Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Pesta Pelepasan Lajang ~ Empat Ed, berulah!


__ADS_3

Persiapan demi persiapan sementara di lakukan. Bukan hanya Jen dan Mark yang sibuk menyiapkan segala keperluan pernikahan, melainkan Arsen dan Amey pun ikut membantu. Pernikahan Mark dan Jen akan digelar dengan begitu mewah. Meski Mark dan Jen menolak untuk merayakannya dengan mewah, tapi perintah Arsen tetaplah sebuah perintah yang tak bisa di bantah.


Tak hanya Arsen dan Amey, Zoey pun turut ambil bagian dalam persiapan pernikahan Mark dan Jen. Zoey sebagai desainer ternama, bersedia hati merancang gaun pengantin pria dan gaun pengantin wanita. Beberapa hari lalu, Zoey telah melakukan pengukuran pada Mark dan Jen. Dan saat ini, ia sedang merancang sebuah gaun dan setelan Jas yang begitu mewah untuk dikenakan calon pengantin itu.


Malam itu, Arsen mengajak Mark untuk pergi ke klub malam bersamanya. Tentu saja atas ijin dari Amey dan Jenifer. Setibanya Mark dan Arsen, mereka disambut oleh kedua pria blasteran yang tak lain dan tak bukan adalah Kaisar dan Jayden.


"Yang ditunggu pun akhirnya datang," tutur Jayden.


Mark menunduk kepala saat melihat Kaisar dan Jayden.


"Eitss! Santai saja Mark. Kau adalah sahabat kita juga, jadi jangan terlalu formal seperti itu," ketus Kaisar.


"Baik Tuan."


"Mark, aku kasih kau tantangan!" ucap Jay.


"Tantangan apa Tuan?"


"Coba kamu hilangkan kata 'tuan' sekali saja. Kau panggil aku, Arsen dan Kaisar tanpa menambah kata 'tuan' di depannya!"


"Aku tidak bisa, Tuan."


"Why!!!" celutuk Jayden.


"Aku sudah terbiasa akan hal itu. Lagi pula ..."


Kaisar, Arsen dan Jayden menatap Mark dengan seksama, menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Mark.


"Lagi pula apa?" ulang Jay.


Lagi pula, mana berani aku memanggil Tuan Muda seperti itu. Bukan umur panjang, malah umur pendek! Batin Mark. "Tidak Tuan. Aku sangat menghormati tuan-tuan sekalian. Jadi aku tidak bisa menerima tantangan yang diberikan Tuan Jayden."


"Kau sangat sopan, Mark. Beruntung sekali Arsen memilikimu sebagai asisten pribadinya. Pasti kau sangat tersiksa memiliki atasan yang tempramennya suka naik turun bagai roller coaster 'kan?"


Arsen menatap Jayden dengan tajam. Tatapan itu seolah mengartikan, jika Jay bicara lagi maka nama Jayden Smith akan terhapus dari muka bumi.


"Cari mati kau, Jay?!" ejek Kaisar, terkekeh. "Tapi ... " beralih menatap Mark. "Apa benar yang dikatakan Jayden?" tanyanya.


"Benar Tuan," ucap Mark, seperti tak memiliki dosa. Ia tak menyadari jika ia membenarkan ucapan Jayden yang menyudutkan Arsen.


Tatapan Arsen berpindah menatap Mark. Kini pandangan itu terlihat buas bagai singa yang mengambil ancang-ancang untuk menerkam. "Apa itu kata hatimu, MARKKK!"


Deg!


Sial! Kenapa aku bisa keceplosan seperti ini!


"Aku tanya sekali lagi, apa itu jawaban dari lubuk hatimu yang terdalam?!" tanya Arsen, dingin.


"Ti--tidak, Tuan. Aku sangat beruntung memiliki atasan yang sangat pengertian seperti Tuan. Kalau tidak karena Tuan, aku pasti akan menjadi jomblo abadi. Tapi berkat pengertian dan usaha Tuan Muda untuk mempersatukan aku dan Sekretaris Jen, maka aku bisa membuka hatiku kembali."


