Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Media tahu!


__ADS_3

Dua orang pria terlihat kewalahan mencari Arsen dan Amey. Mereka sudah mencari di setiap sudut ruangan mansion itu namun tak kunjung menemukan pasutri itu.


"Mark, kau yakin Tuan Arsen memanggilku?" tanya Pedro yang merupakan dokter keluarga Winston.


"Yakin seribu persen. Tuan menelponku dan suaranya terdengar begitu serius bercampur kawatir."


"Tapi di mana mereka? Apakah masih ada lagi tempat yang belum kita datangi, Mark?"


"Semunya sudah." jawab Mark. Namun seketika ia berpikir. "Hmm, tinggal kamar Tuan Arka yang belum kita datangi." tukas Mark.


Keduanya saling memandang terperangah. Secepat kilat mereka berlari menuju kamar Arka. Dan benar! Mereka menemukan kedua orang itu.


"Tuan!" teriak Mark dengan panik karena melihat tubuh Arsen yang tergeletak di lantai.


Pedro dan Mark mengangkat tubuh Arsen dan membaringkannya di samping Amey. Kedua pria itu pun bingung dengan situasi yang mereka hadapi. Mereka melihat Amey yang terbaring dengan wajah bagai kertas putih.


"Pedro lakukan tugasmu!" perintah Mark menaikan nada.


Pedro mulai memeriksa bola mata Arsen. Kemudian jantungnya. Arsen mulai bergerak perlahan menggerakkan jemari tangannya. Ia membuka matanya yang sayu.


"Tuan?" panggil Pedro.


Arsen membuka matanya lebar. Ia memandangi sekeliling mencari sosok keberadaan Amey. Arsen menatap Pedro dan Mark secara bergantian. "Bodoh! Kenapa kau memeriksaku? Bukan aku yang sakit! Tapi wanita ini." tunjuk Arsen ke arah Amey yang terbaring di sampingnya.


"Tuan? Apa yang terjadi?" tanya Mark.


Arsen tidak menggubris pertanyaan Mark. Ia menatap Pedro dengan tajam. "Periksa dia!"


"Baik Tuan."


Perdro mulai beralih tempat ke sebelah Amey. Ia merabah dahi Amey dan memeriksanya. "Nyonya Winston baik-baik saja. Dia hanya demam biasa. Saya akan memberikannya obat."


Arsen membuang napasnya legah. "Merepotkan saja!"


"Tuan? Apa Tuan ingin memindahkan Nyonya ke kamar Tuan?" tanya Mark.


"Tidak! Biarkan dia di sini. Suruh Elis untuk mengganti pakaiannya."


"Baik Tuan."


"Satu lagi. Jangan beritahu Nensi tentang kejadian ini." tambah Arsen.


"Baik Tuan." menundukkan kepala.


"Tuan Winston? Apa Anda baik-baik saja? Anda pingsan tadi. Biarkan saya memeriksa keadaan Anda." tawar Pedro merasa kawatir.


"Tidak perlu! Aku baik-baik saja. Jika tugasmu telah selesai silahkan pergi." tukas Arsen.


Mark meninggalkan kamar dan segera pergi memanggil Elis untuk mengganti pakaian Amey. Pedro juga telah meninggalkan obat untuk Amey.


"Dasar wanita bodoh! Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri? Apa kau sudah bosan hidup?" gumam Arsen sembari menatap wajah Amey.


Arsen meninggalkan kamar Arka. Ia menyadari jika ia juga tidak sadarkan diri saat melihat Amey menggeliang hebat. "Mungkin saja aku pingsan karena trauma dengan kejadian itu." gumamnya sembari menutup pintu kamar Arka.


***


Keesokan paginya saat mentari mulai menampakkan cahaya terang lewat jendela kaca kamar Arka, kini wanita yang terbaring di atas ranjang itu terbangun dan merenggangkan otot-otot tubuhnya.

__ADS_1


Ia tersadar jika ia berada di kamar Arka. "Astaga! Apa yang terjadi?" gumamnya.


Tok ... tok ... tok


Terdengar ketukan dari balik pintu kamar.


"Masuklah." ucap Amey.


Wanita paruh baya itu masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi sarapan Amey dan obat yang harus ia telan. "Selamat pagi Nyonya." sapa Elis.


"Pagi Elis."


"Apa Nyonya sudah merasa sehat?" tanya Elis.


"Iya. Apa yang terjadi Elis?"


"Nyonya kemarin pingsan dengan keadaan basah kuyup. Untunglah Tuan Arsen dengan cepat menemukan Nyonya." jelas Elis.


"Arsen? Menemukanku?" Amey berpikir sejenak. Ia mengingat kejadian kemarin yang membuat ia tak sadarkan diri. "Ahh benar! Aku ... aku mengingat Arka dan ..." menghentikan ucapannya.


Amey ingat kejadian kemarin. Ia langsung memasang wajah kusut saat bayangan surat itu terngiang di kepalanya. Namun seketika juga terlintas dalam benaknya wajah Arka yang memeluknya dengan hangat.


"Aku sangat sadar ketika, Arka menyentuhku. Aku melihat wajahnya dan setelah itu aku sudah tidak ingat apa pun lagi." gumamnya pelan.


"Nyonya? Apa Anda baik-baik saja?


"Oh yaa, tentu Elis." tutur Amey buyar dari lamunannya.


