
"Ibu ... " teriak seorang anak laki-laki.
"Jire, tenanglah. Ibu sudah senang di sana! Sekuat apapun teriakanmu itu tak akan membuat Ibu hidup kembali! Kau hanya menyakiti tenggorakanmu saja," ucap Jen sembari mengusap punggung adiknya.
"Kakak! Kau tidak tau apa-apa tentang ibu! Selama kau di Jakarta, aku yang selalu bersama dengannya! Dan Kau tau apa yang selalu Ibu pikirkan?"
Air mata Jenifer kembali menetes. "Maafkan aku, Jire," lirihnya.
"Setiap hari ibu menyebutkan namamu! Bertanya-tanya kapan kau akan mengunjungi Ibu! Ibu bahkan sengaja menyembunyikan penyakitnya padamu, agar kau tidak khawatir!"
"Hik ... hik ... hik!" tangisan Jenifer semakin menjadi. Ia menatap tubuh ibunya yang telah terbaring kaku di dalam peti. "Ibu ... maafkan aku. Hik ... hik ... ! aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga tidak menyempatkan waktu menghampirimu. Hik ... hik ... hik ... !"
"Jeniiiii!"
Jen langsung menatap ke sumber suara yang tak asing baginya. "Nenek!"
"Jeni, Jire!" memeluk Jen dan Jire. "Cucuku yang malang!"
"Nenek! Aku sudah tidak memiliki Ibu lagi, Nek! Hik ... hik!" ucap Jire dengan terisak.
"Jangan menangis lagi. Masih ada Nenek di sini. Nenek akan mengurus kalian, menggantikan, Sarah."
Doris melepas pelukannya dan beralih menatap Sarah, anaknya yang telah terbaring di peti. Wanita yang sudah meninggal itu mengenakan gaun berwarna Ungu yang sangat cantik dan mengkilap. Hati Doris sangat teriris saat menyaksikan anak perempuan satu-satunya telah mendahuluinya pulang kepada Sang Pencipta.
Sarah! Perjuanganmu kini telah usai. Penderitaanmu sudah berakhir, Sarah! Aku berjanji akan merawat putra dan putrimu. Tenanglah di sana, anakku Sayang. Batin Doris.
"Nek? Maafkan aku karena meninggalkanmu. Aku sangat syok saat mendengar berita tentang ibu. Untunglah Nenek tiba di kampung dengan selamat," ucap Jen.
"Sebenarnya aku diantar seseorang."
"Siapa?"
Doris menengok ke arah pintu. "Masuklah," ajaknya.
Jen terperanjat saat melihat sosok pria yang ia kenali. "Tu--tuan Dasi Merah?!" gumamnya.
"Bule Semangka, kemarilah."
"Ba--baik." Layaknya robot yang kaku, begitulah tubuh Mark saat berjalan memasuki rumah Jenifer.
"Tuan, kenapa kau bisa sampai di sini?" tanya Jen.
"Aku tak bisa menjelaskannya sekarang. Aku turut berdukacita," menunduk kepala.
"Trima kasih Tuan." Jen menghapus air matanya. Tampaknya ia mau menunjukkan pada Mark jika ia baru saja menangis.
Mark menatap tubuh yang telah tak bernyawa itu. Entah mengapa, setelah mendengar kabar kematian Ibunya, dadaku terasa sesak! Batin Mark.
Ada apa dengan perasaanku?! Setelah Tuan Dasi Merah berada di sini, hatiku tiba-tiba merasa tenang. Ucap Jen dalam hati.
"Kakak, apa pria tua ini pacarmu?" tanya Jire tiba-tiba,
Deg!
"P--pria tua?!" gumam Mark, terbelalak.
"Bukan Jire. Kau harus sopan dengannya. Tuan Mark adalah atasanku."
"Oh begitu. Dia bule yang tampan! Tapi sayang, sudah tua!"
Jen membungkam mulut adiknya itu. "Hentikan Jire. Kita sedang melayat. Kau jangan bicara yang aneh-aneh." Pandangan mata Jen beralih menatap Mark. "Maafkan ucapan adikku, Tuan."
"Tidak apa-apa."
"Jire! Minta maaflah padanya!"
"Maafkan aku," menunduk kepalanya dengan terpaksa.
"Tak masalah," ucap Mark dingin.
Aku yakin Tuan pasti sangat emosi. Tapi dia menahannya! Maafkan aku Tuan. Salahmu sih yang datang ke sini!
***
Saat mendengar berita duka dari Arsen, Ibu dari keempat bayi kembar itu memasang wajah pias. Ia turut merasakan bagaimana kehilangan seorang Ibu karena ia juga pernah berada di posisi Jenifer. Tak hanya Amey, Soffy pun sangat bersedih mendengar berita itu.
"Kasihan si Kutu Doggy! Dia pasti sangat bersedih atas kehilangan anak satu-satunya," lirih Soffy dengan air mata yang berlinang.
"Kalau saja aku tidak menyusui bayi-bayi Ed, aku pasti akan melayat. Maafkan aku Jen. Aku hanya bisa membantumu dalam doa, agar supaya Tante Sarah diterima di sisi Allah."
