Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Pengasuh Sementara


__ADS_3

Selesai menjemput Zoey, Kaisar mampir di kantorJayden. Wajahnya terlihat datar dan masam. Ia merasa kesal karena tak bisa berlama-lama dengan Zoey. Ia pun bermaksud melampiaskan kekesalannya pada Jay dengan mengunjungi sahabatnya itu di kantor.


"Di mana Jayden?!" tanya Kaisar pada seorang wanita seksi yang merupakan sekretaris Jayden.


"Pak Jay ada di dalam. Namun beliau kedatangan tamu."


"Aku tidak peduli!" Kai menerobos masuk ke dalam tanpa mendengarkan ucapan wanita itu.


Brukkkk!


Kai menendang pintu itu dengan kasar. "Sial!" ketusnya.


Seorang wanita yang sedang melayani Jayden melonjak kaget, namun Jay terlihat santai dan tenang. Jay sudah tahu jika itu adalah Kai. Pasalnya hanya Kaisar dan Arsen yang berani menggebrak pintu ruangannya. Tapi yang lebih sering bertingkah kekanak-kanakkan seperti itu adalah Kaisar, karena Arsen sudah tidak pernah mampir ke perusahaannya semenjak ia menikah.


"Sudah ku duga!" celutuk Jay, menaikan resletingnya. Ia mengebas jemarinya, mengisyaratkan wanita itu untuk keluar dari ruangannya.


Kai merebahkan tubuhnya di sofa dan menarik napasnya panjang.


"Apa kau sudah bertemu Zoey?" tanya Jay.


"Hmmm!" mengangguk.


"Bagaimana? Apa dia masih menyukaimu?" ledek Jayden.


"Persetan denganmu Jay!"


"Why? Apa yang salah denganmu, hah?"


"Dia sudah banyak berubah." Kaisar memejamkan matanya.


"Apanya yang berubah?" tanya Jay heran.


"Bukan hanya penampilannya yang berubah. Sifatnya pun sudah berubah. Dia menjadi pasif dan pendiam. Tak seperti Zoey yang dulu."


"Hahah! Baru kali ini aku melihat kau jengkel karena wanita!"


"K*parat kau, Jay! Aku sumpahin kau jomblo seumur hidup!"


"Ahhh janganlah, Kai! Ohya aku lagi nyari seorang wanita nih," tutur Jay.


"Ya sudah buat poster aja!"


"Bukan gitu juga, bambang!!" memutar bola matanya. "Apa kau ingat wanita di klub itu?"


"Mana ku tau! Memangnya di klub hanya satu wanita saja!"


"Ituloh, Kai ... yang hampir kita pakai taruhan!"


"Nggak lihat aku!" ucap Kai, cuek.


"Makanya aku mau minta bantuan sama kamu. Bantuin aku melacak wanita itu."


"Kau pikir aku intel?!"


"Kau lebih ahli dari intel! Kau bisa mengerahkan anak buahmu untuk melacak seseorang! Ayolah Kai!"


"Nanti ku pikirkan!"


"Nah gitu dong. Kalau berhasil, aku pasti akan balas budi."


Jay tiba-tiba tersenyum. Ia kembali mengingat wanita cantik yang ia lihat saat berada di klub favorit mereka. Sepertinya Jayden telah jatuh cinta pada pandangan pertama.


Drt ... drt ... drt ..


(Percakapan di telepon)


"Ada apa, Ars?" tanya Jayden.


"Apa kau sibuk?"


"Tidak juga. Ada apa?"


"Tadi aku menghubungi Kaisar tapi tak di jawab. Apa dia bersamamu?" tanya Arsen.


"Hmm, dia di sini," menatap Kaisar.


"Tepat sekali. Aku dan Memey akan mengadakan perjalanan bisnis keluar kota, tolong jemput anak-anakku di sekolah."


"Memangnya kedua pengasuhmu ke mana?"


"Lagi pulang kampung. Katanya orang tua mereka sakit. Nanti saja aku jelaskan, pokoknya aku percayakan anak-anakku pada kau dan Kaisar. Aku harus berangkat sekarang!"


Tut ... tut ... tut


"Ey! Ars! Jangan di tutup dulu!" Jay memandangi ponselnya. "Ahh sial, dimatiin!"


Kaisar memandangi Jay dengan tatapan heran. "Apa yang dikatakan Arsen?"


