
Wajah yang tampan, kening yang tegas, postur tubuh idaman para wanita, memiliki otak yang cerdas, bergelimang harta dan dihormati banyak orang, dialah Arsen Winston. Di mata banyak orang, Arsen adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Namun di mata Amey, Arsen hanyalah pria biasa yang memiliki tempramen buruk.
Meski begitu, Amey tetap mencintai suaminya dengan tulus dan menerima semua kekurangan pria dingin itu. Kebucinan Arsen telah menutupi sifatnya yang angkuh dan keras kepala. Malahan, ia selalu menuruti keinginan istrinya walaupun permintaan itu terkadang ada yang aneh-aneh.
Namun dibalik permintaan yang aneh-aneh itu, Amey selalu memperhitungkannya. Contoh kecil saja, Amey juga sering menuruti kemauan Arsen, yaitu melakukan hubungan suami istri sesuai dengan ronde yang ditentukan Arsen, walau seringkali diluar batas pemikiran manusia.
Semenjak Amey mengandung, ronde demi ronde perlahan mulai menurun. Pergulatan yang dulunya berlangsung selama dua belas jam, kini hanya berlangsung selama tiga jam, karena mengingat kondisi Amey yang tidak boleh kelelahan.
"Apa kau yakin dengan rencanamu itu?"
"Hmm." Arsen mengangguk sembari menyisir rambutnya.
"Baiklah. Aku harap hal yang kita takuti, tidak akan terjadi."
"Aku harap juga begitu." Arsen berjalan mendekat ke arah Amey. "Sayang, aku ke kantor dulu," mencium kening Amey.
"Iya Sayang. Hati-hati di jalan."
Arsen berjalan mundur ke belakang seolah tidak ingin melepaskan tatapan matanya pada Amey.
"Sayang, nanti kamu jatuh."
"Aku sudah jatuh," menatap Amey lekat. "Kau telah membuatku jatuh hati padamu," mengedipkan mata sebelahnya.
Amey menggeliang. "Aku merinding mendengar ucapanmu."
"Hahah, baiklah Sayang. Aku pergi."
Amey tersenyum melihat tingkah suaminya. Melihat bayang Arsen yang mulai lenyap di balik pintu, Amey meraih ponselnya dari atas nakas dan menelpon seseorang.
(Percakapan di telepon)
"Halo Eggie."
"Selamat pagi, Nyonya Muda."
"Eggie, datanglah di mansion sekarang. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan."
"Baik, Nyonya."
Amey memutuskan sambungan teleponnya. Ia kemudian turun dari atas tempat tidur dengan tubuh yang tanpa sehelai pakaian karena pergulatan tadi malam. Amey pun menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
***
Seorang wanita cantik turun dari mobilnya. Ia di sambut oleh Elis di depan mansion. "Sekretaris Eggie?"
"Ya. Saya ingin bertemu Nyonya Muda."
"Mari ikut saya."
Elis menuntun Eggie menuju ke dalam mansion. Setibanya di dalam, ia telah disambut oleh Amey yang tengah duduk di sofa ruang tamu sambil menikmati teh.
"Duduklah, Eggie," tutur Amey.
Eggie menundukkan kepalanya dan segera duduk di samping Amey.
"Apa Arsen sudah memberitahumu?"
"Sudah, Nyonya."
"Lalu?"
"Saya akan melakukan sesuai rencana."
"Apa kau tidak keberatan?"
"Tidak, Nyonya. Ini sudah menjadi tugas saya."
Amey mengangguk paham sembari menyedu tehnya. Ia teringat akan sesuatu namun tak enak hati untuk menanyakannya.
__ADS_1
"Nyonya, ada yang ingin saya sampaikan."
"Apa itu?"
Eggie meraih cangkir dari atas meja dan menyedu tehnya. Ia kemudian meletakkan kembali cangkir itu di atas meja.
"Maafkan saya, Nyonya."
"Kenapa kau meminta maaf. Apa kau membuat kesalahan?"
"Ya. Saya membuat kesalahan yang fatal."
Amey mengernyitkan kening. Ia menerka dalam hatinya maksud ucapan seorang wanita yang duduk di depannya.
"Apa kau mulai menyukai Rion?" tutur Amey tiba-tiba.
Deg!
Eggie melebarkan matanya. Ia tidak percaya jika Amey secara blak-blakan mengucapkan kalimat itu.
"Apa sikap saya terlalu mencolok?" tanya Eggie.
"Tidak. Aku hanya menebaknya."
"Sekali lagi maafkan saya Nyonya."
"Jangan minta maaf padaku. Kau tidak bersalah. Tapi ... ada sesuatu yang menjanggal di pikiranku."
"Jika Nyonya tidak keberatan, Nyonya bisa memberitahukan pada saya."
"Hmm ... Apa kau sudah tidak memiliki perasaan pada Mark?"
Lagi-lagi Eggie terkejut dengan ucapan Amey. Ia tidak habis pikir jika Nyonya Mudanya, dengan segampang itu melontarkan pertanyaan yang sakral padanya.
"Uhuk ... uhuk!"
"Minum lagi tehnya," ucap Amey menyodorkan teh.
"Kau belum jawab pertanyaanku, Eggie."
"Saya sudah tidak memiliki perasaan apa-apa pada Tuan Mark."
"Apa karena kau telah mencintai Rion?"
"Saya juga tidak tahu Nyonya. Awalnya saya pikir jika saya masih memiliki perasaan pada Tuan Mark dan berharap bisa kembali bersamanya. Namun ternyata saya salah. Seiring berjalannya waktu, Mr. Collin telah membuat saya nyaman, dan ia pun berhasil menggantikan posisi Tuan Mark."
