
Denyut jantung Mark semakin memompa dengan kencang. Pria pemilik postur yang gagah perkasa itu sedari tadi mondar-mandir di depan pintu kamar Arsen. Ucapan bosnya tadi malam terngiang terus di benaknya, bagai arwah yang bergentayangan secara terus menerus dalam dirinya. Bahkan malam itu, ia tidak bisa beristirahat tenang, meski sudah menelan pil penenang.
"Tidak boleh! Itu tidak boleh terjadi!" gumam Mark.
Pintu kamar Arsen tiba-tiba terbuka. Betapa terkejutnya Mark saat sebuah tangan mendarat di pundaknya. "Aku belum siap, Tuan. Bunuh saja aku sekarang, dari pada aku harus menikah!" celutuk Mark dengan mata terpejam.
"Mark! Hey, apa yang kau bicarakan?"
Saat mendengar suara yang halus itu, Mark langsung membuka matanya. Ia menyapu dadanya sembari membuang napas panjang. "huhfttth!"
"Memangnya kau mau menikah dengan siapa?" tanya Amey lagi.
"Tidak, Nyonya. Aku salah bicara."
"Oh begitu," ucap Amey santai.
Syukurlah, Nyonya tidak menginterogasiku! Nyonya Muda 'kan biasanya kepo minta ampun! Hedehh selamatlah!
"Ohya, Mark. Kata Arsen semua persiapannya sudah selesai. Tinggal menunggu fotografer."
Deg!
Mark terbelalak mendengar ucapan Amey. Jantungnya kembali berdetak kencang. Pe--persiapan? Fo--fotografer?!
"Mark! ... Hey!" menggoyang lengan Mark.
"Nyonya, aku belum siap untuk menikah lagi!" celetuk Mark.
Amey menggaruk tengkuknya. Ia bingung dengan sikap Mark. "Memangnya siapa yang menyuruhmu menikah?" tanya Amey.
"Bukannya Tuan Muda akan menikahkanku hari ini?!" tanyanya.
"Hah?! Menikahkanmu? Dengan siapa?"
Kenapa Nyonya berekspresi seperti itu. Apa aku salah paham dengan ucapannya?
"Jawab, Mark! Wanita mana lagi yang akan dicomblangkan denganmu?! Katakan padaku?!"
"Ehh ... itu, Nyonya ... Sebenarnya persiapan apa yang Nyonya maksudkan?" tanya Mark ling-lung.
"Ituloh persiapan pemotretan bayi-bayi Ed!"
Goshhhhh! Ternyata persiapan yang dimaksud Nyonya bukan tentang pernikahan dadakanku! Sialan! Kenapa aku berekspresi berlebihan seperti ini. Sangat-sangat memalukan!
"Bukannya Arsen yang menyuruhmu mempersiapkan pemotretan itu? Kenapa kau yang bingung sendiri? Baru kali ini aku melihat kau bertingkah bodoh seperti ini, Mark!
Nyonya benar! Persetan dengan kekonyolan ini!
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Mark! Siapa wanita yang akan menikah denganmu?!"
"Bukan wanita, Nyonya ..."
Sejenak Amey berpikir. Tiba-tiba ... "APAAAAA?!!!"
"Ehhm, maksudku bukan siapa-siapa, Nyonya."
"Apa kau menyukai sesama jenis?! Jangan bilang kau jatuh cinta pada suamiku?!"
Deg!
"Tidak Nyonya. Bukan seperti itu. Aku masih normal Nyonya. Aku memang menyukai Tuan Muda ...Tapi ... " belum saja melanjutkan ucapannya, Amey langsung menimpali dengan teriakan histeris.
"APA KAU BILANG!!! Kau mau mati, Mark?! Tak ku sangka sainganku laki-laki seperti dirimu!"
__ADS_1
"Nyonya salah paham! Aku tidak mencintai Tuan Muda. Aku bersumpah. Aku bukan Gay, Nyonya. Menyukai bukan berarti mencintai. Aku sudah menganggap Tuan Muda seperti adik kandungku sendiri yang harus aku lindungi dengan nyawaku sendiri!"
Mendengar itu, amarah Amey kembali meredah. "Lalu wanita mana yang kau maksudkan tadi?"
"Se--sekretaris Jenifer." Sial! Kenapa aku terlihat bodoh seperti ini?!
"Hahaha! Kalau itu mah aku setuju. Ya sudah, aku juga akan membantu Arsen untuk menikahkanmu dengan Jenifer."
Kesialan memang selalu berpihak padaku! Entah mengapa, amarah Nyonya lebih menakutkan dari Tuan Muda. Tuan Arogan, Nyonya Arogan ... wajar saja empat bayi Ed juga mendapat julukan 'Bayi-bayi Arogan!'
Amey menatap Mark dengan tatapan membunuh.
Mark terperanjat. "Si--singa betina!" gumamnya.
Dalam bayangan Mark, di depannya sedang meraung singa betina yang lebih mengerikan dari singa Jantan. Mark hanya bisa menggelengkan kepalanya, serta mengusir pikiran menakutkan yang diciptakan otaknya sendiri.
"Permisi, Nyonya," ucap Elis yang tiba-tiba muncul di belakang Mark.
"Ada apa Elis?"
"Dua orang fotografer sudah berada di ruangan tamu."
"Baiklah. Aku akan ke bawah setelah Arsen selesai bersiap."
"Saya permisi, Nyonya," menunduk kepala dan meninggalkan Amey serta Mark yang tampak mematung di depan Amey.
"Mark, kau temui Dinar Candy dan katakan pada mereka untuk membawa empat bayi Ed karena akan melakukan photoshoot bayi."
