Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Manny Pacquiao VS Chris John


__ADS_3

Tiga puluh menit berlalu. Arsen beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Soffy yang sementara meracik ramuan untuk belutnya. Setibanya ia di dapur ia mendapati Soffy sedang berjoget ria sambil mengaduk cairan yang ada di dalam panci. Tak lupa juga di temani radio kuno kesayangannya.


"Apa sudah selesai?" tanya Arsen tiba-tiba membuat Soffy terkejut.


"Astaga dragon! Kau membuatku kaget!" mengelus dadanya. "Sudah. Tinggal menuangkannya ke dalam botol."


"Bagus."


"Kau terlihat tidak sabar," terkekeh pelan.


Arsen menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Ayo, Nensi jangan membuang waktuku!"


"Baiklah, minum ini," menyodorkan botol berukuran sedang.


Ketika Arsen hendak mengambilnya tiba-tiba Soffy menariknya kembali. "Eits, tunggu dulu."


"Ada apa lagi?"


"Aku meningkatkan dosis ramuan ini. Jadi kau harus meninumnya sampai habis."


Arsen mengangguk dan merampas botol itu dari tangan Soffy. Wajahnya seketika berubah menjadi masam saat mencium aroma yang tidak enak dari dalam botol. "Huek ... huek!"


"Jangan memuntahkannya. Nanti tidak akan manjur," larang Soffy.


Arsen menutup hidungnya dan menenggak ramuan itu tanpa sisa. Setelah selesai meminumnya, ia langsung melempar botol itu ke sembarang arah. Wajahnya begitu kusut, ia menjulurkan lidahnya dan menggeliang karena tak sanggup menahan bau dan rasa pahit dari ramuan itu.


"Nensi! Kenapa ini begitu pahit dan bau? Jangan-jangan kau memberiku sianida?!" Arsen menggeram kesal.


Pletakkk!


Soffy menjentik jarinya tepat di jidat Arsen sehingga membuat ia memkik kesakitan.


"Sambarang s'kali Ngana pe bibir itu eh! Kita kaseh maso akang rica biji baru Ngana tau!" (Sembarang sekali ucapanmu! Nanti aku masukin cabai ke dalam mulutmu, baru tau rasa kau!).


Arsen bermasa bodoh dan berjalan meninggalkan Soffy. Ia memang tidak mengerti dengan bahasa yang Nensi ucapkan. Dengan setengah berlari ia memasuki lift. Tak lama kemudian ramuan itu mulai bereaksi. Arsen mulai merasakan panas yang teramat sangat.


"Gossh! kenapa ini sangat panas. Berbeda dengan waktu itu. Apa ini karena pengaruh dosis yang tinggi? Ahhhhh, aku tak dapat menahannya lagi!"


Masih dalam lift, Arsen merobek kemejanya dengan kasar. Suhu tubuhnya seolah meningkat dengan drastis. Ia berlari menuju kamar dan mencari-cari sosok Amey yang akan menjadi lawan mainnya.


"Memey Sayang! Kau di mana?" panggil Arsen.


"Aku di sini, Suamiku."


Arsen menuju walk in closet. Ia mendapati Amey yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias. "Ehh, ada apa? Di mana bajumu?" tanya Amey kaget melihat Arsen yang sudah bertelanjang dada.


"Memey, aku sangat kepanasan. Ayo mandi bersama!" ajak Arsen.


Tak menunggu jawaban Amey, ia langsung menggendong tubuh Amey dan membawanya ke kamar mandi. Jantung Amey berdetak sangat kencang, ia tahu jika saatnya telah tiba.

__ADS_1


"Sayang, turunkan aku."


"Tidak bisa."


"Kenapa?"


"Tidak ada alasan."


Oh suamiku, bisakah kau menunda ini? Aku bahkan belum siap mati. Hik ... hik ... hik.


Amey mengendus. Ia seperti mencium bau aneh dari badan Arsen. "Sayang, aku seperti mencium sesuatu yang tidak asing dari tubuhmu."


"Ya. Nensi membuatkanku ramuan kejantanan. Dan kau tau Sayang, aromanya sangat bau dan menusuk ke dalam hidungku. Aku hampir memuntahkannya kembali."


"Apa? Kau meminta Nenek membuatkan lagi untukmu?"


"Ya. Kenapa? Bukannya kita akan bermain dua belas ronde? Aku juga harus memberi adik kecilku suplemen agar dia bisa memenangkan pergulatan. Hahah!" Arsen terbahak dengan ucapannya sendiri.


"Ihh, Sayang. Kau curang!" tutur Amey memukul dada liat suaminya.


Arsen tersenyum licik. Ia menurunkan tubuh Amey dan mulai membuka dalaman istrinya sehingga tubuh itu tampak polos. Arsen menelan liurnya, rasa tak sabar ingin menyicip pun mulai membara tak karuan.


