Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Sesak


__ADS_3

Amey termangu, bibirnya menganga. Badannya terasa lemas saat mendengar telak Arsen.


"Arka. Bisa-bisanya kau menceraikan aku?"


"Tentu saja bisa!"


"Kita baru menikah selama satu hari, dan kini kau minta bercerai?" ucap Amey menatap Arsen dengan tatapan nanar.


Arsen tidak menggubris. Ia berjalan meninggalkan Amey begitu saja dengan kepedihannya. Tiba-tiba Arsen menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. "Jika kau ingin mengatahui alasanku menceraikanmu, kau bisa datang ke rumah orangtuaku." ucap Arsen datar.


Tidak! Kau tidak boleh menangis. Tunjukkan padanya kalau kau wanita yang kuat Amey! Kau pasti bisa melewati ini.


Amey melangkahkan kakinya yang terasa berat untuk melangkah. Ia melewati Arsen dan terus berjalan sehingga membuat alis pria itu mengerut.


"Tuan?" panggil Mark.


Arsen mengangkat tangan kanannya mengisyaratkan Mark untuk diam. Mark pun segera menutup mulutnya rapat.


Pria itu kembali berjalan dan memasuki mobilnya. Ketika hendak melewati Amey yang menatap jalanan dengan tatapan kosong, Mark memelankan mobilnya. "Tuan? Apa Nyonya Muda tidak akan pergi bersama kita?"


"Tidak! Aku muak melihat si bodoh itu! Aku tidak bisa menahan lagi emosiku saat bersamanya. Bisa-bisa badanku kena alergi karena disentuh sembarangan oleh tangan kotornya!" ketus Arsen.


Mark merasa iba melihat Amey yang berdiri layaknya gembel di pinggir jalan. "Kasihan wanita itu," gumannya pelan.


"Mark!"


"Iya Tuan?"


"SHUT UP!"


Mark seketika membungkam mulutnya saat pria dingin di belakangnya berteriak. Ia melajukan mobilnya meninggalkan bayang Amey yang masih tetap pada posisinya.


***


Kediaman keluarga Winston.


Mark membukakan pintu mobil untuk majikannya. Arsen turun dari mobil dan memandangi pemandangan indah rumah itu yang besarnya hampir setara dengan lapangan sepak bola jika dihitung dengan halamannya.


"Rumah ini masih sama seperti dulu. Sepi." gumam Arsen sembari berjalan menuju ke dalam rumah.


Suasana di dalam rumah pun sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Arsen memandangi foto keluarganya yang begitu besar terpajang rapi di dinding ruangan tamu. Ia melihat senyum lebar Arka yang merekah. Sedangkan wajahnya di foto itu terlihat kaku dan datar.


"Mama, Papa. Aku pulang." teriak Arsen.

__ADS_1


Mendengar suara Arsen, orangtuanya pun dengan antusias berlari menemuinya.


"Arsen, Sayangku." mencium pipi Arsen disusul dengan ciuman Michael.


Helen menatap belakang punggung Arsen berharap menemukan sosok Amey. "Arsen, di mana istrimu?"


Arsen tidak menggubris pertanyaan Helen.


"Ars, apa kau tidak mengajak Amey ke sini?" tanya Michael.


Arsen masih tidak memberikan jawaban. Ia memutar bola matanya dengan malas.


"Mark! Kau di sini juga? Apa yang terjadi?" tanya Michael kembali.


Mark ragu untuk mengatakannya. Ia melihat raut Arsen yang tidak suka dengan pertanyaan kedua orangtuanya. Mark menjadi dilema, ia tidak enak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Halo Mr. Winston. Apa kabar Anda?" tanya Mark mengalihkan pembicaraan.


"Fine. Thank You! But ... kau belum menjawab pertanyaanku Mark. Katakan apa yang terjadi?"


Mark terlihat bingung. Aku harus mulai dari mana untuk mengatakannya? Gosh!


"Aku meninggalkan Amey di jalanan. Aku minta cerai dengannya," tukas Arsen tiba-tiba.


"Arsen! Apa kau lupa dengan permintaan terakhir adikmu kemarin?" ucap Michael menaikan nada.


"Tentu saja aku sangat ingat. Tapi..."


"Tapi kenapa Ars? Kau sungguh kejam memperlakukan istrimu." ucap Helen.


"Dia bukan istriku Ma! Aku Arsen, not Arka!" tegas Arsen geram.


