Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Keempat Ed, Bocah Pewaris Takhta


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit dari mansion, akhirnya rombongan kedua pun tiba di gedung besar tempat Soffy dan Edzel berada. Akibat kemacetan yang terjadi mengakibatkan Dinar Candy bersama ketiga Ed terlambat dengan perbandingan waktu yang cukup jauh.


Mereka memasuki gedung itu. Dinar dan Candy seketika penasaran dengan kerumunan yang terjadi di depan toko mainan robot.


"Candy, apa kau melihat itu?" tanya Dinar menunjuk ke arah toko mainan.


"Ya. Mungkin ada diskon besar-besaran makanya banyak yang berkerumun."


"Mana mungkin di toko bergengsi itu mengadakan diskon. Itu 'kan toko mainan robot impor langsung dari luar negeri. Makanya barang-barang di sana elit dan mahal," jelas Dinar.


"Hmm benar juga. Ayo kita ke sana dan belikan mainan untuk Tuan Muda Kecil."


"Apa kau sudah tidak waras? Gaji sebulan kita saja tidak cukup untuk membayar mainan di toko itu!" celutuk Dinar membulatkan maniknya.


"Tenang saja, Dinar. Kita 'kan membawa Anak-anak Sultan. Nyonya Amey juga memberikan benda ini," menunjukkan kartu segi empat berwarna hitam dengan logo WS group terlampir di sana.


Dinar terperanjat. "Blackcard!!"


"Ya. Tidak mungkin juga kita ke mall tanpa berbelanja. Kalau hanya orang biasa seperti kita sih tidak masalah. Tapi ini, 'kita kan membawa anak-anak Tuan Arsen Winston!"


"Benar juga kau, Candy. Ehh, sebentar! Sepertinya aku mendengar suara yang tak asing," tutur Dinar yang langsung berlari ke sumber suara itu.


"Dinar, tunggu!" teriak Candy.


Langkah Dinar terhenti di depan toko mainan itu. Segerombolan orang menghimpitnya sehingga ia tampak sulit menerobos masuk ke dalam toko mainan.


"Permisi Nona!" ucap pria yang menghadang langkah Dinar.


"Pak, Satpam. Saya mengenal anak itu!" menunjuk ke arah Edzel.


"Oh apa Anda Ibu dari anak itu?" tanya satpam penjaga toko.


Dinar mengangguk. Satpam pun mengijinkannya untuk masuk. Wanita itu tampak panik bukan kepalang. Ia melihat jika Edzel dibentak oleh karyawan wanita itu.


"Permisi, permisi. Apa yang terjadi?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Dinar.


Melihat kedatangan Dinar, Edzel langsung berlari ke arah wanita itu. "Aunty, wanita jahat ini membentakku!" adu Edzel.


"Sudahku duga. Aunty seperti mendengar suaramu dan segera berlari ke sini."


"Oh jadi Anda orangtua dari anak nakal ini?" menatap penampilan Dinar dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Pasti dari keluarga yang tidak mampu! Tapi gaya anak ini seperti anak sultan saja!"


Dinar mulai naik pitam. "Permisi Nona. Jaga bicara Anda. Berapa biaya ganti ruginya?" tanya Dinar.


"Berlagak kaya saja kamu! Okey, totalnya lima belas juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu. Apa kau mampu membayarnya?!" tersenyum kecut.


Dinar terkejut bukan kepalang. Maniknya melebar saat karyawan wanita itu memberitahu biaya ganti rugi.


Apa?! Yang benar saja! Hampir sama dengan gaji sebulanku. Batin Dinar.


"Edzel apa yang kau lakukan di sini?" tanya Edward.


"Edward, kau lihat wanita jelek ini. Dia memarahiku karena menjatuhkan mainan keren itu. Tapi aku tidak bersalah Ed. Tante jelek ini meneriakiku sehingga aku terkejut dan tidak sengaja menjatuhkannya!" jelas Edzel.


"Apa katamu?! Je--jelek? Masih kecil omongannya macam cabe ulek saja!" ketus karyawan toko itu.

