Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Empat Ed Vs Uncles ~ Kejadian di tengah Jalan


__ADS_3

Dua pria dewasa terkapar lemas di atas lantai dipenuhi dengan mainan di sekeliling mereka. Deruh napas kedua pria itu terdengar bergantian layakya orang yang baru selesai bekerja paksa. Siapa lagi kalau bukan Jayden dan Kaisar. Kedua pria itu baru saja selesai menidurkan keempat Ed.


"Untuk yang kesekian kalinya rumahku menjadi berantakan!"


"Ya maklumlah, kau tau sendiri bagaimana kelincahan empat anak gaib itu," sambung Jayden.


"Lagian kenapa juga kau membawa mereka ke rumahku?" tanya Kaisar dengan sorot mata tajam.


Jay terkekeh pelan. Ia menarik napasnya dan membuangnya dengan kasar. "Ya habis mau bagaimana lagi, Edzel si bungsu ingin bertemu denganmu. Aku bawa saja keempatnya langsung biar mereka semua bertemu denganmu, haha!"


"Sialan kau, Jay! Untung saja mereka anak-anak si Arsen, kalau tidak sudahku masukkan mereka ke panti asuhan!" celutuk Kaisar.


"Mau cari mati kamu?! Coba saja kau bawa mereka ke panti asuhan, aku yakin sepuluh ribu persen organ tubuhmu tidak akan utuh lagi dibuat Arsen, hahah!!"


"Jangankan organ tubuh, belum hitung sepuluh badanku sudah terbagi beberapa bagian!" kilah Kaisar membayangkan.


"Tapi entah mengapa walau mereka lincah dan tidak bisa berdiam di tempat, aku sangat kesepian jika mereka akan kembali ke mansion Arsen," ucap Jay sembari mengusap keringat yang bercucuran di dahi dengan tangannya.


"Hmm, aku juga akan sangat merasa kehilangan jika mereka akan pergi," sambung Kaisar.


Setelah beberapa menit bercakap, kedua pria itu tertidur di atas lantai sedangkan di atas ranjang berbaring keempat anak kecil yang memiliki perawakan yang sama.


Sudah hampir seharian Arsen menitipkan keempat Ed pada Jayden dan Kaisar. Anak-anak itupun tampak senang bermain dengan kedua paman mereka. Keempat Ed terkapar di atas ranjang dengan pulas. Mereka sangat lelah karena menghabiskan waktu yang banyak untuk bermain dengan paman mereka.


Wajah imut, polos dan tak berdosa ditunjukkan empat anak itu. Sehingga membuat siapa saja yang melihat mereka ingin sekali mencubit pipi mereka. Namun jangan terlena dengan penampilan mereka saat tidur, itu sangat berbanding jauh saat mereka memakai mode on alias bangun. Kaisar dan Jayden saja tidak dapat mengendalikan mereka berempat.


Hari semakin malam, langit mulai berganti warna menjadi gelap. Tidak terasa sudah hampir dua jam Kaisar dan Jayden berbaring di lantai. Pelayan pun tak tega mengganggu tidur mereka karena ia tahu bagaimana perjuangan kedua pria dewasa itu mengurus anak-anak Arsen.


Satu persatu dari keempat Ed mulai terbangun. Edzel yang pertama membuka matanya kemudian disusul oleh Edward dan Edhan.


"Aku ingin pipis," ucap si kecil Edzel.


"Aku juga," sambung Edhan.


"Edward, apa kau juga?" tanya Edzel.


"Tidak. Aku mau menunggu Edgar bangun," tutur Edward.


Edzel dan Edhan menuju toilet untuk membuag cairan yang sedari tadi mereka tampung. Ketika hendak turun ranjang, Edzel tidak sengaja menginjak sesuatu di bawah sana.


"Awhhhh!" pekik Kaisar. Mimiknya tampak kesakitan.


"Uncle? Apa yang kau lakukan di situ?" tanya Edzel.


"K--kau telah menginjaknya!" celutuk Kaisar dengan nada kecil dan tampak sedang menahan kesakitan. Wajah Kaisar langsung memerah. Urat-uratnya pun bermunculan di wajah dan lehernya.


"Edzel tersadar dengan apa yang baru saja ia injak. "I am sorry Uncle! Aku tidak tau kalau kau bersantai di bawah sana."


Edhan yang menyaksikan kejadian itu langsung menutup matanya dengan tangan dan mengekspresikan bagaimana wajah Kaisar. "Ouhh itu sangat sakit!" lirih Edhan.


"Edzel, kau telah menginjak Anaconda, Uncle! Bagaimana kalau dia meninggal dan tak bisa bertarung lagi?" ucap Kaisar dengan jeritan kecil.


"Aku pernah mendengar kata Anaconda. Kalau tidak salah di film kartun! Apakah Uncle memelihara ular?" tanya Edzel dengan polos.


Kaisar semakin bingung menjelaskannya dengan cara apa. "Tidak. Memangnya kau mau ke mana?" tanya Kaisar.


"Aku mau pipis, Uncle! Tapi sepertinya aku sudah tidak bisa menahannya!" ucap Edzel sembari menjepit kedua pahanya.

__ADS_1


Ketika Edzel hendak menuju ke toilet, tiba-tiba kepala Jayden menghalangi langkahnya. Edzel memang sudah tidak bisa menahan rasa ingin buang air kecilnya. Kaisar telah memperhatikan wajah Edzel yang sudah tidak bisa menahan kebeletnya.


"Aku memiliki firasat buruk!" gumam Kaisar.


Dan akhirnya Edzel tidak sengaja menumpahkan cairan hangat tepat di wajah tampan Jayden.


"Wahh hangatnya!" celutuk Jayden sembari tersenyum lebar. Sepertinya Jay sedang bermimpi makanya ia tidak sadar jika cairan itu adalah pipis Edzel.