"Sepertinya kita akan menjadi pengasuh untuk sementara waktu," tutur Jay.


"Maksudmu?"


"Nanti aku jelaskan! Ayo pergi," ajak Jay sembari meraih setelannya yang digantung di belakang tempat duduk.


Kedua orang itu langsung menuju mobil masing-masing dan mengemudi menuju ke sekolah keempat Ed.


Pekerjaan mendesak Arsen yang juga melibatkan Amey, membuat ia terpaksa menitipkan anak-anaknya pada Kasar dan Jayden. Arsen hanya percaya kepada kedua sahabatnya itu dibandingkan menitipkan anak-anaknya di tempat penitipan anak.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, Kai dan Jay tiba di sekolah keempat Ed.


"Bukankah itu, Mark?" gumam Jay. Ia segera turun dari mobilnya dan menghampiri seorang pria yang mirip dengan Mark.


Tak lama setelah Jay memarkirkan mobilnya di depan gerbang, Kai pun menghentikan mobilnya di belakang mobil Jay.


Dari kejauhan, Kaisar telah melihat Jay yang sedang berjalan menghampiri seorang pria berjas cokelat. Ia pun turun dan menghampiri Jayden.


"Mark?" panggil Jay.


Pria itu menatap ke sumber suara. Ia pun menunduk dan menyapa Jayden.


"Benar ternyata. Apa kau juga akan menjemput anak-anak Arsen?"


"Benar, Tuan."


"Apa hanya Arsen dan Amey yang keluar kota?" tanya Jay.


"Benar, Tuan.

__ADS_1


"Kenapa kau tak ikut?"


"Ada sesuatu yang harus aku urus, Tuan."


Jayden mengangguk.


"Kau juga di sini, Mark?" tanya Kaisar yang baru muncul.


Mark menunduk dan menyapa.


Ketiga pria itu berdiri di depan gerbang sekolah sembari menunggu lonceng pulang sekolah untuk tingkat satu. Mereka sedari tadi menjadi sorotan para siswi sekolah menengah atas. Kebetulan waktu istirahat tingkat sepuluh sampai tingkat dua belas berketepatan dengan jam pulang tingkat satu sekolah dasar.


Penampilan Mark, Kaisar dan Jayden berhasil mengalihkan perhatian para gadis yang masih peranggang itu. Bagaimana tidak, wajah super tampan, postur tubuh yang atletis di tambah dengan super car yang berbaris rapi di depan gerbang, membuat wanita mana pun yang melihatnya pasti akan mimisan.


Ketiga pria itu seperti robot yang berdiri di depan gerbang. Sedari tadi mereka tidak bergerak sama sekali. Mark dengan gaya tegapnya yang maco, kemudian Kaisar yang bersandar di pintu mobil dengan kedua tangannya yang diletakkan ke dalam saku celana, sedangkan Jayden yang berdiri tegap sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Masing-masing dari mereka mengenakan kacamata hitam yang menutupi manik mereka.


"Resiko menjadi pria tampan," gumam Jay sembari melekukan bibirnya.


"Perasaan, pandangan mereka mengarah padaku!" tukas Kaisar.


"Hanya perasaanmu saja Kai. Kenyataannya mereka sedang memandangiku!" Jay terkekeh pelan.


"Sepertinya mereka memandangiku!" lirih Mark, tak mau kering.


Deg!


Kaisar dan Jayden terkejut bukan main. Mereka berdua memandangi Mark dengan heran. Terasa aneh di telinga mereka jika mendengar Mark berbicara informal seperti itu. Apalagi memuji dirinya sendiri.


"Apa kau masih Mark yang kita kenal?" tanya Jay.


Mark menengok kedua orang itu dan mengangguk pelan tampa bersuara. Ia kemudian kembali memandangi halaman sekolah yang begitu luas.


"Kai, apa kau melihat wajah Mark?!" Tanya Jay.


"Ya! Ada mata, alis, hidung dan mulut!" tutur Kaisar.


"Kalau itu aku juga tau, bambang! Tapi coba kau perhatikan ekspresinya."


Kai menatap wajah Mark. Ia mendapati Mark yang sedang tersenyum kecil. Tak biasa mereka melihat wajah kaku Mark tersenyum seperti itu. "Mark, apa kau sedang jatuh cinta?!"


Deg!