__ADS_1


Karena merasa paling sulung dari antara ketiga adiknya, Edward pun membusungkan dada dan maju di garis depan membela Edzel.


"Hey kau wanita tua jelek! Berani sekali kau membentak Edzel. Kami tidak pernah dibentak oleh orang asing!" celutuk Edward.


"Ya, benar!" ucap ketiga Ed serentak.


Bukan hanya karyawan wanita itu yang terperanjat saat melihat anak-anak itu. Semua orang yang ada di sana pun terkesiap.


"Kembar empat?" gumam karyawan toko itu sembari menelan liurnya.


Orang-orang mulai gaduh. Sebagian orang hampir tersedak dengan liur mereka ketika menyadari jika keempat anak kembar itu adalah anak dari Tuan Muda Arsen Winston, si sultan tampan namun mengerikan.


"Ouh rupanya kalian kembar, ya?!" ucap wanita itu, belum menyadari identitas mereka.


Seorang karyawan wanita yang merukapan rekan kerja dari wanita yang membentak Edzel sedari tadi memperhatikan anak-anak itu. Ia merasa seperti ada yang janggal di benaknya. "Tunggu dulu! Kalau aku tidak salah dengar anak-anak ini menyebut nama satu sama lain. Edzel? Edward?" seketika pikirannya kembali berputar.


"Nona, saya akan ganti rugi!" celutuk Candy tiba-tiba.


"Siapa lagi kamu? Apa ibu tiri dari anak-anak ini?" ejek wanita itu yang merupakan manajer.


"Kami berdua pengasuh tuan-tuan muda kecil ini. Ohya, Anda bisa gunakan kartu ini sebagai alat pembayaran ganti rugi," menyodorkan kartu atm berwarna hitam itu.


"Cihh, sombong sekali kamu!" ucap manajer itu sembari menarik atm di tangan Candy dengan kasar.


"Oh my godness!!!" gumam karyawan lain. "Aku tahu siapa mereka! Tamatlah kita semua!!" berbisik-bisik sendiri.


"Lila periksa kartu ini apa masih bisa digunakan atau tidak! Karena ada banyak sekali penipu yang mengaku diri sebagai orang kaya!" ucap manajer terhadap anak buahnya yang bernama Lila.


Dengan tangan yang gemetar Lila menerima blackcard itu. Perasaannya semakin buruk. Hati dan pikirannya mulai bentrok saat mulai mengetahui identitas asli anak-anak itu.


"Kenapa kamu gugup seperti itu. Cepat periksa!" bentak manajer.


"Ba-baik." Saat hendak memeriksa kartu itu, tiba-tiba mata Lila tidak sengaja menatap sebuah logo kecil yang tak asing di pojok bawah kartu itu. "Ini adalah ... logo dari perusahaan W--WS Group! Dan mereka adalah ... " menatap keempat Ed dengan raut pias bercampur panik yang luar biasa. "Anak-anak pewaris takhta, Tuan Muda Arsen Winston!"


Manajer toko itu terbelalak. Badannya tiba-tiba menggeliang seperti terkena sengatan listrik berskala besar. "APAAAA?!"


Semua orang pun terkejut. Peristiwa di toko itu menjadi perbincangan hangat di media. Seluruh dunia telah tahu kejadian di toko mainan itu. Netizen mulai gerak cepat mempublis rekaman video dan mulai memberikan komentar jahat kepada toko robot itu.


Benar-benar bodoh aku! Kenapa aku tidak bisa mengenali mereka! Hancur sudah hidupku. Tuan Arsen pasti tidak tinggal diam. Apa yang harus ku lakukan ...


"Kenapa melamun? Apa kartu itu tidak berfungsi, wahai manajer toko yang terhormat?!" cibir Candy.


Seluruh karyawan toko tak berkutik sedikit pun. Mereka masih menegang dengan manik melebar dan mulut termanga.


"Aunty, ayo pergi dari sini!" ajak Edward.


"Kalau Daddy tahu, pasti kau akan menyesal!" celutuk Edgar.


