
Sesekali pandangan mata Mark menatap spion depan. Tampak seorang anak kecil yang tengah duduk di kursi belakang sedang asyik memainkan tablet milik Mark. Ia tak menyangka jika kencan perdana dirinya dan Jenifer akan berkesan aneh karena membawa seorang anak kecil.
Baru saja aku terlepas dari ikatan Tuan Muda, eh tak taunya ada titisannya yang tak kalah lengket dengan bapaknya! Batin Mark menatap Edgar dari spion.
"Uncle, aku bosan!" melepaskan benda segi empat di sampingnya.
"Apa kau lapar?" tanya Mark.
"Ya! Aku lapar," memegang perutnya.
"Baiklah, kita akan makan siang dulu."
"Uncle, bolehkah aku makan pasta?"
"Boleh."
"Setelahnya, bolehkah aku makan ice cream?"
"Tak boleh banyak-banyak."
"Setelahnya, bolehkah aku main ayunan di taman?"
Mark terdiam sejenak. Ia kembali memikirkan kencannya bersama Jen. "Kau harus pulang ke mansion dan tidur siang."
"Tidak mau!" celutuk Edgar menyilangkan kedua tangannya di atas dada.
Mark hanya bisa menarik napasnya panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia sama sekali tak tahu bagaimana caranya mengasuh anak. Yang ada di pikirannya hanya menghabiskan waktu dengan Jenifer.
Alasan mengapa Mark tidak ikut dengan Arsen dan Amey melakukan perjalanan bisnis keluar kota, dikarenakan Arsen memberinya ijin untuk jalan bersama Jen. Namun, siapa yang dapat menyangka jika titisan Arsen akan membuntutinya sepanjang hari.
"Ternyata benar, Tuan selalu mengawasiku! Tapi bukan anakmu juga, Tuan. Lebih baik aku diawasi cctv, daripada aku harus diawasi anak kecil berumur enam tahun ini!" gumam Mark.
"Uncle? Apa yang kau katakan?" tanya Edgar.
"Tidak ada."
"Uncle pikir aku tuli?! Jelas-jelas bibir Uncle bergerak-gerak ke sana kemari!" menatap mulut Mark dari spion.
Sialan! Ternyata dia memperhatikanku! Arghhh! Tuan Muda, anakmu begitu mirip denganmu! Sifat dingin dan arogan ternyata melekat dalam dirinya.
"Aku tau! Kau pasti memakiku dalam hati!"
Deg!
Apakan ku bilang?! Bahkan kekuatan supranatural Tuan Muda, diwarisi anak ini!
"Berhentilah mengataiku dalam hati, Uncle jomblo!"
Mark terperanjat "What?! Jo--jomblo?"
"Iya. Daddy 'kan selalu memanggil Uncle dengan sebutan Jodi Sinting. Karena aku penasaran, aku tanya pada Daddy kenapa Daddy memanggil Uncle seperti itu. Kata Daddy, Jodi itu Jomblo abadi!"
Deg!
Mark melotot. Ia mengatur napasnya. Tarik napas, hembuskan! batinnya. "Tuan Muda Kecil, kau sangat mirip dengan Daddymu, tapi ... "
"No! Kata Daddy sifatku mirip dengan, Uncle!" memotong ucapan Mark.
"Ya katakanlah seperti itu. Tapi, Uncle sudah punya pacar. Uncle tidak jomblo lagi. Jadi jangan memanggil Uncle seperti itu ya?! Apalagi di depan calon istri Uncle!" tutur Mark penuh penekanan. Karena itu sangat memalukan! sambungnya dalam hati.
"Benarkah? Apa kalian sudah berciuman?"
Lagi-lagi Mark syok. Ia tak menyangka jika anak sekecil itu sudah paham dengan hal-hal yang dilakukan orang dewasa. "Dari mana Tuan Muda Kecil bisa tau, kalau berpacaran itu harus berciuman?"
Edgar menepuk jidatnya. Anak kecil itu memutar bola matanya dengan malas. "Sebenarnya Uncle hidup di jaman apa sih?"
Mark terdiam.
