
"Edward, tempat apa ini?" tanya Edzel.
"Tidak tau."
"Ayo kita masuk."
Karena penasaran, kedua anak itu pun masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi barang elektronik. Ruangan itu merupakan tempat presenter menyiarkan berita. Terlihat dua orang presenter sedang melakukan persiapan untuk siaran langsung.
Perlahan Edward dan Edzel mengendap masuk ke dalam studio. Saking kecilnya kedua anak itu, sampai-sampai tak ada satu pun orang yang menyadari kehadiran sosok gaib itu.
"Edzel, sebaiknya kita keluar! Di sini banyak sekali kabel!" bisik Edward
"Sebentar Ed, aku penasaran dengan benda-benda aneh ini!" memegang sebuah tiang panjang yang ujungya memiliki cahaya. Benda itu digunakan sebagai pencahayaan saat melakukan penyiaran berita.
Para crew telah berdiri di posisi mereka masing-masing.
"Studio standby ... Crew, Standby …!" ucap seorang pria memberi aba-aba. Ia melihat jika semua telah siap, dan barulah ia memberi aba-aba selanjutnya. "Standby … 5…4…3…2…1…action !!!”
Penyiaran pun berlangsung. Dua orang penyiar berita sementara membacakan naskah lewat teleprompter yang terletak di depan mereka. Tiba-tiba ...
Brukkkk!
Prangggg!
Bunyi suara yang sangat keras itu membuat semua crew yang ada di studio melonjak. Bukan hanya para crew saja yang terkejut, dua orang penyiar berita pun terkejut bukan main. Pasalnya benda yang jatuh dengan keras itu berada di balik layar lebar di belakang mereka. Presenter itu pun terhenti membaca naskah, pandangan mereka langsung beralih menatap ke sumber suara yang berbunyi sangat keras.
"CUT!!!" teriak pria tadi, memberi perintah. Ia merupakan floor director yang memberikan komando dan bertanggung jawab dalam sebuah acara televisi.
"Edzel! Apa yang kau lakukan?" bisik Edward, kakaknya.
"Aku hanya menyentuhnya saja, Edward! Benda ini yang seenaknya jatuh sendiri!"
"Hey! Siapa kalian!" teriak pria berjenggot tebal yang tak lain adalah produser.
Deg!
Kedua anak itu terperanjat dengan mata dan mulut yang terbuka lebar.
Pria berjenggot tebal itu menarik lengan Edward dan Edzel. Ekspresinya sangat mengerikan. "Dari mana asal kalian?! Kalian tau apa yang baru saja kalian lakukan, hah?!" bentak pria itu.
"Oh My God! Uncle, Santa Claus! Jenggotnya panjang." gumam Edzel.
"Orangtua macam apa yang membiarkan anaknya berkeliaran di tempat seperti ini?! ucap pria itu, geram. " Agus!" panggilnya.
"Iya Pak?"
"Panggil satpam dan usir anak-anak nakal ini!"
"Baik Pak!"
Pria yang bernama Agus, memanggil seorang petugas keamanan lewat benda segi empat yang telah menempel di telinganya.
"Siapa yang membawa kalian di sini?" tanya produser berjenggot tebal itu.
"Uncle Kaisar!" jawab Edward, datar.
"Siapa dia?!" Produser menatap bawahannya yang berada di studio itu. Seketika pria paruh baya itu menyadari jika di stasion penyiaran berita hanya ada satu orang yang bernama Kaisar dan merupakan orang nomor satu di tempat itu alias pemilik gedung pencakar langit tempat mereka bekerja. Ia pun kaget minta ampun. "Maksud kalian, Pak Kaisar Stoner?!" tanyanya memastikan.
"Tidak tau," ucap Edzel.
Produser itu meraih ponselnya dari dalam saku celana dan menunjukkan foto Kaisar. "Apa ini orangnya?"
Kedua kembar itu mengangguk dengan cepat.
Semua yang ada di studio terkejut. Pikiran mereka mulai berkeliaran. Mereka menyangka jika kedua anak itu adalah anak dari bos besar mereka. Yang membuat mereka lebih yakin kalau Edward dan Edzel anak Kaisar, karena wajah mereka yang blasteran.
"Siapa yang membuat kerusuhan di sini?" tanya seorang pria berbadan kekar yang mengenakan pakaian berwarna hitam. Ia adalah seorang petugas keamanan yang dihubungi Agus.
