
Di sebuah apartemen mewah, seorang pria tampak asik menikmati secangkir teh dan di tangannya melekat sebuah benda segi empat yang tak lain adalah tablet. Pria itu adalah Mark. Dia mengecek segala jadwal harian Arsen melalui tablet itu.
Mark menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Ia kembali menatap layar itu dan menggesernya ke atas ke bawah. Mark tampak resah, karena pikirnya mungkin saja Arsen tidak akan melakukan pekerjannya sesuai jadwal.
Memang akhir-akhir ini, Arsen sudah jarang berada di kantor. Ia mengerjakan segala sesuatu di rumah. Motifnya tak lain adalah untuk selalu dekat dengan Amey. Semenjak pernikahan kedua mereka, Arsen sudah jarang memberi ijin pada Amey untuk ke kantor.
Dengan demikian semua pekerjaan eksternal di kerjakan oleh Mark. Dialah yang menangani pekerjaan sang bos karena mendapat mandat yang tidak boleh di ganggu gugat. Hal ini sebenarnya menyulitkan Mark, namun apa boleh di kata, asisten adalah bawahan yang harus mematuhi perintah atasan.
Mark menaruh tablet itu di atas meja, kemudian ia menenggak teh hangat itu sampai tak tersisa. Ia meraih ponselnya di atas meja dan segera menghubungi Arsen.
(Percakapan di telepon)
"Selamat pagi Tuan," sapa Mark.
"Ada apa kau menghubungiku? Kau menganggu saja!" Arsen jengkel karena Mark menghubunginya pagi-pagi.
"Maaf Tuan. Pagi ini Tuan ada jadwal pertemuan dengan Mr. Dusley dari Jerman."
"Batalkan saja dan kosongkan jadwalku hari ini."
Sudah kuduga! "Baik Tuan."
"Ohya, tambahkan juga jadwal seminggu dua kali untuk mengunjungi Alganda Group. Aku ingin memeriksa kinerja mereka."
"Baik Tuan. Apa hari ini Tuan akan ke Alganda Group bersama Nyonya?"
"Hmm, kau datanglah pukul sembilan. Memeyku masih tertidur pulas dan aku tidak ingin menganggunya."
"Baik Tuan."
"Ada lagi yang harus kau kerjakan. Pecat semua bawahan Lauren yang masih berpihak padanya! Kalau perlu rombak kembali dan pasang poster lowongan pekerjaan."
"Baik Tuan. Apa masih ada lagi Tuan?"
"Ya, ada!"
"Apa Tuan?"
"Cepatlah menikah dengan seorang wanita dan bercinta dengannya, agar kau bisa mencetak Mark kecil di sana!" ledek Arsen.
Tut ... tut ... tut
"Ha--lo"
Arsen memutuskan sambungan ketika Mark hendak berbicara.
"Benar dugaanku, pasti si bos membatalkannya," mendengus kesal. "Tunggu! Tuan bilang apa di akhir percakapan? Me--menikah? dan ... bercinta? HAHAHAHA!" gelak tawa Mark menggelegar memenuhi ruangan itu. "Bunuh aku, jika aku melakukakan itu! Cih!"
Mark sangat benci dengan kata menikah, apalagi dengan bercinta! Entah apa yang membuat pria itu sangat anti dengan masalah percintaan. Melirik wanita pun tidak pernah, apalagi berkencan, mustahil!
Bagi Mark, tak ada yang lebih penting dari Arsen dan bisnis. Ia bekerja mati-matian karena mendapat gaji berpuluh-puluh kali lipat. Ia menabung untuk dirinya sendiri di masa tua nanti. Segala sesuatu yang menyangkut masa depannya, ia sudah prediksi.
__ADS_1
Harap maklum, begitulah prinsip Jodi alias jomblo abadi. Karena hidup menyendiri, maka ia pun harus mengatur dengan baik tatanan hidupnya kelak.
***
Setelah keduanya membersihkan diri, Amey dan Arsen keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju walk in closet untuk mengenakan pakaian. Hari itu keduanya akan bersiap menuju ke gedung Alganda Group, yang sekarang telah menjadi milik Amey.
Ya! Itu memang miliknya, peninggalan kedua orangtua Amey untuknya. Dan sekarang atas bantuan Arsen, ia pun bisa merebut kembali apa yang menjadi kepunyaannya. Meski pun bukan Amey yang mengelolanya, namun perusahaan itu tetaplah atas nama dirinya.
"Sayang, aku lapar," rengek Amey mengelus perutnya.
"Hmm, baiklah. Ayo kita turun ke bawah. Elis pasti sudah menyiapkan makanan," ajak Arsen.
"Tidak mau Ars!"
"Kenapa tidak mau? Kau ingin makan di luar? Baiklah ayo kita cari makanan di luar."
"Tidak mau lagi Ars," menggeleng kepalanya sambil memasang raut manja.
"Terus Memey maunya apa?" tanya Arsen mengelus bibir Amey dengan ibu jarinya kemudian menancapkan ciuman lembut di sana.
