Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Pemecah Rekor


__ADS_3

Arsen dan Kaisar tiba di lokasi tempat anak magang itu berada. Jauh sebelum mereka sampai, lokasi pria misterius itu telah dinonaktifkan. Untunglah Kai mengetahui di mana tempat itu berada.


Sebuah mini market yang terletak di sebelah danau merupakan lokasi terakhir si anak magang itu. Kai dan Arsen memasuki mini market dan mulai bertanya pada penjaga tokoh itu.


"Permisi, apa kau melihat pria ini?" tanya Kai sembari menunjuk sebuah gambar wajah si anak magang itu kepada seorang gadis yang berada di kasir.


Gadis itu menatap foto yang dipegang Kaisar dengan seksama. Ia mengernyitkan dahi dan bingung harus menjawab apa, karena tidak mungkin ia menghafal semua pelanggannya yang berkunjung ke tokoh yang kira-kira hampir ratusan orang perhari.


"Maafkan, saya Tuan. Saya tidak yakin telah melihatnya," tutur gadis itu.


"Apa tokohmu memiliki kamera cctv?" tanya Arsen.


"Tidak, Tuan."


Brakkk!


Arsen menendang sebuah rak yang berada di sampingnya. Gadis penjaga tokoh itu melonjak kaget dengan tingkah Arsen. Kaisar langsung membawa Arsen keluar dari tokoh itu sebelum isi di dalamnya porak poranda akibat pelampiasan amarah Arsen.


"Argghhh!" teriak Arsen nyaring. "Sial sial sial sial!" umpatnya berulang kali.


"Tenang Ars, cepat lambat kita pasti menemukannya."


Bukk!!


Sebuah tinju mendarat tepat di pipi Kaisar. "Sudah lama tanganku ini tidak berolahraga. Sorry Kai, jika aku tidak melakukannya maka emosiku tidak akan meredah."


Kaisar mengusap bibirnya yang terlihat berdarah. Ingin sekali pria itu membalas pukulan Arsen, namun ia menahan dirinya karena ia tahu masalah akan semakin melebar jika ia membalas pukulan Arsen.


"Kali ini aku biarkan, tapi lain kali akan ku balas kau!" ketus Kaisar.


Arsen mengangkat bahunya santai. Setidaknya amarahnya meredah saat menonjok wajah Kai. Sebenarnya pukulan itu disiapkannya untuk Mark, tapi mungkin karena Yang Maha Kuasa telah mendengarkan doa Mark, sehingga yang terkena amarah Arsen adalah Kaisar.


***


Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Amey masih setia menunggu Arsen, berharap suaminya menemukan si pelaku penyebaran berita kematian Arka ke media.


Amey duduk di sofa sembari menyandarkan kepalanya di kepala sofa itu. Perlahan mata Amey mulai terpejam. Rasa kantuknya sudah klimaks, dan untuk kesekian kali ia tertidur di sofa menunggu kepulangan Arsen.


Tak lama setelah wanita itu terlelap, datanglah sosok yang ditunggu-tunggu Amey. Arsen memasuki kamar dan mendapati tubuh Amey sedang tidur di sofa. Ia berjalan mendekat ke arah Amey.


"Kau menungguku lagi, Sayang?" bisik Arsen di telinga Amey.


Pria itu kemudian mengangkat tubuh Amey dan meletakkannya perlahan di atas ranjang. Merasakan sentuhan yang tidak asing membuat Amey membuka matanya.


"Ars, kapan kau tiba?" tanya Amey.

__ADS_1


"Baru saja."


Ketika Amey hendak menegakkan tubuhnya, tiba-tiba Arsen mendorong tubuh Amey sehingga ia kembali terbaring di ranjang. Rasa kantuk Amey lenyap dengan sekejab. Ia tahu jika Arsen pasti akan menagih jatah makan malam belutnya.


"Tidak ada lagi alasan bagimu untuk menolakku, Sayang," mencium bibir Amey.


Wanita itu pun pasrah jika terowongannya akan kedatangan tamu vip lagi. Amey meremas selimut itu saat Arsen mulai menyapu bibirnya habis-habisan. Melihat Amey yang menerima permainan lidahnya, Arsen pun dengan bringas merobek piyama Amey.


Amey terkejut bukan kepalang. Namun Arsen tidak memperdulikanya. Ia pun segera melucurkan balutan kain tipis yang menutupi hutan gundul istrinya. Kemudian ia berpindah tempat melepas balutan kain yang menyekat alat perasanya untuk memainkan tempurung kembar Amey.


Hasratnya membara saat melihat tubuh Amey yang sudah tidak mengenakan apa pun. Jangan ditanya lagi bagaimana ekspresi si Tuan Arogan itu. Tentu saja ia sangat buat dan ganas. Ia pun melepas seluruh pakaiannya dan melemparkan di sembarang arah.


Amey menelan liurnya saat menatap belut raksasa Arsen yang sudah menegang menatap terowongan gelapnya. Belut itu perlahan mendekat namun tidak sampai masuk ke dalam. Arsen memang sengaja menarik ulur belutnya agar vla puding Amey segera membanjiri hutan gundul itu.


"Ars ... Ehmm, uhhh!" desah Amey tak karuan.


