Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Meminta Ijin


__ADS_3

Sejak menerima telepon dari Jenifer, keceriaan Doris bertambah lima kali lipat. Sambil memasak, Doris bernyanyi, berjoget ria, bahkan sesekali ia naik di atas kursi layaknya orang yang sedang mengadakan konser. Tak lupa juga di tangan kanannya terdapat spatula sebagai microphone.


Segala macam gaya telah dilakukan Doris, mulai dari berputar, melompat, menari, sampai berkayang sekalipun walau sesekali tulangnya bergetar, tanda peringatan kalau tulangnya mulai keropos, namun Doris tak mempedulikannya. Tinggal jungkir balik yang belum dilakukan Nenek Tua itu.


"Aduh aduh aduh!! Pinggangku terasa nyeri!" gerutu Doris mengusap halus pinggulnya.


Setelah beberapa bulan tidak bertemu dengan Jen, kini cucu perempuan satu-satunya menelepon, jika dirinya akan mampir di rumah Doris karena ada hal penting yang akan dibicarakannya.


Tok ... tok ... tok


"Jeni!" gumam Doris berlari ke arah pintu. Rautnya menjadi begitu ceria. "Jeniiiii .... kaukah itu?" teriaknya dari dalam.


"Iya, Nek. Ini aku," sahut Jen.


Doris membuka pintu. "Jeniiii, akhirnya kau datang juga!!" memeluk Jen.


"Ya ampun, Nenek. Kayak nggak pernah bertemu aku bertahun-tahun aja!" membalas pelukan Doris.


"Dasar cucu kurang ajar!" Doris menarik kuping Jenifer.


"Aw ... aw ... aw .... sa--sakit, Nek!" pekik Jen.


"Cucu lucknutttttt! sudah bertahun-tahun kamu nggak mengunjungi Nenek! Awas saja kau jadi cucu durhakesss!"


Jen menggaruk tengkuknya dan tersenyum kecil. "Hehe, maafkan aku, Nek. Tapi ... tiga bulan doang kok kita nggak ketemu, bukan bertahun-tahun. Ahhh Nenek mahhh melebih-lebihkan."


Doris menatap Jen dengan tajam. Seketika itu Jen terdiam dan mengalihkan pandangan matanya dari wajah Doris yang menyeramkan.


"Ehm, anu ... a--apa Nenek tidak mempersilahkanku untuk masuk?" tanya Jen, ragu.


"Ya sudah masuklah! Nenek telah memasak untukmu."


"Hehe! Kalau begini 'kan asik. Ohya, Nek, aku kemari tidak sendirian. Aku mengajak seseorang."


"Siapa?"


Jen menengok ke arah tangga, dan memberi isyarat kepada seseorang di sana untuk menampakkan wujudnya.


"Bule Semangkaaaaa?!" teriak Doris, heboh, sampai menggemparkan gedung kosan miliknya.


"Apa kabar, Nek?" tanya Mark.


"Luar binasa baik. Eh maksudnya, luar biasa. Apa kabar kau Bule Semangka?"


"Aku baik."


"Astogeee, sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu. Tapi kayaknya kau awet muda!" menatap tubuh dan wajah Mark dengan seksama.


"Nenek juga terlihat awet muda," puji Mark.


Plakkkkk! "Hehehe, bisa aja kamu!!" tersipu malu.


Mark melebarkan maniknya saat tangan Doris mendarat di bokong Mark.


"Nenek, kapan kita masuk ke dalam? Badanmu yang besar menghalangi jalan kami!


"Oh sori dori stroberi! Masuklah."


"Ohya, btw, enam tahun doang Nek. Bukan sepuluh tahun!"


"Owalahh! Apaan sih?! Dari tadi kau sensi amat sama Nenek," ketus Doris, jengkel.


"Bukan sensi, Nek. Tapi aku cuma memperbaiki ucapanmu."


Mark tersenyum kecil melihat tingkah Doris dan Jenifer. Kalau bersama Neneknya, sifat Sekretaris Jen tidak berubah. Batin Mark.