Kaisar dan Jayden tertegun.


"Curhat, Mark?" ledek Kaisar.


"Itu yang sebenarnya aku rasakan," ucap Mark.


"Sial! Kenapa kau menjadi lembek seperti ini?!" ketus Arsen.


"Hahaha! benar apa yang di katakan Arsen. Tapi, bukankah kau juga begitu saat menjadi bucin pada Amey? Sikap kalian sebelas dua belas, Ars. Hahah!" Jayden terbahak.


"Atasan dan bawahan sama saja. Dingin, cuek dan datar. Tapi sekali mencintai, uhhhh konyolnya luar biasa!" tambah Kaisar.


"Enough!" (Cukup!) menggebarak meja. Arsen kemudian menyilangkan kedua tangannya di atas dada.


"Sorry!" lirih Jay.


"Ohya, apa kau sudah tau mengapa Arsen mengajakmu kemari?" tanya Kaisar.


"Tidak, Tuan."


"Kenapa kau tidak jelaskan saja, Ars?!"


"Kau saja."


Kaisar mengangguk. "Jadi begini Mark. Pesta pernikahanmu akan digelar sepuluh hari lagi. Jadi kami sebagai cowok-cowok lajang, kecuali Arsen, akan mengadakan pesta pelepasan lajang selama sepuluh hari berturut-turut.


"Pe--pesta pelepasan lajang?" tanya Mark tampak linglung.


"Benar!"


"Apa ada pesta yang seperti itu?" lirih Mark.


"Tentu saja. Beberapa tahun lalu, kami juga melakukan pesta pelepasan lajang untuk Arka," ucap Jayden.


Kaisar menyenggol lengan Jay, saat Jay mengungkit nama Arka di depan Arsen. Apalagi itu menyangkut Amey, yang seharusnya menjadi istri Arka.


"Maafkan, aku!" gumam Jay menunduk kepala, merasa bersalah.


"Tak apa. Lagi pula aku akan menebus pesta pelepasan lajang untukku yang tidak sempat dirayakan."


Mark, Kaisar dan Jayden terbelalak dengan mulut menganga.


"Seorang ayah yang sudah memiliki satu istri dan empat anak, akan merayakan pesta pelepasan lajang?! Apa itu tidak terlalu terlambat, Ars?" tanya Kaisar, heran.


"Tidak ada kata terlambat. Harga diriku terasa rendah, saat kalian merayakan pesta pelepasan lajang untuk Mark, sedangkan tidak untukku!!"


Deg!


"Ba--baiklah. Jadi bukan hanya untuk Mark, tapi untukmu juga," tutur Kaisar menggaruk tengkuk.


"Tapi karena kau sudah profesional dalam menanam bibit unggul, maka tutorial ini hanya dikhususkan untuk Mark saja. Menurut informasi, Mark sama sekali belum pernah melakukan hubungan intim dengan wanita. Jadi sebagai laki-laki sejati, kami akan mengajarkan langkah-langkah yang akan kau tempuh."


"WHATTTT?!" teriak Jayden tiba-tiba.


"Sialan kau Jay! Bisakah kau tidak berteriak di telingaku?!" ketus Kaisar, jengkel.


"Apa benar yang dikatakan Kaisar?" tanya Jay dengan penuh heran.


Mark bingung harus menjawab apa. Jika aku mengiyakan maka aku akan dipandang tidak normal oleh orang-orang ini. Walau sebenarnya akulah yang normal di antara keabnormalan tuan-tuan ini. Tapi ... jika aku mengatakan tidak, maka aku akan berbohong, sedangkan aku sudah terlanjur jujur pada Tuan Muda waktu itu! Shitttt! Kenapa aku terjebak di situasi seperti ini?!

__ADS_1


"Diam berarti iya! Ohh goshhhhhhh!! Ba--bagaimana kau bisa tahan dengan usiamu yang sudah kakek-kakek ini?!"


