
Eggie tak fokus lagi mengerjakan pekerjaannya. Bagaimana tidak, tadi pagi Eggie sempat mendengar Rion bercerita dengan seseorang di telepon. Pembicaraan mereka sangat mencurigakan.
Flasback ON
Pagi-pagi buta, Rion telah terbangun. Ia meraih ponselnya dan berjalan menuju ruang tamu. Eggie pun tersadar dan ikut terbangun dan mendapati Rion sedang berjalan ke arah pintu. Dengan penglihatan yang masih samar-samar, Eggie mengikuti Rion dengan mengendap-endap.
"Lakukan tugasmu! Bagaimana pun caranya kau harus mendapatkan gadis itu! Aku akan mengirimkan alamat, dan kau bawa dia di sana! Jangan apa-apakan dia sebelum aku tiba di sana!"
Rion mematikan sambungan teleponnya. Melihat Pria itu mulai kembali ke kamar, Eggie dengan cepat berlari dan pura-pura terlelap. Dalam benak Eggie, ia bertanya-tanya, apalagi yang akan dilakukan Rion.
Flasback OFF
"Eggie, apa yang kau pikirkan?" tanya Amey membuyarkan lamunan Eggie.
"Eh, Nyonya. Maafkan saya."
"Kelihatannya kau sedang memikirkan sesuatu. Katakan padaku, apa yang mengganggu pikiranmu."
"Begini, Nyonya, tadi malam saya ke tempat Mr. Collin dan menginap. Nah, pagi tadi saya sedikit mendengar percakapan Mr. Collin dengan seseorang di telepon."
"Apa yang kau dengar?"
"Sepertinya seseorang dalam bahaya, tapi saya tidak tau siapa korban Mr. Collin."
Amey mengangkat kening setengahnya sembari memutar otaknya. "Apa Rion memiliki target selain keluarga Winston?"
"Ada beberapa. Namun yang paling di incar Mr. Collin adalah keluarga Winston. Bagaimana pun juga, Nyonya harus waspada dengan Mr. Collin."
"Kau benar. Aku harus memberitahu Arsen."
***
Di dalam mobil, Zoey memejamkan matanya. Namun pikirannya masih berjalan. Ia penasaran dengan pria yang ada di depannya. Zoey pun membuka mulutnya untuk bertanya. "Pak, sudah berapa lama kau bekerja pada keluarga Winston?"
"Belum lama, Nona."
"Sudah berapa bulan?"
"Baru dua minggu."
"Oh pantasan saja wajahmu tampak asing bagiku."
Pria itu menatap Zoey dari spion depan dengan lekukan kecil di bibirnya.
Drt ... drt ...
"Halo, Nek?"
"Bocil, sopirnya sudah tiba. Kau di mana?"
Seketika Zoey terdiam. Ia menatap pria yang sedang mengemudi itu. "Nek, aku sudah di jemput ..."
Tiba-tiba ponsel Zoey lowbat.
"Halo, Nek! Halo ... Nek, kau bisa mendengarku?" Zoey mulai kawatir. "Ahhh sial, ponselku mati!" gerutunya kesal.
Sopir palsu yang mendengar pembicaraan Zoey dan Soffy terlihat tenang, karena batery gawai Zoey telah habis. "Pak sopir, apa aku bisa pinjam ponselmu?"
"Maaf Nona, saya tidak memiliki ponsel."
Zoey mulai curiga. Mimiknya tampak panik namun gadis delapan belas tahun itu mencoba bersikap tenang. "Kalau begitu, bisa kau turunkan aku di sini?"
"Ada apa Nona? Ini masih jauh dengan rumahmu."
Pandangan mata Zoey beralih ke jendela. Ia tersadar jika itu bukanlah arah untuk ke mansion. Tempat itu begitu asing baginya. Zoey pun kembali panik, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Pak, ini bukan jalan pulang ke mansion! Siapa kau sebenarnya?"
__ADS_1
Pria itu tak menggubris dan membiarkan Zoey meronta di belakang. Ia tersenyum licik saat melihat ekspresi Zoey.
"Hey, hentikan mobilnya! Kau tidak mendengarku? Baiklah aku akan mengaduhkanmu pada kakakku, dan aku pastikan kau bukan hanya dipecat, tapi di kubur hidup-hidup!"
"Hahaha, bagaimana kau bisa mengaduhkanku?!" ledek pria itu.
Seketika Zoey hening. Ia mencoba membuka pintu namun tidak bisa, karena dikunci oleh sopir palsu itu.
"Siapa kau sebenarnya dan kenapa kau menculikku! Aku bahkan tidak pernah mengenalmu!"
"Diam kau! Jika kau bersuara lagi aku akan membunuhmu saat ini juga!"
Deg!
Zoey mulai menitikkan air mata. Ia menatap sekelilingnya namun sama sekali tempat itu tak dikenalinya. Kendaraan pun yang lalu lalang hanya beberapa saja. Mata Zoey menatap ke kaca belakang. Ia mendapati ada sebuah mobil yang sedang mengkuti mereka.
"Mobil itu?" gumamnya. "Kak Kaisar!" teriaknya lagi.
Pria yang ada di depannya pun menatap ke arah kaca spion. Dan benar saja ada sebuah mobil berwarna biru yang membuntuti mereka. "Sialann!" memukul kemudi dengan kencang.
"Kak Kaisar, tolong aku!" ronta Zoey sembari memukul-mukul kaca belakang.
"Diam gadis j*lang!"
"Kak Kaisar, ini aku Zoey, tolong selamatkan aku dari sini!" teriak Zoey semakin menjadi.
