Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Aku butuh Bantuanmu!


__ADS_3

Hamparan angin di malam hari terasa menembus pori-pori seorang perempuan yang tengah duduk di balkon kamarnya. Tempat itu merupakan tempat favoritnya, di kala ia bosan dengan kehidupannya.


Ia memeluk kedua lututnya sembari menatap lekat ke arah cakrawala yang sudah berganti warna menjadi gelap yang dibumbui dengan cahaya-cahaya kecil yang menghiasi langit hitam nan polos itu.


"Sungguh cantik," gumamnya.


Setetes cairan bening keluar dari manik wanita itu, seketika ia menyekanya dengan telapak tangan dan kembali memandangi langit malam. Wanita cantik itu adalah Milley. Sosok perempuan yang hampir tidak pernah melihat dunia sejak kematian ayahnya.


Milley beranjak dari duduknya dan menutup jendela besar itu. Kehidupannya sangat hampa. Tidak ada teman dan tidak berinteraksi dengan orang luar, kecuali penghuni rumah. Milley berjalan menuju lemari dan meraih sebuah benda segi empat di sana.


"Maafkan aku Papa. Aku terpaksa merokok. Sungguh! Aku merasa frustasi dan merasa gila! Berkali-kali aku mencoba mengakhiri hidupku, tapi entah mengapa selalu ada orang yang ingin aku supaya tetap hidup! Aku capek Paaa! Ingin rasanya aku menyusul Papa."


Milley hendak menyalakan rokoknya namun matanya sempat mengarah ke sebuah benda lain yang separuhnya di tindih oleh lipatan baju.


"Jayden Smith," gumamnya.


Sepertinya Milley sudah membuka dompet Jayden dan ia telah melihat identitas Jayden melalui kartu tanda penduduk pria itu. Milley membuang rokoknya di tempat sampah dan berjalan menuju ranjangnya.


"Sampai sekarang aku masih penasaran dengan pria ini. Kenapa waktu itu dia bekerja di rumahku sebagai tukang kebun? Sedangkan dirinya sendiri adalah presiden di sebuah perusahaan ternama."


Tok ... tok ... tok


"Nona Milley, boleh saya masuk?" ucap seorang wanita dari balik pintu.


"Tentu," balas Milley dari dalam kamar.


Margareth muncul dengan membawa sebuah baki di tangannya. Baki itu berisi makan malam Milley beserta susu. Perempuan yang merupakan kepala pelayan itu memperhatikan sebuah dompet yang di pegang Milley.


"Nona, apa kau ingin keluar sebentar, menghirup udara segar di malam hari?" tanya Margareth.


Milley menggeleng kepalanya. Ia menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar. "Margareth terima kasih karena kau sangat perhatian padaku. Aku ingin sekali keluar dari rumah ini, tapi rasanya percuma. Jika Mama tahu pasti kau akan di hukum olehnya."


"Saya tidak apa-apa Nona."


Margareth adalah wanita yang sangat dekat dengan Milley. Ia bahkan pernah membantu Milley keluar dari rumah besar itu karena merasa kasihan dengan gadis cantik itu. Bahkan Margareth tahu jika Nona mudanya mulai merokok semenjak Milley pergi ke klub malam.


"Nona, kau sudah sangat kurus. Makanlah makanan ini. Saya membuatnya langsung untuk Nona," menyodorkan sesuap nasi bersama lauk.


Milley tidak membuka mulutnya. Ia menatap ke arah dinding dengan tatapan kosong. Matanya mulai digenangi air. Melihat Milley mulai meneteskan air mata membuat Margareth melepas benda di tangannya dan memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin Nona mudanya malu jika Margareth memandanginya.

__ADS_1


"Margareth, apa aku akan selamanya di kurung di sini?" tanya Milley dengan penuh kepedihan.


Perempuan paruh baya itu terdiam. Ia merasa sangat kasihan dengan Milley. Ia tahu jika selama ini hanya dirinyalah yang bisa berinteraksi dengan Milley. Pelayan lain pun tak berani berlama-lama di kamar Milley karena pastilah akan menerima hukuman dari Berlin.


"Jika Nona memerlukan bantuan dari saya, Nona jangan sungkan untuk mengatakannya. Nona jangan khawatir dengan diri saya. Saya sudah biasa di hukum Nyonya besar."


Bahkan gaji Margareth pun tidak diterimanya secara total akibat di potong oleh Berlin karena Margareth selalu melanggar aturan. Bisa dibilang Margareth tidak membutuhkan gajinya lagi. Ia hanya ingin menjaga Milley sampai Milley benar-benar menemukan kebahagiaannya. Karena itu merupakan sumpahnya kepada ayah Milley, John Kaylee.


