
Sorot mata tajam memandangi kedua orang yang telah memasuki mobil. Ya siapa lagi kalau bukan Berlin dan Megan. Sedari tadi mereka menahan amarah dan kini saatnya untuk meluapkan dendam mereka.
Setelah mobil melaju meninggalkan mansion, Margareth pun langsung masuk ke dalam mansion. Rasa lega dan tenang menyelimuti hatinya yang sudah lama tercekik melihat Milley diperlakukan secara tidak adil.
Berlin dan Megan menyusul Margareth dengan senyum licik yang terlukis di wajah mereka. Berlin memberi kode pada Megan untuk segera melancarkan rencana jahat mereka terhadap Margareth.
"Kau kira kau bisa lolos begitu saja, hah?" Megan menarik rambut Margareth yang tergerai dari belakang.
Langkah kepala pelayan itu terhenti. Kepalanya pun ikut terdorong ke belakang mengikuti rambutnya yang di tarik Megan.
Plakkkk!
Tangan Berlin kini mendarat di pipi Margareth. "Wanita tua sialan! Kau pikir kau siapa, hah? Hanya pelayan biasa yang berasal dari rakyat jelata kini sudah mulai besar kepala?!" ketusnya.
"Kau sebagai j*lang pantas mati saja! Tidak pantas hidup di dunia! Seenaknya saja kau merebut kebahagiaanku dan membantu si Milley menikah dengan Mr. Smith!!" tambah Megan dengan emosi yang membara.
Meski sudah di cerca dan di sakiti oleh kedua wanita itu, namun Margareth masih bersikap tenang. Ia tampak melekukan bibirnya dan membentuk senyuman tipis si sana.
"Mama! Wanita j*lang ini tersenyum!"
"Sialannn! Berani sekali kau menertawakanku?!"
Saat tangan Berlin hendak mendarat kembali di pipi Margareth, dengan cepat kilat Margareth menepisnya, sehingga tangan Berlin terbuang ke samping. Kedua wanita itu sontak terkejut bukan kepalang.
"Jika Anda menyentuh saya lagi, maka Anda akan menyesal seumur hidup!!" tukas Margareth, tajam.
Deg!!!
Berlin dan Megan termanga. Mulut mereka bahkan tidak bisa mengatup karena terkejut dibuat Margareth.
"Ingat, Nyonya Besar dan Nona Megan. Saya memang hanyalah pelayan di rumah ini. Tapi saya memiliki hak untuk melaporkan kalian berdua karena telah melanggar hak dan kebebasan seseorang. Sudah bertahun-tahun kalian berdua menyakiti batin dan fisik Nona Milley, sudah seharusnya saya bertindak demi kebebasan Nona Milley. Dan asal kalian tahu saja, saya bertahan di tempat ini bukan karena ingin melayani kalian wanita-wanita kejam dan licik! Saya bertahan di sini karena sumpah saya kepada mendiang Tuan Besar untuk menjaga Nona Milley sampai Nona Milley menemukan kebahagiaannya! Dan saya rasa misi saya sudah hampir selesai!"
Deg!!
Detak jantung kedua wanita itu berdebar tak karuan. Seketika mereka menjadi takut dengan ancaman Margareth.
"Sialan!! Kau pikir kami takut dengan ancamanmu?! Kau hanya pembantu miskin dan kami adalah keluarga Kaylee! Keluarga kaya raya, terpandang dan terhormat di negeri ini! Kau pikir bisa melawan kami hanya dengan melaporkan begitu saja! Hahaha! Dasar bego!" ketus Berlin dengan tangan yang gemetar.
"Saya tidak bodoh seperti yang kalian katakan! Saya punya bukti yang kuat untuk memenjarakan kalian berdua jika saya mau. Tapi, saya tidak ingin membuat Nona Milley kecewa karena melihat kalian berdua tinggal balik jeruji besi!"
Lagi-lagi ucapan tajam Margareth membuat kedua wanita itu terkejut luar biasa. Mereka terdiam saat mendengar jika Margareth memiliki bukti untuk menjatuhkan mereka.
__ADS_1
B*jingannnn! Bukti apa yang dia miliki, hah?! Bisa-bisanya si sampah ini berani melawanku! Batin Berlin.
"Mama, gawat Ma! Si j*lang ini punya bukti!" bisik Megan mulai panik.
"Sialan!" umpat Berlin.
"Lagian saya heran dengan Anda, Nyonya. Anda adalah ibu kandung dari Nona Milley! Tapi kenapa Anda bersikap seolah-olah Nona Milley adalah musuh Anda! Tidak sepatutnya ibu kandung memperlakukan anak dengan kejam!"
