
Hamil muda merupakan hal yang sangat merepotkan bagi seorang wanita. Apalagi tanpa ditemani sang suami. Pagi-pagi benar setelah keberangkatan Arsen ke Turkey, Amey sempat mengalami nyeri hebat. Perutnya terasa sakit dan ia bolak-balik ke kamar mandi untuk mual.
"Aduhh, sakit sekali perutku," gumam Amey.
Ia kembali ke atas ranjang dan mencoba mencari ketenangan di sana. Tidurnya pun tak tenang. Segala macam posisi sudah Amey coba supaya ia bisa tidur dan menghilangkan nyeri di perutnya.
Merasa tak nyaman dengan perutnya, Amey pun menekan sebuah tombol kecil untuk memanggil seorang pelayan. Tak lama setelah itu datanglah Elis dengan raut wajah yang panik.
"Nyonya Amey, ada yang bisa saya bantu?" tanya Elis.
"Elis, perutku sakit sekali," mengerang kesakitan.
"Nyonya, wajahmu sangat pucat. Tunggu sebentar saya akan menelepon dokter kandungan Nyonya."
Dengan raut pucat, menahan kesakitan, Amey mengangguk. Ia memeluk erat perutnya dan melekukkan kedua kakinya.
"Elis! Aku sudah tidak tahan lagi!" pekik Amey.
"Nyonya bertahanlah. Saya sudah menghubungi dokter kandungan Anda."
"Trima kasih, Elis."
"Nyonya apa perlu saya telepon Tuan Muda?"
"Tidak usah. Aku tidak ingin dia khawatir padaku dan membatalkan perjalanannya."
"Baik, Nyonya."
Elis menemani Amey di kamar besar itu sembari menunggu dokter kandungan Amey. Setelah beberapa saat menahan kesakitan, akhirnya Amey tampak tenang. Ia tertidur dengan posisi tengkurap sambil memeluk perutnya.
Sementara Amey tertidur, seorang wanita tampak panik, berjalan mondar-mandir dengan telunjuk menyentuh bibirnya. Giliran Elis yang merasa tak tenang karena dokter kandungan Amey belum saja tiba.
"Kalau terjadi sesuatu pada Nyonya Muda, pasti aku akan dipecat oleh Tuan Muda. Bukan hanya dipecat, dicabik-cabik dulu badanku baru setelah itu dilemparkannya ke sungai," lirih Elis, menggeliang ngeri.
Tok tok tok ...
Elis terperanjat. Ia langsung membuka pintu kamar Amey dengan seberkas harapan yang tergambar jelas diwajahnya. "Dokter Chemy?" gumamnya.
Sosok perempuan berparas cantik, berkulit cerah dengan postur tubuh yang ideal berdiri di depan pintu. Ia adalah dokter Chemy, teman masa kecil Arsen.
"Elis, apa yang terjadi pada Nyonya Muda?"
"Saya juga tidak tahu. Tiba-tiba Nyonya memanggilku karena perutnya terasa sakit."
"Biar aku periksa dulu," ucap Chemy.
Dokter Chemy adalah dokter kandungan Amey yang direkomendasikan oleh dokter Pedro. Chemy adalah dokter jenius. Saat ia masih umur delapan belas tahun ia sudah mendapatkan gelar dokter di luar negeri. Karena itu ia sempat menerima penghargaan sebagai dokter termuda dan tercantik se-Asia.
Orangtua Chemy juga adalah orang terpandang di China. Ia berasal dari keluarga konglomerat yang memiliki sebuah rumah sakit besar di sana. Ayah Chemy dan Ayah Arsen sempat menjadi kolega saat WS Group masih di pimpin oleh Michael.
"Aku sudah memeriksanya, Nyonya Amey sepertinya sedang mengalami depresi atau stres. Ini biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil muda."
"Stres? Ba--bagaimana bisa?" tanya Elis, terkejut.
