Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Usul Jayden ~ Bayi Kembar Sepuluh


__ADS_3

Seorang wanita sedang berbaring sembari menatap langit-langit kamarnya. Ia meletakkan kedua tangannya di atas perut sambil mengelusnya.


"Aku masih tidak percaya jika aku sudah melakukannya," gumam Jen.


Pipi Jen memerah. Ia tampak malu mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Wajah Mark yang tampan dan juga seksi terngiang jelas di benaknya. Sekali-kali ia menutup wajahnya dengan bantal dan terbahak.


Tak lama setelah itu doorbell berbunyi. Jen dengan sigap bangkit dari rebahannya dan menuju pintu. Raut wajah Jen semringah karena disangkanya, Mark telah pulang dari kantor.


"Wait! Aku datang suamiku!" teriak Jen dari dalam kamar.


Walaupun langkah kaki Jen layaknya orang pincang karena baru di unboxing namun tidak memadamkan semangatnya untuk berlari menuju pintu.


Saat Jen membuka pintu, tiba-tiba suara yang cempreng menyambar wajahnya bagai petir.


"Jenikuuuuu!!" teriak seorang wanita tua yang tak lain adalah Doris.


"Nenek?" lirihnya tersenyum. "Aku kira Mark, eh ternyata Nenek."


"Hey bocah, kau tak sopan sekali ya!" celetuk Doris.


"Ada apa Nek?"


"Bisa-bisanya kau tak mengajak Nenek masuk ke dalam!"


"Hahah!" Jenifer terbahak. "Maaf Nek. Silahkan masuk."


Doris melempar tasnya ke arah sofa dan segera mengelilingi apartemen Mark. Matanya menjeling ke sana kemari melihat berbagai perabotan rumah yang mewah dan tertata rapih di masing-masing tempat.


"Gilexxx! Rapih bener woy! Apakah dia manusia beneran? Ataukah dia robot?!" gumam Doris.


"Nenek, jangan asal sentuh nanti Mark marah. Kau tahu 'kan Nek, kalau si Tuan Mark itu manusia perfeksionis. Jadi dia tau kalau benda-benda yang telah dia atur telah bergeser tempat," jelas Jenifer.


"Ahhh alay banget!" memanyunkan bibirnya.


Jen menuju dapur. "Nenek mau minum apa?" tanya Jen.


"Amer!!" ucap Doris dengan lantang.


Jen terbelalak. "What?! A--amer?" ulangi Jen.


"Iyaa! jangan bilang di apartemen sebagus ini tidak memiliki ruang penyimpanan anggur?"


"Nenek, ada-ada saja kau."


"Pokoknya Nenek mau anggur merah! Kalau bisa anggur terbaik termehong sejagad raya! Kau tau 'kan kalau nenek mau pamer di sosmed. Biar si Soffy mata tinggi. Hahaha! Emang dia doang yang punya menantu bule, kaya, tampan nan menggoda!"


Jenifer hanya bisa menepuk jidatnya. "Nasib, nasib punya Nenek jiwa anak muda!"


Saat Jen menuju lift untuk ke ruang bawah tempat penyimpanan anggur, Doris memperhatikan langkah Jen yang tampak aneh. Ia menyipitkan matanya dan mengikuti langkah demi langkah cucunya. Tiba-tiba seringai licik muncul di wajahnya. "Hahah! Ternyata kau sudah skidipapap dengan bule semangka!" gerutu Doris.


***


"Apa aku sudah bisa kembali?" tanya Mark.


Arsen masih tak bersuara dan sibuk membaca dokumen di atas meja kerjanya.


Perasaan Mark sudah tak tenang. Ia kembali memikirkan istrinya yang ia tinggalkan di rumah. Ia membayangkan pagi yang cerah dengan Jenifer saat mereka membuka pabrik untuk pertama kalinya.


"Ars, apa kau pernah mendengar keluarga Kaylee?" tanya Jayden.


"Ada urusan apa kau dengan mereka?" tanya Arsen dengan datar.


"Hmm, aku hanya penasaran saja dengan mereka. Apa Tuan Kaylee memiliki anak kembar?" tanya Jay mengerutkan kening.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba kau bertanya?"


"Tidak. Aku hanya penasaran saja. Waktu acara resepsi Mark dan Jen aku bertemu dengan salah satu putri Mr. Kaylee. Dan aku mengira gadis itu yang pernah aku temui di suatu tempat. Tapi ternyata aku salah terka."


"John Kaylee meninggal 2 tahun yang lalu. Dia adalah rekan kerjaku saat di New York. Dia memiliki anak kembar perempuan. Setelah John meninggal, istri dan anak-anaknya meninggalkan Kanada dan pindah ke Indonesia."


"Mr. Kaylee meninggal? Kenapa dia meninggal?" tanya Jay penasaran.


"Aku tidak terlalu tau. Tapi sempat beredar rumor jika John meninggal karena mendonorkan ginjalnya pada salah satu anak kembarnya. Bisnis mereka hampir bangkrut, tapi aku membantunya karena permintaan terakhirnya. John ingin anak-anak dan istrinya tetap hidup berkecukupan walau dia telah tiada."


"Kasihan sekali Milley," lirih Jayden dengan murung.


"Apa kau menyukai salah satu anaknya?"


"Ti--tidak. Bukan begitu. Aku hanya penasaran saja."


"Rumor beredar lagi kalau salah satu anak John tidak diperbolehkan keluar rumah karena memiliki penyakit yang berbahaya. Dia dikurung selama di Indonesia."


"What!" teriak Jay tak terkontrol. "Pantas saja sikap wanita itu berbeda saat memperlakukan kedua anaknya!"


