Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Dasi Merah


__ADS_3

Zoey dan Soffy terlihat sedang bersantai di taman belakang. Keduanya terlihat bosan dan seolah tidak memiliki energi. Akibat kecerobohan keduanya sehingga mereka harus menanggung hukuman dari Arsen.


"Nek, aku bosan nih," rengek Zoey.


"Sama Nenek juga! Hufthh." menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Kakak memang mengerikan kalau marah. Hadehh, waktu dekat ini aku akan dipulangkan ke Inggris. Hukuman yang sungguh sadis. Hik ... hik ... hik."


"Jangan bersedih bocil. Nenek juga kena hukuman nggak bisa keluar rumah satu bulan. Mana Nenek bentar lagi mau arisan sama Kawai Squad, 'kan nggak enak banget kalau dikurung seperti ini!"


"Ohya Nek, aku 'kan juga udah masuk dalam geng Nenek, berarti aku juga bakal arisan dong?"


"Benar sekali. Tapi kau belum punya uang, bagaimana bisa ikut arisan?"


"Punya kok Nek, tabunganku lebih dari cukup. Kak Arsen selalu mengirimku uang yang sangat banyak saat aku sekolah di luar negeri. Aku bahkan tidak bisa menghabiskannya, makanya aku tabung."


"Wah wah wah, kau keren bocil. Nenek juga punya tabungan tapi tidak sebanyak dirimu, pokoknya cukuplah sampai Nenek mati."


"Husss, Nenek! Bicara apa sih. Lagian ya, Nenek adalah besan dari keluarga Winston, mana mungkin Nenek berkekurangan."


"Besan sih besan, tapi 'kan Nenek bukan parasit!" kilah Soffy.


"Hmmm, baiklah. Jadi kapan nih kita arisan Nek?"


"Minggu depan."


"Kemungkinan aku sudah tidak di sini Nek." Zoey menundukkan kepala, ia terlihat bersedih.


"Nenek punya ide biar kau tetap di sini," tutur Soffy tersenyum semringah.


"Nek, sebelum rencana Nenek terlaksana, aku yakin akan gagal seribu persen. Nenek 'kan tau sendiri sifatnya kakak. Perintahnya mutlak dan tak bisa diganggu gugat."


"Ya aurel! Baiklah mari kita taruhan, kalau sampai rencana Nenek berhasil, kau harus merelakan Nenek menikah dengan Kaisar. Tapi kalau Rencana Nenek gatot, kau bisa memiliki Kaisar, tapi tidak boleh menikahinya!"


Zoey berkerut dahi. "Ihhh Nenek nggak adil! Nenek yang untung banyak dong," tukasnya tidak setuju.


"Ahhh pokoknya begitu. Yang penting kau tidak jadi pulang ke negeri aneh lagi!"


"Ohiya benar." Zoey tersenyum dan memeluk Soffy.


***


Di dalam kamar sedang terjadi ketegangan. Arsen yang dipenuhi amarah melempar tubuh Amey di atas ranjang dengan kasar. Amey merasa bersalah terhadap suaminya karena ia pergi tanpa pamit sehingga membuat si Tuan Arogan itu kawatir tingkat dewa.


"Suamiku, tolong tenangkan dirimu!" ucap Amey.


"Bagaimana aku bisa tenang saat mengetahui jika kau sudah tidak ada di sebelahku!'


"Maafkan aku. Aku memang sengaja tidak membangunkanmu, karena kau sangat kelelahan."


"Bohong!"


"Aku mengunjungi makam Arka."


Arsen menatap Amey dengan tatapan garang. "Kenapa ke sana dan tidak mengajakku?"


"Seperti yang aku katakan tadi. Dan juga ada sesuatu yang aku sampaikan padanya," lirih Amey.


"Apa itu?!" Arsen berkerut dahi.


"Aku bertrima kasih padanya karena telah menitipku padamu, dan meminta maaf padanya karena aku ..."

__ADS_1


Arsen mendekat. "Karena?"


