Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Sekolah Baru


__ADS_3

"Edward, Edhan, Edgar, Edzel ... Ayo sikat gigi sebelum tidur," ucap Amey.


"No, Mommy! Aku ingin ikut dengan Uncle!" tukas Edgar menyilangkan dada dan memanyunkan bibirnya.


"Tidak bisa Sayang. Uncle Mark sedang ada urusan dengan Daddy, jadi tidak bisa diganggu."


Edgar menatap Mark dan Arsen yang sedang membicarakan sesuatu. Ia pun akhirnya menuruti perintah Amey. "Baiklah," ucapnya malas.


"Nah begitu dong." Amey tersenyum. "Kalau begitu ayo ikut Mommy."


Keempat anak kembar itu saling bergandengan tangan menuju lift, diikuti Dinar dan Candy dari belakang.


Sementara di ruangan tamu, Arsen dan Mark sedang berbicara dengan raut yang begitu serius.


"Baiklah, kita akan coba selama satu bulan. Jika mereka tak bisa menyesuaikan diri dengan baik, maka terpaksa aku harus melanjutkan pembelajaran khusus untuk mereka."


"Baik Tuan. Aku akan mengurus segala perlengkapan sekolah mereka."


"Ya memang harus begitu. Besok mereka sudah harus bersekolah."


"Baik, Tuan. Kalau begitu aku pamit."


Arsen menganggukkan kepala. Mark pun berlalu meninggalkan mansion.


"The Royal International School?! Hahah, mari kita lihat apakah para guru profesional bisa menangani anak jadi-jadianku!" gumam Arsen sembari melangkahkan kakinya menuju kamar.


Akhirnya keempat Ed akan bersekolah seperti layaknya anak biasa pada umumnya. Sebelumnya keempat Ed hanya mendapat bimbingan khusus oleh guru profesional yang ada di New York dan itu pun hanya di rumah saja.


Merasa kasihan dengan anak-anaknya, Amey pun ingin melihat keempat Ed bisa bergaul dengan teman-teman sebaya mereka. Maka dari itu Amey mengusulkan pada Arsen untuk menyekolahkan mereka di sekolah.


Tidak sedikit guru profesional yang mengundurkan diri saat mengajar keempat Ed itu. Pasalnya mereka selalu dikerjai oleh mereka. Meski bayarannya sangat menggiurkan, namun mereka memilih menyerah dari pada harus tertekan batin karena ulah usil dari keempat Ed. Kalau soal kepandaian, jangan ditanya lagi! Mereka memiliki IQ di atas rata-rata anak seusia mereka. Tak belajar pun mereka sudah pandai.


Seringkali mereka melakukan kenakalan karena mereka merasa bosan berada di rumah terus. Keempat Ed itu merasa terkekang karena harus mengikuti berbagai pembelajaran privat mulai dari umur dua tahun. Apalagi Edzel, ia telah lama di rawat di rumah sakit karena penyakitnya. Namun jangan salah, di rumah sakit pun ia sering mendapat pembelajaran privat.


Jadi wajar saja kalau mereka bersikap nakal di usia mereka yang baru menginjak enam tahun. Itu juga merupakan bentuk protes mereka, agar Arsen dan Amey menyekolahkan mereka seperti anak-anak lainnya. Namun begitulah resiko menjadi anak sultan, apapun yang mereka lakukan harus dibatasi, mengingat masa depan mereka yang cemerlang.


***


Pagi itu di sebuah gedung yang sangat mewah bagai istana kerajaan, tampak beberapa wanita dan beberapa pria yang memakai setelan jas berwarna ungu sedang sibuk berbenah. Mereka adalah pengajar-pengajar di sekolah itu. Bahkan para siswa mulai dari tingkat satu sampai tingkat dua belas yang tinggal di asrama ikut berbenah di setiap ruangan dan halaman sekolah.


"Ishhh! Kenapa kita juga ikutan berbenah?! Memangnya anak konglomerat mana sih yang bakal datang?! Menyusahkan saja!" rengek seorang wanita tingkat tujuh.

__ADS_1


"Paula, diamlah! Kau mau kehilangan poin lagi?" bisik seorang wanita yang sebaya dengannya.


"Apakah mereka cucu presiden? Ataukah mereka anak para menteri?" sambung Paula lagi.


"Husssshh! Jangan berisik dan lanjutkan tugasmu membersihkan meja!" ketus Ria.


Seorang wanita paruh baya berkacamata sedang memperhatikan kedua siswi tingkat tujuh itu. Ia pun mendekat ke arah mereka dengan tatapan buas. "Paula, Ria! Poin kalian akan di potong!"


Deg!