"ucapanmu seolah kau telah mengetahui kehidupan keluarga Kaylee!"


Deg!


Jay terdiam sesaat. Ia tidak mungkin membocorkan rahasinya saat menelusuri keluarga Kaylee. Apalagi kalau Arsen sampai tahu jika anaknya sempat menjadi tameng saat mereka menjalankan misi konyol.


Gawat! Jangan sampai Arsen tau, jika Edhan sempat aku ajak jadi gembel! Batin Jayden. "Lalu kenapa kau tidak memberitahuku jika kau kenal dengan keluarga Kaylee?!" ucap Jay tiba-tiba.


"Dasar sinting! Kau sendiri yang baru bertanya padaku!" celutuk Arsen geram.


"I--iya juga sih. Ya sudah kalau begitu apa kau mau membantuku?"


"Tidak!"


"Tadi kau bilang kau tidak menyukai salah satu anak Kaylee!"


"Tidak jadi. Aku tarik ucapanku. Aku sudah jatuh cinta pada gadis yang bernama Milley. Jadi, apakah kau mau membantuku?" mohon Jayden dengan memasang raut manis.


Plakk!


Arsen melempar dokumen-dokumen ke wajah Jayden. "Berhenti memperlihatkan wajah lebay seperti itu padaku! Aku tak tertarik!"


"Ars, kau pelit sekali!"


"Mark, kau boleh pulang," tutur Arsen.


"Trima kasih, Tuan."


"Tapi sebelumnya kau jemput anak-anakku. Aku titipkan mereka ke tempatmu. Aku ada urusan mendadak!"


Deg!


Sepertinya aku tidak akan bisa membuat adonan bersama istriku. Batin Mark.


"Apa kau keberatan?" tanya Arsen, sinis.


"Tidak Tuan."


"Kau juga Jay. Kau jemput anakku pulang. Aku titipkan Edhan padamu."


Wajah Jay kembali bersinar. "Baiklah Ars, dengan senang hati. Tapi kau harus membantuku!"


"Lupakan!" tukas Arsen sambil mengangkat tubuhnya dari tempat duduk.

__ADS_1


"Ba--baiklah Ars. Aku tak akan meminta bantuanmu. Tapi biarkan aku yang menjemput Edhan."


Arsen tersenyum licik. "Sisanya kau yang urus, Mark!"


Mark menelan salivanya dengan kasar. Ia menunduk kepala saat Arsen berjalan mendahuluinya.


***


Segerombolan mobil mewah telah berjejer rapi di depan gerbang sekolah. Wanita-wanita elit sebagian telah turun dari dalam mobil. Ada juga beberapa pengasuh telah berdiri di depan gerbang raksasa itu untuk menjemput putra-putri dari Tuan dan Nyonya mereka.


Jayden dan Mark pun telah turun dari dalam mobil sembari menunggu keempat anak kembar Tuan Winston. Lagi-lagi kedua pria itu menjadi pusat perhatian.


"Kenapa wajahmu garang sekali Mark?" tanya Jayden.


"Tidak apa-apa, Tuan."


Jayden membuka kacamata hitamnya dan menggantungkan benda itu di sela kancing kemejanya. "Ohya, Mark, bagaimana malam pertamamu? Apakah menyenangkan?" goda Jayden.


"Ehem!" Mark berdehem. Wajahnya langsung berganti warna layaknya tomat.


"Biasa-biasa saja, Tuan."


"Mark, kau harus mengalahkan Arsen. Aku mendukungmu. Kalau perlu kau bisa mencetak bayi kembar sepuluh! Hahah! Biarkan Arsen menelan ludah karena pukulanmu lebih b*ringas dari padanya. Hahah!"


Mark terbelalak. Ia membuka satu kancing dekat leher dan mengebas kemejanya karena kepanasan mendengar ucapan Jayden. "Itu mereka!" kilah Mark mengganti topik perbincangan.


"Uncle!" teriak keempat anak kembar itu.


Keempat anak itu berlari mendapatkan Mark dan Jayden.


"Hari ini kalian ikut bersamaku," ucap Jayden.


"Di mana Daddy?" tanya Edward.


"Arsen memiliki pekerjaan mendadak," ucap Jayden.


"Horeee. Aku bisa melanjutkan misi denganmu!" celutuk Edhan.


Jayden terbahak. "Mark, biar aku saja yang menjemput mereka. Kau pulang saja."


"Tidak bisa, Tuan. Tuan Muda pasti akan memarahiku."


"Tenang saja, Mark. Bilang saja aku yang akan mengasuh mereka berempat. Kau pulanglah, dan cetak bayi kembar sebanyak-banyaknya. Hahaha!"


Ide yang bagus Tuan Jayden. Haha! Batin Mark.


***


Setelah memarkirkan kendaraannya, Mark langsung bergegas menuju apartemennya. Wajahnya tampak ceriah seperti anak kecil yang mendapatkan permen coklat.


"Jeniku! Tunggu suamimu," gumam Mark.


Setibanya di depan pintu apartemen, Mark menarik napasnya panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Ia merapikan dasinya dan mencium aroma tubuhnya. "Ahh masih wangi," ucapnya lirih.


Mark memasukkan sandi dan masuk ke dalam apartemen. Tiba-tiba wajahnya yang ceriah berubah. Ia mendapati tempat itu yang sudah terbongkar layaknya kapal pecah. Tempat itu tampak seperti habis kemalingan. "Istriku!" gerutunya, Panik.


To be continued ...


.


.


.

__ADS_1


follow ig : @syutrikastivani


__ADS_2