Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Pembawaan


__ADS_3

Sudah tiga hari Arsen jauh dari Amey. Meski mereka sering berhubungan lewat panggilan video namun itu belum mengobati rasa rindu Arsen pada istrinya dan begitu pun sebaliknya.


Seperti biasanya, Mark sering menjadi tempat pelampiasan emosi Arsen. Jika ada sesuatu hal yang tidak berkenan di hati pria itu, pastilah Mark yang akan menerima murka sang bos. Jelas saja karena Amey yang merupakan pawang sedang berada jauh dengannya.


Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi di tempat Arsen, sedangkan di tempatnya Amey sudah pukul empat sore. Perbedaan waktu antara Jakarta dan Berlin memiliki selisi enam jam.


Arsen menatap jam tangannya dan segera melepas tablet yang sedari tadi digenggamnya. Ia meraih ponsel di atas nakas dan menghubungi Amey.


Lagi-lagi Arsen memasang wajah kusutnya karena nomor Amey sedang di luar jangkauan. Ia kembali emosi dan melempar ponselnya di atas ranjang.


"Sudah cukup! Untuk terakhir kalinya aku melakukan perjalanan bisnis yang membosankan ini! Lain kali aku akan mengajak Memey dan anakku agar aku tidak merasa gila seperti ini!" gerutu Arsen, kesal.


Mark yang baru saja masuk ke dalam kamar Arsen, mendapati bosnya sedang dalam keadaan mood yang buruk. Mark memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan diam-diam karena ia tahu pastilah Arsen akan melampiaskan kekesalannya pada Mark.


Plakkk!


Mark menghentikan langkahnya saat sebuah benda yang tak lain adalah buku cetak, mendarat tepat di pundaknya. Sudah ku duga! batin Mark.


"Mau ke mana kau?!" tanya Arsen jengkel.


"Tidak akan ke mana-mana Tuan."


"Hubungi Eggie dan katakan padanya untuk memberi tau Memey supaya mengaktifkan nomornya!"


"Baik Tuan."


Dengan terpaksa Mark menghubungi Eggie. Untunglah Mark adalah pria yang profesional. Ia tidak pernah membawa masalah pribadinya dengan pekerjaan. Meski berat baginya untuk mendengar suara Eggie namun karena perintah mutlak sang bos, maka ia harus menurutinya.


(Percakapan di telepon)


"Bisakah kau memberi ponselmu pada Nyonya Muda?" tutur Mark datar.


"Tentu saja, Tuan," jawab Eggie yang tak kalah tenang dengan Mark.


Setelah beberapa saat kemudian Eggie kembali bersuara. "Maaf Tuan, tapi Nyonya tidak bisa diganggu."


"Apa yang Nyonya lakukan?"


"Sedang berbincang dengan seorang tamu."


Mark membesarkan mata. "Apa tamunya pria?" tanyanya panik. Ia takut jika Arsen mengetahui bahwa Amey menerima tamu pria pastilah si Tuan Arogan itu akan pulang detik itu juga.


"Bukan Tuan."


"Lalu siapa? Tamu mana yang lebih penting dari Tuan Arsen, sampai-sampai mengabaikan panggilan telepon Tuan Muda?!" Mark mulai geram.


"Nona Jenifer, Tuan. Manajer umum Paradise Hotel."


"Aku tau wanita itu. Tidak usah memperjelas lagi!" Emosi Mark mulai menggebu saat Eggie menyebut nama Jenifer.


Sedangkan Eggie hanya diam. Tentu saja kau tau, Mark! Bukankah dia kekasihmu saat ini? batin Eggie.


"MARKK! Aku menyuruhmu menelpon Eggie untuk mengetahui kabar Memeyku! Bukan menyuruhmu untuk berpacaran!" teriak Arsen.


Mark menelan liurnya kasar. Pipi Mark memerah, ia langsung memutuskan sambungan teleponnya. "Maaf Tuan. Menurut Sekretaris Eggie, Nyonya sedang menerima tamu."

__ADS_1


"Siapa?! Apa tamunya lebih penting dari pada suaminya, hah?" ketus Arsen dengan meninggikan nada.


"Tamunya ..." Mark gengsi menyebut nama Jen.


Arsen melotot. Maniknya seakan mau keluar dari sana. Ia menjadi lebih marah karena Mark menjeda ucapannya.


"WHO!" (Siapa?)


"Temannya Nyonya, Tuan."


"Kau tidak tau namanya? Kenapa kau tidak tanya sama Eggie?!"


"Nona Jenifer, Tuan," tutur Mark terpaksa.


"Garfield? Kucing liar yang kau pelihara?" ucap Arsen menyeringai.


"Tidak, Tuan. Kau salah pah ..."


"Shut up! Ayo pulang sekarang!"


"Tuan? Tugas di sini be ..."


"Berani membantahku?! Mati kau!"


"Baik Tuan. Aku akan menghubungi Mr. George dan Mr. Dusley."