Mark terperanjat. Kenapa tebakan mereka selalu benar?! Bukan hanya Tuan Arsen, tapi teman-temannya juga sependapat! Apa wajahku terlalu menonjol?! Batin Mark.


Belum sempat menjawab pertanyaan Kaisar, lonceng pulang sekolah untuk tingkat satu telah berbunyi. Sedangkan jam istirahat untuk tingkat sepuluh sampai tingkat dua belas telah usai.


Para siswa dan siswa berlari keluar dari kelas menuju halaman untuk mengadakan apel pulang sekolah. Masing-masing orangtua mereka pun sudah menunggu di gerbang. Kebanyakan yang menjemput anak-anak itu adalah seorang wanita, entah itu ibu kandung atau pengasuh mereka. Hanya Mark, Kaisar dan Jayden yang berkelamin laki-laki di situ. Para ibu-ibu pun terpesona melihat ketampanan dari tiga pria yang mematung di sana.


"Ayah siapa itu? Tampan sekali!"


"Bule dari mana? Ya ampun beruntung sekali istri mereka."


"Baru kali ini aku melihat wajah mereka. Apa anak dari ketiga pria itu adalah murid pindahan?"


"Sepertinya mereka bukan pengusaha biasa. Dilihat dari penampilan bahkan kendaraan, mereka berasal dari keluarga konglomerat. Tapi siapa ya?"


Pertanyaan demi pertanyaan menumpuk di gendang telinga pria-pria itu. Ibu-ibu rempong sepertinya sedang bergosip di belakang mereka. Namun Mark, Kai dan Jay tak mempedulikan ibu-ibu itu. Manik mereka berkeliling mencari sosok keempat anak kembar Arsen.


Setelah selesai mengadakan apel pulang sekolah, para siswa siswi tingkat satu berlari menuju gerbang depan seraya mencari orangtua mereka. Tiba-tiba segerombolan anak laki-laki muncul dan terlihat sedang menangis dengan kencang. Orangtua mereka pun sangat panik dan khawatir.


"Siapa yang memukul, anak Mama?!" tukas Ibunya.


"Mamaaaaa! Aku tidak mau sekolah lagi! hik ... hik ... hik!" ujar seorang anak laki-laki yang merupakan sahabat dari anak berbadan besar.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kau menangis? Siapa yang membuatmu seperti ini??


"Huaaaaaa! Mama, anak-anak preman itu memukulku lagi! Hik ... hik ... hik!"


"Siapa lagi yang membuat kesayangan Mama menangis?"


Ketiga anak-anak itu tiba-tiba menujuk ke arah empat anak serupa yang tak lain adalah si kembar Winston Junior.


"Mereka yang memukul aku dan teman-temanku!"


Ketiga wanita paruh baya itu mulai naik pitam. Pasalnya sudah dua kali anak mereka dibuat menangis oleh keempat Ed. Dengan wajah beringas, ibu-ibu itu menghampiri keempat Ed yang sedang berjalan menuju gerbang dengan bergandengan tangan.


"He anak-anak nakal! Berani sekali kalian membuat anakku menangis!" celutuk seorang wanita berpakaian serba merah, bahkan lipstiknya pun senada dengan pakaiannya, merah menyala.


"Oh rupanya kalian si biang rusuh sekolah!"


"Sepertinya kalian harus diberi pelajaran agar tidak nakal!"


Ketiga wanita paruh baya itu menarik kuping keempat Ed dengan keras.


"Lepaskan aku, tante jelek!" ketus Edzel.


"Kau menyakiti telingaku!" tambah Edgar.


"Siapa Anda-Anda ini yang berani menarik telinga kami!" tukas Edhan.


"Lebih baik lepaskan, sebelum kalian menyesal!" celutuk Edward, dingin.


Wanita-wanita itu membesarkan mata saat mendengar ucapan-ucapan pedas dari empat Ed. Mereka belum tahu jika anak kembar empat itu adalah anak dari pemilik sekolah sekaligus pebisnis nomor satu dan terpandang.


"Siapa orangtua kalian, hah?! Apa mereka tidak mengajarkan sopan santun pada kalian!"


"Anak-anak macam kalian tidak pantas bersekolah di sini!"


"Perusuh seharusnya dikeluarkan dari sekolah!"


Ketiga wanita paruh baya itu mulai menyudutkan keempat Winston Junior. Karin yang melihat itu dari kejauhan langsung syok dan menghampiri tempat kejadian perkara.