"Karena ... aku," menelan saliva. Amey menjadi gugup seketika.


"Memey Sayang, karena apa, hm?" tukas Arsen melebarkan mata.


"Aku sudah jatuh cinta padamu!" ketus Amey sembari meremas jemarinya.


Arsen menarik tangan Amey dan kembali membawanya ke dalam dekapan Arsen. "Kau pandai sekali menggodaku," bisik Arsen.


"Aku tidak menggodamu, tapi yang aku katakan ..."


"Shttttt," membungkam bibir Amey dengan telunjuknya. "Ayo kita ke Gereja!"


"Ke--kenapa? Kau mau bertobat?"


"Aku ingin menikahimu untuk yang kedua kalinya. Tapi kali ini Aku akan menggunakan namaku, Arsen Winston."


Amey tersenyum semringah, ia langsung memeluk Arsen dengan erat. Ia memejamkan matanya di dada bidang Arsen sesekali menggigit dada itu dengan manja.


"Memey Sayang, jangan pancing aku untuk melakukan dua belas ronde!" ucap Arsen menyeringai.


***


Hari kembali berganti. Siang itu, Mark menerima titah dari Arsen untuk mempersiapkan pernikahan dirinya dan Amey untuk kedua kalinya. Amey meminta agar acara hanya diadakan sesederhana mungkin. Tidak ada undangan, tidak ada resepsi dan hanya pemberkatan nikah saja.


"Tuan, aku sudah menghubungi Pendeta."


"Terus?"


"Pemberkatan nikah diadakan pukul satu siang."


"Bagus."


"Carikan aku dasi merah."


"Tapi, Tuan memiliki banyak dasi berwarna merah."


"Aku mau yang baru! Ini hari pernikahanku, jadi semuanya harus sempurna."


Tapi 'kan Tuan sudah menikah!


"Aku tau apa yang kau pikirkan! Aku ingin Pendeta menikahkanku bersama Memey dengan menyebut namaku, ARSEN WINSTON! not ARKA WINSTON!"


Tepat sekali! Tuan memang hebat menebak pikiranku.


"Berhenti berbicara dalam hati, kalau tidak mau wajahmu yang jelek itu ketambahan lukisan cantik!" celutuk Arsen.


"Baik, Tuan."


"Jangan pakai lama! Acara satu jam lagi akan digelar, aku tidak mau kau terlambat membawa dasiku!"


"Baik Tuan," ucap Mark sembari menunduk kepala dan meninggalkan ruang kerja Arsen.


Mark mempercepat langkahnya seraya memikirkan cara di mana ia bisa mendapatkan dasi merah itu. Kalau menuju pusat perbelanjaan atau butik-butik yang biasa Arsen datangi pasti akan memakan banyak waktu. Apalagi jarak tempuh dari mansion menuju ke pusat perbelanjaan memakan waktu empat puluh lima menit belum dihitung macetnya.


"Tuan, Tuan! Kau ada-ada saja. Kenapa tidak bilang dari jauh hari kalau ingin menikah lagi. Lihat 'kan sekarang aku yang repot!" gumam Mark sembari menginjak pedal gas dengan kencang.


Mata Mark berhenti pada sebuah tempat. Di mana tempat itu seperti sebuah ruko kecil yang mengantung banyak pakaian. Mark memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dengan segera ia turun dan mencari benda yang dibutuhkannya.


"Permisi, Tuan. Ada yang bisa di bantu?" tanya seorang pria paruh baya penjaga tokoh kecil itu.

__ADS_1


"Apa kau menjual dasi berwarna merah?"


"Hmm, sepertinya ada. Sini saya antarkan."


Mark masuk ke dalam dan mengikuti arahan si penjual. "Baiklah! Lupakan dulu amarah Tuanmu, Mark. Yang penting dasi merah harus ada tepat pada waktunya!" Mark menggerutu.


Mark tidak lagi memikirkan amarah Tuannya jika tahu, ia membelikan dasi murahan untuk Arsen. Apalagi yang hanya dijual dipinggir jalan. Mata Mark mengeluarkan binar saat melihat benda yang ia cari menggantung di sebuah palang besi.