Paula dan Ria menengok ke belakang secara perlahan dengan mata terbelalak. "Wa--wakil kepala sekolah Karin," lirih Paula panik.


"Jika kalian masih bergosip lagi, Ma'am akan mengurangi seratus poin! Apa kalian paham?!"


"Pa--paham Ma'am!" celutuk kedua gadis itu serentak.


Wakil Kepala sekolah Karin meninggalkan kedua wanita itu yang tampak berwajah pias.


"Kamu sih, Pau! Aku 'kan ikutan kena juga!" rengek Ria, kesal.


"Ya, Maaf!"


Sejak mendapat pemberitahuan darurat, wakil kepala sekolah The Royal International School, mengambil kebijakan untuk mengadakan kerja bakti bersama dalam rangka menyambut anak-anak dari pemilik sekolah elit itu. The Royal International School berdiri di bawah naungan WS Group. Perusahaan itulah yang membiayai segala keperluan sekolah elit itu. Maka dari itu Karin sebagai wakil kepala sekolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu agar ia di promosikan menjadi kepala sekolah.


Siapa yang tak menginginkan posisi itu, menjadi guru biasa saja sudah merupakan suatu keberuntungan yang luar biasa, apalagi menjadi pengurus elit. Guru-guru yang mengajar di sekolah itu, bukanlah guru-guru biasa, gelar paling rendah untuk mengajar adalah S2, itupun harus lulusan luar negeri. Bagimana tidak, siswa-siswi yang bersekolah di situ merupakan anak-anak dari orang-orang berpengaruh di Nusantara. Mulai dari cucu presiden, anak-anak perdana menteri dan pengusaha-pengusaha ternama negeri.


Bisa dikatakan jika sekolah itu merupakan perkumpulan anak-anak kalangan atas dan terpandang. Semua yang bersekolah di situ dari tingkat satu sampai tingkat dua belas adalah anak-anak pewaris masing-masing kekayaan keluarga mereka. Tak jarang banyak perkelahian sengit yang terjadi antara para pengusaha itu hanya karena ingin memperlihatkan siapa yang lebih kaya di antara mereka.


***


Di tempat lain, keempat Winston Junior itu terlihat sangat kegirangan. Untuk pertama kalinya mereka akan bersekolah layaknya anak-anak lain sebaya dengan mereka.


"Ayo masuk ke dalam mobil dengan tertib," tutur Amey.


"Yes Mommy."


"Baiklah, tunjukkan sikap baik kalian saat tiba di sekolah nanti. Jika kalian membuat masalah, Mommy terpaksa harus melanjutkan pembelajaran privat kalian! Mengerti?"


"Mengerti, Mommy," ucap keempat Ed serentak.


"Dinar Candy mohon bantuan dari kalian."

__ADS_1


"Baik Nyonya Muda."


Dinar dan Candy menyusul masuk ke dalam van itu. Sedangkan Amey, Arsen dan Mark di mobil lainnya.


Sejauh ini Dinar dan Candy sangat baik merawat keempat Ed itu. Meski seringkali mereka dikerjai habis-habisan oleh keempat anak superaktif, namun mereka selalu sabar. Maka dari itu mereka dapat bertahan sampai saat ini mengurus dan merawat keempat Winston junior dengan sepenuh hati. Mereka juga rela mengorbankan masa muda mereka, dengan tidak menikah hanya untuk keempat Winston junior.


"Aunty, apakah kalian berdua akan mengikuti kami sampai selesai sekolah?" tanya Edhan.


"Tentu saja, Tuan Muda Kecil."


"Lebih baik kalian ikut pulang. Kami janji tidak akan berbuat masalah," tutur Edward.


"Kami juga ingin seperti itu, tapi Tuan dan Nyonya pasti tidak akan menyetujuinya," ucap Dinar.


"Aku akan membujuk mereka," tukas Edzel penuh semangat.


Dinar dan Candy hanya tersenyum menatap keempat anak itu.


Di mobil lainnya, Arsen dan Amey sedang berbincang mengenai keempat anak mereka.


"Semoga saja mereka tidak menyusahkan di sana," ucap Amey.


"Kau tidak usah khawatir Sayang."


"Bagaimana aku tidak khawatir, sifat mereka berempat sangat mirip denganmu! Satu pun dari mereka tak ada yang mewarisi sifatku, padahal aku ini Ibu kandung mereka!" ketus Amey dengan kesal.


"Hahah! Bukan salahku, Sayang. Aku hanya menjadi pengaduk adonan saja. Sisanya kau yang mengembangkan adonan itu," ledek Arsen.


"Benar-benar tidak adil!"


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.


Follow ig : @syutrikastivani

__ADS_1


__ADS_2