"Jay, berhentilah memojokkan Mark. Di antara kita semua, Mark yang belum ternoda sama sekali. Dan ini sangatlah bagus untuk merayakan pesta pelepasan lajang."


"Ehem!" seseorang berdehem.


Keempat orang itu menatap sumber suara.


"Maaf, aku terlambat," ketus seorang pria yang tak lain adalah Pedro.


Dokter Pedro juga di sini?! Batin Mark.


"Akhirnya personil lengkap!" ketus Kaisar.


"Kenapa tidak datang tahun depan saja?!" sindir Arsen.


"Maafkan aku Tuan Arsen. Ada operasi mendadak di rumah sakit."


"Kali ini aku maafkan karena kita akan melaksanakan pesta pelepasan lajang untuk Mark."


"Trima kasih Tuan," tutur Pedro menunduk.


Apa masih ada lagi yang akan datang? Kenapa aku tak tau jika Dokter Pedro akan bergabung? Apa maksudnya dengan pesta aneh ini? Ucap Mark dalam hati.


"Peraturan terpenting dalam perayaan pesta ini adalah kita harus merayakannya selama sepuluh hari berturut-turut sampai tiba hari pernikahannya. Dan untuk waktu, aku sarankan mengikuti waktu Pedro saja, karena Pedro selalu mendapat jadwal operasi mendadak."


"Aku setuju dengan Kaisar," tutur Jayden.


"Aku serahkan pada kalian," ucap Arsen.


"Baiklah, aku akan berusaha untuk menyempatkan waktu," ujar Pedro.


Semua pria yang ada di situ menatap Mark tiba-tiba.


"Bagaimana dengamu, Mark?" tanya Kaisar.


"A--aku ... aku terserah tuan-tuan saja."


"Fix! Jadi semuanya setuju," tukas Kaisar.


Jay menuangkan anggur satu-persatu ke dalam gelas masing-masing. "Kalau begitu, mari kita merayakannya! Kita bersulang!"


Mereka pun bersulang. Para pria-pria tampan yang berkumpul itu pun menjadi pusat perhatian semua wanita yang berada di klub, namun tak ada satu pun yang berani mendekati mereka tanpa di minta oleh pria-pria itu sendiri.


Kalau di pikir-pikir, aku tergolong sebagai duda perjaka! Sudah pernah menikah tapi belum mantap-mantapan sama istri. Batin Mark.


Apa yang diucapkan batin Mark, adalah benar adanya. Bagaimana mungkin ia melakukan hubungan suami istri dengan pasangannya, jika baru beberapa menit resmi sebagai seorang suami, istrinya yang bernama Rachel, telah meninggal dunia karena sakit.


Sementara para pria merayakan pesta pelepasan lajang sekaligus pelepasan status duda untuk Mark, para wanita pun tak mau kalah. Amey dan Jenifer menghabiskan waktu mereka untuk memanjakan diri. Walau hanya di mansion, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk Amey dan Jen.


Berhubung juga Amey tidak bisa pergi jauh-jauh dari si empat Ed, maka kedua wanita itu memilih untuk memanjakan diri mereka di mansion. Meski hanya di mansion, namun itu tergolong mewah, bagaimana tidak, siapa pun yang menginjakkan kaki di kediaman Winston, pasti akan terhipnotis untuk menetap. Tentu saja karena tempat itu bagai istana kerajaan yang dihuni raja dan ratu bersama pangeran-pangeran kecil mereka.


"Apa lagi yang akan kita lakukan Jen?" tanya Amey.


Jen memutar otaknya dan memikirkan hal-hal yang belum mereka lakukan. "Pijat cantik sudah, maskeran sudah, manicure-pedicure sudah, apalagi ya?"


"Bagaimana dengan yoga?"


"Baiklah, ayo ke ruangan gym."