Sementara Amey dan Soffy meratap, seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Elis, menghampiri kedua orang itu. "Permisi, Nyonya. Tuan Muda , mencari Nyonya."
Amey beranjak dari duduknya. "Nek, aku ke atas sebentar. Tolong jagain Edward dan Edgar. Aku tak akan lama."
"Okey," ucap Soffy.
"Saya permisi Nyonya," menunduk kepala dan meninggalkan Amey dan Soffy.
__ADS_1
"Elis, apa kau melihat Dinar Candy?"
"Mereka sedang menidurkan Tuan Muda Kecil di kamar."
"Baiklah."
Amey berjalan menuju Lift. Ia kemudian tiba di kamar namun tak menemukan sosok Arsen. "Apa dia sedang mandi?" gumamnya.
Amey menuju ruangan sebelah. Ia mendapati Dinar dan Candy sedang menggendong Edhan dan Edzel.
"Apa mereka sudah tertidur?" tanya Amey.
"Sudah Nyonya."
"Kalau begitu kalian boleh pergi. Biar aku yang menjaga mereka," ucap Amey.
"Baik, Nyonya."
Dinar dan Candy meletakkan kembali kedua bayi itu di atas ranjang. Saat mereka hendak meninggalkan ruangan itu, rupanya Amey memperhatikan wajah keduanya yang tampak lesu.
"Kasihan sekali mereka. Sepertinya mereka kelelahan meladeni keempat bayi Ed," gumam Amey.
"Sayang?" panggil Arsen.
"Ars, kau dari mana saja?"
"Aku baru selesai mandi. Ohya apa mereka sudah tidur?" tanya Arsen.
"Ya, baru saja."
"Ke mana Edward dan Edgar?" Arsen memandangi dua ranjang bayi yang tampak kosong.
"Mereka ada di bawah, bersama Nenek."
Arsen tiba-tiba tersenyum licik. "Memey Sayang, ikutlah denganku," menggendong Amey.
"Ars, turunkan aku. Tubuhku sudah sangat berat," ucap Amey merontah.
"Ya! Kau memang sudah sangat berat semenjak melahirkan. Tapi tenang saja, itu tak membuat cintaku memudar darimu," goda Arsen.
"Ishhh, Sayang," tersipu malu.
"Aku merindukan saat-saat berdua denganmu," meletakkan tubuh Amey di atas ranjang. "Kau tau, semenjak anak-anak kita lahir, kau sudah tidak peduli denganku lagi. Kau membagi perhatianmu pada mereka!"
"Dan kau cemburu pada anak-anakmu sendiri?!" timpal Amey.
"Hahah. Sayang, ulah siapa yang membuat bibit sebanyak itu?"
"Ya manaku tau kalau akan berbuah lebat."
"Jadi kau mengeluh memiliki empat anak kembar?"
"Tidak ... tidak! Bukan begitu. Aku malah sangat senang bisa dapatkan empat sekaligus."
"Aku juga sangat senang."
"Memey, bolehkah aku meminta jatahku malam ini?" lirih Arsen dengan tatapan penuh nafsu.
"Ars, jangan sekarang. Bagaimana kalau anak-anak kita bangun? Kau sendiri yang akan emosi ketika permainanmu berhenti."
"Aku tidak akan lama, Sayang. Satu atau dua kali saja lalu selesai."
Arsen sudah tidak dapat menahan hasratnya untuk menunggangi tubuh istrinya itu. Ia pun menindih tubuh Amey dan langsung menerkam leher wanita itu.
"Terserah kau saja. Tapi jangan salahkan aku jika kau tidak terpuaskan."
"Tidak akan lama. Tiga ronde saja!"
Deg!
"Itu sangat la-- shhh!" Tak dapat meneruskan ucapannya saat Arsen mulai menekan bagian bawah Amey dengan belut raksasa miliknya.
Nafsu Arsen semakin membara. Jelas saja, karena sudah lama sekali ia tidak berhubungan badan dengan istrinya. Namun ia bisa menahannya dengan baik karena ia sangat mencintai Amey dan tak mau berkhianat pada istrinya.
Cakaran demi cakaran mulai terbentuk di belakang punggung Arsen. Rupanya Amey pun semakin terangsang dengan permainan suaminya. Apalagi saat Arsen melepas semua pakaiannya tanpa sisa.
"Akhirnya adik kecilku bisa berkunjung ke terowongan gelapmu. Hmmm, aku sangat merindukannya," bisik Arsen sembari memasukkan benda berukuran besar di bawah sana.
"Oek ... oek ... oek !!" Suara tangisan bayi pun mulai terdengar.
"Amey, Edward dan Edgar mulai rewel. Sepertinya mereka haus!" teriak Soffy dari luar.
Arsen dan Amey terkejut bukan kepalang.
"Sudah ku duga ini akan terjadi!" mendorong tubuh Arsen.
"Arghhhhhh!" teriak Arsen. "Aku tak bisa menahannya!! Tinggal sedikit lagi dan golllll!"