"Apa kau mengagumi seseorang, Nona?" tanya Margareth lagi.


Milley kembali menatap dompet itu. Ia tersenyun kecil dan kembali melemparkan pandangannya ke lain arah. "Margareth, aku penasaran dengan satu pria. Dan sepertinya aku paham kenapa kau menerima pria asing itu untuk bekerja di rumah ini."


"Ya Nona. Pria itu sepertinya mengenalmu. Ia bahkan menyamar sebagai tukang kebun hanya dengan bertemu denganmu."


"Kau yakin dia ingin menemuiku?"


"Sangat yakin."


"Kalau begitu dari mana dia mengenalku? Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya sebelum-sebelumnya. Karena aku tidak pernah keluar rumah saat berada di Indonesia kecuali malam itu."


"Mungkin saja Nona Muda sempat berpapasan dengan pria itu, tapi Nona tidak menyadarinya."


Milley menyipitkan matanya. "Hmm, seandainya aku bisa bebas keluar ke mana saja aku mau. Tapi mustahil. Memikirkan pria itu membuatku lapar saja."


"Tidak usah Margareth. Ini sudah lebih dari cukup."


***


"Sial sial sial!! Kenapa aku tidak bisa menebak siapa si br*ngsek psikopat itu!" meninju dinding berulang kali.


"Kau tenang dulu, Ars. Sebaiknya kamu ingat dengan baik siapa yang pernah bermusuhan denganmu," tutur Kaisar.


"Banyak. Saking banyaknya aku sudah tidak mengingat b*jingan-b*jingan itu."


Kaisar membulatkan matanya tiba-tiba. "Ars, bagaimana dengan Mr. Shadow? Apa kau masih mengingatnya?"


Arsen berpikir sembari mengelus dagu dengan tangan kirinya. "Hmm, Sayur Kol yaa?"


"Haaa benar! Sayor Kol. Eh, maksud aku, Collin."

__ADS_1


"Aku rasa si Sayur Kol amis itu sudah kapok berurusan denganku. Apalagi semenjak ia menikah dengan mantan sekretarisku. Eggie banyak merubahnya menjadi pria berguna. Coba kau pikirkan tersangka lain!"


"Menurutmu? Otakku sudah tidak bisa berpikir lagi. Karena dipikiranku hanya ada bayangan adikmu saja, haha! Ohh Zoey, tunggu sebentar lagi. Aku pasti akan mempersunting dirimu."


Bukkkk!


"Dasar sinting! Jangan harap kau bisa menjadi adik iparku."


Arsen melemparkan pukulan di wajah tampan Kaisar. Ia menjadi emosi karena dirinya tidak bisa menebak siapa pria topeng psikopat yang berani menyatakan perang dengan keluarga Winston.


"Ars, tega sekali kau memukul adik iparmu ini," rengek Kaisar seraya mengusap pipinya yang mulai memerah.


"Sudah kubilang kau tidak akan pernah menjadi adik iparku!"


"Baiklah baiklah! Aku akan segera mencari tahu siapa pria topeng itu. Aku jadi penasaran siapa di antara kalian berdua yang lebih psikopat. Kau atau pria topeng itu?"


"Mau di tonjok lagi?!" mengambil ancang-ancang, membuang pukulan untuk Kaisar lagi.


"Eitsss stop! Kau jangan memukul wajah tampanku ini lagi! Nanti Zoey tidak akan mengenali calon suaminya. Hahaha!"


Seketika Arsen menjadi frustasi. Maksud kedatangannya di kantor Kaisar adalah untuk menyuruh Kaisar mencari tahu siapa pria misterius itu dengan harapan ia akan mengetahui dalangnya, namun malah dibuat lebih frustasi oleh Kaisar karena perilaku bucinnya.


***


Di sebuah restoran ternama seorang pria duduk termangu sambil menghadap jendela kaca di samping kanannya. Di tangan kirinya terdapat secarik kertas dengan beberapa kalimat yang tertera di dalamnya.


Saya membutuhkan bantuan Anda, Tuan Jayden Smith. Jika Anda berkenan, temui saya di kedai kopi Baratie, samping halte bus, pukul enam sore. (Margareth).


Secarik kertas itu diberikan seorang pelayan restoran saat Jayden selesai menyantap makan siangnya. Tulisan tangan itu dibacanya berulang kali, karena pikirnya seseorang mungkin iseng mengerjainya. Namun sebuah nama di akhir kalimat, samar-samar terlintas di benaknya.


"Margareth? Sepertinya aku pernah mendengar nama ini." gumam Jayden.


To be continued ...


.


.


.

__ADS_1


***Like dan Komen kalian sangat membantu Author. Gomawoyoo 🥰


follow ig @syutrikastivani @stivaniquinzel***


__ADS_2