"Ya. Nyonya Amey sepertinya mengalami stres yang berlebihan. Mungkin Nyonya sedang mencemaskan sesuatu atau mengalami mood yang kurang bagus. Saat stres atau sedang marah, tubuh ibu hamil akan memproduksi hormon stres yang bernama kortisol. Ketika jumlah hormon stres tersebut meningkat, pembuluh darah di dalam tubuh akan menyempit. Hal ini membuat aliran darah dan pasokan oksigen ke janin menjadi berkurang dan membuat tumbuh kembangnya terganggu. Inilah yang menyebabkan nyeri yang luar biasa di perut Nyonya Muda."
"Oh jadi seperti itu. Mungkin saja Nyonya mencemaskan Tuan Muda. Karena subuh tadi, Tuan Muda melakukan perjalanan bisnis ke Turkey."
__ADS_1
"Hmm bisa jadi. Ternyata mood Nyonya sedang tidak bagus karena di tinggal Arsen."
Chemy meninggalkan beberapa macam obat-obatan untuk Amey. Ia sudah menulis keterangan fungsi dan aturan minum obat-obat tersebut.
"Jika Nyonya Amey sudah sadar, kau berikan obat bersampul biru itu untuk Nyonya minum. Jika sudah ada perkembangan kau hubungi aku," tutur Chemy sembari mengatur peralatan medisnya.
"Baik. Trima kasih banyak dokter Chemy."
"Sama-sama, Elis."
Chemy berjalan menuju pintu. Langkahnya terhenti seketika. Ia memandangi seluruh kamar besar itu dengan senyuman tergambar di wajahnya yang cantik jelita. "Rupanya kau sudah pergi, Ars." gumamnya.
***
Melihat keempat Ed yang tampak bosan di mansion membuat hati Soffy tergerak untuk mengajak anak-anak itu keluar bersamanya. Ia juga mengajak Dinar dan Candy selaku pengasuh keempat Ed untuk ikut dengannya, karena pikir Soffy ia pasti akan kewalahan jika seorang diri saja membawa mereka.
Menaiki mobil terpisah, Soffy bersama si bungsu Edzel lebih dulu tiba di sebuah gedung besar. Gedung itu merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Mengendarai super car layaknya pembalap, membuat badan Soffy yang mudah rapuk itu menjadi kram dan sedikit sakit.
"Oh dragon, pinggangku terbelah!" tuturnya sembari mengurut pinggulnya.
"Nenek, di mana Edward dan lain-lain?" tanya Edzel.
"Mungkin masih dalam perjalanan. Kita masuklah duluan," memegang tangan Edzel dan berjalan masuk ke dalam gedung.
Lagi-lagi wanita tua yang super narsis itu menjadi pusat perhatian publik. Bagaimana tidak dandanannya yang sedikit tebal, lipstik berwarna gelap dan seluruh penampilan rock and roll-nya membuat seisi gedung itu memperhatikan mereka.
Soffy menurunkan kacamata hitamnya dengan sekilas, menerawang ke arah mana yang akan mereka kunjungi pertama-tama. Setelah itu ia mengenakan kembali kaca mata itu dan kembali berjalan dengan membusungkan dadanya.
Sedangkan Edzel, penampilannya tak kalah eksis dengan penampilan Soffy. Pakaian kasual dengan atasan *swea*ter, bawahan jeans dan selendang kecil yang melingkar di lehernya. Tak lupa juga mengenakan kacamata hitam sebagai pelengkap kesempurnaan.
"Bocil, kau lihat 'kan, semua orang menjadi iri dengan penampilanku. Hahaha!" ketus Soffy.
"Hah?! Ke--kenapa bisa begitu?!"
"Gayamu seperti setan jomblo!"
Deg!!
"Astaga dragon!! Kecil-kecil lidahnya sudah berbisa ya," cibir Soffy.
"Kenyataannya seperti itu. Wajah Nenek seperti zombie. Tapi lebih mengerikan wajahmu dari pada zombie!"