"Baik, Nyonya." Dengan sigap, Mark melangkahkan kakinya menuju lift. Ia baru bisa bernapas lega, saat tubuhnya meninggalkan hawa menakutkan yang seolah mengekang tubuh kekar miliknya.
Mark mempercepat langkahnya menuju taman belakang. Ia menghampiri dua wanita itu yang sedang bermain bersama bayi-bayi Ed.
"Rupanya kalian di sini," tutur Mark dengan suaranya yang berat namun seksi.
"Bawa keempat bayi Ed menuju ruang tamu. Mereka akan melakukan pemotretan bersama Tuan dan Nyonya."
"Baik Tuan."
Dinar dan Candy bergegas membawa keempat bayi itu. Mereka berdua tampak kesulitan saat mendorong empat kereta bayi sekaligus. Melihat itu, Mark langsung meraih dua gagang kereta bayi dari tangan Dinar dan Candy. "Apa kalian siput?!" berjalan meninggalkan kedua wanita itu.
Dinar dan Candy menganga saat melihat Mark mendorong dua kereta bayi itu. Pria tegap yang memiliki tubuh atletis, menggunakan setelan navy, sedang mendorong dua kereta bayi. Di mata mereka, Mark merupakan pria dewasa yang begitu mengagumkan.
"Hot Daddy!" celutuk Candy.
"Aku setuju! Betapa beruntungnya pacar Tuan Mark yang bisa memiliki pria sempurna seperti dirinya!" sambung Dinar.
"Kau benar! Tapi yang lebih beruntung, Nyonya Amey. Nyonya bisa mendapatkan Tuan Arsen, yang sangat sulit untuk ditaklukkan."
"Hentikan diskusi tak berguna kalian! Jangan membuat Tuan dan Nyonya menunggu!" ketus Mark.
"Ba--baik Tuan. Maafkan kami."
Kedua wanita itu langsung bungkam dan bergegas menuju ruang tamu.
Setelah tiba di sana, Arsen dan Amey menyambut keempat malaikat kecil mereka. Dua orang fotografer mulai mengarahkan keluarga itu ke posisi yang sudah ditetapkan.
"Maju sedikit Tuan," perintah salah seorang pria berewokan yang merupakan fotografer.
Dengan malas Arsen menuruti perintahnya.
"Ke kanan sedikit Tuan."
Arsen pun menurutinya meski wajahnya mulai garang.
__ADS_1
"Lebih ke kanan sedikit Tuan. Eh maksud saya ke kiri."
"Arghhh! Jangan mengatur saya!" rontah Arsen mulai emosi.
Kedua fotografer itu terperanjat. Mereka menunduk kepala dan tak berani memandang wajah buas Arsen. Tangan dan kaki mereka gemetar hebat seperti sedang terkena sengatan ubur-ubur.
"Sayang! Jangan galak-galak! Kita 'kan lagi pemotretan," ujar Amey.
"Tapi Memey, mereka membuat aku jengkel!"
"Kalau kau marah-marah seperti itu nanti bayi-bayi ini menangis."
Arsen menatap Edward dan Edhan yang berada dalam gendongannya. "Maafkan Daddy. Pria jelek itu membuat Daddy naik pitam!"
Seolah sudah mengerti dengan ucapan Arsen, si sulung, Edward tersenyum lebar.
"Hey! Kau tersenyum Ed! Jarang-jarang melihatmu melekukkan bibir seperti ini!" ketus Arsen.
"Benarkah? Edward tersenyum?" tanya Amey memastikan. Ia menatap wajah Edward yang sedang tersenyum memandangi raut Arsen. "Sayang, sepertinya Edward senang melihatmu emosi. Haha!" terkekeh.
"Bayi jadi-jadian!" gumam Arsen penuh heran.
"Hussss! Sayang! Tega sekali kau menyebut anakmu seperti itu!"
"Goshhhh! Aku tidak bermaksud. Tapi ... baru kali ini ada yang menertawakanku saat marah. 'Kan benar-benar aneh!"
"Kau yang aneh!" tukas Amey menaikan nada.
Arsen beralih memandangi Edhan yang menatapnya datar tanpa ekspresi. "Kau marah pada Daddy?" tanyanya.
Edhan tiba-tiba memutar bola matanya dan melempar pandangan ke arah Amey.
"Uhhhh Edhan Sayang. Kenapa menatap Mommy seperti itu? Mommy baru kali ini melihat rautmu yang sinis," ucap Amey mencium pipi si mungil Edhan.
Amey dan Arsen dibuat bingung oleh bayi-bayi itu. Edhan yang biasa tersenyum tiba-tiba menjadi dingin. Mungkin saja Edhan tidak suka jika Arsen memarahi fotografer itu. Sedangkan Edward, ia malah senang saat melihat Daddy-nya emosi.
Suasana menjadi hening. Arsen dan Amey masih sibuk memperhatikan tingkah Edward dan Edhan. Tiba-tiba terdengar suara kecil yang menggema memecah keheningan.
"Suara apa itu?" tanya Arsen.
Pasutri itu menengok ke sumber suara. Mereka saling menatap saat memandangi bayi Edgar yang sedang terlelap.
"Astaga! Edgar mendengkur!" ucap Amey.
"Tunggu dulu! Aku tidak mendengkur saat tidur!" kilah Arsen.
"Ya aku tau itu! Aku juga tidak!" timpal Amey
Pandangan Arsen dan Amey tiba-tiba menjurus ke arah Mark.
Ehhh! Kenapa Tuan dan Nyonya menatapku seperti itu! Batin Mark.
"Tidak salah lagi! Edgar meniru si Jodi Sinting itu!"
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
__ADS_1
Follow ig : @syutrikastivani