Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Selamatkan Tawanan!


__ADS_3

Menerima hantaman keras berkali-kali membuat wajah Chemy memar. Hidung mancung milik gadis itu tampak benyok sehingga mulai mengeluarkan darah, dan tak hanya hidungnya saja, sudut bibir Chemy berubah warna menjadi biru disertai cairan kental yang mengeras di sana.


Mata Chemy menjadi sayu. Napasnya tidak beraturan menahan sakit akibat menerima pukulan b*ringas dari Gazza. Pria psikopat itu benar-benar membuat wajah Chemy yang cantik dan mulus menjadi samsak tinju.


"Lepaskan aku dan saudara-saudaraku!" teriak seorang anak kecil dari balik pintu.


"Oy Paman kenapa kau memakai topeng?! Apa wajahmu buruk rupa?!" ketus Edzel.


Masih dalam keadaan setengah sadar, Chemy mendengar suara anak kecil yang memberontak. Ia berusaha membuka matanya yang hampir terpejam sepenuhnya. Chemy melirik ke segala arah namun ia tak mendapatkan sosok Gazza di sana.


"Jangan melawan kalian! Kalau kalian bersuara lagi aku akan melubangi kepala kalian?!" celutuk seorang pria.


Pintu ruangan kini terbuka. Chemy dengan jelas melihat empat sosok anak kecil yang di pikul oleh keempat pria berbadan atletis. Chemy tertegun. "Ja ... ngan ... ka ...lian sakiti anak-anak i ... tu!!" Chemy berusaha berbicara dengan nyaring namun mulutnya terasa sulit untuk di buka. Ia tak kuasa menahan rasa sakit di sekitaran wajahnya.


"Aunty!!" teriak Edgar.


"Edward, siapa Aunty itu?! Wajahnya menakutkan sekali?" tanya si bungsu Edzel.


"Aku tidak tahu, Ed. Sepertinya Aunty ini diculik sama seperti kita?" jelas Edward membuat ketiga kembarnya terbelalak.


"Berisik!" teriak pria topeng bawahan Gazza.


"Paman jelek! Tolong bebaskan Aunty itu! Dia berdarah banyak!" celutuk Edhan.


Plakkk!


"Ahhh!" teriak Edhan. Ia meringis kesakitan saat pria topeng itu memukul wajahnya menggunakan sudut pistol.


"Edhaannn!" teriak ketiga Ed, terkejut.


"B*ji ... ngan kau! Ji ... ka Arsen tahu k--kau menyakiti anak-anaknya, a ... aku yakin, kau ti ... dak akan se ... lamat!!" Chemy memaksakan mulutnya untuk berbicara. Namun serangan ganas kembali mendarat di wajahnya.


Plakkk!!


"Auntyyyy!" pekik keempat Ed.


Menerima tamparan keras dari pria itu, membuat Chemy tak sadarkan diri. Kekuatannya sudah melampaui batas sehingga ia pingsan. Noda darah kembali menyucur di hidungnya dengan begitu deras.


"Jangan berisik! Jika kalian tidak menurut, maka kalian akan berakhir seperti wanita itu!" ancam salah seorang pria.


Keempat Ed terbelalak. Mereka kembali terdiam dan tak bergeming dari posisi mereka. Para lelaki suruhan Gazza mempererat ikatan tali yang melilit di tangan dan kaki keempat Ed.


"Sakit Pamannn!" ringis Edgar.


"Diammm!"


Edgar bungkam saat mendengar teriakan dari pria topeng itu. Keempat Ed tampak menahan air mata mereka karena tak ingin menangis. Amey dan Arsen selalu mengajarkan kepada mereka untuk tidak cengeng. Mereka pun mendengarkan ucapan orangtua mereka. Walaupun ikatan itu terasa mengiris lengan dan kaki mereka namun tak ada air mata yang menetes dari sudut mata mereka.


Ceklekk


"Wahh sudah ramai saja," tutur Gazza terkekeh pelan. Ia kembali menutup pintu ruangannya dan mendekat ke arah anak-anak itu.

__ADS_1


"Paman siapa lagi?! Kali ini tidak menggunakan topeng," tutur Edward


"Perkenalkan, Aku Gazza," tersenyum kecut.


"Bisakah paman melepaskan ikatan ini?" tanya Edzel.


"Ouh, tentu saja. Tapi sebentar lagi. Tunggu saat ayah kalian tiba!"


"Daddy?" lirih keempat Ed.


"Hey, ada apa dengan wajahmu?" tanya Gazza pada Edhan saat melihat bibirnya mengeluarkan darah.


"Aku di pukul sama paman bertopeng tadi," adu Edhan.


"Ohya? Sebentar, aku akan memberikan pelajaran padanya!"


Gazza kembali keluar dari ruangan itu. Tak lama kemudian ia kembali dengan menyeret seorang pria bertopeng yang telah menyakiti wajah Edhan. "Apa dia orangnya?" tanya Gazza pada mereka.


Keempat anak itu terdiam lantaran mereka tidak bisa membedakan pria-pria itu. Jelas saja mereka menggunakan topeng sehingga mereka semua terlihat sama, tak ada bedanya.


"Di jawab dong," tutur Gazza kembali.