"Itu dia!" gumamnya saat melihat dasi merah itu yang tinggal satu-satunya menggantung di sana.


Tiba-tiba seorang gadis menarik dasi itu sebelum Mark mendapatkannya. Mark dengan secepat kilat berlari hendak merebut dasi itu kembali dari tangan seorang wanita.


"Kembalikan dasi itu padaku!" ketus Mark membuat wanita itu melonjak.


"Tuan, Mark?"


"Kau mengenaliku?" tanya Mark berkerut dahi.


"Saya Jenifer Tuan. Saya bekerja di hotel Paradise sebagai wakil manajer umum."


Oh rupanya gadis ini bawahan Nyonya Muda. batin Mark.


"Sebelumnya kita pernah bertemu, Tuan. Kau dan Tuan Arsen sempat mengunjungi restoran ..."


Mark mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan Jenifer untuk menghentikan ucapannya.


"Maaf, aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi denganmu! Sekarang, berikan dasi itu padaku!" tukas Mark datar.


Seketika Jenifer, menjauhkan dasi itu dari hadapan Mark. "Tidak bisa, Tuan. Aku sudah lebih dulu mendapatkannya," tolak Jenifer.


Mark mendengus kesal. Ia menarik paksa dasi itu namun Jen menahannya dengan kuat. "Tuan, mohon maaf yang sebesar-besarnya, dasi ini sudah menjadi milikku! Aku hargai jika Tuan asisten bos besarku, tapi kalau di luar kantor 'kan beda lagi ceritanya!"


"Pak, aku bayar dasi ini sepuluh kali lipat!" teriak Mark sembari mengadah ke arah penjual itu.


Si penjual itu langsung tersenyum semringah. Sedangkan Jen terlihat kesal atas keangkuhan Mark. Jen tidak mau menyerah, ia tetap menarik dasi itu. Karena takut dasinya sobek, Mark mengalah dan melepaskannya.


"Pak, jangan gitu dong. Aku duluan yang mendapatkan ini, Bapak harus adil. Ini harganya dua puluh lima ribu 'kan? Ini uangnya pas," tutur Jen sembari menyodorkan uang itu pada si penjual.


"Maaf Nona, tapi tuan ini akan membayarnya sepuluh kali lipat," lirih si penjual menolak uang yang diberikan Jen.


Mark tersenyum sinis menatap Jen yang jengkel. "Berikan padaku!"


"Tidak akan!" Jen melempar uangnya di depan Mark, dan berlari meninggalkan tokoh itu."


"Dasar tidak waras! Hey kembalikan benda itu, jika tidak, jangan harap kau bisa bekerja lagi!" teriak Mark seraya mengejar Jen yang sudah berlari mendahuluinya.


"Masa iya aku harus mengalah. Nggak akan! Aku sudah berjanji akan menghadiahkan benda ini padanya. Aku tidak akan memberikannya pada laki-laki angkuh itu!" gumam Jen masih berlari dengan terengah-engah.


Mark masih berusaha mengejar Jen. "Di mana wanita gila itu? Larinya kencang sekali!"


Ia melihat sebuah pasang kaki yang bersembunyi di balik pohon. Mark tersenyum kecut dan berjalan mengendap menuju pohon yang cukup besar itu. Ia mengatur napasnya yang memburu.


"Ketemu kau!"


Jen terkejut bukan kepalang. Ia menatap wajah Mark yang tampak mengerikan. "Tu--tuan," lirihnya berkeringat dingin.


Mark semakin mendekatkan wajahnya. Kini kedua wajah itu hanya berjarak beberapa senti saja. Jenifer memejamkan matanya dengan erat. Ia terlihat gugup, badannya menegang kaku. Deru napas Mark menembus sampai permukaan kulit Jen.


"Ini, milikku sekarang!" merampas dasi itu dari tangan Jen.


To be continued ...

__ADS_1


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘


__ADS_2