Mobil itu pun akhirnya berhenti di depan gedung tua yang terletak di ujung kota. Tempat itu sangat sepi dan tak berpenghuni. Melihat mobil hitam itu berhenti, Kaisar juga memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil hitam itu.
Dengan tergesa-gesa Kaisar keluar dari dalam mobilnya. "Zoey!" panggilnya.
"Rupanya kau, Tuan Kaisar. Haha. Apa kau sudah bosan hidup?" tutur sopir palsu itu.
Kai menjadi geram. Tanpa berbasa-basi pukulan maut mendarat di wajah pria berbaju hitam itu.
Bukkkkk!
"Zoey, kau tak apa-apa?" tanya Kai panik.
Melihat Kaisar, Zoey langsung memeluk pria itu dan menangis di pelukannya. "Kak Kai ... hik ... hik!"
"Jangan menangis Zoey, kau aman sekarang. Ada aku di sini."
Zoey mengangguk sambil tersedu-sedu.
"Apa si ******** itu menyakitimu?"
"Tidak kak."
"Baiklah ayo kita pergi dari sini."
Saat Kai hendak berbalik menghadap ke belakang, sebuah benda tumpul mendarat di tengkuk Kaisar.
"Kak Kai!" teriak Zoey saat melihat Kai terjatuh ke tanah dan tak sadarkan diri.
"Maafkan aku Tuan Kai yang terhormat. Kau harus berakhir seperti ini. Siapa suruh kau ikut campur!" tukas pria yang merupakan sopir palsu Zoey.
***
Brakkkkk!
"Ars, tenang! Kau tak bisa menyelesaikan masalah hanya dengan membanting benda-benda ini!" ucap Amey.
"Persetan dengan Sayur Kol!! Jika terjadi apa-apa sama Zoey, aku tak akan mengampuninya!"
"Ini semua salahku. Jika aku menjemput Bocil, pasti dia tidak akan diculik Sayur Kol," kilah Soffy, murung.
"Jangan salahkan diri Nenek. Rion yang memang sudah keterlaluan! Bisa-bisanya ia mempengaruhi Nenek Kinan untuk mengajak Nenek dan geng Nenek ke Sauna."
__ADS_1
"Iya Amey. Sayur Kol memang tak punya hati! Bagaimana bisa dia memanfaatkan Grace supaya mengajakku ke Sauna! Hufthh, Sayur Kol memang paham kondisi hatiku. Ia tau jika aku tak bisa menolak liburan gratis seperti itu!"
"Ya sudah, Nenek jangan memikirkan itu lagi Mari kita berdoa untuk keselamatan Zoey."
"Memey, aku harus menghubungi polisi!"
"Sayang, Zoey hilang belum dua puluh empat jam. Bukankah polisi belum akan memprosesnya."
"Kau benar! Kalau begitu aku sendiri yang akan mencari Zoey dan sekaligus melenyapkan parasit itu!"
"Aku ikut!"
"Tidak Memey! Kau tinggallah di rumah bersama Nensi. Aku tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi padamu."
"Baiklah Sayang. Cepat temukan Zoey dan kembalilah."
Arsen mengangguk. Ia kemudian menatap ponselnya yang bergetar. "Jayden?" gumamnya.
"Jawablah Sayang, siapa tau Jay memiliki informasi penting."
"Kau benar."
Arsen pun menjawab telpon dari Jayden.
(Percakapan di telepon)
"Ars! Gawat! Zoey di culik!" teriak Jay dari balik telepon.
"Aku tau! Nensi yang memberi tahuku."
"Aku tau di mana Zoey. Kaisar memberi tauku beberapa jam yang lalu."
"WHAT!! Kau dan Kaisar sudah tau dan kalian berdua tidak memberitauku?!! Teman macam apa kalian?!" Arsen semakin geram.
"Tenang Ars! Tadi Kaisar menelponku, katanya dia melihat Zoey di jemput oleh seseorang dari Collins Group, untuk itulah Kai mengejar pria misterius itu. Dia juga mengatakan untuk jangan memberitahumu sebelum ia mendapatkan Zoey. Tapi sudah tiga jam Kaisar tak ada kabar! Nomor telponnya juga tidak aktif! Untuk itulah aku memberitahumu."
"Keparattttt!" teriak Arsen dengan mengeratkan rahangnya.
"Kaisar sempat membagikan lokasi terakhirnya, Ars."
"Kalau begitu aku akan ke tempatmu dan kita cari bersama!"
tut ... tut ... tut
"Apa kata Jayden?"
"Katanya Kaisar juga bersama Zoey tapi Kai sudah tidak ada kabar."
Amey dan Soffy terkejut bukan kepalang.
"Temukan mereka Ars."
"Aku janji, aku akan membawa Kaisar dan Zoey pulang. Aku tak akan kembali sebelum menemukan mereka. Pegang kata-kataku!"
Amey memeluk Arsen. "Hati-hati Sayang. Segeralah kembali. Aku menunggumu."
"Iya Sayang," mengecup kening Amey. "Aku pergi dulu. Kau juga hati-hati di sini. Aku akan mengirimkan banyak pengawal untuk melindungi tempat ini."
Amey mengangguk.
"Ya Tuhan, selamatkanlah Bocil dan Braderrrr Kaisar dari dari Sayur Kol amis!" tutur Soffy menerawang ke langit-langit.
Amey melepaskan kepergian Arsen. Wajahnya begitu panik dan kawatir. Bagaimana tidak, Mr. Collin bukanlah lawan yang mudah untuk Arsen. Ia merupakan bos Mafia terbesar. Rion tak segan-segan menguliti siapa saja yang dibencinya. Apalagi Rion telah mengincar Arsen sejak lama.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
__ADS_1