Jen dan Amey menuju tempat gym. Namun saat melewati kamar keempat Ed, Amey dan Jen harus mengendap-endap layaknya maling di rumah sendiri.


"Jen, jangan sampai anak-anakku mengetahui keberadaan kita. Kalau itu terjadi, maka aku tidak bisa menemanimu yoga."


"Baiklah."


Setelah beberapa saat melewati zona merah, akhirnya Amey dan Jen tiba dengan selamat di ruangan gym. Namun, saat memasuki ruangan itu, Amey merasa aneh karena pintu ruangan gym telah terbuka.


"Apa mungkin asisten rumah tangga sedang membersihkannya?" gumam Amey.


"Ada apa, Mey?"


"Aku heran aja dengan pintu ini yang telah terbuka."


"Memangnya kenapa?" tanya Jen.


"Tidak apa-apa. Ayo masuk."


Saat Amey dan Jen masuk ke dalam mereka tak sengaja menginjak sesuatu yang kenyal-kenyal. Merasa penasaran, mereka pun mengangkat kaki mereka dan mendapati sebuah sisa makanan melekat di sendal mereka.


"Apa ini?" lirih Amey.


"Lihat, Mey. Di situ juga ada," menunjuk ke lantai.


"Ayo kita ikuti jejak ini."


Amey dan Jen perlahan mulai mengikuti jejak jeli-jeli dan permen caca warna-warni itu. Firasat Amey mulai buruk. Ada yang tidak beres di sini!


"Mey, jejaknya menghilang," bisik Jen. Kedua orang itu telah sampai di depan lemari tempat penyimpanan pakaian olah raga. Lemari itu sangat besar, sehingga bisa menampung beberapa orang untuk masuk ke dalam sana.


"Sudah ku duga!" celutuk Amey.


"Apaan, Mey?"


"Shhhht! Jangan terlalu keras. Apa kau mendengar bisikan-bisikan kecil di dalam sana?"


"Ahhh, Amey! Kau jangan menakut-nakutiku!"


Sesaat kemudian, Jen mendengar suara-suara kecil seperti sedang bercakap-cakap di dalam sana.


Edzel, berikan lagi padaku!


Bagi lagi!


Jangan keras-keras! Nanti kita ketahuan sama musuh!


Lebih baik kita keluar dari sini dan kembali ke kamar sebelum Mommy mengetahui keberadaan kita!


Edhan benar!

__ADS_1


Suara bisikan-bisikan itu tiba-tiba meredup. Amey mengisyaratkan Jen untuk bersiap-siap menarik gagang pintu lemari itu.


"Satu ... dua ... tiga!" membuka lemari.


"Ahhhhhhhhhhhh! Mommy!" teriak keempat Ed. Ekspresi mereka sangat terkejut. Tak hanya manik yang melebar, mulut pun ikut menganga saat melihat sosok Amey yang memergoki keempat anak itu sedang bersantai bersama cemilan.


"What are you doing here?!" (Apa yang kalian lakukan di sini?!!).


Bagai melihat serigala mengamuk, begitulah penampilan Amey di mata keempat anaknya.


"Mo--mommy!" lirih keempatnya, takut bukan kepalang.


"Get out of there!" (Keluar dari sana!)


Secepat kilat anak-anak itu beranjak dari duduk mereka dan keluar dari dalam lemari. Tak ada yang berani bersuara. Mereka takut melihat ekspresi Amey yang sangat menyeramkan. Anak-anak itu sangat tahu jika saat ini tanduk Amey sedang keluar.


"Edward, Edhan, Edgar, Edzel!! Jelaskan pada Mommy kenapa kalian tidak tidur dan malah bersembunyi di dalam lemari?!" Amey menatap cemilan-cemilan yang belepotan di bibir mereka.


Keempat anak itu menunduk kepala dan tak berani menatap mata Amey.


Astaga?! Repotnya memiliki anak kembar yang lincahnya nggak ketulungan! Tapi seru juga. Hahah! ucap Jen dalam hati.


"Edward, jelaskan pada Mommy!"