Doris mengantarkan Mark dan Jen ke meja makan. Hari itu ia memasak makanan yang sangat banyak.


"Nek, apa Jire ke kantor?"


"Iya. Katanya Jire bakal lembur malam ini. Maklumlah anak magang memang banyak kerjaan. Seringkali Nenek kasihan sama Jire. Tidur jam satu dini hari, terus bangun jam lima subuh."


Jen mengangguk pelan. Ia kembali membayangkan, bagaimana dirinya dulu saat menjadi anak magang di perusahaan WS Group. Ia pun tersenyum kecil dan bersyukur atas pencapaiannya selama ini. "Ya sudah, Nenek bilangin ke Jire supaya jangan memaksakan diri."


"Sudah berulang kali Nenek bilang. Tapi yah mau bagaimana lagi, sifat kalian berdua mirip. Keras kepala kalau mau dibilangin!" ketus Doris.


"Hehe, itu namanya usaha Nek. Usaha nggak bakalan khianatin hasil. Benarkan Tuan Mark?" menatap Mark tiba-tiba.


Pria itu menjadi gugup seketika. "Ehm, i--iya."


"Terserah kau saja. Ohya, tadi di telepon, kau bilang mau membicarakan sesuatu dengan Nenek?"


Deg!


Mark dan Jen menelan saliva dengan kasar seraya manik mereka melebar menatap Doris.


Sialan kau Mark! Jangan sampai kau gugup. Kau sudah berlatih selama dua minggu. Jangan sia-siakan latihan kerasmu itu! Jadi tunjukkan kejentelanmu! Batin Mark.


"Kenapa kalian menatap wajah Nenek seperti itu?! Wahh pasti kalian tertegun melihat keglowingan yang hakiki ini. Hahaha!"


"Ishhh, Nenek. Mulai lagi."


"Ini 'kan memang paktaaa! Bagaimana menurutmu, Bule Semangka? Wajahku bersinar, bercahaya, berkilau, mengkilap dan ... apalagi ya?!"


Mark kembali terdiam. Ia bingung harus menanggapi bagaimana. Mark takut jangan sampai ia salah bicara dan membuat Doris tersinggung. Jika itu terjadi kemungkinan besar Mark tidak mendapat restu.


"Ayo answer!" desak Doris.


"I--iya Nek. Wajahmu b--b--" ucap Mark gagap.


"Be ... be apaan! Buriqqqq katamu? Hah?!"


"Tidak tidak. Bukan itu maksudku. Wajahmu tampak bersinar."

__ADS_1


"Bagus sekali. Makin cinta deh sama kamu, hahaha!" goda Doris.


"Begini, Nek. Sebenarnya ... "


"Ehem!" Mark berdehem dengan reflek. Wajahnya tampak gugup bukan main.


"Ada apa Tuan?"


"Aku ... aku ... "


"Kamu?" lirih Jen.


"A--aku lapar!"


Jen melonjak keget. Tumben sekali! Biasanya Tuan sangat pemalu.


"Astoge! Maafkan Nenek. Ayo makan, keburu dingin makanannya," tutur Doris mempersilahkan.


Mark dan Jen mulai mengambil makanan dengan secukupnya. Kali ini, Mark masih terselamatkan. Sebenarnya ia masih sangat gugup untuk mengatakan jika dirinya dan Jen akan mengadakan pernikahan dua minggu lagi.


Suasana kembali hening. Ketiga orang itu menyantap makanan mereka sampai habis, kecuali Mark. Sedari tadi, piring Mark tidak mengalami perubahan. Makanannya hanya begitu-begitu saja, tak mengalami pengurangan. Jelas saja karena rasa gugupnya membuat dia tertekan dan tak memiliki nafsu makan.


"Tuan, apa makanannya tidak enak?" tanya Jen saat melihat piring Mark.


Mendengar itu mata Doris langsung melebar, layaknya manik itu akan keluar dari tempatnya. Mark pun menjadi lebih panik. Peluh mulai menyucur di seluruh tubuh Mark. Dahinya pun tampak mengeluarkan cairan.


