
Melihat Olin yang mencurigakan membuat Sinta penasaran dan mengikutinya dari belakang. Sinta memang sudah curiga pada Olin sejak beberapa hari yang lalu. Sinta bertekad untuk membongkar kedok Olin. Apalagi Mark meminta bantuannya untuk menyelidiki semua pelayan yang bekerja di rumah itu.
Betapa terkejutnya Sinta saat mendengarkan semua ucapan Olin dengan Nyonya misterius di telepon. Sinta berjalan mendekat. "Ternyata kau orangnya!"
Deg!
"Kaulah pelayan wanita yang dilihat Tuan Mark, di taman belakang! Aku juga melihatmu di sana, tapi aku tidak memiliki bukti!"
Wanita yang menelpon itu menjadi tegang dan kaku. Ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya lagi karena ia memang sudah ketahuan. Ia mematung di sana sembari membesarkan matanya.
"Kau, pengkhianat, Olin!" tutur Sinta dengan lantang.
Olin terperangah bukan kepalang. Ia sangat gugup ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Sinta berhasil membuat Olin tak berkutik sedikit pun. Karena melihat Olin yang mengang kaku, Sinta pun berjalan menghampiri Olin tepat di hadapannya.
"Ada apa dengan wajahmu itu, Olin?" ejek Sinta menyunggingkan bibir.
"S--Sin...ta!" lirih Olin dengan bibir gemetar.
"Iya! Aku Sinta! Lebih baik kau mengaku atas perbuatanmu pada Tuan Mark, sebelum Tuan Muda Arsen mengetahui pebuatanmu. Tapi aku rasa sama saja sih, Tuan Mark maupun Tuan Arsen, pasti akan menghukummu dengan seberat-beratnya!"
Peluh Olin menyucur di dahinya. Tangan dan kakinya mulai gemetar saat mendengar ucapan Sinta. Apalagj saat Sinta menyuruhnya mengakui perbuatannya pada Mark dan Arsen.
"S--Sinta, kau tidak memiliki bukti! Tuan Mark dan Tuan Arsen tidak akan mempercayaimu, karena di mata mereka, kaulah dalangnya!" bantah Olin.
"Apa bukti ini kurang cukup?" menunjukkan ponsel di tangannya.
"Kau merekamku? Kau memang bodoh Sinta! Rekaman audio saja bisa dipalsukan. Aku bisa menentangnya dan mengatakan kalau itu hanya jebakanmu untuk menjatuhkanku!"
"Cukup Olin! Aku sudah mendengar semuanya. Kau memang keterlaluan. Kali ini bukan aku yang akan menghukummu, tapi Tuan Mark!" tukas Elis tiba-tiba.
Olin terkejut saat mendengar suara Elis. Ia tidak bisa mengelak lagi karena secara terang-terangan Elis dan Sinta telah memergokinya. Mana mungkin Olin membantah pada Elis. Sekuat apapun usaha Olin, itu semua hanyalah sia-sia. Elis orang kepercayaan keluarga Winston, pasti ucapannya akan dipercayai.
***
Brukkkk!
Arsen membuat kehebohan lagi selesai mengadakan rapat. Setelah Mark menceritakan semua yang terjadi di Mansion saat Arsen dan Amey berpergian, kini pria itu mengamuk. Ia melemparkan seluruh benda yang ada di atas meja, sehingga berserakan di lantai.
"Kau sudah menemukan siapa orang itu?" tanya Arsen dengan napas memburu.
"Sudah Tuan."
"Kita pulang sekarang! Aku yang akan menghukumnya."
__ADS_1
"Baik Tuan."
Kedua orang itu pergi meninggalkan gedung WS Group. Mark melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata namun masih dapat di kontrol. Mark menatap wajah Arsen dari spion depan. Wajah itu sangat beringas dan mengerikan.
Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di mansion. Tidak menunggu Mark lagi untuk membukakannya pintu, Arsen langsung turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam. Langkahnya begitu cepat, sehingga Mark harus setengah berlari, menyesuaikan langkahnya dengan langkah kaki Arsen.
Arsen menatap Mark dan memberinya kode. Segera Mark menuju dinding sebelah utara dan menekan tombol berwarna merah. Suara alarm itu berbunyi dengan nyaring. Pertanda keadaan darurat telah terjadi di mansion.
Mendengar kode merah itu, membuat semua penghuni rumah itu berkumpul di ruangan tamu. Amey, Soffy dan Zoey pun langsung ke luar dari kamar mereka masing-masing. Mereka saling menatap dengan raut bingung.
"Apa yang terjadi?" tanya Amey pada Zoey saat menuruni lift.
"Tidak tau juga kakak ipar. Tapi yang pasti keadaan buruk sedang terjadi," jelas Zoey tak kalah panik dengan Amey.
Semua orang sudah berkumpul. Amey melihat Arsen dan Mark yang telah kembali dari kantor. Wajah kedua orang itu terlihat berbeda, mereka seperti berancang-ancang untuk menerkam seseorang yang akan menjadi mangsa mereka.