"Adudududu! Pe--permisi ibu-ibu negara," melepaskan tangan mereka dari kuping keempat Ed.


"Pas sekali! Kau sebagai wakil kepala sekolah seharusnya sudah tau jika anak-anak nakal ini harus dikeluarkan dari sekolah!"


"Ma--maaf Ibu-ibu negara. Apa ibu-ibu tidak mengenali mereka?" tanya Karin tersenyum paksa.


"Saya tidak perduli mereka siapa. Yang jelas sudah dua kali mereka memukul anak saya! Apa kau juga tidak tau siapa saya?!"


Deg!


Jantung Karin berdebar tak karuan. Siapa juga yang tidak kenal Anda, Nyonya. Kau memang istri petinggi negara, namun yang sedang kau hadapi ini bukanlah anak-anak sembarangan!


"Kau tidak tau siapa kami?"


"Saran saya, keluarkan anak-anak perusuh ini. Jika tidak jabatan Anda sebagai wakil kepala sekolah akan di cabut!"

__ADS_1


Manik Karin melebar. Ia terkejut mendengar ucapan wanita itu yang tak lain adalah ketua komite di sekolah. Oh Dewa, berpihaklah kepadaku! Yang aku hadapi adalah ibu-ibu rempong yang memiliki kekuasaan di negara ini. Kalau aku tidak menuruti kenginan mereka, bisa-bisa reputasiku sebagai wakil kepala sekolah hancur! Tapi ... kalau sampai aku turuti kemauan ibu-ibu sadis ini, maka bukan hanya reputasiku yang hancur, tubuhku juga akan hancur dan remuk di tangan Tuan Muda Arsen Winston!


"Baiklah, kalau kau tidak mengeluarkan mereka dari sekolah, maka kami yang akan menghukum mereka!"


"Uncle!!" teriak Edgar tiba-tiba saat melihat Mark yang berdiri di depan mobil.


Mark, menatap sumber suara. Ia mengernyitkan dahi saat melihat keempat kembar di kerumuni wanita-wanita paruh baya.


"Mark, apa itu mereka?" tanya Jay.


"Benar, Tuan."


"Kalau begitu ayo kesana," ajak Kaisar.


Ketiga pria itu menghampiri keempat Ed. Mereka dengan heran melihat ibu-ibu itu yang sedang memandangi empat Ed dengan tajam dan beringas.


"Ada apa ini?" tanya Mark.


Deg!


Karin melonjak hebat saat mendengar suara Mark. Mati aku! Tamat aku! Rip aku! Selamat jalan Karin! Tuhan menyambutmu di sorga!


"Uncle! Akhirnya kau datang. Kami baru saja di tindas ibu-ibu jelek ini!" ketus Edgar.


Jadi pria-pria tampan ini adalah paman dari keempat anak kembar ini?! Batin salah seorang wanita.


"Uncle, jelaskan siapa kami! Aku muak melihat ibu-ibu ini!" ucap Edward.


"Lancang sekali kamu ya! Masih kecil sudah berani berkata tidak sopan seperti itu!" Ia hendak melayangkan pukulannya dan menampar Edward namun, Mark segera menangkisnya.


"Jangan coba-coba menyentuh Tuan Muda Kecil. Ini merupakan peringatan pertama dan terakhir untuk Anda!" ucap Mark.


"Apa kalian tidak mengenal mereka?" sambung Kaisar.


"Seharusnya saya yang bertanya, apa kalian tidak mengenal saya?! Baru kali ini saya menerima perlakuan kasar oleh seorang pria! Saya akui kalau kalian tampan dan mungkin dari kalangan atas, tapi kalian sangat salah telah mencari masalah dengan saya!"


Jay menyunggingkan bibir. "Anda-anda ini siapa? Kami tidak mengenal kalian?! Justru kalianlah yang salah besar telah mencari masalah dengan anak-anak ini!"


"Baik. Saya akan memperkenalkan diri saya. Saya adalah istri dari perdana menteri. Teman saya yang di samping kanan adalah ketua komite sekolah ini, dan terkahir yang di sebelah kanan merupakan istri pengusaha terkaya di kota ini!" ucap wanita berbaju merah dengan lantang. "Apa kau sudah mengingat kami?" tanyanya dengan angkuh.