"Sayang, Mama mohon jangan bersikap seperti ini. Mama tahu betul kalau kau tidak mencintainya, tapi kasihan dengan Amey yang tidak tahu apa-apa."


"Mama kasihan dengan wanita itu, tapi dengan anak kandung Mama sendiri, Mama tidak kasihan? Ma, katakan padanya yang sebenarnya, biar dia tahu bahwa Aku bukan Arka. Dan Arka yang asli sudah men ..."


"Mama, Papa?" Suara perempuan menimpali kalimat Arsen sehingga Arsen berhenti berucap.


"A--Amey?" tukas Helen terkejut minta ampun.


Amey memandangi semua orang yang ada di ruangan itu. Ia merasa aneh dengan tatapan mertuanya yang menganga lebar memandanginya.


"Mama, Papa? Apa yang terjadi? Kenapa Amey seperti mendengar bahwa Arka mengatakan kalau dirinya bukan Arka?" tanya Amey mengerutkan kening.

__ADS_1


"Ameyku Sayang," memeluk Amey dengan erat.


Helen kembali terisak. Ia tak kuasa menahan air matanya. Kini wanita paruh baya itu menangis dipelukan Amey sehingga membuat Amey bertambah bingung. "Mama? Kenapa menangis? Dan kenapa Mama dan Papa memakai pakaian berwarna hitam? Apa kalian akan pergi ke rumah duka? Siapa yang meninggal?" tanya Amey polos.


Tangisan Helen semakin menjadi. Ia melepaskan pelukannya dan melirik Micahel suaminya. "Papa, ceritakan pada Amey, Mama tidak sanggup mengatakannya," pinta Helen.


Michael menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan. "Huftt ... Amey dengarkan Papa. Apa pun yang Papa katakan, kau harus tenang dan sabar."


Amey merasakan ada yang tidak beres ketika melihat Helen yang menangis histeris dan Michael yang berucap seperti itu. Dada amey terasa sesak. Ia mengelus dadanya dan menatap Michael yang berbicara dengan raut yang serius.


"Amey, menantu kami. Maafkan kami yang telah membohongimu, Nak. Jika bukan karena permintaan terakhir Arka, maka kau tidak akan terjebak menikah dengan Arsen."


Deg!


"Tunggu ... tunggu! Ma--maksud Papa apa? Permintaan terakhir Arka? Dan menikah dengan Arsen? Apa maksudnya ini? Amey tidak mengerti!" ucap Amey gelagapan.


"Sebenarnya yang kau nikahi ini adalah Arsen, Nak. Kembaran Arka. Makanya sifatnya begitu dingin dan kasar padamu. Ia tidak seperti Arka yang lembut."


Amey kembali melemas. Langkah kakinya mundur dengan reflek ke belakang. "Ke--kenapa bisa begitu Pa, Ma?" menatap Helen dan Michael dengan mata berkaca-kaca.


Amey merasa sakit hati yang teramat dalam ketika mengetahui bahwa yang menikah dengannya adalah Arsen bukan Arka. Ia menatap wajah Arsen yang tidak menatapnya. Raut muka Arsen begitu datar dan dingin.


"Amey? Ada lagi yang harus kau ketahui, Nak. Tapi Papa mohon, tabahkan dan kuatkan dirimu." ucap Michael mulai menitikan air matanya.


"Apa lagi Pa? Amey merasa dada Amey sangat sesak. Tolong jangan mengejutkan Amey lagi." lirihnya dengan raut pias.


Michael menatap Amey lekat, Helen mendudukan tubuhnya di sofa karena tak kuat melihat ekspresi Amey ketika mengetahui yang sebenarnya. Sedangkan Arsen memalingkan wajahnya dari Amey.


"Arka sebenarnya telah berpulang pada Sang Empunya. Arka telah meninggal dunia pada kemarin siang tepat di hari peneguhan nikah kalian." Michael terisak disusul juga dengan Helen.


Deg ... deg ... deg!


Amey menitikan air mata tanpa disadarinya. Detak jantung Amey semakin keras mengeluarkan bunyi irama.


Brukkk


"Amey!" teriak Michael.


Amey terjatuh di lantai dengan mata terbelalak serta bibir yang menganga. Mark segera membopong Amey untuk duduk di sofa.


"Katakan kalau ini hanya mimpi buruk." lirih Amey sembari memukul dadanya berulang kali dengan sangat keras.


To be continued ...

__ADS_1


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘


__ADS_2