"Bayi yang baru lahir pun sudah tau! Aku kasih tau ya, Uncle, aku itu punya banyak pacar. Dan aku selalu mencium mereka!"
Deg!
Mark tiba-tiba memberhentikan mobilnya. "What?! Pu--punya banyak pacar? Dan ... berciuman?!"
"Di kelasku banyak sekali wanita cantik. Mereka sangat menyukaiku. Lalu aku ajak pacaran deh. Terus aku selalu mencium pipi mereka, tapi mereka selalu mendorongku. Terus mereka menangis tidak jelas. Aku sangat benci wanita cengeng! Terus aku dorong deh sampai jatuh, ehh menangis lagi dia-nya!"
"Cerita macam apa ini?!" ketus Mark, terkejut bukan kepalang. "Baru dua hari di sekolah sudah memiliki banyak pacar?"
"Hmm," mengangguk. "Hebat 'kan aku?!" tersenyum lebar menatap Mark.
Anak ini sangat mirip denganku pas masih kecil! Aku juga sangat tidak suka wanita cengeng dan selalu mendorong mereka kalau mereka mengatakan cinta tiba-tiba! Tapi ... kalau masalah punya banyak pacar dan berciuman sepertinya bukan diriku! Itu lebih ke gen-nnya Tuan Arsen!
"Pasti belum, ya? Hahah! Kasihan!" ledek Edgar.
"Tuan Muda Kecil, sepertinya kau sangat lapar, ayo turun. Kita sudah sampai di restoran." Mark mengalihkan pembicaraan.
Edgar menatap sekelilingnya. Ia tersenyum semringah karena akhirnya ia bisa bebas keluar mansion. "Uncle? Apa pacarmu juga di sini?"
"I--iya," ucap Mark dengan kaku. Kira-kira, apa yang akan dikatakan Sekretaris Jen jika melihat aku membawa tuyul saat kencan?
"Ayo masuk paman! Aku sudah sangat lapar!" Edgar menarik tangan Mark dan berjalan memasuki restoran itu.
Dari kejauhan Mark telah melihat sosok Jen yang sedang duduk, menunggu kedatangannya. Dengan kaku, Mark berjalan ke arah Jen. Ia menatap Edgar yang sedang memegang tanganya. Wajah anak itu terlalu polos, sehingga ia tak tega untuk tidak mengajaknya makan bersama dirinya dan Jen.
"Ehem!" Mark berdehem.
Jen menyadari akan kedatangan Mark. "Silahkan, duduk Tuan," ucap Jen tersenyum.
Mark mengangguk. Namun badannya belum bergeming dari posisinya.
Melihat tingkah Mark yang aneh, Jen pun menjadi heran. "Ada apa Tuan?"
"Aku ... "
"Halo Aunty!" sapa Edgar tiba-tiba yang muncul dari balik tubuh tinggi Mark.
Jen terkejut hebat. "Ha--halo?" ucapnya kaku.
Maafkan aku Sekretaris Jen. Kali ini kencan kita akan sedikit terganggu dengan kehadiran anak kecil ini.
"Uncle, apa wanita cantik ini pacarmu?" tanya Edgar.
Mark menjadi malu. Ia bingung harus berkata apa di depan Jen.
Ayo Tuan jawab! Apa kau tidak mengakuiku? Batin Jen.
"Iya benar. Wanita cantik ini calon istri Uncle."
Jen tersipu. Rona merah bertebaran di pipi Jen. "Duduklah."
"Aunty, kau cantik sekali," puji Edgar.
"Trima kasih, Tuan Muda Kecil."
__ADS_1
"Tapi aku merasa kasihan denganmu!" celutuk Edgar.
"Kenapa?" tanya Jen penasaran.
"Iya aku kasihan saja. Aunty terlihat masih muda dan bersinar. Sedangkan Uncle ... " menatap fisik Mark dengan seksama.
Mark membalas tatapan Edgar dengan manik membesar. Apa maksudmu Tuan Muda Kecil?! Jangan mempermalukanku di depan Sekretaris Jen.
Melihat tatapan garang dari Mark, membuat Edgar tidak meneruskan ucapannya. Ia takut jangan sampai Mark tidak menuruti keinginannya. Edgar tersenyum menatap Jen dan Mark. "Kalian sangat cocok, hehe!"
