
Tidak terasa tiga hari pun berlalu begitu cepat. Semenjak peristiwa yang mengguncang keluarga Winston, kini Arsen semakin hati-hati terhadap orang-orang yang mencoba mendekati keluarganya. Peristiwa itu menjadi pelajaran yang berharga bagi Arsen, jika banyak orang serakah yang mengincar popularitas dengan menghalalkan segala cara.
Siang itu Arsen dan teman-teman masa kecilnya sedang mengadakan reuni di sebuah tempat favorit mereka saat masih kecil. Sebuah taman bermain yang dilengkapi dengan kantin seadanya di pinggiran taman, membuat kelima orang itu bernostalgia mengenai masa kecil mereka yang penuh dengan kebahagiaan.
"Chemy, jadi bagaimana dengan perasaanmu?" tanya Kaisar sembari menaikkan kedua alisnya, mencoba menggoda Chemy lagi.
Chemy melemparkan senyum tajam ke arah Kaisar. "Kau tidak ada habis-habisnya menggodaku, Kai."
"Habisnya sudah berabad-abad kita berteman tapi kau tidak pernah mengatakan siapa pria yang membuatmu jatuh hati," tutur Kaisar melebih-lebihkan.
"Apa dari kami berempat ada yang memikat hatimu?" goda Jayden.
Lagi-lagi Chemy menahan malu dibuat Kaisar dan Jayden. Pipinya tampak mengeluarkan rona merah.
"Kalian berdua berhenti menggoda Chemy!" ketus Pedro menengahi ucapan sahabat-sahabatnya.
"Hmm, sepertinya kalian begitu kepo dengan perasaanku. Baiklah aku akan memberitahu kalian," menatap keempat laki-laki itu.
Arsen yang awalnya tak tertarik dengan percakapan mereka, tiba-tiba memasang telinganya dan ingin mendengarkan ucapan Chemy. Rupanya pria Arogan itu juga penasaran dengan pria yang dicintai Chemy sejak mereka berumur sepuluh tahun.
"Aku menyukai ... "
Keempat pria itu tampak tegang dan menunggu mulut Chemy mengeluarkan kata selanjutnya.
"MARK!"
Deg!!
Deg!!
Deg!!
Deg!!
Keempat pria itu terbelalak dengan mulut menganga. Seketika mereka memandangi Mark yang duduk di pojok taman bermain itu secara bersamaan. Mark menyadari akan tatapan tajam penuh kejut dari empat pria itu. Ia pun menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Kenapa perasaanku menjadi tidak enak," gumam Mark menjadi salah tingkah.
Kaisar dan Jayden menatap Chemy dan Mark secara bergantian. Raut wajah kedua orang itu menandakan jika mereka masih tidak percaya dengan ucapan Chemy.
"Hahah!" gelak tawa Chemy akhirnya pecah. Ia merasa tergelitik saat melihat wajah keempat pria itu yang memandanginya keheranan.
"Chemy, kau telah mempermainkan kami," tutur Pedro.
"Sial! Bisa-bisanya aku tertipu," gerutu Arsen.
"Chemy, kau sudah pintar melucu. Selamat, karena telah membuat kami tercengang dengan pencapaianmu!" ketus Kaisar tampak kesal.
"Huh," membuang napas lega. "Aku kira kau memang menyukai Mark. Hampir saja aku meragukan tampangku. Aku 'kan lebih tampan dari Mark!" ucap Jayden penuh percaya diri.
__ADS_1
"Lagian kalian ada-ada saja. Apa tidak memiliki pembahasan lain?"
"Kaisar yang duluan memancing. Tapi kalau di lihat-lihat, Mark memang tampan loh. Makanya banyak wanita yang tergila-gila padanya," tutur Pedro sembari menatap Mark lagi.
Apa mereka bercerita buruk di belakangku? ucap Mark dalam hati saat maniknya dan Pedro saling beradu.
"Ya sudah, lebih baik kalian bahas mengenai pernikahan Jayden dan kekasihnya saja. Bukannya besok upacara pernikahanmu?" melirik Jayden.
"Iya. Kau benar. Aku sudah mengatur segalanya, jadi kalian tinggal hadir saja."
"Sial! Bisa-bisanya kau lebih dulu dari padaku," ketus Kaisar memutar bola matanya, malas.
"Makanya kau minta restu sana sama Arsen. Biar cepat menikah dengan Zoey," menjulurkan lidahnya, meledek Kaisar.
Kaisar menatap Arsen dengan raut penuh pengasihan.
"Berhenti menatapku seperti itu!" tukas Arsen, dingin.
"Ayolah, Kakak Ipar. Aku janji akan menjaga Zoey dan akan mempertaruhkan nyawaku demi Zoey," mohon Kaisar, memelas.
"Tidak. Jangan harap kau menjadi Adik Iparku. Aku sudah memiliki seseorang yang lebih tampan, maco dan tentunya lebih bergairah darimu untuk Zoey."
Deg!
Kaisar membesarkan maniknya.
"A-apa?! Kau bilang apa? Sudah menemukan jodoh untuk Zoey?"
"Apa aku tidak masuk sama sekali dalam listmu, Ars. Aku kurang apa coba? Tampan? iya. Kaya? iya. Bergairah? Ouh jangan di tanya lagi, aku jagonya!"
Bukkk!
Meninju wajah Kaisar. "Dasar sinting. Kau lihat apa dari tubuh Zoey, hah?! Apa kau punya maksud jahat padanya? Karena aku sudah mengenalmu lebih dari siapa pun, makanya aku tidak akan menikahkanmu dengan adikku. Pria bejad seperti kau tidak pantas untuk Zoey!"