"Tunggu!" ucap produser.
"Ada apa Pak Produser?" tanya satpam.
"Ada yang ingin aku pastikan." Produser itu menatap si kembar dengan seksama. "Apa hubungan kalian dengan Pak Kaisar?"
"Tidak tau!" ucap kedua anak itu serentak.
"Ehh?!" bingung. "Kenapa tidak tau?"
"Daddy hanya menitipkan kami pada Uncle Mark. Dua saudara kembar kami di bawa sama Uncle Mark dan Uncle Jayden," jelas Edward.
Produser itu semakin bingung. "Maksudnya ... kalian ada empat bersaudara dengan wajah serupa?"
Kedua anak itu mengangguk.
Jangan-jangan, mereka adalah anak dari ... Batin Produser.
"Apakah kami boleh pergi?" tanya Edzel.
"Boleh. Tapi setelah menjawab pertanyaan yang satu ini."
"Okey!"
"Apa kalian anak dari Tuan Arsen Winston?"
"Wahhh! Kau mengenal Daddy kami?" ketus Edzel.
Ternyata benar. Hufthhh! Hampir saja aku menghukum mereka. Bisa rip karierku!
"Edzel telah menjawab pertanyaanmu. Jadi tepati janjimu untuk mengijinkan kami pergi!" tutur Edward.
"Ohya, silahkan. Mari saya antar," tuturnya dengan sopan.
"Tidak usah. Kami sudah tau pintu keluarnya."
"Ehm, ba--baiklah kalau begitu. Tapi ... "
"Ada apa Uncle Santa Claus?" tanya Edzel.
"Kenapa kalian bisa berkeliaran seperti ini?"
"Uncle Kaisar lagi rapat. Aku dan kembaranku bosan berada di ruanganya. Jadi kami berkeliling deh."
"Kalau begitu kalian kembalilah ke ruangan Pak Kaisar. Kemungkinan beliau sudah selesai rapat."
"Baik Uncle Santa Claus."
__ADS_1
Edward dan Edzel berjalan meninggalkan studio itu dengan berpegangan tangan. Melihat itu, produser berjenggot tebal pun menghembuskan napasnya dengan lega. "Hampir saja bermasalah dengan atasan. Tapi suatu kehormatan juga bisa bertemu langsung dengan anak kembar legendaris itu. Sayangnya dua doang yang muncul. Kalau keempat-empatnya yang datang, sudah ku ajak foto bareng. Haha!"
gelak tawanya tiba-tiba terhenti. Ia kembali teringat akan penyiaran berita yang batal akibat ulah kedua anak itu. "Astagaaaa! Aku lupa! Bisa anjlok rating acara tv ini jika aku memolorkan jam tayang tanpa memberi info kepada penonton!" Produser itu segera kembali dan melanjutkan siaran langsung.
Sementara di tempat lain, Alexa terlihat panik. Dia sudah mengecek cctv yang ada namun entah mengapa sosok kedua anak itu tak terlihat oleh kamera. Ia pun mencoba bertanya kepada teman-teman kantornya namun tak ada yang melihat.
"Di mana lagi aku harus mencari anak-anak itu? Tidak mungkin aku memberitahukan pada Pak Kaisar, sedangkan beliau sedang memimpin rapat." Alexa mondar-mandir di ruangan Kaisar. Sesekali ia menggigit telunjuknya karena gugup dan khawatir.
Alexa melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Kaisar dan menuju ruangan rapat. Setelah beberapa menit berpikir ia pun memutuskan untuk memberitahukan kepada Kaisar saat Kai telah selesai memimpin rapat. Ia menengok jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua siang. "Rapatnya tiga puluh menit lagi baru selesai! Semoga saja kedua bocah itu tidak pergi jauh-jauh dari sini!" gumamnya.
Saat Alexa hendak memasuki ruangan rapat, Edward dan Edzel, kembali ke ruangan Kaisar. Saat mereka tiba di sana, mereka menemukan sebuah makanan di atas meja.
"Edward, pesanannya sudah datang," tutur Edzel memegang perutnya yang mulai melaksanakan paduan suara karena lapar.
"Mungkin tante montok tadi yang sedang mencari kita," ucap Edward.
Edzel mengangkat kedua bahunya diikuti dengan alisnya. "Maybe! Ayo Ed, kita isi perut kita dulu, agar bisa berkeliking lagi."