"Makanannya sangat enak," lirih Mark tersenyum paksa.


Doris tersenyum lebar. "Kalau begitu, tambah yang banyak. Hahah!"


"Ini sudah sangat cukup," tutur Mark.


Jen melihat raut Mark yang tidak biasanya. Ia pun mulai peka dengan tingkah Mark. Jen tiba-tiba memegang tangan kiri Mark yang diletakkan di atas paha Mark. Jen menatap Mark lekat. Tatapan itu seolah mengartikan pada Mark untuk bersikap tenang dan jangan panik.


Mark mengangguk pelan. Namun saat menatap mata Jen yang penuh arti, pipi Mark mulai mengeluarkan rona merah. Ia tersipu malu. Lagi-lagi ia merasa jengkel karena harga dirinya telah sirna di depan gadis itu.


Mark mengatur napasnya. Ia mencoba menenangkan dirinya kembali dan berpikir hal-hal yang memicunya bisa bersikap tenang. Ia pun mulai memakan makanan itu perlahan-lahan.


Sudah empat puluh tahun aku hidup di dunia ini, tapi baru kali ini aku merasakan kepanikan yang luar biasa. Apa ini yang dirasakan semua pria di dunia saat berhadapan dengan calon mertua?! Tapi aku sudah pernah mencintai seseorang bahkan sudah menikah. Meskipun pernikahan paksa. Seharusnya aku tidak akan gugup lagi, tapi situasi kali ini sangat berbeda!


Beberapa saat kemudian Mark menyelesaikan makanannya. Ketiga orang itu pun menuju ruang tamu. Sudah saatnya mereka membicarakan hal yang serius. Tak ada lagi penundaan, mau tidak mau, Mark sebagai laki-laki harus bersikap dewasa saat meminang Jenifer.


"Nah, karena semua sudah selesai makan, maka aku akan mendengarkan hal penting dari kalian," ucap Doris.


Kau pasti bisa, Mark! Jangan mempermalukan dirimu di depan Sekretaris Jen. Batin Mark.


Doris duduk tenang dan memangku kakinya. Ia mengatur rambutnya dan sesekali menarik cermin dari dalam saku dasternya dan melihat pantulan wajahnya dari balik cermin.


"Ijinkan aku dan Sekretaris Jen menikah!"


Deg!


"Uhuk-uhuk!" Doris tiba-tiba tersedak. Cermin yang ada di tangannya hampir jatuh karena mendengar ucapan Mark yang begitu keras dan tegas. Bagai seorang komandan yang memerintah pasukan militer untuk berperang, begitulah cara penyampaian Mark. Badannya pun terlihat kaku bagai robot, wajahnya menegang menatap Doris.


"Nenek ... apa kau tidak apa-apa?" lirih Jen dengan hati-hati.


Doris masih melamun dengan mata dan mulut yang menganga. Sedangkan Mark, tak bergeming dari posisinya. Melihat ekspresi Doris membuat Mark semakin gugup dan takut mendengar jawaban Doris.


"K--kau mau menikah dengan Jeniku?!" tanya Doris dengan pelan, tapi wajahnya masih tegang.


"Benar sekali! Aku akan menikahi Sekretaris Jen dan menjadikannya Ibu dari anak-anakku!" celutuk Mark lagi tak kalah keras dengan ucapannya yang sebelumnya.


"Ahhhhhhhhhhhh!" teriak Doris.


Jen dan Mark terperanjat. Ekspresi Doris membuat kedua orang itu menjadi panik.


"Nenek?? Kau kenapa? Ya ampun, Nek?" menggoyang tubuh Doris.


"Apa aku salah bicara?" lirih Mark.


"Akhirnya!!!" ketus Doris lagi sembari menerawang ke arah langit-langit.


"Nenek?! Sadarlah! Jangan membuat aku dan Tuan Mark panik seperti ini!"


"Akhirnya, Allah mendengar doa-doa Nenek."