"Maaf. Saya masih tidak mengenal Anda-Anda dan sama sekali tidak ingin tau jabatan-jabatan Anda sekalian! Tapi yang harus Anda-Anda tau, anak-anak ini adalah anak dari pemilik sekolah ini!" ketus Mark.


"Saya rasa, kalian sangat mengenal sahabat saya, Arsen Winston dari WS Group!" tambah Jayden.


"Dialah, ayah dari anak-anak ini, yang kalian sudutkan tadi. Jadi bagaimana? Siapa yang salah besar telah mencari masalah? Anda-Anda, atau anak-anak ini yang memiliki nama belakang, WINSTON!" Kaisar menekankan nadanya.


Deg!


Deg!


Deg!


Wanita-wanita itu menjadi ciut seketika. Mereka tak berani membantah dan berkata-kata lagi. Bibir mereka seolah tertutup rapat, tangan mereka mulai gemetar mendengar jika orangtua keempat Ed adalah si Pria Arogan yang dikenal kejam dan tak mengenal ampun jika berurusan dengan lawannya.


Ohhhhh myyyy Godddddd! Aku berasa sedang menonton drama! Sungguh sangat keren!! Hahaha, mampusss kalian ibu-ibu rempong yang sangat sombong! Masih untung Tuan Arsen tidak di sini. Coba kalau di sini, aku yakin satu juta persen kalau kalian akan sujut sampai ke tanah sambil memohon ampun! Hahaha! Makanya jangan sombong kalau jadi orang! Ucap Karin dalam hati.


"Uncle! Di mana Daddy?" tanya Edward.


"Sedang melakukan perjalanan bisnis."


"Ayo kita pulang, Uncle!" ajak Edgar.


Keempat anak itu berjalan meninggalkan ketiga wanita yang masih terpaku membisu di posisi mereka.


"Bleeeeee!!" Keempat Ed menjulurkan lidah mereka, meledek.


"Saya, harap kalian akan minta maaf langsung pada Tuan Muda Arsen, sebelum jabatan-jabatan kalian dan suami-suami kalian dicabut!" ketus Mark, berjalan meninggalkan mereka.


"Uncle, om-om ini siapa?" tanya Edzel.


"Tuan-tuan, sebaiknya kalian memperkenalkan diri, kalian."


Kai dan Jay mengangguk. "Aku Uncle Kaisar."


"Aku, Uncle Jayden."


"Apa kalian sahabat-sahabat Daddy?" tanya Edward.


"Ya benar. Karena Mommy dan Daddy kalian lagi sibuk, maka kami akan menjaga kalian sementara."


"Horeee aku suka!" teriak Edzel.


"Apa ini mobil Uncle?" tanya Edhan pada Jayden.


"Bukan. Itu mobilnya Uncle Kaisar. Kalau yang warna biru, itu adalah mobil Uncle," ucap Jay menunjuk super car berwarna biru.


"Wihhh keren. Aku naik yang ini saja!" tunjuk Edhan.


"Aku yang warna merah!" ucap Edzel.


Bingung juga kalau begini. Wajah mereka mirip semua. Batin Jay.


"Karena aku suka warna merah! Jadi aku di sini saja," ucap Edward.


Masing-masing mereka memilih mobil yang akan mereka tumpangi. Si sulung Edward dan si bungsi Edzel memilih naik di mobil Kaisar. Sedangkan Edhan, anak kedua, memilih naik di mobil Jayden.


"Baiklah kalian semua masuklah dengan hati-hati," ucap Kaisar.


Syukurlah tidak ada yang memilihku! Hari ini aku 'kan ada kencan perdana dengan Sekretaris Jen. Batin Mark.


Saat ketiga anak telah masuk ke dalam mobill Kaisar dan Jayden, ternyata Edgar masih berdiri di depan Mark. "Halo, Uncle Mark! Bawa aku bersamamu," ucap Edgar tersenyum lebar.


Mark menelan saliva dengan kasar. Ia tak tahu jika Edgar akan memilih bersamanya. Dari keempat anak kembar itu, hanya Edgar yang berperilaku mirip seperti Mark. Makanya Edgar sangat dekat dengan Mark.


Bagaimana jadinya kencan perdanaku dengan Sekretaris Jen, jika aku membawa tuyul ini?! Hufthh, masalah apalagi yang akan menimpa kisah asmaraku?!


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.


Follow ig @syutrikastivani

__ADS_1


__ADS_2