"Kami tidak tahu," tutur keempat Ed sembari menggeleng kepala.


"Hmm, kalau begitu tak masalah. Aku akan memberinya pelajaran!" tersenyum licik.


Gazza menekuk kaki lelaki yang diseretnya sehingga lelaki itu tampak berlutut di hadapannya dan keempat Ed. "Anak-anak, apa kalian ingin melihat sesuatu yang menarik?"


Keempat Ed masih bungkam. Mereka tiba-tiba menjadi gemetar karena melihat Gazza yang berubah menjadi pria yang mengerikan.


"Tu--tuan, maafkan saya," mohon lelaki yang bertekuk lutut itu.


"Shtttt, shhhttt, shhhtttt! Aku tidak menyuruhmu bicara," lirih Gazza dengan menyunggingkan bibirnya.


"Paman, aku tidak apa-apa. Lepaskan Paman Topeng itu," pinta Edhan.


"Oh tidak, Sayang. Kecowa yang menjijikkan harus dimusnahkan, sama seperti dengan manusia. Kalau tidak berguna ya di bantai! Bwhahah!"


Deg!


Ucapan-ucapan kejam dari Gazza membuat keempat Ed ketakutan. Mereka terperanjat saat melihat Gazza menodongkan pistolnya tepat di kepala lelaki bertopeng itu.


"Anak-anak, aku tanya sekali lagi. Apa kalian ingin melihat sesuatu yang menarik. Hmm, sama seperti di film-film. Seorang pahlawan mengalahkan musuh dengan cara menyingkirkannya. Bukankah kalian suka dengan film-film seperti itu," melekukkan bibirnya.


Gazza semakin membuat anak-anak itu berkeringat dingin.


"Hitungan ketiga, kalian akan melihat kecowa besar ini tumbang, hahah!"


Gazza mulai menarik pelatuk pistol itu. Keempat Ed dengan serentak memejamkan mata mereka karena tidak ingin melihat aksi pembunuhan tragis yang dilakukan Gazza.


"Satu ... dua ... "

__ADS_1


Doorrrr!!


Gencatan senjata membuat tubuh anak-anak itu menggeliang hebat.


"Upss, sorry! Aku tidak sabar menarik pelatuknya. Hmm, maafkan aku karena belum sampai tiga aku sudah menembak paman bertopeng ini, Hahahhaha!"


Seorang anak buah Gazza kembali ke ruangan dan menyeret tubuh pria yang baru saja dijadikan permainannya. Lelaki bertopeng yang menyakiti Edzel kini sudah menjadi mayat.


"Anak-anak, kenapa kalian memejamkan mata, hah? Padahal tadi sangat seru sekali," memasang raut sedih.


Empat Ed masih menutup mata mereka dengan erat. Bahkan keringat dingin mulai berjatuhan di dahi anak-anak itu. Pria yang ada di depan mereka telah membunuh seseorang dengan enteng tanpa tawar menawar. Hal itu membuat keempat Ed gemetar dan berkeringat dingin.


"Ed ... ward," lirih Edzel.


"Shht, jangan bersuara Edzel," ucap sang kakak.


"Napasku terasa se ... sak!"


Edward membuka matanya lebar. Ia melonjak saat melihat Edzel yang tampak pucat bagai kertas. Napas Edzel pun tak beraturan. Edward dan yang lainnya saling berhadapan. Mereka tahu jika adik mereka memiliki riwayat penyakit.


"Edzel, bertahanlah. Daddy pasti datang menyelamatkan kita," ucap Edhan tak kalah panik dari Edward.


Mereka bertiga selalu menjaga adik mereka dengan hati-hati karena itu merupakan amanat dari Arsen dan Amey.


"Ada apa, Tuan Muda Kecil," tanya Gazza memasang wajah ibanya yang munafik.


Keempat Ed tak menggubris dan tak menghiraukan pertanyaan Gazza. Mereka sibuk memandangi wajah Edzel yang semakin pucat.


"Tuan!!!" ketus seorang pria yang tiba-tiba membuka pintu ruangan itu.


"Bicaralah!"


"Pasukan kita telah tumbang semua!"


Deggg!


Gazza membulatkan maniknya. "Apa maksudmu?"


"Tuan Arsen bersama beberapa pria datang dan mengacau di luar. Mereka sangat tangguh sehingga mengalahkan beberapa anggota kita!"


"WHATTT?!"


"Daddy datang!" teriak Edgar.


"SHUT UP!!" Gazza menodongkan senjatanya pada keempat anak itu sehingga mereka terdiam dan memejamkan mata mereka.


Doorrrr!


Suara tembakan kembali terdengar di ruangan itu. Chemy mulai berangsur-angsur sadar. Ia membuka matanya, dan ia pun terbelalak. Tubuhnya gemetar hebat, seketika badannya menegang kaku saat ia melihat noda darah yang berserakan di dinding. Chemy menatap anak-anak itu namun salah satu dari mereka sudah tak sadarkan diri dengan bercak darah di baju.


Ahhhhh!! K*parat kau! Batin Chemy mengamuk.

__ADS_1


To be continued ...


Like, komen dan vot****e yahh ...


__ADS_2