Mark mengernyitkan dahi, tak biasanya Edgar bersifat seperti itu. Mark sangat mengenal bagaimana sifat anak ketiga itu. Kalau Edgar bersifat manis, berarti sesuatu yang buruk akan terjadi.
Aku harus waspada! Aku yakin kau pasti akan berulah, wahai Tuan Muda Kecil yang tak kalah licik seperti Daddymu! Batin Mark.
"Kalau Aunty boleh tau, siapa namamu? Aunty tak bisa membedakan wajah kembarmu dan saudara-saudaramu," ucap Jen tersenyum.
"Aku, Edgar!" menepuk dadanya.
"Anak ketiga, ya?" tanya Jen lagi.
Edgar mengangguk.
"Tuan Muda Edgar, mau makan apa?"
"Pastaaaaaa!" teriak anak berumur enam tahun itu.
"Baiklah." Pandangan mata Jen beralih menatap Mark. "Tuan Mark, kau mau makan apa?"
"Terserah kau saja. Aku ikut kamu."
Jen mengangguk. Ia memanggil seorang pelayan wanita dan memberikan menu dan secarik kertas yang berisi daftar pesanan mereka.
Suasana terlihat canggung. Setiap kali pandangan mata Jen dan Mark bertemu secara tidak sengaja, dengan cepat-cepat mereka mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Uncle?" panggil Edgar.
"Ada apa Tuan Muda Kecil?"
"Aku mau pipis."
Mark pun segera mengantar Edgar ke toilet. Goshhhh! Situasi macam apa ini? Kenapa begitu caggung? Untung saja Tuan Muda Kecil mengalihkan suasana pasif ini!
"Uncle, kenapa dari tadi kau berdiam saja? Bukankah kalian pacaran?"
"Tidak ada yang perlu kami bicarakan," ucap Mark seraya melucurkan resleting Edgar.
Edgar mengerucutkan bibir. "Itu gaya pacaran zaman apa, Uncle?"
"Zaman negara api menyerang."
"Hah?" Edgar tampak bingung. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal dan kemudian menyudahi air terjun mini yang keluar dari belut kecilnya.
"Apa sudah selesai?" tanya Mark.
"Sudah."
Mark menaikan resleting Edgar dan merapikan seragam sekolahnya. "Ayo kita kembali."
Mereka pun kembali. Setelah hampir lima belas menit menunggu, makanan yang di pesan pun tiba. Edgar terlihat senang dan melahap semua pasta itu. Sedangkan Jen dan Mark hanya menatap sikap Edgar sambil tersenyum.
Berkat Edgar, suasana kembali normal. Perlahan Mark mulai membiasakan diri untuk tersenyum di depan Jen. Begitu pula dengan wanita itu, ia mulai memahami situasi dan mengajak Mark bercerita.
"Tuan, kau ternyata sangat cocok menjadi seorang ayah," tutur Jen terkekeh pelan.
"Ya. Umurku pun sudah lebih dari cukup untuk menjadi Ayah. Kau mau berapa memangnya?"
Deg!
Saat ini, giliran Mark yang hampir tersedak dibuat Jen. Ia langsung menatap siluman ularnya yang terlihat tenang namun menghanyutkan. Siluman ular itu menyimpan banyak misteri yang belum terkuak. Tentu saja karena Mark belum memiliki pengalaman sama sekali.
"Sepertinya kita harus bekerja keras," ucap Mark.
Jen terkekeh pelan. Mark yang melihat Jen tertawa, ikut senang dan bahagia.
"Uncle, aku masih lapar, tapi ... "
"Kalau begitu pesan lagi," kilah Jen.
Edgar menggeleng kepalanya. "Aku mau ... "
"Mau apa?" tanya Mark.
"Eek!"
Seketika Mark melepas alat makannya. Ia langsung menggendong Edgar dan membawanya kembali ke toilet. Sesampainya mereka di toilet, Mark membuka celana Edgar dan membiarkan anak itu membuang hajatnya.
"Uncle, jangan ke mana-mana!"
