
Seorang wanita berlari tunggang langgang saat keluar dari lift. Dengan napas memburu serta denyutan jantung yang tak dapat dikontrol wanita itu akhirnya terkilir dan terjatuh.
"Sialan! Kenapa ini bisa patah!" memaki heelsnya.
Wanita itu tak lain adalah Jenifer. Sikap sok kerennya tadi hampir membunuhnya. Apalagi udara di tempat itu seolah mencekik lehernya. Tak dapat disangka jika ia bertemu dengan Mark setelah kejadian pahit empat tahun lalu.
Ternyata sikap cerobohnya masih melekat dalam dirinya. Tentu saja! Bukan Jen namanya jika ia tidak ceroboh dan bersikap tolol. Namun ia telah berikhtiar jika di depan pria mana pun ia harus bersikap anggun dan tenang.
"Jika ada yang melihatku seperti ini, hancurlah reputasiku! Selama empat tahun aku membangun wibawaku, akan hancur sesaat hanya karena kecerobohonku ini!" Jen mengangkat tubuhnya yang terjatuh.
Ia kembali bersikap normal dan tenang. Tak lupa juga ia melirik sekitarnya. "Huhh aman! Tidak ada yang melihat," tersenyum semringah.
Tiba-tiba matanya tak sengaja menatap cctv yang berada di sudut basemant itu. Wajahnya tampak syok bukan kepalang. Matanya melebar diikuti dengan mulutnya. Ekspresinya terlihat seperti baru kepergok melakukan sesuatu.
"Owhhhhh tidak!" Jen menyembunyikan wajahnya dibalik dokumen yang telah ia bawah tadi. Perlahan-lahan ia berjalan menuju ke dalam mobilnya. "Selamat!" menyapu dadanya. "Cihhh! Sial sekali aku hari ini. Bertemu dengan si Tuan br*ngsek dan kemudian terjatuh seperti anak kecil! Aku harus menghapus rekaman cctv itu sebelum ada yang melihatnya. Tapi bagaimana caranya! Masa iya aku harus masuk diam-diam ke area terlarang? Gimana nanti kalau aku kepergok?! Hadehhh nasib-nasib!"
Jen menyalakan mesin kendaraannya dan menuju ke Alganda Group. Dalam perjalanan ia masih membayangkan kejadian empat tahun lalu saat Mark menolaknya dengan kasar. Pikirannya kemudian teralih mengingat pertemuannya dengan Mark di kantor.
"Sampai sekarang pun aku masih tidak mengerti mengapa Tuan bersikap seperti itu padaku. Tapi aku tidak boleh lagi terperangkap dalam jebakan yang sama. Ingat baik-baik, Jenifer yang dulu bukanlah Jenifer yang sekarang. Aku tidak boleh membenci Tuan Mark, aku juga tidak boleh mencintainya lagi! Pokoknya aku harus berdamai dengan masa lalu!"
***
"Edward, di mana Edzel?" tanya Amey.
"I don't know." (Aku tidak tau).
"Dinar Candy, di mana Edzel?"
"Tadi Tuan Muda bungsu di sini," ucap Dinar panik.
Keringat dingin kini memenuhi tubuh dua pengasuh itu. Pasalnya, baru pertama kali mereka berdua lalai dalam tanggung jawab mereka. Biasanya keempat kembar itu selalu bermain bersama dengan Dinar Candy. Tapi kali ini mereka kehilangan sosok Edzel.
"Astaga!" desah Amey.
"Kami akan mencari Tuan Muda Bungsu di kamar, Nyonya."
"Ya, bergegaslah!"
Dinar Candy mencari Edzel di kamarnya. Namun tak juga ketemu. Amey tak ingin mengejutkan seisi mansion karena Edzel tiba-tiba menghilang. Karena jika para pelayan tahu akan hal itu, mereka akan sangat khawatir.
"Elis, apa kau melihat Edzel?" tanya Amey.
"Tidak, Nyonya. Bukankah Tuan Muda Bungsu bersama dengan Dinar dan Candy?"
Amey menggeleng kepala. Melihat ekspresi Amey yang khawatir membuat nyawa Elis seketika melompat dari raganya.
Plakkkkk!
Brakkkkk!
Buggg!!
Amey dan Elis saling menatap.
"Kekacauan apa itu?!" tutur Amey panik.
__ADS_1
"Sepertinya dari arah dapur, Nyonya."
Amey dan Elis bergegas menuju dapur. Ia semakin panik saat mendengar suara riuh itu. Pikirannya langsung terfokus pada Edzel, si bungsu yang super aktif.
"Tuan Muda Edzel, itu bukan permainan," ucap Sinta dengan lembut.
"Diam kau cewek jelek! Ini sangat seru! Huhuyyyy!" Edzel sangat menikmati permainan barunya.
Sonya dan Sinta menjadi bingung bagaimana menghentikan Edzel. Pasalnya sudah hampir dua puluh butir telur yang dilemparkan Edzel di lantai. Di tambah lagi ia telah memecahkan piring-piring yang tersusun rapi di rak itu.
"Ya ampun apa yang harus aku lakukan?!" gumam Sinta.
"Tuan Muda Edzel, taruh kembali ya. Jangan dipecahkan semuanya," tukas Sonya dengan pelan karena tak ingin menyinggung perasaan Edzel.
"One ... two ... " menunjuk ke arah Sinta dan Sonya. "Ada dua cewek jelek di sini. Hahah! Siapa nama kalian?" tanya Edzel.
"Aku Sinta."
"Aku Sonya."
"Sinta dan Sonya. Hmmm, namanya jelek, seperti wajahnya. Hahah!" ledek Edzel.