"Baiklah. Aku paling tidak suka menunggu!"
Kedua anak itu menyantap makanan yang ada di meja. Mereka sangat lapar, sehingga tak membutuhkan waktu yang lama, makanan itu telah habis tak tersisa.
Edzel mengangkat tubuhnya dari sofa dan berjalan menuju pintu. "Edward, ayo!" tersenyum lebar menatap Edward.
"Aku datang!"
Petualangan kedua Ed itu pun berlanjut. Bagai anak anjing yang baru lepas dari kandangnya, begitulah Edward dan Edzel. Mereka baru merasakan kebebasan saat berada di luar mansion, dan itu membuat mereka terlihat sangat udik melihat dunia luar.
"Sepertinya tidak masalah jika setiap hari Daddy and Mommy pergi keluar kota. Kita bisa dititipkan pada Uncle-Uncle ini, dan kita bisa jalan-jalan. Hahah! Benarkan Edward?"
"Tidak buruk," tutur Edward menyutujui ucapan kembarannya.
Langkah Edward tiba-tiba berhenti di sebuah pintu yang terdapat tanda larangan di depannya. Ia menyipitkan mata dan membaca tulisan yang menempel di sana. Area terbatas!
"Edward, why did you stop? Is there something wrong?" (Edward, kenapa kau berhenti? Apa ada yang salah?) tanya Edzel.
"Nothing!" (Tidak ada!)
Melihat ekspresi Edward yang aneh, Edzel pun menatap pintu yang baru saja di tengok Edward.
"Ayo, Edzel!"
"Wait!" celutuk Edzel.
"Why?"
"Bagaimana kalau kita masuk ke dalam," tawar Edzel dengan tersenyum licik.
"Jangan! Apa kau tidak membaca tulisannya? Ini adalah area terbatas."
"Apa maksudnya, Edward?" tanya si bungsu.
"Mungkin saja hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk."
"Kenapa kita tidak masuk saja! Hahah!" membuka pintu.
"Edzel!" panggil Edward.
Melihat kembarannya yang telah masuk ke dalam, mau tidak mau ia pun harus masuk untuk menghentikan kembarannya. Saat tiba di dalam ruangan itu, betapa terkejutnya mereka saat melihat layar besar yang menunjukkan seluruh aktivitas karyawan di gedung itu.
"Sepertinya ini ruangan kontrol!" tutur Edward.
"Tempat ini merupakan pusat kontrol. Semua kejadian dalam kantor Uncle Kaisar di rekam."
"Aku mengerti!"
"Edzel, kau jangan menyentuh semba--" belum saja meneruskan ucapannya, Edzel telah duduk di sebuah kursi dan memegang benda kecil yang tak lain adalah microphone. "Edzel! Don't touch it!" (Jangan sentuh itu!)
"Apa ini?" gumam Edzel. Ia menekan tombol kecil dengan tulisan ON lalu menekan tombol di sebelahnya lagi yang bertuliskan OFF. Ia menekan tombol itu bergantian dengan sangat cepat. Seketika lekukan kecil terbentuk di bibirnya. Sepertinya Edzel sangat senang memainkan kedua tombol itu.
Edward memandangi sekelilingnya. Matanya menatap sebuah gelas di atas meja dengan sepotong kue yang ada tanda gigitan kecil. "Sepertinya ada orang yang menjaga ruangan ini. Tapi ke mana penghuninya?" gumamnya.
"Edward, ini sangat seru!" celutuknya. Ia kemudian menekan tombol ON dan tiba-tiba berbicara. "Hellow!"
Edward terkejut saat semua karyawan yang ada di layar besar itu menatap ke arah mereka. Layar itu terbagi dalam beberapa kotak yang memperlihatkan ruangan yang berbeda-beda.
"Edzel! What are you doing!" (Apa yang kau lakukan!) teriak Edward.
"Edward lihat! Itu Uncle!" menunjuk sebuah kotak yang menampilkan sosok Kaisar yang sedang menatap ke arah cctv dengan terbelalak.
"Mereka bisa mendengar suaramu!" ketus Edward.
"Wihhh keren! I like this! Uncle oh Uncle! Apa kau bisa mendengar suaraku? Hehehe."