Mark menatap keseluruhan pelayan itu yang telah berbaris. Ia mencari sosok Sinta dan Olin tapi tidak menemukannya. Matanya menjeling ke arah pintu dapur dan mendapati Sinta sedang menyeret Olin menuju ruang tamu.
"Siapa? Siapa di antara kalian yang berani berkhianat padaku, hah!" teriak Arsen penuh amarah.
Semua pelayan itu menjadi ketakutan. Mereka semua menunduk dan tidak berani menatap wajah murka Arsen. Sinta dan Olin mendekat, Mark memberi kode kepada Sinta, untuk membiarkan Olin yang mengakuinya sendiri.
Dan benar saja, tidak membutuhkan waktu yang lama, Olin langsung tersungkur dan berlutut di hadapan Arsen. Semua orang di situ kaget, kecuali Mark, Elis dan Sinta. Arsen menatap Olin dengan tatapan membunuh. Sedangkan Amey masih bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi. Ia tidak berani bertanya karena situasi itu sangat mencekam.
"Kau rupanya!"
"Apa kau yang mengekspos kematian Arka?" tanya Arsen.
Olin terdiam. Ia sangat gugup dan ketakutan. Suara Arsen memang sungguh mengerikan di saat marah. Olin menundukkan kepala dan tidak berani menatap wajah buas Arsen.
"JAWAB!" teriak Arsen, nyaring.
Olin melonjak hebat. "I--iya Tuan."
Mendengar jawaban Olin, membuat darah Arsen semakin mendidih. Ia mengeratkan rahangnya sembari mengepalkan tangan dengan kuat.
"Apa kau memiliki hubungan dengan anak magang yang bekerja di kantor Kaisar?"
"I--iya Tuan. Dia pacar saya."
"Sudah kuduga! pria bertopi hitam itu adalah pacar wanita ini dan dia juga adalah anak magang yang menyebarkan berita kematian Tuan Arka," gumam Mark.
"Be--benar Tuan." Olin mulai menitikkan air mata.
__ADS_1
"Keparat kau!" teriak Arsen hendak melemparkan pukulannya pada Olin namun di tahan oleh Mark. "Mark! Lepaskan tanganmu, atau kau yang akan terkubur lebih dulu dari wanita ini!"
"Tuan, tenang! Kita harus menemukan siapa dalang dari semua ini. Pukulan Tuan mematikan. Aku yakin wanita ini tidak akan selamat setelah menerima satu pukulanmu. Untuk itu kita harus menggali lebih dalam lagi siapa yang menyuruh dia melakukan ini! Aku rasa ada seseorang yang mempunyai kuasa yang mengendalikan orang-orang seperti mereka."
Arsen membuang napasnya kasar. Kali ini ia jinak karena ucapan Mark. Arsen menatap Olin kembali dengan tatapan tajam. Ingin sekali tangannya melayang dan mendarat di tubuh wanita itu. Namun karena mempertimbangkan ucapan Mark, ia pun harus menahan pukulannya yang sebenarnya sudah tak tertahankan lagi.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Mark, mengambil alih.
Olin terdiam. Ia ragu untuk mengatakannya. Pasalnya ia sudah berjanji untuk tidak membawa Nyonya misterius itu ke dalam masalah ini kalau sudah terbongkar kedok Olin.
"Sa--saya ... saya tidak bisa mengatakannya, Tuan."
Brukkkkk!
"Ahhh!" Olin menjerit dan menutup telinganya dengan kedua tangannya.
Semua melonjak hebat. Arsen melempar vas bunga tepat di samping Olin. Ia telah mengukur jarak lemparannya itu dengan wajah Olin. Ia hanya menggertak Olin agar wanita itu mengatakannya. Jika tidak, pastilah ia akan menjadi mayat di disitu.
"Kau masih tidak ingin mengatakannya?" Tanya Mark lagi.
Melihat tidak ada respon dari Olin membuat Mark terpaksa menunjukkan sebuah foto pria yang disekap di sebuah ruangan. Ia melemparkannya di wajah Olin dengan kasar.
Olin lagi-lagi syok, jantungnya semakin berdegup kencang, apalagi melihat foto pacarnya yang telah babak belur dan dililit dengan tali di tangan dan kakinya.
"Masih tidak mau menjawab? Kalau begitu kesempatan hidup pacarmu sudah habis!" ketus Mark.
"Nyonya Lauren!" Tukas Olin memejamkan matanya.
"Nyonya Lauren dari Alganda Group?" ulang Mark.
Olin mengangguk cepat.
Tunggu! Bukankah Nyonya Lauren yang berdebat denganku di Hotel waktu itu? ucap Amey dalam hati.
"Lauren Anjaya?" ketus Soffy terkejut.
Semua mata tertuju pada Soffy. Amey, Arsen dan Mark menatap Soffy dengan dahi yang berkerut.
"Nenek, kenal Nyonya Lauren?" tanya Amey penasaran.
Astaga dragon! Ternyata si perempuan licik itu dalangnya. Apa dia sudah tahu bahwa Amey masih hidup? Atau jangan-jangan dia mau mencelakai Ameyku! Tidak akan kubiarkan!
To be continued ...
__ADS_1
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘
(follow ig : @stivaniquinzel)