
Seperti biasanya, keluarga Winston menjalankan rutinitas mereka sehari-hari. Tidak ada yang beda dengan hari-hari sebelumnya. Hanya saja, Arsen yang harus mandiri untuk sementara waktu karena Asisten Pribadinya sedang cuti. Pagi itu Arsen harus menyetir mobil sendiri menuju ke kantor tanpa ada Mark yang menemaninya. Biasanya kalau tidak bersama Mark, Arsen ke kantor bersama dengan Amey. Namun karena Amey sedang sibuk mengurusi empat anak kembarnya, maka ia harus berangkat ke kantor sendirian.
Semua penghuni mansion, sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan tidak ada yang terkecuali. Dinar, Candy dan Amey sibuk menangani keempat Ed, para pelayan sibuk menyiapkan kebutuhan keluarga Winston sesuai dengan bidang masing-masing, Zoey yang bersiap-siap berangkat ke butiknya dan Soffy yang tampak menyibukkan diri di dapur, membantu para koki untuk menyiapkan sarapan.
“Mommy, aku ingin pindah sekolah!” ucap Edzel tiba-tiba.
“Kenapa? Apa yang membuatmu ingin pindah sekolah?” tanya Amey.
“Antarkan saja aku ke kantor Uncle Kaisar. Ada yang ingin kukatakan padanya,” pinta Ed, memelas.
Amey mengerutkan dahinya. “Sayang, apa ada yang mengganggumu di sekolah?”
Edzel menggeleng kepalanya.
“Lalu kenapa ingin pindah?”
“Mommy, Edzel sudah memiliki pacar. Namanya Zeyra,” ketus Edgar.
Amey hanya terperangah. Ia terdiam sejenak dan menatap keempat anak kembar itu dengan tatapan heran. Ia kemudian terkekeh. “Hahah, sejak kapan Edzel berpacaran?”
Edward, Edhan dan Edgar mengangkat bahu mereka. Sedangkan Edzel hanya menundukkan kepala dan menatap lantai dengan tatapan kosong.
“Jadi, alasanmu untuk pindah sekolah karena gadis Bernama Zeyra?”
Edzel mengangguk. “Aku tidak berpacaran dengannya, Mommy, tapi aku ingin berteman dengannya. Dia baik dan cantik, berbeda dengan anak-anak perempuan di sekolahku. Sudah jelek, cengeng lagi!” ketus Edzel.
“Sayang, Mommy tidak bisa memindahkanmu di sekolah lain. Begini saja, ajak temanmu Zeyra untuk bersekolah di sekolahmu.”
“Tapi …” lirih Edzel.
“Tapi kenapa?” tanya Amey.
“Zeyra berbeda dengan kita. Kelihatannya dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dia hanya memiliki seorang ayah, dan ayahnya itu bekerja sebagai satpam di kantornya Uncle Kaisar.”
“Oh begitu ya? Nanti Mommy akan bicara sama ayahnya Zeyra supaya dia boleh bersekolah bersama denganmu.”
“Kau jangan galau Edzel. Serahkan semuanya pada Mommy,” ucap Edgar.
“Cinta bisa membutakanmu, bahkan kau akan menjadi bodoh karena cinta. Aku membacanya di buku,” tutur Edward.
“Aku tau, Edward. Makanya aku terlihat bodoh. Tapi tenang saja, aku hanya ingin berteman dengannya. Jika aku sudah besar nanti aku akan menikahinya,” jawab Edzel.
“Aku juga menyukai seseorang,” sambung Edhan.
“Siapa, Edhan? Apa kami mengenalinya?” tanya Edgar.
“Tidak. Hanya aku dan Uncle Jayden yang mengenalnya.”
“Wow, Uncle Jayden dan Uncle Kaisar hebat. Apa hanya aku saja yang tidak memiliki seseorang yang aku sukai?” gumam Edgar. “Aku harus menemui Uncle Mark untuk menanyakan jodohku!” ucap Edgar lagi.
Semua pasang mata tiba-tiba menjeling ke arah Edward, si sulung. Mereka menatap Edward lekat. Merasa risih dengan tatapan itu Edward melangkah mundur ke belakang.