"Sayang?" lirih Amey.


"Iya Sayang?"


"Kau serius akan melakukan ... du--dua belas ronde?" Amey memelas.


Arsen pun mulai melucurkan semua pakaiannya sehingga badan sempurna itu terpampang nyata.


"Apa kau hobby menonton tinju?"


"Tergantung."


"Tergantung apanya?"


"Tergantung pemainnya."


"Kau memiliki bias?"


"Tentu saja."


"Siapa?"


"Manny Pacquiao dan Chris John."


Astaga! Pantasan saja dia ngebet dua belas ronde.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

__ADS_1


"Ti--tidak aku hanya penasaran."


Kedua orang itu kini masuk ke dalam bak mandi. Arsen mulai memercikkan air ke tubuhnya agar rasa panas yang hinggap di tubuhnya meredah. Sedangkan Amey menjadi salah tingkah. Apalagi melihat tubuh sempurna suaminya yang berada dekat dengannya.


"Memey Sayang, kau butuh bantuanku?"


"Ya. Bisakah kau menggosok punggungku?"


"Dengan senang hati cantik," tersenyum menggoda.


Arsen menarik tubuh Amey sehingga dada Amey menempel di dada Arsen. Ia mulai menggosok punggung Amey dengan lembut namun penuh nafsu. Apalagi saat belutnya mulai menegang mencari gua huniannya.


Amey menggeliang saat Arsen mulai menggigit lehernya. "Suamiku, aku hanya ... uhhh, me--menyuruhmu, ahhh! menggsok punggungku. Bukan mengggit leherku."


"Ada apa dengan suaramu Sayang? Suaramu itu memancingku untuk melakukan yang lebih," tutur Arsen sembari mengalihkan tangannya dari punggung menuju dua tempurung lunak istrinya.


Sudah ku duga! Mandi bersama akan berujung seperti ini. Batin Amey.


Arsen menyantap dengan rakus ujung tempurung berwarna merah muda itu. Ia bermain di sana cukup lama. Amey hanya bisa pasrah dan menikmati permainan Arsen yang menggiurkan. Erangan kenikmatan Amey lagi-lagi terdengar merdu di telinga Arsen.


"Memey Sayang, apa kau sudah siap menerima tamu vvip?"


Amey mengangguk pelan dengan mata yang terpejam. Wanita itu melingkarkan tangannya di pundak Arsen, sesekali ia menggigit lengan suaminya yang berotot saat belut raksasa berusaha menerobos masuk ke dalam sangkarnya.


"Sa--sayang! Arghhhhh!" desis Amey saat sesuatu yang besar, perkasa dan buas itu menemukan tempat favoritnya.


Deru napas Arsen begitu memburu di gendang telinga Amey. Apalagi saat Arsen mulai melajukan tempo hentakannya. Ia kemudian menarik wajah Amey dan menyantap bibir tipis itu. Sesekali ia memandangi wajah Amey yang tampak menikmati perbuatannya.


Arsen tersenyum kecil, sepertinya ia mendapatkan tenaga yang berkali-kaki lipat saat melihat respon Amey yang seolah-olah menyuruhnya untuk lebih melajukan tempo gerakan itu.


"Sa--sayang, aku mau pipis!" ketus Amey.


"Keluarkan vla pudingmu."


Beberapa saat kemudian, Arsen merasakan ada yang hangat di bawah sana yang telah membanjiri belutnya yang masih menegang. Tak menunggu beberapa lama, Arsen pun melanjutkan aksinya. Jelas saja, karena baru satu ronde. Masih ada sebelas ronde yang menunggu kedua petarung itu.


"Ars, aku ..." lirih Amey.


"Apa kau tidak nyaman? Baiklah ayo kita pindah tempat."


Arsen peka dengan maksud Amey, ia pun menggendong tubuh istrinya itu menuju tempat tidur dan melanjutkan pergulatan mereka di sana. Arsen tampak leluasa melancarkan aksinya ketika di atas ranjang. Dengan buasnya, ia mulai menyatukan kembali belut raksasanya itu dengan terowongan gelap Amey.


Erangan demi erangan keluar dari dalam mulut Amey secara reflek. Sungguh! Arsen memang sangat mahir dalam menyenangkan dan memuaskan wanita. Amey saja sampai berteriak dibuat Arsen karena merasakan nikmat dunia yang tak terbantahkan itu.


"Memey Sayang, bersiaplah! Aku akan mengeluarkan vla pudingku ke dalam guamu. Berdoalah supaya bibit unggulku menetap di dalam sana."


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘

__ADS_1


Follow ig : @stivaniquinzel


__ADS_2