Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Jangan melirik Istriku!


__ADS_3

"Hey, kau!" teriak Arsen kepada seorang pria yang menatap Amey dengan tatapan mengingini.


Pria itu kaget saat Arsen tiba-tiba mengancing lehernya. "Le--lepaskan saya, saya tidak bisa bernafas," tutur pria itu gagap.


Mark yang melihat tingkah Arsen, langsung menghentikan tingkah konyol Arsen. Sedangkan Amey masih dengan raut bingungnya melihat sang suami yang tiba-tiba berulah.


"Maaf, Pak. Tuan saya mabuk," ucap Mark menundukkan kepala.


Pria itu memandangi Arsen dengan mengerutkan kening. Wajah itu tidak asing baginya. "Tidak apa-apa."


Pria itu melangkahkan kakinya dan melewati Amey. Ia terus memandangi Amey dengan tatapan menggoda, tapi Amey sama sekali tidak melirik pria itu. Arsen yang melihat itu langsung berlari dan menendang punggung pria asing itu dengan sangat keras sehingga pria itu jatuh ke tanah.


"Kau mau mati, hah?" teriak arsen mengepalkan tangan.


"Arsen! Jangan gila kamu!" teriak Amey tak kalah nyaring dari Arsen. "Kenapa kau menendangnya? Apa salah pria itu? Kau sangat keterlaluan!"


Mark membiarkan Arsen melakukan itu karena ia tahu pria asing itu telah melakukan kesalahan yang fatal.


"Mark kenapa kau diam saja? Bantu pria itu berdiri!" perintah Amey.


"Maaf Nyonya, tapi dia pantas menerimanya," tutur Mark dengan santai.


Amey menyentakkan kakinya. Ia segera membantu pria itu berdiri namun Mark menahan tangannya. "Jangan Nyonya, perang dunia ketiga bisa terjadi!" ketus Mark.


Amey menepis tangan Mark. "Ada apa dengan kalian, hah?" Amey melanjutkan langkahnya untuk membantu pria asing itu berdiri. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya.


Sisi Iblis Arsen bangkit melihat Amey menyentuh pria itu. Ia segera menarik tangan Amey dan melemparkan tubuhnya ke sisi Mark. Dengan sebuah tinju maut, ia mendaratkan tepat di wajah pria asing itu. Sungguh amarah Arsen klimaks! Tidak ada yang bisa menghentikannya.


Pria itu mengerang kesakitan. Ia mencoba menangkis pukulan Arsen, namun itu hanyalah sia-sia. Semakin pria itu bergerak lebih, maka semakin bergairah Arsen menghajarnya. Amey yang melihat itu hanya bisa menganga.


"Aku tidak akan mengampunimu cecunguk sialan! Aku akan mengirimmu ke neraka!"


Brakkkkk


Pukulan terakhir yang begitu dahsyat sehingga membuat pria asing itu terpental hebat ke tanah. Wajah pria itu sudah babak belur dibuat Arsen. Jangan harap bisa utuh jika berhadapan dengan lelaki kejam seperti Arsen. Siapa suruh pria asing itu melirik apa yang menjadi milik si Tuan Arogan!


Arsen berjalan pontang-panting menuju Amey dan Mark yang sedari tadi menonton aksinya. "F****! Berani sekali dia melirikmu!"


Amey terperanjat. "Jadi kau memukulnya hanya kerena dia memandangiku?" Amey memijat keningnya sembari mendengus. "Hufthhh! Aku tidak tahu lagi harus berkata apa!"


"Jangan berani kau menggoda pria lain! Jika kau melakukannya, habis kau di tanganku!" ancam Arsen.

__ADS_1


"Terserah kau saja!" berjalan meninggalkan Arsen dan Mark.


Amey hendak memasuki mobilnya. Namun ia tidak menemukan kunci mobilnya. Ia membalikkan badan dan menatap Arsen dan Mark yang berjalan ke arah mobil hitam yang terparkir di sebelah mobilnya.


"Kau melihat kunci mobilku?" tanya Amey.


Mark menunjukkan kunci mobil Amey namun segera ia menggenggam erat kunci itu. "Nyonya, maafkan saya. Sepertinya Nyonya yang harus mengantarkan Tuan pulang."


Amey melotot menatap Mark.


"Tenang Nyonya, biar aku yang membawa mobil Anda."


Amey hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ia berjalan dengan langkah yang berat menuju mobil Arsen. "Kesialan yang hakiki," gumamnya.


Amey membantu Arsen yang mabuk memasuki mobil. Amey melihat wajah Arsen yang begitu tampan saat dalam keadaan oleng. Wajahnya begitu seksi, apalagi jakunnya yang menjulang di tenggorokannya.


Mata Arsen sayu saat melihat Amey memandanginya dengan lekat. Wajah Amey berbayang-bayang menjadi dua, ia menarik wanita itu dan mencium bibirnya.