Amey menarik napasnya panjang. Bibirnya terasa sulit untuk berucap.
"Maafkan saya telah lancang."
"Tidak apa-apa Eggie. Jika kau butuh teman curhat, silahkan datang padaku. Aku akan selalu setia mendengarkan curahan hatimu."
"Trima kasih, Nyonya. Tapi saya tidak bisa. Nyonya adalah atasan saya, dan saya hanyalah bawahan Nyonya."
"Memangnya kenapa? Tidak salah 'kan jika seorang karyawan dan atasannya menjadi sahabat? Santailah Eggie, aku bukanlah tipe orang yang cuek terhadap bawahannya. Aku adalah tipe orang yang mudah bersahabat. Jadi jangan sungkan bercerita denganku," menepuk pundak Eggie.
Eggie hanya bisa tersenyum kecil. Ia tidak mungkin membantah atasannya. Walau berat bersikap nonformal pada Bosnya, namun ia harus melakukannya, karena bagi Eggie itu merupakan perintah.
***
Tok .. tok .. tok
"Ahhh berisik!!" teriak seorang wanita dari dalam kamar.
"Dalam hitungan ke tiga kau tak bangun, segera kemas barang-barangmu dan keluar dari rumahku!"
Mendengar suara yang tak asing itu membuat wanita yang sedang tertidur pulas, terbelalak hebat dan segera berlari menuju pintu. Tak lupa juga ia menyeka liurnya yang telah memenuhi wajahnya.
"Satu ..."
__ADS_1
"Dua ..."
"Iyaaaaa Nek, aku datang!"
Wanita yang tak lain adalah Jenifer, langsung membuka pintu kamarnya.
"Sudah jam berapa sekarang?!" tanya Doris menaikan nada.
"Nek, aku hari ini libur! Aku tidak bekerja hari ini," menggaruk kepalanya sembari menguap.
"Berapa umurmu, Hah? Apa kau sudah pikun?! Kau sendiri yang menawarkan diri untuk menemaniku berbelanja di pasar!"
Jen menepuk jidatnya. "Ya ampun aku lupa, Nek."
"Cepat bersihkan dirimu. Kau terlihat buriqqqqq!! Nenek tunggu di bawah."
"Baik, Nek."
Jen mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Secepat kilat ia membersihkan badannya karena Ia tahu jika Doris bukan tipe orang yang sabar menunggu.
Beberapa saat kemudian, Jen menyusul Doris yang sudah ada di depan motor metiknya.
"Ayo Nek, kita berangkat."
Kedua orang itu pun menuju market terdekat. Seperti biasanya, Jen selalu menemani Doris untuk berbelanja keperluan mereka selama satu bulan. Setelah sampai di market langganan mereka, Jen memarkirkan motornya di tempat parkir.
Jen terkejut saat Doris dengan sangat cepat berlari menuju ke dalam market. "Nek! Tunggu aku."
"Ayo Jen, jangan lambat!"
Jen pun mengikuti langkah Neneknya yang begitu cepat. Seketika ia melihat sebuah poster yang sangat besar di muka maket.
"Diskon besar-besaran ... " lirih Jen, membaca tulisan yang ada di poster itu. "Pantasan saja Nenek berlari layaknya Helder yang kelaparan!"
"Heh cucu luckknuttttt! Aku mendengarnya!"
"Ehh maafkan aku, Nek," ucap Jen tersenyum kecut.
Meski sudah umuran, tapi telinga Doris masih berfungsi dengan baik. Apalagi saat Jen menyamakannya dengan anjing peliharaan mereka yang bernama Helder.
"Semangka?!" gumam Doris sembari menjulurkan lidahnya. Ia segera menuju rak itu untuk mengambil buah semangka yang terlihat menggiurkan. Kebetulan buah itu hanya tinggal satu-satunya yang tersisa.
Tak sabar ingin meraih buah favoritnya itu, Doris berlari dengan cepat. Namun sangat di sayangngkan, sebuah tangan kekar dan besar telah lebih dulu mengambilnya dari atas rak itu.
"Kembalikan semangkaku!" teriak Doris emosi.
Pria yang telah mengambil semangka itu terlebih dahulu, hanya menatap Doris dengan setengah kening yang terangkat. Sesaat kemudian ia mengacuhkan Doris dan berjalan menuju kasir.
"Heyyy bule nggak ada akhlak, berhenti kau!" teriak Doris sangat kuat sehingga semua orang memandanginya.
Pria itu menghentikan langkahnya. Wajahnya tampak datar. Ia belum membalikkan badannya karena masih menahan emosi.
"Nenek, ada apa teriak-teriak? Semua orang memandangimu!" bisik Jen yang terlihat malu.
"Bantu Nenek merebut semangka itu dari bule tak berakali itu!" menunjuk pria yang ada di depannya dengan telunjuknya.
Jen menatap belakang punggung pria itu. "Hey, Tuan! Apa kau tidak memiliki sopan santun terhadap orang yang lebih tua? Kembalikan semangka itu pada Nenekku!" teriak Jen.
Pria itu tak kuasa lagi menahan amarahnya yang hampir meledak. Ia membalikkan badannya. Sial! Siapa lagi perusuh ini?! Batin pria itu.
Jenifer terkejut bukan kepalang saat melihat wajah pria yang berdiri di depannya. "Tu--tuan, Mark!" gumamnya kaget. "Astagaaaaa! Matilah aku!"
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
__ADS_1
follow ig : @stivaniquinzel