"Aku mau makan masakanmu," lirih Amey.
Mendengar ucapan istrinya, Arsen melebarkan mata setelahnya mengernyitkan dahi. "Memey? Kau tidak salah bicara 'kan?"
"Tidak Sayang. Aku tidak mau makan, selain masakan buatan kamu. Jadi ayo ke dapur dan buatkan aku makanan!"
"Memey Sayang? Tapi 'kan kau tau sendiri, waktu itu aku membuatkanmu masakan dan warnanya berubah menjadi gelap semua. Pahit pula."
Gosssh! Bagaimana bisa aku memberi makan istriku dengan makanan pahit dan gelap? Tapi kalau aku tidak memasak untuknya, maka dia tidak mau makan! Bingung juga! gerutu batin Arsen.
"Ya sudah kalau tidak mau!" menyentak kakinya dan berlalu.
"Tu-tunggu Sayang. Baiklah baiklah. Aku akan memasak untukmu. Tapi jangan marah jika masakanku aneh."
Amey tersenyum manis dan membuka lebar kedua tangan memeluk Arsen. "Aku percayakan semuanya padamu," tuturnya.
Arsen menerima pelukan itu dan mencium puncak kepala istrinya. "Jangan ngambek lagi ya Sayang. Akan aku lakukan yang terbaik untukmu."
"Baiklah. Jangan kecewakan aku dan anakmu."
Apa ini kemauan Ars kecil di dalam perut Memey?
***
Sudah hampir setengah jam Arsen memandangi bahan-bahan aneh di depannya. Kini ia sudah tidak mempercayai youtube. Baginya aplikasi itu telah membodohi dirinya waktu itu. Tampak hasil dari masakan yang ada di video itu sempurna dan lezat. Namun buktinya, yang terjadi di dunia nyata, masakan Arsen serentak berwarna hitam alias gosong.
"Apa yang harus aku lakukan dengan benda-benda sialan ini!" gumam Arsen geram.
Amey yang menatapnya dari jauh, memberikan dukungan dan semangat agar pria itu berhasil dalam misinya. Jika misinya gagal, maka Amey dan calon anaknya tidak akan makan, dan itu bisa membuat kesehatan mereka teganggu.
Pria itu memotong-motong tomat, daun bawang, dan bahan-bahan dapur lainnya dengan sembarangan. Kemudian setelah itu, diikuti dengan memotong daging sapi menjadi beberapa bagian. Ia sebenarnya tidak tahu masakan apa yang akan dibuatnya.
__ADS_1
Untuk saat ini kekuatan instinglah yang bekerja dalam otaknya. Apa yang terpikirkan itulah yang akan ia buat. Ia pun mulai mendidihkan air dan menaruh bahan-bahan itu secara bersamaan. Ia memberikan sedikit perasa ke dalam masakan itu agar tidak hambar.
Satu jam berlalu. Ia masih mengaduk-aduk sup aneh yang ada di dalam panci itu. Airnya pun tinggal sedikit, padahal tadinya panci itu terisi penuh oleh air. Tapi karena api yang subur ditambah waktu mengaduk yang lama, maka airnya pun berkurang.
"Sayang, kenapa lama sekali?" tanya Amey yang tiba-tiba muncul.
"Sebentar lagi Sayang. Duduklah kembali."
"By the way, apa yang kau buat?"
"Sup daging sapi."
"Wahh? Kau bisa ternyata," bertepuk tangan kegirangan.
Arsen tersenyum kecil dan mulai menyombongkan diri. "Kau akan terpukau jika merasakan masakanku."
"Ohya? Cepatlah selesaikan."
Arsen mengambil sebuah mangkuk kecil dan ditaruhnya sup jadi-jadian ke dalamnya. Senyuman Amey berkembang. Ia mencoba mengendus agar aroma masakan Arsen hinggap di hidungnya. Namun bau enak yang diharapkan Amey tak tercium sama sekali.
"Memey, lihatlah. Tidak gelap 'kan?" menunjuk mangkok putih itu.
Senyuman mengembang Amey perlahan memudar. Ia menatap lekat isi dari mangkok putih itu. Tomat yang layu tidak berbentuk, daun bawang yang sama layunya dengan tomat, bahan-bahan aneh yang seharusnya tak digunakan dalam sup daging sapi, dan apa itu? Daging sapi yang dicincang asal-asalan kini menciut.
"Ars, kau yakin ini sup daging sapi?"
"Ya! Ada kuah, ada daging sapi. Jadilah sup daging sapi," tutur Arsen dengan penuh percaya diri.
"Dari mana kau belajar membuat sup daging sapi yang seperti ini?" tanya Amey tak berenergi.
"Kau lupa? Jika aku mempunyai kekuatan ..."
"Jangan diteruskan!"
"Sup--ranatural," terus Arsen dengan lirih.
"Ini mirip makanan Tom, Ars."
"Makanan Tom?"
"Iya."
"Tom siapa?
"Musuh bebuyutan Jerry!"
To be continued ...
Mana nih dukungan buat Author? :)
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘
__ADS_1