
Suasana kembali mencekam di ruangan itu. Semua keluarga Winston telah berkumpul di ruangan tamu. Soffy, Zoey dan Mark telah duduk berjejer sembari menundukkan kepala.
Mereka tidak berani menatap wajah murka yang mulia raja. Meski Soffy sering melawan Arsen, tapi kali ini nyalinya menciut dikarenakan ia menyadari akan kesalahannya.
Tangan dan kaki Zoey bergetar hebat. Ia sangat tahu jika kakaknya itu sedang naik pitam dan tidak bisa dihentikan jika marah. Zoey sadar jika ia telah melakukan kesalahan yang fatal. Matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan.
Ohya, bagaimana dengan perasaan Mark? Jangan ditanya lagi! Jelas sekali pria itu telah pasrah akan takdirnya. Jika ia akan menutup usia di umurnya yang ke tiga puluh lima tahun, ia berharap di kehidupan selanjutnya tidak akan bertemu lagi dengan si Tuan Arogan itu.
"Nensi!" panggil Arsen datar.
Suara Arsen mengejutkan wanita tua itu. "Astaga dragon! Aku jadi nomor urut satu dieksekusi!" gumam Soffy panik.
"Nensi, aku menghargaimu sebagai orangtua Istriku. Aku memberikan kebebasan kepadamu melakukan apa saja yang kau inginkan di rumah ini. Tapi kau sudah keterlaluam kali ini! Kau tahu, kau hampir saja membunuh bayiku!"
"Bayi? Kapan kau punya bayi? Ka--kapan Amey mengandung? Atau jangan-jangan kau menyelingkuhi cucuku?" tukas Soffy setengah menaikan nada.
Plakkk!
Arsen menghentakkan kakinya dengan kuat, membuat Soffy melonjak.
"Maksudku, mobil yang Nensi kendarai tadi! Namanya Purple! Itu adalah koleksi kesayanganku."
Soffy membulatkan mulutnya. "Oh bagitu dang. Ya maaf, kita nda tau kalo itu Ngana pe oto kesayangan."
Arsen mengangkat alis setengahnya dan beralih menatap Amey. "Translate!" perintahnya pada Amey.
"Nenek bilang, kalau Nenek minta maaf karena tidak tau itu mobil kesayanganmu," jelas Amey.
Arsen kembali menatap Soffy dengan tajam. "Kali ini aku maafkan. Tapi lain kali tidak akan!"
Wajah Soffy langsung berseri. Ternyata menantuku lumayan baik haha!
"Jangan senang dulu. Nensi tetap akan aku beri hukuman."
"Hukuman? Hukuman Apa?" tanya Nensi.
"Nensi, tidak boleh keluar rumah selama satu bulan! Apa pun alasannya!"
Soffy melebarkan mata. Ia hanya bisa terbelalak sambil memanyunkan bibirnya. Aku tarik kata-kataku tadi!
Pandangan mata Arsen beralih menatap Zoey yang duduk di antara Soffy dan Mark. Jantung Zoey semakin berdegup kencang ketika matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Arsen yang dingin.
"Zoey!" panggil Arsen dengan nada sedikit meninggi.
Deg!
Zoey menundukkan kepala sembari mencengkeram jemarinya agar berhenti gemetar.
"Kau tahu apa kesalahanmu?"
Bibir Zoey ikut gemetar sehingga ia tidak dapat berucap. Ia sangat ketakutan mendengar ucapan amarah Arsen. Melihat wajah Zoey yang berubah warna menjadi pucat membuat Soffy merasa iba.
__ADS_1
"Menantu, kau jangan bentak Zoey. Dia tidak bersalah. Aku yang mengajaknya ke ..." menjeda ucapannya ketika melihat Arsen mengangkat tangan kirinya, mengisyaratkan Soffy untuk diam.
"Kalau Nensi bersuara lagi, aku akan menambah hukumanmu."
Dengan segera Soffy membungkam mulutnya. Melihat Soffy bagai tikus basah, membuat Amey terkekeh pelan dan meledek Neneknya itu.
"Zoey!"
"I--iya kak?" sahut Zoey dengan bibir gemetar.
"Kau akan aku hukum. Aku akan mengirimmu kembali ke Inggris untuk kuliah di sana!"
Zoey terbelalak. Ia tidak percaya jika Kakaknya itu akan memulangkannya di tempat asing lagi. Zoey mulai meneteskan air mata, ia tidak dapat membantah titah sang raja. Ia pun hanya menundukkan kepala sembari terisak pelan.
Arsen merasa iba melihat Zoey yang telah menangis. Ia sebenarnya tidak tega membuat adik perempuannya itu bersedih, namun mau bagaimana lagi, itu merupakan hukuman yang pantas untuknya agar gadis itu tidak mengulangi kesalahannya.