Hati Kaisar serasa dicabik-cabik menjadi beberapa bagian. Telak Arsen membuat pria blasteran itu termangu sembari menelan salivanya dengan kasar.
"Hahah! Mampus kau, siapa suruh berteman dengan Arsen," ledek Jayden.
"Diam kau k*parat!" menabok kepala Jayden. "Aku akan berusaha sekuat tenaga sampai Arsen merestui hubunganku dengan Zoey!" mengepalkan tangannya.
"Semangat Kai, aku mendukungmu," tutur Chemy mengusap pundak Kaisar.
"Aku juga. Selamat berjuang," timpal Pedro.
***
Hari yang di nanti Jayden dan Milley pun tiba. Hari ini merupakan hari pernikahan keduanya. Siang itu, Jayden tampak gugup. Ia mengenakan setelan berwarna putih dengan kembang merah menempel rapi di dada sebelah kirinya. Ia tak berhenti berbicara di depan cermin layaknya orang gila.
"Jayden?" panggil seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu kandungnya.
__ADS_1
"Mama, tolong aku! Aku serasa ingin meninggoy!" celutuknya sembari berlari mendekat ke arah Rima.
Rima terkekeh. "Sayang, kau lucu sekali. Mama dan Papa sangat senang saat mengetahui jika kau akan menikah. Sudah lama sekali kami menginginkan cucu darimu."
"Aduh Mama, jangan dulu pikirkan cucu. Lebih baik Mama bantu aku menenangkan diri karena seluruh tubuhku mendadak mati rasa!"
Rima kembali terkekeh melihat tingkah kocak anaknya. "Kau seperti Papamu dulu," tersenyum menatap wajah Jayden yang tampak pucat.
"Ahh, Mama sama sekali tidak membantu!"
Tok tok tok
"Masuk," ucap Rima dari dalam ruangan.
"Permisi Nyonya dan Tuan. Sudah saatnya menuju altar," ucap seorang wedding organizer.
Degg!!
Jayden meremas lengan Rima dengan erat. "Mama, mati aku! Kakiku tiba-tiba gemetar hebat," rengeknya.
"Ishh, manja sekali. Santai saja Jay. Ini pasti akan berlalu. Ayo semangat!" Rima merapikan dasi dan setelan jas yang dikenakan Jayden dan menuntun pria itu keluar ruangan.
Jayden menarik napasnya panjang dan menghembuskannya secara perlahan. "Oke, baik! Aku pasti bisa," gumamnya.
Perlahan Jayden dan Rima mulai berjalan keluar ruangan menuju altar. Ayah Jayden, Zakky telah menunggu di dalam gereja. Jayden membuka pintu ruangan dan mulai memasuki altar. Pandangan mata khalayak menyoroti pria itu.
Arsen, Kaisar bersama sahabat-sahabatnya yang lain telah berdiri saat Jayden berjalan menuju tempat Pendeta bertumpu. Tak sengaja maniknya menatap seorang wanita paruh baya yang sedang menitikkan air mata. Margareth memandangi Jayden dengan senyum kebahagiaan. Jayden melemparkan senyumnya kepada Margareth.
Aku akan membahagiakan Milley. Batin Jayden.
Sesampainya di altar, seorang wanita cantik, dengan tinggi semampai menggunakan gaun berwarna putih yang menempel indah, mengkuti lekuk tubuhnya, mulai berjalan menyusul Jayden sampai ke altar.
Jayden melebarkan maniknya. Ia begitu terpukau dengan penampilan Milley. Tanpa di sadar, sudut matanya mulai mengeluarkan cairan bening. Dan ya! Jayden akhirnya mengeluarkan air mata kebahagiaan. Ia terlihat begitu tulus menatap Milley yang berjalan dengan anggun diiringi dengan musik yang begitu syahdu.
Tak hanya Jayden yang meneteskan air mata, ayah dan ibunya pun menangis karena terharu melihat anak mereka yang saat ini telah memiliki pendamping hidup, menggantikan Rima dan Zakky.
Milley tersenyum begitu manis. Meski wajah moleknya ditutupi cadar pengantin, namun tak bisa menutupi tangis haru di wajahnya. Ia teringat akan penderitaan yang ia alami dan kini ia telah terbebas dan dipersunting oleh lelaki yang benar-benar tulus mencintainya. Meski ada sedikit rasa sesak dihatinya karena tidak didampingi Berlin dan Megan, namun ia tetap memperlihatkan jika dirinya adalah wanita tegar.
Mama, aku sudah memaafkanmu dan Megan. Aku berharap kita bisa berkumpul lagi seperti dulu meski sudah tidak bersama Papa lagi.
Berlin dan Megan tidak dapat menghadiri acara pernikahan Milley. Pasalnya kedua wanita itu telah diseret oleh pihak yang berwajib karena dituduh bersekongkol dengan Gazza Dominic yang merupakan adik kandung Berlin. Mengenai kakek Milley, beliau telau meninggal beberapa tahun yang lalu. Kini Milley tidak memiliki siapa-siapa di sisinya, dan itu membuat dadanya terasa sesak. Untunglah ada Jayden dan Margareth yang menguatkan dirinya.
"Kau begitu cantik Milley," puji Jayden.
"Kau juga sangat tampan, Jayden," mengusap air matanya.
To be continued ...
Jangan Lupa Like, vote dan komen 🥰🥰
__ADS_1
Sekedar informasi, novel ini akan segera tamat yaa gaesss. Tapi don't worry, Author akan meluncurkan karya baru yang berjudul Stuck with an Old Man dan akan terbit tanggal 15 bulan Maret ... Jangan lupa di favoritkan yaaaa 🥰😘😘