Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Menginap di Hotel


__ADS_3

Tidak lagi memperhatikan orang-orang yang ia sambar, Jay berlari dengan terengah-engah. Dua puluh menit dalam perjalanan dari tempat pertemuannya dengan Soffy menuju gedung WS Group membuat Jayden tergesa-gesa agar ia bisa bertemu dengan Liang Gie rekan bisnisnya.


Jayden tiba di depan pintu aula tempat diadakan acara peresmian. Ia merapikan rambut dan setelan jasnya. Jay melihat Arsen sedang bercakap dengan George. Raut murka terlihat membara di wajah Jayden. Ingin sekali pria itu memukul Arsen karena telah mengejainya.


Namun apa daya, Jay tidak seberani itu mengorek emosi Arsen. Ia hanya bisa pasrah, mengatur napasnya agar terlihat baik-baik saja. Amey yang melihat Jayden tiba langsung memanggil Jay yang berdiri di depan pintu. “Kau dari mana saja Jay? Arsen menunggumu dari tadi,” tutur Amey.


“Aku baru selesai mengadakan kencan buta dengan Nensi.”


“Wah, kau sudah tidak waras. Bisa-bisanya kau melupakan acara penting ini hanya untuk kencan buta.”


“Kau tahu siapa wanita itu?”


“Aku tidak perduli. Ayo masuklah dan bertemu kolegamu.”


Jay mendengus kesal. Percuma saja ia menjelaskannya pada Amey, toh wanita itu tidak akan paham dengan emosi yang ia rasakan. “Suamimu sungguh keterlaluan, Mey!” ketus Jayden.


“Ya dia memang keterlaluan,” ucap Amey dengan nada malas.


“Bisa-bisanya dia … ahhh gila! Benar-benar konyol!”


“Sebenarnya apa sih yang kau bicarakan Jay?” tanya Amey mulai bingung.


“Suamimu menjodohkan aku dengan Nensi.”


“Terus?”


“Nensi itu nenekmu, Nyonya Amey Winston!” celutuk Jayden menekankan nada.


Amey mengangkat kening setengahnya. “Nensi?”


“Nenek sihir!”


“Peftt … buahahahaha!” Gelak tawa Amey pecah. Ia tidak dapat menahan tawanya saat Jayden memberitahu jika Jaydenlah yang melakukan kencan buta dengan neneknya. Artinya Yang akan menjadi calon kakek Amey, adalah Jayden, sahabat karib suaminya.


“Kau dan suamimu sama saja,” memutar bola matanya.


“Sumpah, aku tidak bisa membayangkan jika kau benar-benar akan menjadi kakeku Jay. HAHA!”


“Amey sadarkan dirimu! Semua orang memandangi kita karena tawamu yang tidak bisa direm,” bisik Jay, merasa malu karena semua pandangan mata menyoroti mereka.


“Jadi, Nenek mencari sepatu hak tingginya tadi pagi, hanya karena untuk menemuimu? Dan ternyata bule tampan yang diceritakan nenekku adalah kamu? HAHA!” Amey tertawa terpingkal-pingkal, matanya sampai mengeluarkan cairan akibat terbahak.


Jay semakin kesal. Rasa malu dan jengkel menggerogoti batinnya. Ingin sekali ia berteriak karena merasa sangat sial. Namun ia menahannya karena banyak sekali pengusaha-pengusaha ternama yang menyorotinya.

__ADS_1


Melihat Jay dan Amey berdiri di depan pintu, Arsen melangkahkan kakinya berjalan ke arah keduanya. Tanpa ada rasa bersalah terhadap Jay, Arsen menatap Jay dengan tatapan tajam. “Kenapa tidak sekalian kau muncul besok, Jay?” sindir Arsen geram.


“Aku baru selesai kencan!”


“Oh selamat atas kencanmu Jay. Semoga p*nismu tidak merasa kesepian lagi!” bisik Arsen meledek.


“Trima kasih Ars. Kau berhasil mengerjaiku habis-habisan. Nensi sungguh sangat menggoda!”


Arsen terdiam. Hatinya tergelitik saat mengetahui jika Jay baru saja selesai berkencan dengan nenek Soffy. Arsen menutup bibirnya dengan rapat, ia menahan gelak tawanya. Sungguh Arsen ingin sekali tertawa dengan sangat keras. Namun terhalang karena ia harus menjaga image-nya.


Amey dan Arsen saling menatap dengan ekspresi meledek Jayden. Jay berjalan meninggalkan pasutri itu dengan wajah yang kesal. Ia langsung mencari Liang Gie untuk membahas bisnis mereka.


“Ars, kau sungguh keterlaluan mengerjai Jay.” Amey terkekeh.


“Bukan hanya Jay saja. Kai juga kena, tapi lihat saja nanti jika Kai sudah pulang, pasti dia akan sangat merindukan Nensi,” ucap Arsen menyeringai.


“Tidak sabar melihat ekspresi Kaisar. Haha.”


“Kau sangat senang ya melihat Jayden? Selama kau denganku, kau tidak pernah tertawa lepas seperti ini?” sindir Arsen tiba-tiba membuat Amey menghentikan tawanya.


“Karena kau selalu sinis padaku,” tukas Amey apa adanya.


“Cih!”


“Kenapa membahas ini?” menatap Arsen dengan bingung.


“Loh? Kok jadi begini?” Amey mengerutkan kening.


“Pokoknya aku tidak suka kau tertawa seperti itu pada orang lain! Jika kau melanggarnya aku akan menghukummu!” berjalan meninggalkan Amey yang hanyut dalam pikiran yang penuh tanda tanya.