Dari layar itu, terlihat Kaisar dan Alexa sedang berlari keluar dari ruangan itu dengan ekspresi panik. Kaisar menatap cctv dan menyilangkan kedua tangan yang mengisyaratkan supaya kedua anak itu tidak berbicara lagi di microphone.
"Uncle?! Kenapa kau berlari? Huaaa tante montok juga ikut berlari! Hahah! Mereka bermain kejar-kejaran, Edward!" tutur Edzel. Suaranya menggema di seluruh kantor Kaisar.
Edzel melihat seluruh karyawan tampak bingung dan kacau, meski ia tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, namun dari gaya mereka sangat jelas menunjukkan jika mereka terheran-heran.
"Uncle Kaisar?! Yuhu! Pelan-pelan larinya Uncle! Kasihan tante montok di belakang sulit mengejarmu! Uncle? Apa kau bisa mendengarku? Halo Uncle?! Uncleeeeee!" Edzel berteriak saat bayang Kaisar sudah hilang dari balik layar.
"EDWARD, EDZEL!!!"
Deg!
Kedua anak itu menengok ke arah pintu. Mereka melihat Kaisar yang sedang ngos-ngosan akibat berlari tunggang langgang. Kaisar berjalan ke arah Edzel dengan napas memburu dan menekan tombol OFF.
"Hore! Uncle menang! Tante montok, kalah!"
Alexa menatap kedua anak itu dengan tatapan pias. Wajahnya memerah karena baru saja Edzel menyebutnya dengan sebutan tante montok dan di dengar oleh seisi kantor.
"Uncle sudah bilang pada kalian ... " mengatur napasnya. "Kalau kalian harus menunggu di ruangan Uncle! Kalian tau apa yang baru saja kalian lakukan, hah?"
Edzel dan Edward terdiam. Mereka menundukkan kepala dan memasang wajah murung. Melihat itu, Kaisar menjadi kasihan. Ia pun tak tega meneruskan ucapannya dan menggendong Edzel dan Edward. "Apa kalian sudah makan?" tanyanya lembut.
Kedua Ed itu mengangguk.
"Apa Uncle marah padaku?" lirih Edzel.
Sejenak Kaisar terdiam. Ia menatap mata Edzel dan berkata, "lain kali jangan diulangi lagi. Kalian harus menurut. Do you understand ?!"
"Yes, Uncle!"
Arsen?! Sebenarnya makanan apa yang kau berikan kepada mereka? Kenapa mereka terlalu barbar seperti ini! Huhhhh Bapak dan anak sama saja. Ya! Sama-sama meresahkan. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya!
__ADS_1
***
Sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang berwarna putih. Tampak seorang pria dewasa dan serong anak kecil keluar dari dalam mobil. Mereka adalah Jayden dan Edhan.
"Aku yakin kalau aku tidak salah lihat!" gumam Jayden.
"Uncle, apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Edhan.
"Kita sedang menjalankan sebuah misi rahasia!"
"Misi rahasia?" ulang Edhan yang linglung.
"Uncle akan jelaskan nanti. Pakai dulu topi detektif dan kacamata hitam ini, agar kita berdua mirip seperti agen rahasia sungguhan!"
Edhan pun menuruti perintah Jayden.
Jayden dan Edhan memakai setelan jas berwarna hitam, topi detektif, dan kacamata hitam senada dengan warna jas mereka. Jayden sengaja membelikan Edhan pakaian yang serupa dengannya karena ia berencana untuk mencari keberadaan wanita yang ia lihat di klub malam itu.
Saat pulang sekolah tadi, Jayden mengajak Edhan untuk jalan-jalan ke mall sekaligus makan di sana. Namun, tak sengaja ia melihat seseorang yang mirip dengan wanita yang ia lihat di klub malam. Wanita itu sedang berbelanja di sebuah tokoh. Jay dan Edhan pun mengikutinya dan berpura-pura berbelanja.
Rencana konyol menghampiri benaknya. Ia membelikan Edhan jas kecil, kacamata dan topi. Tak hanya Edhan, ia pun membelikan untuk dirinya sendiri. Ia bermaksud membuntuti gadis itu secara diam-diam. Dan benar saja, saat ini mereka telah sampai di depan gerbang, yang kemungkinan rumah di balik gerbang itu, adalah tempat tinggal gadis incaran Jayden.
"Edhan, jangan jauh-jauh dari Uncle!"
"Baik, Uncle."