Sinta dan Sonya terkejut saat Edzel mulai turun dari atas rak. Jantung mereka seolah berhenti dengan tiba-tiba.
"Tu--tuan Muda Kecil, nanti kau akan jatuh!" teriak Sinta.
Edzel melompat dari atas rak itu. Untunglah rak itu tidak terlalu tinggi dan hanya berukuran satu meter saja. Edzel berjalan mendekat ke arah Sinta dan Sonya. Tiba-tiba ...
"Ahhhh!" Sonya kembali berteriak.
"Edzel!" teriak Amey dengan lantang.
Edzel terkejut saat mendengar Amey meneriakinya. "Hahhh!! Mo--mommy!" lirihnya.
"Siapa yang mengajarimu seperti itu, hah?"
Edzel menggeleng kepala.
"Mommy akan menghukummu jika kau mengulanginya! Mengerti?!"
"Yes, Mommy." Wajah Edzel tampak muram saat Amey menggertaknya. Baru kali itu ia melihat wajah Amey yang garang.
"Ayo minta maaf pada Sonya dan Sinta!" perintah Amey.
"Tidak mau!" Edzel berjalan ke arah Amey dengan wajah yang tertunduk. Tiba-tiba ia mendongakkan kepala ke atas, menatap Sonya dan Sinta. "Bleeeee!" menjulurkan lidahnya sambil terkikik.
Amey hanya bisa menggeleng kepalanya. "Maafkan Edzel," tutur Amey pada kedua pelayan itu.
"Tidak apa-apa Nyonya. Kami yang salah tidak bisa memberhentikan tindakan Tuan Muda Edzel."
"Jangan sungkan-sungkan untuk menegur jika mereka salah. Aku akan memarahi kalian jika kalian hanya berdiam diri seperti tadi. Aku ingin anak-anakku tumbuh menjadi anak yang baik."
"Baik Nyonya."
Amey berjalan meninggalkan dapur dengan segala kekacauan yang ada.
__ADS_1
"Aku bahkan tidak berani menggertak Tuan Muda Kecil, apalagi menegur!" gerutu Sonya.
"Memangnya siapa yang berani melakukan itu pada keempat putra Tuan Arsen Winston?! Yang ada malah kita yang rip," sambung Sinta.
"Mereka membuatku merinding."
"Cukup bergosipnya! Bereskan itu semua. Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi!"
"Baik Elis."
***
Mendengar suara mobil, membuat keempat kembar itu berlari menuju pintu. Mereka tahu jika Daddy mereka telah pulang. Dengan penuh kegirangan, mereka menyambut kedatangan Arsen.
"Daddy!" teriak mereka serentak.
Arsen tersenyum dan mengecup dahi keempat anak itu satu persatu. "Apa kalian menunggu Daddy?"
Mereka mengangguk dengan cepat.
"Uncle Mark!" Edgar memeluk Mark dengan erat. "Uncle, bagaimana harimu, apa menyenangkan?" tanya si kecil Edgar seolah mengerti dengan urusan orang dewasa.
Mark menelan salivanya. Sedangkan Arsen terkekeh pelan, meledek Mark. "Ayo jawab, Mark. Bukankah ini pertanyaan yang berbobot?"
"Tentu saja, Tuan Muda Kecil," tersenyum paksa.
Mark kembali mengingat pertemuannya dengan Jenifer. Entahlah! Aku tak tau kalau itu menyenangkan atau menyakitkan!
Tbc ...
Note :
Halo readers kece!
Mungkin dari kalian masih banyak yang bingung dengan keempat Winston Junior. Baiklah Author akan menjelaskan sedikit karakter mereka satu persatu agar readers bisa paham :)
Anak Pertama : Edward Winston (Ia memiliki karakter yang mirip sekali dengan Arsen. Licik, cuek, dingin dan realistis. Edward gemar membaca. Maka dari itu pemikirannya terlihat lebih dewasa dari ketiga saudara kembarnya. Orang dewasa pun akan mengalah jika berhadapan dengan kecuekannya).
Anak Kedua : Edhan Winston (Memiliki karakter yang mirip dengan Arka. Ia ramah dan sering mengala dalam pertengkaran dengan siapa pun. Meski begitu ia juga sering bersikap cuek pada orang asing. Ia sangat menyanyangi Soffy. Namun jangan terkecoh dengan keramahannya. Ia juga licik Haha. Namanya juga anak dari si Tuan Arogan! Jadi jangan heran hehe).
Anak Ketiga : Edgar Winston (Memiliki karakter yang labil. Ia bisa bersikap dengin seperti Edward, ia juga bisa bersikap ramah seperti Edhan. Ia cenderung mengikuti sifat Mark. Banyak sekali perilaku Mark yang ditiru Edgar. Bisa dibilang si Edgar duplikatnya si Asisten Mark! Wkwkwk).
Anak Keempat : Edzel Winston (Nah kalau si bungsu ini banyak ulahnya. Dia yang paling jail di antara ketiga saudara kembarnya. Ada-ada saja tingkahnya yang membuat orang lain tak bisa berkata-kata. Edzel sangat aktif dan nakal pada usianya. Ia sering usil dan berbuat seenaknya. Si kecil yang cabul, mungkin itu julukan yang tepat untuknya. Haha. Ya jangan heran, sudah Author katakan kalau mereka anak sang Arsen Winston. Jadi sifatnya tak jauh-jauh dari Arsen. Hihih).
Semoga Readersss kece tidak kebingungan dengan keempat biang kerok kecil ini. Ohya, karena mereka anaknya si Tuan Arogan, jadi jangan heran kalau mereka juga bersikap Arogan :)
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
Follow ig : @syutrikastivani
__ADS_1