"Nanti kita suruh Daddy belikan semua mainan robot ini. Pasti Daddy akan membeli sekaligus dengan toko ini!" tambah Edzel.


"Tidak perlu membeli dengan tokonya tuan muda kecil. Gedung besar ini dibawah naungan WS Group. Jadi Tuan Muda Arsen memegang kendali penuh dengan semua yang ada di sini," jelas Dinar.


Sementara keempat Ed masih berbincang, para karyawan toko sudah menciut bagai tikus kecil yang diguyur air. Mereka tidak berani berkata lagi. Meminta maaf pun mereka seperti sudah kehilangan pita suara.


Saat hendak meninggalkan toko mainan itu, tiba-tiba semua pegawai sujud ke lantai. Mereka berlutut sembari memohon ampun dari keempat Ed.

__ADS_1


"To-tolong maafkan kelancangan saya, tuan muda kecil. Saya tidak tahu jika tuan-tuan ini berasal dari keluarga Winston, keluarga terpandang di negeri ini. Saya mohon belas kasihan dari tuan-tuan muda kecil," tutur manajer toko.


"Tidak mau!" ketus Edzel.


"Maafkan kami tuan-tuan. Jangan pecat kami. Kami siap melakukan apa saja asalkan jangan pecat kami dari pekerjaan kami."


"Urusan kita sudah selesai," ucap Edward meninggalkan tempat itu dan di ikuti oleh saudara-saudaranya.


"Semoga ini menjadi pembelajaran untuk kalian," tutur Dinar.


Ketegangan pun berakhir. Orang-orang yang berkerumun sebagian telah bubar dan sebagian lagi masih berada di lokasi.


"Kalau aku jadi mereka, aku pasti tidak akan keluar kamar selama satu abad. Malu sekali!"


"Hmm, aku juga. Bisa-bisanya mereka mempermalukan keluarga Winston."


"Aku tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan diberikan Tuan arsen jika mengetahui kejadian ini."


"Ihh ngeriii! Sudahlah jangan dipikirkan. Lihatlah anak-anak kembar itu. Mereka mewarisi ketampanan ayah mereka."


"Masih kecil saja sudah sangat berkarisma. Dan itu benar-benar mencekik leherku! oh gosshhh!"


"Yayaya sangat-sangat tanpan, berkarisma tapi juga arogan. Siapa lagi kalau bukan titisan Tuan Muda Arsen Winston."


Begitulah berbagai pandangan orang-orang yang melihat peristiwa itu. Mereka mengagumi keempat Ed, tapi juga menjulid para karyawan itu.


"Hoy hoy hoy!! Apa yang terjadi di sini? Kenapa semuanya bubar?! Bukankah di sini sebelumnya ramai?" tanya seorang nenek tua yang tak lain dan tak bukan adalah Soffy.


Soffy baru saja tiba dengan membawa beberapa eskrim yang di isi di kantong plastik. Ratu penggosip itu tidak mau kehilangan berita besar. Ia pun menghadang beberapa gadis muda dan bertanya pada mereka.


"Ey bocil! Ada gosip apa di sini? Aku melihat semua orang berbisik-bisik sambil melirik ke arah toko robot itu."


"Seorang karyawan memperlalukan anak kecil dengan kasar. Mereka tidak tahu jika anak kecil itu adalah pelanggan VVIP dari latar belakang keluarga terpandang."


"Benarkah? Siapa anak kecil itu?" tanya Soffy.


"Anak itu adalah anak dari Tuan Muda Arsen yang berasal dari keluarga Winston."


Soffy terperanjat. "Astaga dragon! Anak-anak itu adalah cicitku bego!"


gadis itu menelan liurnya. "Berarti ... "


"Sialan! Berani sekali mereka berlaku kasar pada cicitku yang tampan dan gumuszzzz!" Amarah Soffy menggebu. Kepalanya bagai gunung berapi yang siap mengeluarkan lahar panas.


To be continued ...


.


.


.


Vote, like dan komen dari kalian akan sangat membantu Author 🥰


follow ig:

__ADS_1


@syutrikastivani


@stivaniquinzel


__ADS_2