
Pagi itu aktivitas di mansion berjalan seperti biasa. Para pelayan sibuk dengan pekerjaan masing-masing begitu pula dengan Pak Kenan si tukang kebun yang sedang asik menata taman belakang. Pak Muklis pun tetap siaga di gerbang depan.
Semenjak kedatangan penyusup di rumah itu, Muklis sampai-sampai tidak bisa istirahat. Penyusup itu memang tidak sembarangan! Sepertinya ia memang sudah terlatih. Ditambah lagi ada orang dalam yang membantunya memperlancar aksinya.
Jaman sekarang cctv sudah tidak ada artinya lagi. Apalagi untuk penyusup profesional seperti pria bertopi hitam itu. Elis baru menyadari jika akhir-akhir ini banyak rekaman cctv yang hilang atau telah dihapus. Sebelumnya, ia tidak terlalu memperdulikan hal itu.
Pikir Elis, tidak akan ada yang berani berbuat ceroboh dengan mendatangi kediaman harimau secara diam-diam. Tapi Elis salah! Ia telah diberikan kepercayaan yang besar untuk melindungi rumah itu, namun kali ini ia lalai
Dari antara semua pekerja di rumah itu, hanya Elis dan Mark saja yang bisa mengakses ruangan cctv setelah Arsen dan kedua orangtuanya. Karena masuk ke rungan itu tidak sembarang dan harus menggunakan sidik jari.
Tidak mungkin Mark dan Elis dalangnya. Mengapa? Karena kedua orang itu sudah menjadi tangan kanan keluarga Winston. Mereka telah mempertaruhkan hidup dan mati mereka untuk berbakti pada keluarga terpandang itu.
Jika bukan mereka dalangnya lalu siapa? Ya, jawaban atas pertanyaan ini akan diketahui setelah Mark dan Sinta membongkarnya. Saat Mark membawa Sinta untuk ikut dengannya, ia sebenarnya sudah tahu jika bukan Sinta pelakunya. Entah apa yang mereka bicarakan malam itu.
Olin dan Sonya terlihat sedang bercakap di dapur. Mereka membicarakan tentang Sinta yang masih diberikan kesempatan oleh Mark. Tubuh Sinta pun masih mulus, tidak ada luka. Tandanya Mark tidak menyakitinya.
"Lin, kau lihat 'kan Sinta? Sudah jelas-jelas dia pelakunya! Aku yakin pasti dia yang menyebarkan berita kematian Tuan Muda Arka," bisik Sonya.
"Benarkah? Ya ampum dasar wanita licik! Dari awal dia bekerja di sini, aku sudah menebak jika dia bukan orang baik. Tersenyum saja jarang."
"Kau benar! Dia pun sangat sulit untuk berbaur dengan kita-kita. Eh, tapi kenapa Tuan Mark memaafkannya? Apa yang terjadi sebenarnya?" Sonya masih berpikir keras untuk mengetahui hubungan Mark dan Sinta.
"Ehem!"
Suara deheman itu membuat kedua pelayan wanita itu melonjak. Ternyata pemilik suara itu adalah kepala palayan Elis, jelas saja mereka gugup. Olin dan Sonya segera melanjutkan tugas mereka membersihkan dapur.
"Kalau ingin bergosip, lebih baik keluar dari sini!" tutur Elis, sinis.
"Maafkan kami. Kami salah," lirih Olin diikuti dengan Sonya.
"Lanjutkan pekerjaan kalian!" perintah Elis.
Keduanya menunduk dengan memasang raut panik. Elis pun segera meninggalkan kedua wanita itu. Ia menuju taman belakang mengecek setiap sudut tempat itu, siapa tahu ia menemukan petunjuk mengenai pria bertopi hitam yang menyusup ke mansion itu.
***
Waktunya kedua orang itu untuk pulang. Setelah melewatkan malam yang penuh drama akibat ulah Arsen yang mengerjai istrinya, kini kedua orang itu bersiap untuk kembali ke mansion. Pasalnya Mark telah menelepon Arsen, jika mereka ada rapat penting di kantor.
Sebenarnya Arsen masih malas untuk kembali, tapi apalah daya jika ia harus mengerjakan tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan. Ia memang masih ingin berlama-lama dengan Amey, pasalnya wanita itu hanya memberikan kesempatan selama sepuluh menit untuk belutnya berkunjung ke gua.
Lebih tepatnya sih empat jam, bukan sepuluh menit. Ya meski Arsen tidak menepati janjinya untuk berkunjung selama sepuluh menit, tapi setidaknya durasi empat jam masih tergolong normal dari delapan jam. Untunglah Amey sudah terbiasa bersosialisasi dengan belut sehingga ia dapat menjinakkannya.
Pagi itu, Amey berjalan mendahului Arsen. Ia menuju ke depan Vila untuk melihat pemandangan sejuk puncak gunung. Dari atas gunung, ia bisa melihat penghijauan di bawah sana. Baik itu pepohonan maupun pesawahan.
"Kau sudah siap?" tanya Arsen.
"Ya. Ayo berangkat."
__ADS_1
"Sepertinya kakimu sudah pulih," tutur Arsen menyeringai.
Amey tidak menggubris. Ia berjalan terus sampai tiba di depan mobil. "Sepertinya aku sudah terbiasa dengan permainanmu," gumam Amey tersenyum kecil.
Keduanya pun kembali menempuh perjalanan selama tiga jam. Amey memilih tidur karena menurutnya perjalanan masih jauh. Melihat Amey yang memejamkan mata membuat Arsen menghentikan mobilnya. Ia memakaikan Amey seat belt.