"Dengarkan saya baik-baik, pembantu miskin! Bukan urusan kamu untuk ikut campur dengan urusan keluarga kami! Tugasmu hanyalah melayani majikanmu! Jadi tutup mulutmu yang berbisa itu!" mengeratkan rahangnya.
"Benar sekali. Tapi saya adalah manusia yang memiliki empati! Bukan binatang yang tidak memiliki perasaan!"
"Apa?! Kau menyebutku binatang?!"
"Anda sendiri yang mengatakannya!"
Degg!
"Dasar pembantu sinting!!" Megan mengayunkan tangannya untuk menampar Margareth namun pelayan itu langsung menangkis serangan Megan dan mencengkeram pergelangan tangan Megan dengan erat sehingga meninggalkan tanda merah melingkari pergelangan tangannya.
"Ahhhh!" pekik Megan.
"Sudah saya bilang, jangan berani menyentuh saya dengan tangan kotor kalian!!" telak Margareth membuat kedua wanita itu bungkam. "Jangan kalian pikir saya lemah karena saya pelayan jadi kalian memperlakukan saya dengan seenaknya!"
"Kau tahu kenapa aku sangat membenci Milley walaupun dia anak kandungku sendiri?! Hahah! Alasan yang sebenarnya adalah karena dia merupakan pewaris tunggal kekayaan John Kaylee! Dia bukan hanya sekedar perebut kehidupan suamiku tapi dia juga adalah perebut kekuasaan yang seharusnya adalah milikku! Dan sekarang p*lacur kecil itu telah merebut kebahagiaan Megan! Merebut Tuan Jayden Smith!!"
Margareth terkejut. Jadi Tuan Besar menyerahkan semua warisannya kepada Nona Milley?! Tapi bagaimana pun juga, Nona Milley tidak bersalah. Merekalah yang terlalu serakah dan gila harta!
"Kenapa kau terdiam?! Hahah! Dengarkan aku baik-baik," melebarkan matanya. "Aku tidak akan pernah menyerahkan semua kekayaan ini pada Milley! Tidak akan pernah! Dan aku akan membalaskan dendamku pada gadis pembawa sial itu! Camkan itu baik-baik!!!"
Berlin menarik tangan Megan dan meninggalkan Margareth yang masih mematung di sana.
***
Seorang pria bertubuh tegap, berdada bidang dengan raut wajah yang garang sedang duduk sembari menatap ke arah dinding.
"Tuan, ada telepon penting."
Pria kekar itu meraih gawai dari seorang pria lain dan menjawab telepon.
(Percakapan di telepon)
__ADS_1
"Ada apa kau mencariku?" tutur pria kekar itu dengan suara berat yang terdengar mengerikan.
"Aku butuh bantuanmu!"
"Hahah!" terkekeh.
"Ada sesuatu yang harus kau bereskan untukku!" ketus seseorang dari balik telepon.
"Kakakku sayang, napasmu terengah-engah. Kau sepertinya sangat panik, hahah!"
"Sialan! Saat ini aku begitu emosi dan sangat ingin membunuh seseorang."
"Hmm, bukan seperti kau yang biasanya. Apa orang itu sangat menjengkelkan bagimu?"
"Lebih dari itu! Soal bayaran kau tenang saja."
"No no no no no!! Aku tidak butuh bayaran, Kakak! Kau tahu bisnisku semakin lancar dan sebentar lagi aku akan berada di puncak kejayaan. Hahah! Tapi ada sesuatu yang cukup kuat yang menghalangi jalanku!"
"Kesampingkan dulu sesuatu yang menghalangi jalanmu! Ada sesuatu hal yang lebih penting yang harus kau bereskan untukku!"
"Santai, kakak! Apa sih yang tidak buatmu, hahah!"
"Jangan terlalu santai dan tenang! Pokoknya kau harus membantuku melenyapkan seseorang."
"Uhhh kau membuatku repot saja. Padahal aku sedang menikmati permainan teka-teki dengan seseorang.
"Aku bilang tahan dulu. Kau harus membereskannya tanpa jejak yang tersisa!"
"Tenang saja Kakak. Kau tahu 'kan jika aku adalah pria perfeksionis yang mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna, hahah!"
"Mari kita bertemu. Aku akan mengirimkan alamat padamu."
"Eitss, tunggu dulu. Aku tidak suka berkelana sembarangan. Nanti saja aku utus bawahan terbaikku untuk bertemu denganmu."
"Terserah kau saja. Kalau begitu sampai nanti."
Mematikan sambungan telepon.
Pria kekar itu meraih korek api dan menyalakan pipa rokok kayu berukiran klasik yang mewah itu. "Apa yang membuatmu terganggu, Nyonya Berlin?" gumamnya.
To be continued ...
__ADS_1
Vote, like dan komen 🥰