Jayden melihat seorang satpam berdiri di samping gerbang itu. Secepat kilat, ia menarik Edhan dan bersembunyi di balik mobilnya. "Edhan, apa kau melihat pria itu?"
"Ya!"
"Edhan, apa kau suka bermain detektif seperti ini?"
"Yeah!! Ini sangat seru, Uncle!"
"Kalau begitu, kau akan menjadi striker sekarang!"
"Bagaimana caranya, Uncle?!" tanya Edhan.
"Shttt! Jangan keras-keras. Nanti kita ketahuan, dan misi kita akan gagal!"
"Ups! Sorry."
"Jadi begini, kau yang langsung bertemu satpam, dan tanyakan jika ada seorang gadis cantik yang tinggal di rumah ini. Jika ada, kau tanyakan namanya siapa. Nomor telepon juga boleh." Jay terkekeh pelan.
Edhan menepuk jidatnya. "Jadi aku yang jadi tumbal?" tanya Edhan dengan polos.
Jayden menelan salivanya. Ia tak bisa berucap lagi, karena perkataan Edhan memang benar adanya. "Bu--bukan begitu. Anggap saja kau sedang menyamar."
"Baiklah. Karena ini permainan yang seru, maka aku akan pergi bertanya."
"Hah, begitu dong. Boleh juga nih Arsen. Bibitnya yang satu ini sangat bisa di andalkan," tersenyum semringah.
"Uncle tunggulah di sini."
"Okey."
Edhan berjalan menuju ke arah satpam. Penampilannya sangat lucu dan menggemaskan. "Permisi om satpam," ucapnya.
"Ada apa Dek?" tanya pria berbadan besar itu.
"Om Satpam, apa di sini ada seorang gadis cantik?"
Satpam itu heran mendengar pertanyaan Edhan. "Apa maksud Adek, Nona Miley?"
"Oh namanya Miley?"
"Iya benar. Adek ini dari mana? Kesasar atau bagaimana?"
Edhan memajukan langkahnya dan berbisik kepada satpam itu. "Om Satpam, ada pria aneh di sana dan jiwanya terganggu. Lebih baik om Satpam samperin aja," ucapnya sambil tersenyum licik.
"Hah?! Siapa dia?"
"Tidak tau! Sedari tadi dia mengawasi wanita yang bernama Miley."
Deg!
Satpam itu langsung berlari ke arah yang di tunjuk Edhan. Anak kecil itu ternyata sedang mengerjai Jayden.
"Hahaha!" gelak tawa Edhan menggelegar.
Edhan segera menyusup satpam itu yang sedang menuju tempat persembunyian Jayden.
"Jadi kamu yang selalu menguntit Nona Muda kami?!"
Jayden melonjak kaget. Ia terjatuh di tanah dengan ekspresi menegang. Ia terciduk saat sedang mencari informasi mengenai gadis klub malam itu. "P--pak Satpam?! Kok bisa ada di sini?" lirih Jay, panik.
"Seharusnya saya yang tanya, kenapa kau ada di depan rumah ini?! Katanya kau pria gila, ya?! Ayo ikut saya!"
"Ikut ke mana Pak?"
"Ke rumah sakit jiwa!"
Deg!
Jayden terdiam. Ia melihat Edhan yang sedang menggoyang bokongnya ke arah Jayden. Aku di kerjain makhkuk astral! Coba jelaskan, Ars! Kau pungut di planet mana, anakmu ini?!
"Ayo cepat! Kamu pilih sendiri, mau saya bawa ke kantor polisi atau ke rumah sakit jiwa?!"
"Emmmm, anu ... Pak coba lihat di sana, ada putri duyung lagi terbang di angkasa!" menunjuk ke arah langit.
"Ma--mana?!" menerawang ke langit.
Jayden langsung kabur dan masuk ke dalam mobil. Seketika ia teringat jika Edhan masih berada di luar. "Gosshhh! Makhkuk astral ketinggalan!" Ia pun segera keluar dan menggendong Edhan masuk ke dalam mobil.
Pak satpam yang menyadari tawanannya telah hilang, pun berusaha mengejar mobil itu yang sudah berlalu meninggalkannya.
"Asemmmm! Orang gila telah kabur! Sialan! Aku di kelabuhinya. Mana ada putri duyung terbang di angkasa! Uhhh g*blog dipelihara!"
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
__ADS_1
.
follow ig @syutrikastivani