"Tidak. Uncle hanya di sini."
"Uncle?"
"Ada apa?"
"Aku tidak bisa eek kalau tidak di nyanyikan!"
"Uncle tidak tau menyanyi."
"Pokoknya Uncle harus menyanyi. Biasanya kalau aku eek seperti ini, Mommy selalu menyanyikan lagu apa pun agar eek-ku keluar!"
Ohhh goshhhh! Cobaan apalagi ini?
"Baiklah ... baiklah." Mark mengatur napasnya dan mulai bernyanyi dengan ekspresi datar dan kaku sehingga terlihat menyeramkan.
Ding dong ku datang padamu bukalah pintu
Tak mungkin sembunyi dariku
Ding dong ku datang padamu bukalah pintu
Kau tak bisa lari dariku
Dari balik jendela
Ku tatap erat wajahmu
Kau diam membeku
Ku datang mendekatimu
"Ahhhhhhhhhhhhh!" teriak Edgar dengan kencang.
Mark pun menghentikan nyanyiannya. "Ada apa Tuan Muda Kecil?"
__ADS_1
"Hik ... hik ... hik!" Edgar mulai menangis.
"Apa yang salah? Kenapa kau menangis?"
"Uncle?! Hik ... hik ... hik! Kau sangat mengerikan menyanyikan lagu itu! Itu lagu hantu, Uncle!" Edgar kembali menangis.
Mark mulai menyanyi dalam hati, memastikan liriknya. Ia pun tersadar jika memang lagu itu adalah lagu menyeramkan. Pantas saja! Tapi ... Apa benar, tuyul bisa takut sama hantu?!
"Uncle, cebok!" menghapus air matanya. Wajah Edgar terlihat lucu saat ia menangis.
"Ce--cebok?! Bagaimana caranya?" tanya Mark pada dirinya sendiri.
Edgar mulai bernyanyi untuk menghilangkan rasa takutnya saat mendengar nyanyian Mark.
Kring ... kring ada sepeda,
sepedaku roda tiga
ku dapat dari ayah,
karena rajin belajar
Mark menahan napasnya dan mulai mencebok pakai air dan kemudian membersihkannya dengan tisu. Untuk pertama kalinya Mark memegang eek orang lain, selain punyanya sendiri. Mark yang super bersih akhirnya menyentuh suatu hal yang sangat menjijikkan baginya. Ya! bisa dibilang, hal-hal yang berbau busuk dan jorok adalah musuh bebuyutan Mark.
***
Siang itu, Kaisar mendapat telepon dari sekretarisnya. Kaisar ternyata harus mengadakan rapat dadakan dengan para pemegang saham di perusahaannya. Mau tidak mau ia harus kembali ke kantor dan membawa Edward dan Edzel bersamanya.
Sesampainya di kantor, semua karyawan terkejut saat melihat bos besar mereka membawa dua orang anak kembar. Tangan kanan Kaisar memegang tangan Edward sedangkan tangan kirinya memegang tangan Edzel.
Kaisar menjadi perbincangan hangat di perusahaannya sendiri. Banyak yang mengira kalau kedua anak kembar yang di bawanya ke kantor adalah hasil dari skandalnya. Kaisar tak mempedulikan orang-orang yang berbicara di belakangnya. Pasalnya ia harus mengejar waktu untuk menghadiri rapat penting itu.
Banyak juga karyawan wanita yang semakin jatuh cinta dengannya. Bagaimana tidak, Kaisar tetlihat seperti Hot Daddy dengan penampilannya yang seperti itu. Badannya yang kekar dan atletis serta wajah blasterannya itu membuat dirinya menjadi idola para wanita di perusahaannya.
"Permisi, Pak. Semuanya sudah berada di ruangan rapat," ucap Alexa yang merupakan Sekretarisnya.
"Baiklah."
Alexa terperanjat saat melihat dua makhluk kecil serupa yang mengikuti Kaisar. Ia tak berani bertanya, karena dipikirnya itu bukanlah saat yang tepat untuk bertanya.
Tanpa di sadari Kaisar, ia membawa Edward dan Edzel di ruangan rapat. "Maaf saya terlambat!" ucapnya.