"Nyonya, ini sarapan Anda. Setelahnya Anda harus menelan obat ini."


"Tinggalkan saja di situ. Aku akan memakannya."


"Elis ...?"


Wanita itu menghentikan langkahnya dan segera berbalik menuju majikannya. "Iya Nyonya? Ada lagi yang bisa saya bantu?"


"Apa ... Arsen yang memindahkan aku ke tempat tidur?"


"Iya Nyonya. Tuan Arsen mendapati Nyonya di kamar mandi yang tengah duduk di bawah shower." jelas Elis.


Amey melemparkan pandangannya ke arah kamar mandi. Ia melihat pintu kaca itu sudah hancur berkeping-keping. "Apa dia juga yang melakukan itu?" menunjuk pintu kamar mandi.


"Ia Nyonya. Tuan Arsen memecahkan kaca itu, karena Nyonya mengunci pintu dari dalam."


Amey mengangguk pelan, matanya masih menatap pintu itu yang sudah tidak utuh lagi. "Apa kau yang mengganti pakaianku?"


"Iya Nyonya. Tuan Arsen yang memintanya."


"Baiklah."


"Ada lagi yang Nyonya ingin tanyakan?"


"Apa Nenek tahu?"


"Tidak Nyonya. Tuan Arsen membungkam seluruh pelayan rumah ini agar tidak memberitahukannya kepada Nenek Soffy."


"Bagus. Kau boleh pergi Elis. Trima kasih atas infonya."

__ADS_1


"Sama-sama Nyonya." ucap Elis melanjutkan langkahnya.


Amey masih termangu. Ia kembali mencerna ucapan Elis. "Jadi yang aku lihat kemarin bukan Arka, tapi Arsen. Bagaimana aku bisa menyamakan keduanya? Tapi Arsen sangat mirip dengan tingkah Arka saat mengkawatirkanku." Amey menggerutu.


***


Mark secepat kilat berlari dengan membawa sebuah tablet di tangannya menuju kamar Arsen.


Tok ... tok ... tok.


"Masuk."


"Tuan ..." panggil Mark dengan napas memburu.


"Ada apa denganmu?" Tanya Ars mengerutkan kening.


"Apa Tuan sudah melihat berita?" ucap Mark terengah-engah.


"Berita? Apa yang terjadi?"


Mark memberikan tablet itu kepada Arsen. "Tuan lihat ini. Berita mengenai WS Group menjadi pencarian utama di internet. Khalayak begitu panas menganggapi berita ini."


Arsen membaca sebuah artikel yang di dalamnya membahas mengenai WS Group. Arsen terbelalak, ia segera menghidupkan televisi untuk melihat berita. Dan benar saja semua siaran membahas mengenai kematian Arka.


"Siapa ... siapa yang mengunggah berita ini, hah!" melempar tablet itu ke lantai.


"Anonim Tuan." Mark menunduk kepala. Ia tahu Tuan Mudanya sedang dalam keadaan emosi tingkat dewa.


"Mark, cari tahu siapa reporter br*ngsek yang melaporkan ini! Berani sekali dia mengorek masalah pribadi keluargaku. Jangan harap kau bisa hidup, reporter sialan!" tegas Arsen geram. "Mark, bagaimana respon khalayak?"


"Sangat buruk Tuan. Saham menurun dengan drastis. Banyak kolega-kolega yang memutuskan kontrak dengan WS Group."


Arsen mengepalkan tangannya. "Apa Diamond Group termasuk?"


"Sejauh ini, Tuan George belum bersuara. Kontrak kerja dengan Diamond Group masih tergolong aman." tutur Mark.


"Aman? Aman katamu MARK!" teriak Arsen.


Mark terdiam. Ia tidak dapat lagi berucap setelah mendengar teriakan Arsen yang begitu nyaring.


Brakkk


Arsen membanting semua benda yang ada di depannya. Termasuk laptopnya. "F*ck! F*ck! F*ck! Arghhhhhhh!" Arsen merontah bukan kepalang.


Ia begitu mengerikan saat naik pitam. Jiwa iblisnya bangkit seketika. Darahnya mendidih sehingga membuat pria itu tidak dapat mengendalikan diri.


Drtt ... drtt ... drtt


Gawai Mark bergetar. Ia terperanjat saat melihat siapa yang menghubunginya. "Tuan Besar!" gumamnya.


Mark menjawab panggilan telepon itu. Ia menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. "Halo Mr. Winston?"


"Mark! Apa yang terjadi? WS Group goncang! Dan Kenapa kematian Arka terekspos di media?" tanya Michael menaikan nada.


Arsen yang mendengar perbincangan di telepon, langsung menarik ponsel Mark. "Pa, aku akan mengurus semuanya di sini. Papa jangan kawatir. Tidak ada yang bisa menjatuhkan WS Group! Dan aku pastikan orang yang mengekspos kematian Arka, akan menyesal seumur hidupnya." tutur Arsen.


"Ars, Papa percayakan masalah ini padamu."

__ADS_1


Arsen meremas ponsel Mark dengan erat. Wajahnya memerah karena murka, ia menggertakkan giginya. Sorot mata Arsen tajam menatap dinding. "Mark, kita akan ke kantor dan mengadakan konferensi pers!"


"Baik Tuan."


__ADS_2