"Dasar bocah gaibb! Bener-bener ya titisan si bule sinting." Soffy meraih cermin dari dalam tas dan memandangi gambar wajahnya di cermin. Ia mengatur rambutnya yang berwarna merah.
"Nenek, aku mau es krim!" rengek Edzel saat melihat seorang gadis kecil sebaya dengannya memegang es krim.
"Hmm, baiklah. Kau duduk dulu di sini. Nenek akan membelikan es krim untukmu. Tunggu kembaranmu tiba dan baru kita jalan-jalan."
"Okey."
"Ingat jangan ke mana-mana. Kalau sampai kau menghilang maka aku akan digantung hidup-hidup oleh bapak kau!"
Edzel mengangguk.
Wanita tua itu pun berjalan meninggalkan Edzel. Beberapa menit berlalu. Soffy tak kunjung datang membawakannya es krim Bahkan ketiga kembarnya pun belum dilihat olehnya.
"Wow keren!" ketus Edzel. Matanya seolah mengeluarkan bintang saat melihat robot besar yang berjalan melewatinya. Tanpa berpikir lagi, anak kecil itu berlari mengikuti robot besar itu.
__ADS_1
Robot itu berhenti di sebuah tempat. Betapa terkejutnya Edzel saat ia melihat mainan robot yang sangat banya terpajang rapi di rak kaca. Rupanya Edzel berada di toko robot.
Seorang wanita yang mengenakan dress mini berwarna hitam menghampirinya. "Halo anak kecil. Apa kau sendirian?"
Edzel mengangguk. Ia tak mempedulikan wanita itu dan langsung menerobos masuk ke dalam toko mainan.
"Anak kecil tunggu! Kau tidak boleh sembarangan masuk. Di mana orangtuamu?"
"Ada," jawab Edzel singkat.
"Hey! Jangan menyentuh itu!" teriak wanita itu membuat Edzel terkejut sehingga ia tak sengaja menjatuhkan robot yang tingginya hampir mencapai pinggangnya.
"Mati aku!" gumam wanita itu selaku karyawan toko mainan sembari menepuk jidatnya.
"Kau mengagetkanku dan aku tidak sengaja menjatuhkan robot ini," tutur Edzel.
"Sialan!! Mana orangtuamu? Mereka harus bertanggung jawab membayar mainan ini karena sudah lecet!"
Edzel terdiam. Ia menatap wanita itu dengan tatapan tajam.
"Apa? Kau mau bilang apa hah?!" bentak wanita itu. Semua pengunjung mall telah berkerumun di depan toko mainan itu dan menonton kejadian yang sementara terjadi. Ada yang mulai merekam dan ada juga yang berbisik-bisik.
"Cuma Mommy dan hanya boleh Mommy yang boleh meninggikan suara padaku!"
Wanita itu mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?! Aku akan dipecat jika mainan edisi terbatas itu lecet!"
"Permisi, permisi. Apa yang terjadi?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Dinar.
Melihat kedatangan Dinar, Edzel langsung berlari ke arah wanita itu. "Aunty, wanita jahat ini membentakku!" adu Edzel.
"Sudahku duga. Aunty seperti mendengar suaramu dan segera berlari ke sini."
"Oh jadi Anda orangtua dari anak nakal ini?" menatap penampilan Dinar dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Pasti dari keluarga yang tidak mampu! Tapi gaya anak ini seperti anak sultan saja!"
Dinar mulai naik pitam. "Permisi Nona. Jaga bicara Anda. Berapa biaya ganti ruginya?" tanya Dinar.
"Berlagak kaya saja kamu! Okey, totalnya lima belas juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu. Apa kau mampu membayarnya?!" tersenyum kecut.
To be continued ...
.
.
.
Vote, Like, Komen dari kalian akan sangat membantu Author 🥰
follow ig:
@syutrikastivani
@stivaniquinzel
(sumber gambar by: pinterest)
__ADS_1
kira-kira seperti inilah penampilan keempat Ed 🥰🥰