“Apa yang salah dengannya?” gumam Amey.


***


Hari itu merupakan hari yang melelahkan bagi Arsen dan Amey. Selama seharian mereka tidak henti-hentinya menerima tamu dari kalangan atas. Malam itu langit tampak gelap, tidak ada bulan, tidak ada bintang. Sepertinya akan turun hujan. Karena sangat lelah akhirnya Arsen memutuskan untuk menginap di hotel.


Jarak antara Gedung WS Group dan mansion Arsen sangatlah jauh. Cara efektif untuk bisa istirahat dengan cepat adalah singgah di Paradise hotel karena sangat dekat dengan gedung itu. Saking lelahnya Amey, ia tertidur di bahu Arsen, dan Arsen pun menyandarkan kepalanya diatas kepala Amey.


Mark melirik dari cermin depan. Ia tersenyun kecil saat melihat majikannya yang seperti Tom and Jerry bisa akur dan terlihat mesrah. “Jika keduanya diam, ‘kan terlihat manis. Aku pun aman dari emosi labil Tuan Muda ini, hehe.” Mark terkekeh.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di depan hotel. Arsen terbangun saat mobil telah berhenti. Namun ia tidak banyak membuat pergerakan agar wanita yang bersandar di bahunya tidak terbangun.


“Tuan …?”

__ADS_1


“Shttt!” meletakkan telunjuknya di bibir.


Mark pun berdiam. Ia membukan pintu bagi Arsen.


Arsen membopong tubuh Amey ala bridal style. Ia membawa tubuh Amey ke suite room, yang dikhususkan bagi pemilik hotel itu. Amey masih terlelap dipelukan Arsen. Ia sama sekali tidak bergeming saat Arsen mengangkat tubuhnya.


Para pelayan hotel yang melihat keromantisan atasannya, hanya menunduk malu. Bahkan ada yang hampir pingsan saat melihat wajah Arsen yang sangat tampan. Apa lagi rambutnya yang sedikit acak-acakan, dasinya yang tidak beraturan, membuat pria itu sangat seksi di mata para pegawai hotel khususnya dikalangan wanita.


Namun sayangnya, pria itu membopong seorang wanita yang menyandang status sebagai istrinya. Ia tidak memperdulikan sorot mata yang menatapnya mengingini. Ia terus berjalan lurus dengan wajah tanpa ekspresi.


Ketika sudah sampai di lantai terakhir, Mark membukakan pintu untuk Arsen. “Selamat bersenang-senang Tuan,” menunduk.


“Wait!”


“Ada apa Tuan?”


“Besok aku dan istriku akan ke Paris untuk bulan madu. Persiapkan semuanya,” tutur Arsen.


“Baik Tuan.” Mark menutup pintu dan meninggalkan majikannya. Ia juga memiliki ruangan sendiri di lantai paling atas itu.


Arsen menerima hadiah dari George. Tentunya karena bisnis, tapi siapa yang dapat menyangka jika Arsen juga ingin berduaan dengan Amey. Bisnis hanyalah menjadi tameng bagi Arsen untuk menutupi perasaannya yang mulai luluh terhadap istrinya.


Pria itu meletakkan Amey secara perlahan di atas ranjang. Ia menyelimuti istrinya dengan selimut. Setelahnya ia menuju kamar mandi untuk membersihkan badan. Amey terlihat gelisah di ranjang. Tubuhnya bergerak ke sana-ke mari dengan mata yang masih terpejam.


Amey merasa ada yang lain dengan dirinya. Sentuhan Arsen mampu membuatnya nyaman sehingga ia tertidur lelap. Ketika Arsen meninggalkannya di ranjang sendirian, Amey pun terbangun. Ia memandangi sekelilingnya namun tidak menemukan sosok Arsen.


Beberapa menit kemudian Arsen keluar dari kamar mandi. Ia melihat Amey yang sudah bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang. “Kau bangun?”


Amey menatap ke sumber suara. “Aku mencarimu, ternyata kau sedang mandi,” tutur Amey lirih.


“Kenapa kau mencariku? Apa kau tidak bisa tidur karena berada jauh denganku?” Arsen menyunggingkan bibirnya.


Amey berdiam. Ia tidak punya tenaga lagi untuk membantah ucapan Arsen.


“Diam, tandanya benar!” tukas Arsen menyeringai.


“Aku terlalu lelah untuk berdebat denganmu. Pakailah baju dan tidurlah. Kau terlihat sangat lelah,” ucap Amey seraya membaringkan tubuhnya.


Arsen menahan dirinya. Suara lirih Amey begitu menggemaskan di telinga Arsen. Ingin sekali pria itu memeluk Amey, namun ia berusaha mengendalikan hasratnya. Ia menatap belutnya yang kembali menegang dengan seketika. Amey berhasil membangunkan belutnya hanya dengan bersuara.


“Kau berhasil membangkitkan adik kecilku!” gumam Arsen mengusap kejantanannya dengan perlahan, “tidurlah kembali, ini bukan waktu yang tepat!”


Pria itu terlihat frustasi saat menahan nafsunya yang mulai tidak terkendali. Ia segera menuju walk in closet untuk menjauhkan belutnya dengan tubuh Amey. Arsen sangat was-was, jika adik kecilnya mengamuk maka ia tidak dapat lagi menenangkannya, karena nafsunya hampir klimaks.

__ADS_1


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘


__ADS_2