Semua petinggi perusahaan yang ada di situ memandangi kedua anak kecil itu dengan penuh tanda tanya.
"Pak Kaisar? Siapa yang kau bawa?" tanya seorang wanita yang telah beruban.
Kaisar pun melonjak. Ia baru tersadar jika Edward dan Edzel masih memegang tangannya. Goshhh! Aku hampir lupa kalau akau membawa dua makhluk gaib kecil di sini!
Kaisar menatap semua orang yang ada di tempat itu. "Ini adalah anak kembar dari Tuan Arsen Winston. Intinya, untuk sementara saya yang bertanggung jawab atas mereka karena orangtua mereka sedang melakukan perjalanan bisnis."
Khalayak pun mengangguk paham.
"Uncle! Aku dan Edzel tunggu di luar saja," ucap Edward.
"Berjanjilah pada Uncle, kalau kalian tidak akan nakal."
Edward dan Edzel mengangguk.
"Alexa, antarkan mereka di ruanganku. Kalau mereka bosan, putarkan saja film kartun. Kalau mereka lapar pesankan makanan, apapun kesukaan mereka."
"Baik Pak."
"Ohya, pastikan mereka nyaman dan jangan sampai mereka terluka sedikit pun! Jika mereka tergores sedikit pun, kariermu akan berakhir!"
Deg!
"Baik, Pak. Saya mengerti."
Alexa meninggalkan ruang itu dan membawa Edward dan Edzel pergi bersamanya, menuju ruangan Kaisar.
"Tuan Muda Kecil, untuk sementara kalian di sini dulu. Jika ada yang kalian perlukan, tekan tombol ini. Aku pasti akan segera datang," tutur Alexa menunjuk sebuah remot kecil.
"Aku lapar," celutuk Edzel.
"Apa yang kalian inginkan? Aku akan memesankan makanan untuk kalian."
"Pizza dan sushi."
"Baiklah. Aku pesan dulu. Apa hanya itu?"
"Ice cream juga!"
Alexa mengangguk sembari tersenyum kecil. Ia pun keluar dari ruangan Kaisar. Baru saja ia berjalan berapa langkah, jam tangannya mulai mengedipkan cahaya merah. Itu tandanya bos besarnya sedang memanggilnya. Namun keketika ia teringat jika Kaisar sedang rapat, dan benda segi empat kecil itu ada di tangan kedua anak kembar itu.
"Kalian memanggilku?" tanya Alexa.
"Aku hanya mencoba benda jelek ini. Ternyata berfungsi," ucap Edward.
"Baiklah. Jika ada sesuatu mendesak, tekan tombolnya."
Alexa kembali melangkahkan kakinya keluar ruangan.
"Edward, apa yang akan kita lakukan di sini? Aku sangat bosan!" ketus Edzel.
"Kita tunggu saja sampai Uncle selesai rapat."
Edzel menggeleng kepala. Tiba-tiba ide gila melintas di benaknya. "Edward, aku punya ide!"
Edward menatap Edzel dengan dahi yang mengerut.
"Ayo ikut aku!"
Edzel menarik tangan Edward dan keluar dari ruangan Kaisar. Mereka menuju lift dan sembarang menekan angka.
"Ayo kita berkeliling," ajak Edzel.
"Baiklah. Karena aku juga merasa bosan menunggu!"
Kedua anak itu pun berkeliling di kantor Kaisar tanpa diketahui Alexa. Beberapa saat kemudian, sekretaris Kaisar tiba di ruangan bosnya dan membawa makanan di tangannya.
"Tuan Muda Kecil?" panggilnya.
Menyadari kedua anak itu yang sudah tak berada di ruangan Kaisar, membuat Alexa menjadi pias dan panik. Ia kembali mengingat ucapan Kaisar. "Ke mana mereka?! Bisa tamat aku kalau mereka sampai tergores sedikit pun!"
Alexa berlari menuju ruangan cctv untuk melihat keberadaan dua anak itu. Batinnya menjadi tak tenang. Jantungnya pun berdetak tak karuan. Keringat dingin mulai menyucur di dahinya.
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
__ADS_1
.
Follow ig @syutrikastivani