“Bagaimana denganmu, Edward? Apa Daddy memberikanmu wanita?” tanya Edzel dengan polos.
“Bodoh! Aku tidak tertarik sama sekali dengan perempuan. Mereka hanya akan menjadi hambatan bagiku. Mereka hidup seperti parasit dan melekat seperti kuman!”
Deg!
Amey terperanjat mendengar ucapan Edward. Ia tidak menyangka jika jawaban yang akan Edward berikan begitu tajam bagai silet. Yayaya! Sifatnya mirip Arsen. Memiliki mulut yang tajam, hati yang beku, perilaku yang cuek namun menyimpan kehangatan dan kepedulian yang besar di lubuk hatinya yang terdalam. Aku jadi ingat kesan pertamaku bertemu dengan Arsen. Batin Amey.
“Aku setuju denganmu, Edward,” tutur Edgar.
Mendengar percakapan singkat keempat anak kembarnya, membuat hati Amey tergelitik. Ia kagum dengan pemikiran anak-anaknya itu. Masih usia dini saja mereka sudah memikirkan perkara orang dewasa. Tapi itulah kelebihan keempat Ed. Meski meresahkan karena kenakalan mereka, namun mereka memiliki otak yang jenius dan tak dapat ditebak.
__ADS_1
“Anak-anak, kalian sudah terlambat. Ini sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Sudah satu jam keterlambatan kalian. Kalian akan di hukum oleh kepala sekolah. Jadi pakai ransel kalian masing-masing dan beregas menuju ke mobil.”
“Yes, Mommy!” ucap keempatnya serentak.
“Mommy? Kepala sekolah tidak bisa menghukum kami,” lirih Edzel.
“Why?” (kenapa).
“I don’t know.” (aku tidak tau).
“Kalian harus diperlakukan sama dengan teman-teman sebaya kalian. Ingat! Kalian pergi ke sekolah untuk didik. Karakter kalian akan dibentuk di sana. Jadi, jangan macam-macam, jangan membuat sesuatu yang merugikan orang lain dan jangan nakal! Dengar-dengaranlah kepada guru-guru kalian. Mengerti?”
“Yes, Mommy!”
“Good!”
Keempat Ed kemudian melaksanakan perintah Amey. Setelah habis sarapan mereka langsung memakai ransel masing-masing dan menuju ke dalam mobil. Meski mereka terlambat, tidak ada yang berani menghukum mereka. Jelas saja karena mereka merupakan anak-anak dari pemilik sekolah. Arsen dan Amey menyuruh para guru untuk berlaku adil terhadap semua siswa-siswi. Namun tetap saja, tidak ada yang berani menyentuh mereka.
***
Tok ... tok ... tok
Ketukan pintu terdengar dari luar ruangan direktur WS Group.
"Masuk."
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pria itu pada Arsen yang sedang duduk memutar pena berwarna hitam sedari tadi.
"Jangan mentang-mentang kau sudah menikah, kau dengan seenaknya acuh tak acuh pada pekerjaan? Kau mau dipecat?" bentak Arsen.
"Maaf, Tuan," tutur pria itu yang adalah Mark.
Arsen bangkit dari duduknya. Ia menatap Mark dengan seksama dari ujung kaki sampai ujung kepala Mark.
"Diam kau, Mark! Aku tak dapat berkonsentrasi!" celutuk Arsen.
"Aku tidak bersuara, Tuan," bantah Mark yang memang sedari tadi mengatup rapat bibirnya.
"Kau pikir aku bodoh?! Kau pasti sedang mengumpat dalam hatimu!"
Kekuatan supranaturalnya kembali! Batin Mark.
Arsen mengelilingi tubuh Mark sembari menatap lekat tubuh atletis itu. Dari tadi malam Arsen tak dapat beristirahat dengan tenang karena ia masih penasaran akan sesuatu.
"Jujur padaku, pasti kau menyuntiknya 'kan?!" tanya Arsen tiba-tiba.
Mark mengerutkan kening. "Apa yang disuntik Tuan?"
"Jangan sok polos kau!" menatap ******** Mark.
Mark yang masih tak paham kembali melontarkan pertanyaan. "Apa ada yang salah, Tuan?"
"Ya! Apa kau baru menyadarinya?"