__ADS_1
"Tuh 'kan, kau yang emosi," Amey terkekeh pelan sambil memakai bajunya kembali. "Sebentar Nek," teriaknya.
Arsen mencengkeram erat selimut itu. Ia memukul-mukul ranjang dengan tangannya karena sangat kesal. "Edward, Edgar kalian sangat beruntung karena kalian adalah anakku! Jika bukan, ku pastikan kalian tidak akan selamat malam ini!"
Amey menarik selimut dan membalutkannya di tubuh Arsen. "Tidurlah, Sayang. Kau mungkin kelelahan," ucap Amey tersenyum kecil.
Amey berjalan menuju pintu dan membukanya. Tiba-tiba tangisan keduanya berhenti saat memandangi wajah Amey. "Uhhh cayangggg, kenapa menangis? Apa kalian haus?"
Tiba-tiba kedua bayi mungil itu tersenyum semringah.
"Nek, mereka tersenyum."
"Kau benar."
Amey mengambil Edward dari gendongan Soffy. "Trima kasih, Nek."
"Sama-sama cucuku," Soffy meninggalkan Amey dan Dinar.
"Dinar, berikan juga Edgar padaku."
"Apa Nyonya bisa menggendong dua bayi sekaligus?"
"Selagi mereka tidak rewel, aku bisa menggendong mereka. Trima kasih, Dinar."
"Sama-sama Nyonya. Aku pamit dulu."
Amey pun membawa kedua bayi itu menuju tempat tidurnya. Ia melihat jika Arsen sudah memakai bajunya kembali. "Ars, apa kau sudah baikan?" tanyanya sembari meletakkan Edward dan Edgar di samping Arsen.
"Seperti yang kau lihat sekarang!"
"Apa kau masih kesal?"
Arsen tak menjawab. Pandangannya beralih menatap kedua bayinya. Matanya tertuju pada Edgar yang sedang tersenyum. "Edgar, kau begitu mirip dengan, si Jodi sinting! Dia selalu mengganggu Daddy saat Daddy sudah berada di puncak kenikmatan!"
Edgar masih tersenyum memandangi bibir Arsen yang tampak mengeluarkan suara. "Kau meledek Daddy?!"
"Hahaha! Ars, lihatlah ekspresi Edward."
Arsen pun mengalihkan pandangannya pada Edward. Bayi mungil itu lagi-lagi mengerutkan keningnya dan menatap Arsen dengan beringas. "Kau lagi! Apa kau senang menganggu kesenangan Daddy?"
Edward masih menatapnya sinis.
Melihat ekspresi Edward dan Edgar yang berlawanan, membuat Arsen menjadi gemas dengan sikap mereka. Ia pun mencium pipi kedua bayi mungil itu. Setelah memberikan ciuman, ia memegang tangan mungil Edward dan memejamkan mata di samping Edward. Sedangkan Amey yang berada di sebelah Edgar memegang jemari bayi itu dan mengecupnya.
"Memey, apa kau tidak akan menciumku juga?" gerutu Arsen dengan mata terpejam.
"Kau seperti bayi saja!" Amey tersenyum dan mengecup bibir Arsen.
"Sayang, pindahkan juga Edhan dan Edzel kemari. Kita akan tidur berenam di sini," pinta Arsen.
"Hmm baiklah."
Amey menuju ruangan sebelah dan memindahkan kedua bayi itu ke tempat tidurnya dan Arsen. Untunglah ranjang itu berukuran besar. Sepuluh orang dewasa pun bisa muat di ranjang itu.
Amey meletakkan Edhan dan Edzel di samping Edgar. Di perbatasan setiap bayi itu, terselip bantal guling kecil sebagai pemisah agar mereka tidak menindih satu dengan lainnya.
Melihat mereka berbaring seperti ini membuatku sangat bahagia. Lima pria jagoanku, aku sangat mencintai kalian. Kalian begitu berharga bagiku.
Ibu keempat anak itu kembali mengecup kening mereka satu persatu. Arsen yang merasakan sentuhan bibir Amey di keningnya, membalas ciuman itu. "Kau adalah seorang ibu yang hebat, Sayang. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu ... Daddy!" memeluk Arsen.
Mereka berenam tidur bersama di satu ranjang. Rasa bahagia yang tak bisa diekspresikan dengan kata-kata, itulah yang dirasakan keluarga Winston.
...~ Tamat ~...
Note :
Halo readersss keceeee!!!
Akhirnya, Novel TPTA musim pertama telah selesai. Tapi tenang saja, Author telah menyiapkan naskah untuk musim kedua. Ohya sebelum Author lanjut, yukkk follow Instagram Author @syutrikastivani supaya readers bisa melihat info mengenai lanjutan novel ini :)
Jangan lupa, LIKE, KOMEN, VOTE, RATE. Ohya SHARE juga boleh, hehe. Sampai bertemu di musim yang kedua 🤗🤗🤗
Bonus Visual :
(Arsen)
(Amey)
(empat bayi Ed)
__ADS_1