"Jadi Nenek merestui hubungan kami?" tanya Jen antusias.


"Sangat sangat sangat sangat sangat merestui!!!!" membersarkan matanya. "Jadi kapan kalian akan menikah?"


"Dua minggu depan, Nek," tutur Jen dan Mark serentak.


"APAAA?!" Lagi-lagi Doris hampir membuat Jen dan Mark jantungan akibat mendengar suaranya yang cempreng.


Jen dan Mark hanya bisa menyapu dada mereka sembari membuang napas perlahan.


"Bisakah Nenek bicara pelan-pelan saja? Nggak usah teriak-teriak!" ujar Jen.


"Bagaimana aku nggak teriak-teriak, kalian berdua selalu membuatku terkejut! Dasar cucu nggak ada akhlak! Bagaimana kalau aku jantungan terus meninggal. Untung-untungan kalau masuk sorga, tapi kalau nyangkut di neraka?? Apa kalian mau tanggung jawab dan bernegosiasi dengan malaikat supaya kalian saja yang ke neraka menggantikan posisiku?!"


Deg!


Kenapa Nenek jadi baperan kayak gini?! Mana bicaranya cepat banget lagi! Kayak saykoji si tukang nge-rap aja! "Nenek, pelan-pelan ngomongnya!"


"Oke baik. Tarik napas, hembuskan!" gumam Doris. "Nenek tanya sekali lagi, siapa tau Nenek salah dengar. Kapan kalian akan menikah?"


"Dua minggu depan, Nek," ucap keduanya serentak.


"Cepat sekali!" Doris mengernyitkan dahinya dan menatap perut Jenifer yang rata. Hanya saja terlihat mengembang karena model bajunya yang memang seperti itu. "Jangan-jangan ... "


"Jangan-jangan?" ulangi Jen.


"Jeni! Apa kau sudah hamil di luar nikah?!"

__ADS_1


Deg!


Bagai disambar kilat di siang bolong, begitulah mimik calon pengantin itu. Mereka tak bisa memprediksi jika Doris akan berpikiran sampai sejauh itu. Mark yang bahkan belum menanamkan bibit unggulnya pun merasa tersakiti dengan ucapan Doris.


"Astaga Nenek! Kenapa pikiran Nenek melayang?! Nih lihat, perut aku masih rata! Kalau pun mengembang, ya karena lemak membandel yang bersarang di dalamnya!"


Doris mengangguk pelan. "Ouhhhhh jadi kamu nggak hamil?"


"Untuk sekarang, belum! Mungkin nanti," tersenyum kecil menatap Mark yang sedari tadi membisu.


"Yaaaelahhh! Nenek kira udah hamil!" ucap Doris malas.


"Lahh, kenapa wajah Nenek kayak nggak senang?"


"Ternyata Nenek masih lama bakal menimang cicit!" memutar bola matanya dengan malas.


"Astaga! Jangan bilang kalau Nenek ingin aku segera hamil sebelum menikah?!"


"Tuh, ternyata kamu sudah mulai pintar. 'Kan bagus biar waktu mengandungmu tidak akan lama!"


Jen menepuk jidatnya. "Sepertinya kepala Nenek terbentur!" lirih Jen.


"Kalau itu yang diinginkan Nenek, aku sebagai calon menantumu akan mempercepat kehamilan Sekretaris Jen. Aku akan memprosesnya malam ini juga!"


Deg!


"Tu--tuan? Apa maksud Tuan?" tanya Jen, terbelalak.


"Sudah jelas, jika Nenek ingin kau segera hamil!" ketus Mark.


Doris mengangguk cepat.


"Bukan hanya kepala Nenek yang terbentur, tapi Tuan Mark juga. Malahan Tuan lebih parah dari pada Nenek! Aku tak menyangka jika mereka akan seakrab ini saat membicarakan hal yang sakral!" lirih Jen tak bertenaga.


"Hahahahah!" Gelak tawa Doris menggelegar. Jen dan Mark pun heran bukan kepalang.