Kaisar, Edhan dan Edward menganga lebar saat menyaksikan kelakuan Edzel.


"O..ow!" tukas Edward dari atas ranjang.


"Edzel apa yang kau lakukan? Kau mengencingi wajah Uncle!" ucap Edhan dengan mata melebar.


Jayden mulai sadar. "Sepertinya aku berada di sauna!" lirih Jayden sembari mengucek matanya.


"Sauna, matamu!!" tukas Kaisar.


Saat mata Jayden mulai terbuka, ia menyadari jika ada yang salah dengan cairan itu. Ia mengusap cairan hangat itu dengan tangannya kemudian menatap wajah Edzel dengan seksama. Ia memperhatikan gaya Edzel. Seketika ia sadar jika kepalanya berada di sela-sela kaki Edzel. Mata Jayden melebar. "Ja--jangan bilang ... " menjeda ucapannya.


"Maafkan aku Uncle, aku tidak sengaja. Habisnya kau menghalangi langkahku. Aku sudah kebelet pipis dari tadi! Lagian kenapa juga Uncle rebahan di situ!" celetuk Edzel yang tak mau kalah debat dengan pamannya.


Jayden langsung mengangkat tubuhnya dan berlari ke kamar mandi untuk membasuh diri. "Arghhh!" teriak Jayden kesal.


"Hahahah! Rasain kau, Jay!" ledek Kaisar.


"Uncle, aku juga sudah tak tahan ingin pipis," ucap Edhan menahan pipisnya.


Kaisar terbelalak. Ia langsung bangkit berdiri untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. "Kalau begitu cepatlah menuju toilet. Jangan sampai kau membuat wajahku yang tampan ini menjadi lubang toilet!"


"Uncle, apa kau akan membiarkanku basah seperti ini?" ucap Edzel.


"Baiklah, ayo berganti pakaian. Kita lihat apa kau memiliki pakaian ganti di ranselmu atau tidak."


"Aunty Dinar memasukkannya tadi."


"Baiklah."


Sementara kekacauan telah usai, Edgar tampak baru bangun dari tidurnya. Ya jelas saja karena dari keempat anak itu, Edgarlah yang paling suka rebahan. Sejak masih bayi saja ia sering sekali ketiduran walau di tengah keributan.


"Edward, apa yang aku lewatkan?" tanya Edgar sembari mengucek matanya.


"Banyak."


"Apakah itu seru?" tanya Edgar lagi.


"Seru tapi menjijikkan. Edzel tidak sengaja menumpahkan kencingnya di wajah Uncle Jayden." jelas Edward.


"Ternyata sangat seru ya. Kenapa aku melewatkannya? Lain kali kau bangunkan aku jika ada kejadian seru lainnya."


"Baiklah."


***


"Ada apa?" tanya Amey kepada Pak Sopir saat kendaraannya berhenti.


"Nyonya, sepertinya di depan terjadi kecelakaan."

__ADS_1


"Benarkah? Ayo kita bantu!" ucap Amey.


"Jangan Nyonya. Biar saya saja. Kita tidak tau dengan pasti apakah itu kecelakaan atau hanya modus kejahatan saja."


Amey dengan panik mengiyakan ucapan pengawal itu. Beberapa pengawal juga di mobil belakang ikut turun dan siaga di posisi masing-masing.


Suasana sangat menegangkan. Jalan pun sangat sepi. Hanya terdengar suara mobil dan suara jangkrik yang menggema. Mereka berhenti di tengah hutan. Hanya ada pohon-pohon raksasa di pinggir jalan yang berjejer.


Tok ... tok ... tok


Amey terperanjat saat mendengar ketukan dipintu kaca mobil. "Siapa itu?" tanya Amey.


Amey membuka kacanya dan melihat jika tidak ada siapa-siapa di sana. Pantulan cahaya mobil dari belakang pun menyoroti mobil yang Amey tumpangi.


"Siapa tadi?" gumamnya.


Saat Amey hendak mengunci kembali kacanya tiba-tiba ..


Dorrr!


"Suara apa itu?" Amey kembali bertanya. Ia menatap layar ponselnya dan mencoba menghubungi Arsen. Namun karena jaringan yang tidak stabil mengakibatkan panggilan tidak dapat tersambung.


Suara yang sangat keras itu persis seperti suara tembakan. Karena suara riuh itu mengakibatkan pengawalnya memperketat pengamanan. Keempat pengawal masing-masing berdiri di setiap sudut mobil yang Amey tumpangi. Dan sisanya pergi mengecek situasi.


Jantung Amey semakin berdebar tak karuan. Ia sangat takut jika seseorang terluka. Traumanya saja belum hilang saat peristiwa penculikan Zoey waktu lalu. Keringat dingin mulai bercucuran di belakang punggung Amey.


"Nyonya Muda, apa kau baik-baik saja?" tanya seorang pengawal yang berdiri di samping pintu.


Amey terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan dari pengawal itu.


Tiba-tiba ponsel Amey berdering. Ia menatap layar ponselnya. "Arsen," lirihnya gemetar. "Sayang, kau di mana?" tanya Amey dengan panik.


Suara di balik telepon itu terdengar tidak jelas dan acak-acakkan. Amey semakin panik.


"Memey, halo ... "


"Sayang, kurasa di sini ada sedikit masalah," ucap Amey dengan napas terbata-bata.


"Ha--lo, Memey? Haloo?"


Tut ... tut ... tut


Sambungan telepon pun putus. Amey mencoba mencari jaringan namun sama sekali tak ia dapat.


Dorrrr!!


Dorrr!!


To be continued ...


.


.


.


Follow ig : @syutrikastivani

__ADS_1


__ADS_2