"I'am sorry Mommy. Kami bersalah," ucap Edward, lirih,


"Ide siapa ini?!" tanya Amey lagi.


Lagi-lagi keempat anak itu hanya berdiam diri sambil menunduk kepala. Sebenarnya mereka tidak ingin menyalahkan salah satu dari antara mereka. Dan Amey pun tahu akan hal itu. Mereka saling menjaga rahasia dan memilih untuk menanggung bersama.


"Baiklah, kalau dari antara kalian tidak ada yang mengaku, maka Mommy akan menghukum kalian semua!"


Deg!


"Mo--mommy ... ini semua salahku. Aku yang mengajak mereka untuk makan cemilan dan bersembunyi di dalam lemari," tutur Edzel.


Amey membuang napasnya berat. Ia sudah menebak jika kekacauan ini adalah ulah dari anak bungsunya.


"Mommy, mereka tidak bersalah. Hukum saja aku," ucap Edzel lagi.


"No Mommy! Aku sebagai kakak, yang bertanggung-jawab. Tidak seharusnya aku mengiyakan rencana Edzel. Jadi hukum saja aku!" kilah Edward.


"Mommy, aku juga bersalah. Jangan hukum Edward dan Edzel. Hukum saja aku," tutur Edhan.


Setelah Edhan selesai mengutarakan pendapatnya, kini semua mata menatap Edgar. Merasa tak nyaman ditatap seperti itu, dengan polosnya Edgar berkata, "apa aku juga harus menyerahkan diri?" gumamnya dengan pelan.


Edhan menyenggol lengan Edgar.


"Mommy, hukum aku juga. Karena aku juga bersalah!" celutuk Edgar.


Kasihan juga melihat wajah memelas mereka. Tapi sebagai Ibu, aku harus pintar mendidik mereka. Kesalahan tetaplah kesalahan dan itu harus dihukum agar mereka tidak mengulanginya.


"Mey, kasihan sekali wajah mereka," bisik Jenifer.


"Kalian tau kalau kalian bersalah?" tanya Amey.


"Yes, Mommy."


"Apa kalian menyesali perbuatan kalian?"


"Yes, Mommy."


"Apa kalian tidak akan mengulanginya?"


"Yes, Mommy."


"Bagus! Tapi kalian berempat harus dihukum. Dan sekarang menghadap tembok, pegang telinga kalian, dan angkat kaki sebelah!"


Mereka bergegas menuju tembok dan melaksanakan hukuman yang Amey berikan.


"Mereka sangat kompak. Saling membela pula," ucap Jen.


"Itulah kelebihan mereka. Meski mereka selalu berbuat onar, tapi sikap kebersamaan mereka selalu melekat dalam diri mereka. Jika aku dan Arsen memarahi salah satu dari antara mereka, pastilah ketiganya menawarkan diri untuk dimarahi juga."


"Wihhh, solid banget mereka. Sangat menggemaskan, pengen cubit pipi mereka!"


"Hahah! Baikah Jen, sekarang kita bisa yoga dengan tenang."


"Tapi kasihan mereka, Mey."


"Tenang saja, aku hanya menghukum mereka selama lima menit."


"Oh begitu. Baiklah."


Amey dan Jen mengganti pakaian Yoga mereka. Setelah lima menit berada dalam hukuman, akhirnya Amey membebaskan mereka.


"Waktu hukuman selesai!" ketus Amey.


"Horeeee! Thank you, Mommy!" ucap keempat Ed seraya berlari memeluk Amey.


"Jangan diulangi lagi ya. Jika kalian melanggar maka Mommy akan menaikan level hukuman kalian!"


"Yes, Mommy."


"Kalau begitu, masuk ke kamar mandi, bersihkan mulut kalian dan kembalilah tidur."


"Yes, Mommy."


Amey memeluk mereka dan mengecup kening mereka satu persatu.


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.

__ADS_1


follow ig @syutrikastivani


__ADS_2