"Urus sisanya. Tiga puluh menit lagi kita berangkat!"


"Baik Tuan." Mark berlalu meninggalkan Arsen yang penuh amarah.


"Memey tunggu aku pulang! Aku tidak tau apa yang terjadi padaku saat tidak bertemu denganmu. Kau berhasil membuatku menjadi gila tanpa hadirmu!"


***


16.30


"Eh, Mey. Apa kau tidak takut jika suamimu marah karena mengabaikannya?" tanya Jen.


"Sedikit. Aku juga heran kenapa aku malas berbicara dengannya. Padahal aku sangat merindukan suamiku."


"Haha! Kau aneh juga."


"Tau ah! Aku rindu, tapi malas untuk mendengar suaranya. Apalagi bertemu."


"Wah! Jangan-jangan pembawaan bumil lagi. Hahah!" Jen terbahak.


"Ck! Memangnya ada yang kayak gitu? Mana mungkin pembawaan ibu hamil yang malas dengan suaminya! Memangnya kau sudah pengalaman?!


"Ya aurel!" menepuk jidatnya. "Gimana sih kamu, Mey. Namanya juga hamil muda, pastilah ada keanehan alam yang terjadi. Meski aku belum berpengalaman tapi aku sering baca artikel-artike kayak gitu."


"Hahahah! Kau ingin hamil? Nikah aja belom, udah baca yang kayak gitu. Makanya sana, bilang pada Mark untuk segera melamarmu," ledek Amey.


"Isshhh. Kau ini ada-ada saja. 'Kan ceritanya lagi bahas tentang kehamilanmu. Bukan malah membahas si Tuan es batu itu!" Jen menjadi kesal saat Amey membahas tentang Mark. "Yasudah aku mau balik ke hotel. Ini sudah sore, nanti anak buahku pada bingung nyariin aku."


"Hmm, baikah!" ucap Amey dengan raut murung.

__ADS_1


"Amey aku sudah tiga hari berturut-turut menemanimu di sini agar tidak bosan. Nah, sekarang aku harus kembali ke hotel. Jangan sedih ya, nanti aku bakal balik lagi besok. Dadaaa Amey Sayang," berjalan meninggalkan Amey.


"Iya aku tau. Kau hati-hati di jalan. Aku juga akan pulang."


Jen terus berjalan sampai tiba di pintu utama. Sebelum membuka pintu ia mengadah ke belakang dan melambaikan tangannya ke arah Amey seraya tersenyum lebar padanya.


***


Sudah satu hari Amey mengabaikan panggilan Arsen di ponselnya. Kemungkinan Jenifer benar atas ucapannya, jika Amey memanglah sedang berada di titik pembawaannya sebagai ibu hamil yang usia kehamilan baru beberapa minggu.


Semenjak Arsen melakukan perjalanan bisnis ke Jerman, Amey tidur dengan Soffy. Dan pada malam itu juga sama, Amey menuju kamar Neneknya dan berbaring di samping Soffy.


"Nek, sudah tidur?" tanya Amey.


Soffy membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. "Nenek belum tidur."


"Aku kirain sudah tidur. Ngapain juga Nenek sampai menutup kepala Nenek. Apa tidak kepanasan?"


"Tidak. 'Kan ada ac," ucap Soffy tersenyum.


"Nenek lagi apa?"


"Cari calon kakek untukmu."


"Katanya sudah ada," goda Amey.


"Iya memang sudah ada. Nih ya, Nenek beri tau. Sangking banyaknya, Nenek bingung harus pilih yang mana. Apalagi sejak Nenek pakai aplikasi Tantan, polowers Nenek di Instagram jadi banyak."


"Terus?"


"Terus banyak yang chattingan dengan Nenek. Yang muda sampai yang tua ada. Tapi Nenek sih sukanya yang berondong manis, Haha!"


"Hmm, terserah Nenek aja deh. Amey ngantuk pengen tidur."


"Baiklah. Nenek mau pece ama berondong manis dulu."


"Pece? Apa itu?" berkerut dahi.


"Pideo kol, Amey! Astaga, kau sangat kuno!"


"Vc, Nek. Bukan pece."


"Sudah sudah, kau tidurlah. Katanya sudah mengantuk, kok masih kepo dengan urusan anak muda?"


"Begini jadinya kalau punya Nenek yang dua kali puber. Sulit memang!" gumam Amey lirih.


"Aku mendengarnya! Kau mulai terjangkit pirus menantu gila!"


"Virus, Nek," kilah Amey.


"Kalau kau tidak hamil, pasti Nenek sudah menendangmu dari kamar ini!" canda Soffy.


Amey langsung tersenyum dan memeluk Soffy dengan erat.


"Heh tolong! So nyanda ta ba nafas kita, Ngana so kancing bagini!" (Aduh tolong, Nenek tidak bisa bernapas kalau kau mengancing tubuh Nenek seperti ini!)

__ADS_1


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


__ADS_2