"Ada apa Sayang? Sudah mulai enakan?" tanya Arsen menyeringai.


Amey mengangguk cepat. Tiba-tiba ..."Ahhhhh!" Ia berteriak sangat nyaring saat belut raksasa itu menerobos masuk ke dalam gua yang tergolong masih sempit.


Reflek Arsen membungkam mulut Amey dengan tangannya. "Apa masih sakit?"


Amey mengangguk.


Arsen pun semakin liar melajukan tempo hentakannya agar Amey tidak merasa kesakitan lagi. Dan benar saja, hanya ada desahan kenikmatan yang keluar dari mulut Amey. Tak hanya wanita itu, Arsen pun menikmati permainannya.


Arsen mengecup lembut kening istrinya yang telah dibanjiri peluh. Tak hanya Amey, Arsen pun berkeringat hebat. Rasa lelah dan kantuk akhirnya menghampiri kedua orang itu. Arsen menatap jam dinding sembari tersenyum puas.


"Kau hebat Sayang. Kau memecahkan rekor pertamamu," tutur Arsen di telinga Amey.


"Aku lelah, Ars. Su--sungguh sangat lelah," ucap Amey terengah-engah tak karuan.


Delapan jam, delapan ronde. Permainan yang sungguh sangat gila dan di luar nalar! Arsen memang menakutkan saat di atas ranjang. Ia bisa saja membunuh lawan mainnya jika lawan mainnya itu tidak kuat.


Jam telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Seharusnya menjadi waktu untuk bersiap ke kantor, tapi kali ini menjadi waktu tidur bagi kelelawar jantan dan kelelawar betina yang baru selesai berolahraga di atas ranjang.


Selimut putih yang tebal menyelimuti kedua tubuh tanpa sehelai pakaian itu. Arsen memeluk tubuh Amey dan mencium punggung istrinya. Akhirnya, karena kelelahan Arsen dan Amey langsung tertidur pulas.


***


Tenggorokan Soffy terasa pekat. Ia berjalan keluar kamar dan mengambil air dingin di dalam kulkas. Ketika hendak membuka kulkas, mata Soffy menjeling ke arah jendela dapur dan ia seperti melihat ada bayangan hitam yang menunduk di bawah jendela kaca itu yang terbuka lebar.


"Dragon! Apa itu?" gumam Soffy melonjak.


Soffy mendekat ke arah jendela dengan mengendap. Tidak lupa juga ia mengambil panci dan spatula untuk siap menerjang penyusup. Zoey dari arah kejauhan telah melihat tingkah Nenek Rempong itu yang sedikit aneh. Ia pun segera berjalan mengendap mengikuti jejak Soffy.

__ADS_1


"Nenek, lagi apa?" bisik Zoey sembari menepuk punggung Soffy.


"Ehh kodok, kadal, cicak!! Kau mengagetkanku!" ketus Soffy setengah berbisik. "Ambil ini," menyodorkan spatula. "Tadi Nenek melihat seperti ada seseorang yang berdiri kemudian langsung menunduk di bawah jendela. Pakai baju hitam."


"Ahh yang benar, Nek?"


"Iya! Pegang tangan Nenek," menaiki rak tempat menaruh alat-alat masak.


"Nenek nanti jatuh."


"Tidak! Nenek ringan seperti kapas."


Zoey memutar bola matanya malas. Ia pun segera memegang tangan Soffy dan membiarkan Nenek itu menaiki rak mini yang di taruh dekat jendela. Soffy begitu lincah dan cekatan, sehingga membuat Zoey takjub.


"Dalam hitungan ketiga, Nenek akan menjatuhkan panci ini dan kau langsung memberikan spatula yang kau pegang itu agar Nenek bisa memukulnya."


"Oke Nek," mengacungkan jempolnya.


"Satu ... dua ... tigaaaaaaa!"


Brukkkkk! Plak plak plak.


"Mati Ngana mati Ngana mati Ngana," umpat Soffy berulang-ulang dengan penuh amarah.


"Aduhhh sakit! Aww, uhhhh hentikan Nek, hentikan!"


Seketika Soffy menghentikan pukulannya. Ia mentap ke arah bawah dan mendapati seorang pria yang tidak asing di matanya. "Mayyyy Braderrrr!" teriak Soffy terkejut.


Brukkkkk!


"Ahhhhhhhh!" pekik Soffy yang baru saja terjatuh dari atas rak mini itu. "Aduh pantat seksiku! Ahh, sakit sekali."


"Nenek! Ya ampun, apakan aku bilang, nanti Nenek jatuh. Dan benar saja." Zoey membantu mengangkat tubuh Soffy.


"Bocil, kau tahu siapa yang Nenek lihat di bawah sana," sembari memijat bokongnya.


"Siapa Nek?"


"Mark!"


"Hah? Ja--jadi yang Nenek pukul adalah Mark?" Zoey membulatkan matanya.


"Ayo kita lihat! Dia tidak boleh mati, dia belum menikah!" ketus Soffy berlari ke luar sembari mengusap bokongnya.


To be continued ...

__ADS_1


Like, komen, vote and rate donkkkk😭❤️


Kasihanilah jari penulis yang sudah keriting ini 😩😆


__ADS_2