"Apalagi ini?!" desah Jen seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sekali bodoh memang tetap bodoh, cucuku ini. Hahahahah! Mana mungkin Nenek mendukungmu melakukan hal yang menjerumuskanmu ke dalam dosa?! Dasar akal pendek! Nenek bercanda kaliiii. Hahaha!"


Giliran Mark yang bingung. "Jadi, Nenek tak bersungguh-sungguh?!" tanya Mark.


Pletakkk!


Doris menjentik dahi Mark. "Kamu lagi! Seenaknya bilang mau mengaduk adonan malam ini?! Awas saja! Aku botakin biar pala kau licin!"


Mark menjadi malu. Namun ia langsung menetralkan wajahnya. "Aku juga bercanda, Nek!"


"Hahah! Begitu ya. Selera humormu tinggi juga. Baiklah karena kau gesrek juga seperti aku, maka aku restui kalian untuk menikah dua minggu depan!"


"Tak ... tak ... tak!" Doris mengetuk meja tiga kali.


"Memangnya ini sidang? Main ketok-ketok meja segala!" gumam Jen. Ia terlihat menahan ekspresi senangnya yang menggebu. Tenang Jen tenang! Jangan berteriak?! Jaga image!


Sial! Ingin memeluk wanita ini dengan kencang dan berteriak sampai pita suara kandas! Tapi apa daya, aku harus menahannya di sini. Jangan sampai Nensi Part Dua ini berubah pikiran karena mendengar teriakan histerisku!


"Makasih, Nek." Jen mendekat ke arah Doris dan memeluknya erat.


"Utututu, cucuku Sayang. Kini kau akan menjadi seorang istri orang."


"Uhhh Nenek, jangan membuatku sedih. Aku akan tetap menjadi Jeni-nya Nenek. Meski Nenek sering memarahi dan mengataiku bodoh, tapi aku sama sekali tak tersinggung, hanya tersungging doang. Hahaha!"


"Dasar g*blokkk kuadrat!" menjentik dahi Jen dengan telunjuknya.


"Kata orang nih Nek, seorang anak pasti akan mewarisi sifat orangtuanya."


"Lantas?" tanya Doris.


"Aku anak siapa?"


"Sarah!"


"Nah, Ibu Sarah anak siapa?"


"Anak Nenek."


"Jadi sifat nenek menurun ke Ibu Sarah."


"Ya iyalah! masa menurun dari birman? Yang benar saja kamu?! Sifat Sarah juga menurun ke kamu!" ketus Doris.


"Nah berarti, kalau aku g*blok, Ibuku juga demikian. Kalau Ibuku demikian maka Nenek juga .... ?"


"G*blokkkk dong!" ketus Doris tanpa sadar. Ia kembali mencerna ucapan Jenifer.


"Bukan aku yang bilang ya, tapi Nenek!" Jen menarik tangan Mark dan berlari meninggalkan Doris.


Akhirnya Doris menyadari akan ucapannya. "Dasarrrr kutu kupret!!! gua dibodohi cucu nggak ada akhlak!! Woyyyyyy! Kembali lu berdua! gua kipas pake sendal, biar tau rasa!! Oyyyyyy!"


Doris berlari mengejar Jen dan Mark. Namun karena tubuhnya yang besar, sehingga ia kesulitan saat berlari. Langkahnya menjadi lambat seperti siput.


"Maafkan aku, Nek. Aku pergi dulu ya. Makasih buat makan siangnya dan makasih juga buat restunya. Semoga Nenek umur panjang!!!" teriak Jen yang sedang berlari menuruni anak tangga.


"Nggak berubah-berubah juga si Jeni. Tapi aku malah suka dengan sifatnya seperti itu. Tetaplah menjadi Jeniku yang bodoh tapi jenius dan cerdik! Semoga kau bahagia selalu, Jeniku. Sarah pasti bahagia di alam sana saat melihat kau bahagia."


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.

__ADS_1


Follow ig @syutrikastivani


__ADS_2