakutkan.
“Si buruk rupa yang ingin sekali kau lihat itu, kini berada tepat di depanmu! Apa yang akan kau lakukan padanya, hah?” tukas Arsen menyeringai.
To be continued ...
__ADS_1
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