Amey terkejut bukan kepalang. Jantungnya memompa begitu kencang saat Arsen menancapkan ciuman di bibirnya. Amey tidak dapat menarik bibirnya karena ia pun merasa nyaman saat Arsen mencumbunya.


Entah apa yang ada di pikiran Amey. Mungkin ia menganggap Arsen adalah Arka yang sedang menciumnya, sehingga ia membiarkan pria itu melumati bibirnya. Amey pun terbawa suasana.


Bunyi klakson menyadarkan Amey. Ia sontak mendorong tubuh Arsen sehingga masuk sepenuhnya ke dalam mobil. "Sudah gila aku!" gumamnya.


Mark tidak sengaja membunyikan klakson, ia tidak tahu jika Tuan dan Nyonya-nya sedang asik bercumbu. Untunglah Arsen mabuk, kalau tidak Arsen pasti sudah membuat Mark menjadi mayat hidup.


***


"Hufth!" Amey mendengus lelah. Tangannya mati rasa karena membantu suaminya berjalan. Untunglah rumah Arsen ada liftnya, jadi ia tidak perlu repot-repot merangkul Arsen menaiki tangga.


Amey menghempaskan tubuh Arsen di atas ranjang. Karena saking lelahnya Amey, ia pun ikut merebahkan tubuhnya di dekat tubuh Arsen. "Kau makan besi? Badanmu berat sekali!" gerutu Amey.


Arsen mulai merasakan panas yang teramat sangat di badannya. Perlahan ia mulai membuka kancing kemejanya. Amey menatap Arsen yang layaknya cacing dan segera membantu pria itu melepas pakaiannya.


"Kalau kau kepanasan, sana mandi," tutur Amey.


"Aku ... aku ..."


"Ngomong yang benar!" tukas Amey.


"Aku butuh sesuatu," ucap Arsen mencengkram tangan Amey.

__ADS_1


"Apa? Katakan!"


Arsen menatap Amey yang sedang membantunya membuka kancing kemeja. Dengan segera ia membalikkan badannya dan menindih tubuh Amey.


"Ars! Apa yang kau lakukan!" Amey merontah.


"Aku butuh makanan," lirih Arsen menatap sekujur tubuh Amey yang begitu menggoda.


"Kalau lapar, ya sana makan!" ketus Amey. "Lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas!"


"Bukan aku yang lapar, tapi adik kecilku," ucap Arsen tersenyum kecut.


Amey mulai merasakan ada yang aneh menyentuh permukaan kulitnya di bawah sana. Ia menjelingkan matanya menatap belut Arsen yang menjulang ke atas.


"Sadarkan dirimu Ars. Kau mabuk!" Amey merontah hebat.


Arsen mendesah pelan di leher mulus milik Amey dan itu membuat istrinya menggeliang hebat. Nafas Arsen menusuk pori-pori leher Amey. Tangan Arsen mencengkeram erat pergelangan tangan Amey sehingga wanita itu tidak dapat bergerak dengan leluasa.


"Sudah lama aku tidak memanjakan adik kecilku, dan kau selalu memancing adikku untuk bangun!" lirih Arsen kembali mencium leher Amey.


"Shhh .... Arghh!" Amey mengerang, membuat Arsen lebih bergairah.


"Tenang Sayang aku akan melakukannya dengan lembut. Kau hanya perlu menikmati permainanku Sayang." Bibir Arsen semakin turun ke area dada Amey. Ia mulai menyentuh aset sensitif istrinya.


"Shhh ... Ars--sen, ehmm ... tolong he--ntikan! Arghhh ..." desah Amey tak karuan.


Pantas saja Amey mulai mengerang dan mendesah tak karuan, Arsen mulai menekan belutnya yang masih terbungkus balutan kain di area sensitif Amey. "Sayang, bagaimana? Kau menikmatinya?" tanya Arsen menggoda.


"Ars--sennn kau mabuk. Kau akan menyesal telah melakukan ini padaku," lirih Amey tidak bertenaga.


Arsen mulai menyelipkan tangannya disela gaun yang terbelah itu. Ia mulai menjalarkan tangannya dengan lembut ke bagian perut Amey. Wanita itu semakin mengeluarkan desahan-desahan yang membuat Arsen bersemangat.


"Arkaaaaaa!" teriak Amey tidak kuasa menahan rasa geli.


Mendengar teriakan Amey yang memanggil nama Arka, sontak membuat Arsen terperanjat dan menghentikan aksinya. Seketika ia tersadar akan janjinya yang tidak akan menyentuh wanita milik kembarannya.


Ternyata alam sadarnya masih berfungsi, meskipun nafsu yang membara telah menguasai akal sehatnya. "F*ckkkkkkk!" teriak Arsen sembari melepaskan tubuh Amey.


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘

__ADS_1


__ADS_2