"Ars, kau jangan terlalu keras sama Zoey. Kasihan dia. Kelihatannya dia sedang menangis," bisik Amey iba.
"Tidak! Aku harus tegas padanya."
Kemudian pandangan Arsen beralih kepada wajah Mark. Sedari tadi Mark hanya diam dan tidak berkutik dari posisinya. Detak jantung Mark semakin kuat berdenyut, ia sangat tahu jika amarah bosnya akan dilampiaskan pada dirinya.
Arsen beranjak dari duduknya dan mengangkat tangan kanannya, menghempaskan jemari ke udara yang mengisyaratkan Soffy dan Zoey untuk segera berpindah tempat. Arsen mendekat, membuat Mark menelan saliva dengan kasar.
"Dan Kau!" menunjuk dengan telunjuk. "Berdiri!" perintah Arsen.
Mark pun segera berdiri dengan tegap. Wajahnya memang terlihat datar namun batinnya sangat tertindas. Ia merutuki dirinya sendiri karena tidak becus menjadi asisten yang dapat diandalkan.
Drt ... drt ...
Awalnya ia membiarkan Amey dan kembali menatap Mark dengan tatapan membunuh. Ia meremas kerah kemeja Mark dengan sangat kuat sehingga membuat wajah Mark memerah. Namun konsentrasi Arsen buram saat mendengar Amey menyebut nama Kaisar.
"Berandal sialan itu!" umpat Arsen sembari melepaskan kerah kemeja Mark dan segera mendatangi Amey.
Arsen merampas ponsel Amey dengan paksa. Ia melihat nama Kaisar yang terterah di layar ponsel Amey. Arsen mengeratkan rahangnya, emosinya semakin bertambah saat Kaisar menghubungi Amey larut malam.
(Percakapan di telepon)
"Sudah bosan hidup?" tanya Arsen tiba-tiba.
"Arsen, ada berita penting untukmu."
"Berita sepenting apa yang membuatmu mempertaruhkan nyawa karena menghubungi istriku?!"
"Ars, tenang. Kali ini aku tidak bercanda. Aku serius."
"Jangan banyak bacot! Katakanlah."
"Okey, jadi begini. Apa kau masih ingat dengan anak magang yang telah menyebarkan berita kematian Arka?"
"Tentu saja!" mengepalkan tangan.
__ADS_1
"Lokasinya sudah terlacak melalui ponselnya. Akan akan mengirim lokasinya padamu."
"Ya, kirimkan padaku! Aku harus mendapatkannya dan memberinya pelajaran," tegas Arsen.
"Sebaiknya kau cepat, sebelum anak magang itu mematikan lokasinya."
Arsen memutuskan sambungan teleponnya.
"Ars, apa yang Kai katakan?" tanya Amey.
"Aku telah menemukan lokasi si penyebar berita kematian Arka."
"Hah? Benarkah? Si--siapa dia?"
"Kai memberi tahu padaku jika dia laki-laki yang pernah menjadi karyawan magang di kantornya."
"Astaga! Jadi, apa kau akan ke sana sekarang?"
Arsen mengangguk.
"Hati-hati Ars, jangan sampai ini jebakan."
"Aku harus mendapatkannya bagaimana pun caranya."
"Jangan sampai kau terluka, Ars."
"Bukan aku yang akan terluka, tapi si ******** itu yang akan lenyap di tanganku!" celutuk Arsen.
Seorang wanita terlihat sedang menguping pembicaraan yang terjadi di ruangan tamu. Ucapan Arsen merupakan ancaman baginya. Wanita itu melonjak dan segera berlari ke arah dapur.
Wanita itu adalah salah satu pelayan keluarga Winston yang menjadi penyusup di rumah itu. Ia segera meraih ponselnya di saku dan menelepon seseorang.
(Percakapan di telepon)
"Dasar ceroboh! Kau mau cari mati, hah?"
"Ada apa denganmu?" tanya seorang pria dari balik telepon.
"Kau memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"
"Sebenarnya apa yang kau bicarakan, hah?" tanya pria misterius itu.
"Sebaiknya kau pergi dari tempatmu sekarang, karena Tuan Arsen akan menyusulmu ke sana."
"Apa?!" melonjak kaget. "A--apa dia sudah tahu jika aku yang telah mengekspos kematian Tuan Arka?"
"Ya, mantan bosmu yang memberitahu! Sebaiknya kau bergegas. Jika kau tidak mau menjadi kepingan kaca di situ!"
"Baik, aku akan pergi dari sini."
Tut ... tut ... tut
__ADS_1
To be continued ...
Dukungan readers akan sangat membantu Author😘