Saat manik Arsen kembali menatap benda tumpul itu, ia mulai mengukur sesuatu di bawah sana dengan tangannya, menyesuaikan panjang kali lebar benda itu dari kejauhan.
Seketika Mark langsung paham dengan maksud Tuan Mudanya. "Goshhh!" dengan cepat menutup benda yang menonjol di balik celana itu dengan kedua tangannya. "A--apa yang Tuan lakukan?"
"Mengukur batangmu!" jawab Arsen, lantang.
Deg!
"Jangan bergerak!"
__ADS_1
Mark kembali mematung sembari menutup matanya rapat. "Tu-tuan tidak akan macam-macam dengan benda itu, bukan?" lirihnya terbata.
"Kau pikir aku bencong! hah?! Aku hanya penasaran saja! Kenapa si Garfield sampai pingsan saat melihat batangmu! Memangnya apa yang istimewa dari punyamu?! Memeyku saja tidak pingsan saat melihat batangku saat pertama kali!"
Mark terdiam. Ia tidak tahu apa yang salah dari kepunyaannya sampai-sampai Arsen marah besar terhadapnya. "Aku tidak tau, Tuan. Mungkin saja Sekretaris Jen baru pertama kali melihat benda lonjong seperti itu," jelas Mark.
"Dasar sinting kau! Jadi maksudmu, Memeyku tidak pingsan karena dia sudah banyak kali melihat batang lunak?! Begitu maksudmu?!" Arsen semakin jengkel. Ia geram terhadap ucapan Mark.
"Bukan begitu, Tuan." Mark menggaruk kepalanya. Tuan, kali ini kau benar-benar sudah tidak waras.
Tok ... tok ... tok
Suara ketukan itu tak dipedulikan Arsen. Ia sedikit membungkuk dan kembali mengukur kepunyaan Mark. Kali ini posisi Arsen dan Mark sangat dekat.
Tiba-tiba ...
Ceklekkk! Pintu terbuka dengan segera.
"Ahhhhhhhhh!!!" teriak Arsen dan Mark secara bersamaan.
Pintu itu mendorong tubuh Mark dan membuat ia yang berdiri di belakang pintu terdorong ke depan Arsen sehingga tidak sengaja tangan Arsen menyentuh benda lunak itu. Bukan hanya tangannya saja melainkan wajah edisi terbatas milik Arsen sempat menyentuh kepunyaan Mark.
"Ahhhhhhhh!!" teriak seseorang dari balik pintu yang tak lain adalah Jayden. Jay berteriak karena kaget. Tak sengaja ia melihat pemandangan mengerikan tepat di depan matanya. "Apa yang kalian berdua lakukan?!" tanyanya bingung.
Arsen mengepal kedua tangannya. Wajahnya memerah. Urat-urat kecil mulai timbul di lehernya. "Sialan kau, Jay!!"
Bukkkkkk!
"Arghhh!" pekik Jay.
Pukulan maut mendarat tepat di hidung Jayden. Pukulan keras Arsen membuat hidung Mark berdarah. Bahkan tulang hidungnya tampak retak.
"Rasakan itu, b*jingan!!" celutuk Arsen.
"Ars! Apa salahku?" tanya Jay sambil memegang batang hidungnya.
"Salahmu karena kau berada di sini!"
"Aku terkejut melihat kau dan Mark! Apa yang kalian lakukan?"
"Tuan Jayden, kau jangan salah paham. Aku dan Tuan Muda tidak berbuat aneh-aneh, hanya saja ... " menjeda ucapannya.
"Lupakan!" kilah Arsen.
"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak sengaja."
Arsen terdiam dengan napas memburu. Ia menatap Jayden yang tampak kesakitan. Duduklah Jay, aku akan mengobatimu.'
Jayden menurut.
"Mark, kau tak bersalah. Tak seharusnya aku membandingkan punyamu dan punyaku!"
Jayden yang mendengar ucapan Arsen, seketika diam. Ia mencerna kembali ucapan Arsen.
"Membandingkan punyamu dan punya Mark?! Kekonyolan macam apa ini?" tanya Jayden terheran-heran.
To be continued ...
.
.
.
__ADS_1
Follow ig: @syutrikastivani