"Tidur yang nyenyak istriku, karena kau akan kembali melayaniku saat tiba. Haha!" Arsen terkekeh pelan.
***
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya Arsen dan Amey tiba di mansion. Di depan, Mark sudah menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya mudanya. Ia membukakan pintu mobil untuk Arsen dan menyapa dengan senyuman.
"Selamat datang kembali, Mr. Winston."
"Kenapa kau senyum-senyum padaku?" ketus Arsen dingin.
"Tuan terlihat bahagia," tutur Mark jujur.
Arsen menatapnya sinis. "Kau pasti sedang meledekku 'kan?"
"Tidak Tuan." Ya benar! Aku sedang mengejekmu Tuan. Haha! Katanya tidak akan menyentuh wanita milik Tuan Arka. Tapi sepertinya Tuan baru habis enak-enakan dengan Nyonya Amey. Mark mengumpat dalam hatinya.
"Aku tahu kau pasti meledekku! Sini kau! tanganku terasa gatal untuk menonjok wajah jelekmu! Kau tahu aku, aku masih dendam padamu, Mark!"
"Maaf Tuan," ucap Mark menunduk.
"Arsen hentikan. Kita baru saja tiba dan kau akan berbuat ulah lagi. Kasihan Mark yang selalu kena batunya," tutur Amey membela Mark.
Arsen mengepalkan tangannya. Ia tidak jadi membuang pukulannya di wajah Mark. Amey memang wanita satu-satunya yang bisa menjinakkan Arsen. Bukan hanya tahu menjinakkan belutnya saja, tapi diri Arsen seutuhnya juga, Amey bisa.
"Tuan, ada hal penting yang harus Tuan ketahui," ucap Mark sembari berjalan mengikuti Arsen dari belakang.
"Apa itu?"
"Ada baiknya jika kita membicarakannya setelah rapat, nanti Tuan akan terlambat.".
Asen mengangguk dengan wajah datar. Mark tahu jika ia mengatakannya sekarang, pastilah si Tuan sensitif itu akan mengamuk. Bagi Arsen tidak ada hari tanpa ia emosi. Bisa dikatakan hidupnya tidak lengkap tanpa amarah.
Amey menyiapkan pakaian kantor untuk suaminya. Setelah selesai bersiap, wanita itu mengantarkan Arsen sampai di depan mansion. Ketika Arsen hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba langkahnya terhenti. Arsen menoleh ke belakang, dan berjalan berbalik arah menuju Amey.
"Ada apa, Ars? Apa kau melupakan sesuatu?"
Tidak menjawab pertanyaan Amey, pria itu langsung mencium kening istrinya. Amey pun terkejut.
"Ya! Aku lupa menciummu," ucap Arsen sembari melanjutkan ciumannya di pipi kiri dan pipi kanan Amey, setelah itu berakhir di bibir tipis milik istrinya.
Amey memerah. Ia sangat senang jika ia akhirnya bisa menerima cinta dari sang suami angkuh. Mark pun yang melihat itu, segera memalingkan wajahnya. Ia juga terlihat malu melihat tingah kedua majikannya.
__ADS_1
"Jangan kemana-mana dan tetaplah di rumah! Ini perintah suamimu!"
"Iya, Sa--sayang," ucap Amey malu-malu.
Arsen tersenyun kecil melihat tingkah Amey yang menggemaskan, rasanya ia tidak ingin meninggalkan istrinya itu dan tetap ingin bersama dengan Amey. Ia kembali mencium bibir Amey lebih dalam lagi.
"Ehem!" Mark berdehem sembari menatap jam tangannya.
Sontak kedua orang itu berhenti. Arsen menatap Mark dengan sinis, sepertinya Mark baru saja membangkitkan amarah sang Tuan.
Apa mereka pikir dunia ini milik mereka? batin Mark.
***
Di sebuah ruangan tempat mencuci pakaian, seorang pelayan wanita dengan sembunyi-sembunyi bercerita dengan seseorang di telepon. Terlihat mereka sedang membicarakan hal yang serius.
(Percakapan di telepon)
"Baik, Nyonya."
"Jika kau ketahuan, pastikan kau menepati janjimu!"
"Baik, Nyonya. Aku pastikan tidak akan ketahuan. Jika aku sampai ketahuan, aku janji tidak akan membawamu terlibat dengan ini."
"Lalu bagaimana dengan pacarmu? Apa dia ketahuan sama asisten tak berguna itu?"
"Dia baik-baik saja, Nyonya. Tuan Mark, tidak menemukannya. Tapi Nyonya, Tuan Mark mengira jika teman pelayanku dalangnya. Tapi anehnya temanku itu tidak dipukul dan dipecat."
"Terus awasi Asisten itu! Mark tidak bisa kau remehkan. Pasti dia merencanakan sesuatu!"
"Baik, Nyonya."
"Bagus!" tutur seorang wanita dari balik telepon.
Tut ... tut ... tut
Nyonya misterius itu memutuskan sambungan telepon.
"Ternyata kau orangnya!" tutur seorang perempuan yang sedari tadi berdiri di belakang punggung wanita yang menelepon itu.
Deg!
"Kaulah pelayan wanita yang dilihat Tuan Mark, di taman belakang! Aku juga melihatmu di sana, tapi aku tidak memiliki bukti!"
Wanita yang menelpon itu menjadi tegang dan kaku. Ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya lagi karena ia memang sudah ketahuan. Ia mematung di sana sembari membesarkan matanya.
"Kau, pengkhianat, Olin!" tutur Sinta dengan lantang.
__ADS_1
To be continued ...
Jangan lupa untuk selalu mendukung Author dengan cara like, komen, vote dan rate 😘 (Follow ig : @stivaniquinzel)